,

    Keistimewaan Bulan Berkah

    Oleh : KH. Fauzan Kemal al Hafidz
    Oleh : KH. Fauzan Kemal al Hafidz
    أَلْحَمْدُ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَامُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلِّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، لَامَعْبُوْدَ إِلاَّ إِيَّاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلـِـــــــــــــــ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ .
    فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ.
    Jamaah Jumah Rahimakumullah
    Mari kita berusaha untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Setiap kali kita menghadiri acara, seperti salat jumah ini seorang khatib pasti berpesan ‘bertakwalah’. Takwa memang mudah diucapkan dan sebetulnya tidak mudah dilakukan kalau kita benar-benar memohon kepada Allah Swt. Maka, ucapan yang sering kita dengarkan “imtitsalu al-awamirillah wa ijtinabu an-nawahi” berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah sekaligus menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.
    Hal ini, kalau kita hanya mengandalkan upaya kita. Kita tidak akan mampu melakukannya (takwa) tanpa pertolongan dari Allah Swt. Maka doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw. allahumma ‘ainny ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika, memohon pertolongan kepada Allah. Mudah-mudahan dengan tahapan usaha yang pertama, kita mau mengevaluasi terhadap semua perilaku kita. Lalu apabila itu benar, maka kita bersyukur kepada Allah karena kita telah mendapat pertolongan dari Allah.
    Seandainya (perilaku) itu salah, bukan Allah yang salah tetapi kita lah yang salah. Mari kita berusaha memohon ampun kepada Allah Swt. dan memohon bimbingan-Nya. Sehingga hidup dan kehidupan kita ini senantiasa mendapatkan ridla dari Allah Swt.
    Karena untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak ada lain kuncinya adalah alladzi aamanu wa kaanu yattaquun. Orang itu harus beriman kepada Allah Swt. dan senantiasa melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
    Jamaah Jumah Rahimakumullah
    Sebagaimana tradisi orang ahli sunnah wa al-jamaah di dalam naungan Nahdlatul Ulama, semalam kita bersama-sama bermunajat kepada Allah Swt., membaca yasin bersama-sama, salat sunnah seperti salat taubah, hajat, atau tasbih. Itu adalah pesan para ulama untuk mengajak umatnya berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt.
    Biarkan orang lain mengatakan itu bid’ah. Bukan sesuatu kewajiban, seseorang mau membaca yasin, salat sunnah, tetapi semua itu adalah usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Mudah-mudahan amalan kita tadi malam diterima oleh Allah Swt. sehingga yang pertama, hidup kita senantiasa dalam bimbingan-Nya. Kedua, mudah-mudahan kita diberi rizki yang halal untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Jamaah Jumah Rahimakumullah
    Rasulullah Saw. pernah menyampaikan, “Bulan Sya’ban ini adalah bulan antara Rajab dan Ramadan. Banyak sekali manusia lupa terhadap keistimewaan bulan ini.”
    Beliau menyampaikan, “pada bulan Sya’ban ini amal perbuatan hamba Allah dilaporkan.” Maka Rasulullah tidak ingin ketika pelaporan amal perbuatan ini, Rasulullah dalam keadaan tidak berpuasa. Maka dari itu, bersyukurlah para jamaah yang bisa menjalankan puasa, yaitu pada ayyamul bidh dimulai tanggal 13,14, 15 bulan Hijriyah.
    Mudah-mudahan puasa itu diterima oleh Allah Swt. Kita doakan pula, para jamaah atau saudara-saudara kita yang hari ini atau pada bulan Sya’ban belum bisa menjalankan ibadah puasa ayyamul bidh, mudah-mudahan diberi panjang umur oleh Allah Swt. dan diberi kesempatan oleh Allah untuk menjalankan ibadah puasa ayyamul bidh.
    Jamaah Jumah Rahimakumullah
    Rasulullah tidak menjelaskan kapan amal perbuatan itu dilaporkan. Cukup beliau menyampaikan, “pada bulan Sya’ban inilah.” Makanya Rasulullah hampir satu bulan penuh berpuasa dibanding puasa di bulan lainnya selain bulan Ramadan. Rasulullah berpuasa Senin-Kamis, “pada hari Kamis amal perbuatan manusia dilaporkan, maka aku ingin pada pelaporan amal itu aku dalam keadaan berpuasa.” Pada hari senin, karena “pada hari Senin itulah aku dilahirkan, maka hari itu aku berpuasa.” Itulah nabi kita Muhammad Saw.
    Jika saya boleh mengambil, “kalau seseorang itu ingin muhammadun (dipuji) oleh Allah dan masyarakat, bahkan dipuji oleh seluruh alam ini maka ayo kita bersama-sama mencontoh Rasulullah. Kalau Rasulullah berpuasa di hari kelahirannya, maka mari kita berpuasa di hari kelahiran kita. Insyaallah kita akan dipuji sebagaimana Rasulullah Saw. itu dipuji.
    Jamaah Jumah Rahimakumullah
    Tidak terasa dua minggu lagi kita akan memasuki bulan Ramadan. Bulan yang penuh keberkahan, kesadaran, yang disana ada malam lailatul qodar yang penuh dengan kebahagiaan dan keistimewaan. Maka hari ini kita berusaha untuk belajar menghadapi bulan Ramadan. Mulai dari menjalankan salat sunnah qabliyyah dan ba’diyyah, salat dhuha, salat malam,  supaya kita tidak kaget menjalankan salat tarawih.
    Begitu pula, para jamaah yang hari ini sedang berpuasa, itu tetap anda lanjutkan untuk proses belajar agar tidak kaget berpuasa di bulan Ramadan. Semoga anak-anak kita di lingkungan pesantren, terus bisa membaca al-Quran. Karena ia bacaan yang sangat mulia dibandingkan bacaan yang lain.
    Kalau kita mengacu bahwa amal perbuatan manusia dilaporkan tadi malam dan hari ini ada catatan baru, maka seperti apa yang disampaikan oleh al-maghfurlah KH. Yusuf Masyhar yaitu bidayatu kulli syain, nihayatuhu. Awal setiap sesuatu itu akan menunjukkan pada akhirannya. Kita buka lembaran catatan baru kita ini dengan perbuatan-perbuatan yang baik, bila nanti suatu ketika kita diambil oleh Allah dalam keadaan khusnul khatimah.
    Yang terakhir, mudah-mudahan doa yang sering kita kumandangkan allahumma bariklana fi rajaba wa sya’bana wa ballighna ramadana. Semoga dalam bulan Rajab dan Sya’ban ini kita mendapatkan berkah dari Allah Swt. dan menyampaikan kita untuk masuk ke dalam bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiyat.
    Semoga khutbah yang singkat ini membawa manfaat dan barokah.
    أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ، بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ بَرُّ الرَّحِيْمِ، وَقُلْ رَبِّ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ

    ,

    Hati dan Pemimpin yang Baik

    Oleh : KH. Fahmi Amrullah Hadzik
    Oleh : KH. Fahmi Amrullah Hadzik
    اَلْحَمْدُ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ .
    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُهُ،
    فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللهِ، اِتَّقُوْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
     Jamaah Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah SWT.
    Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Haqqa tuqatihi, dengan sebenar-benar takwa berusaha menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Dan janganlah kita sekali-kali meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan beragama Islam dan khusnul khotimah.
    Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
    Syaikh Abdul Qadir Jailani, penghulu para wali. Beliau dikenal ketika memberikan tausiyah selalu menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dipahami oleh para jamaah. Tetapi banyak jamaah yang disadarkan hanya dengan kalimat-kalimat sederhana. Suatu hari, putra beliau yang telah menuntut ilmu di berbagai tempat, menyaksikan sang ayah yaitu Syaikh Abdul Qadir memberikan tausiyah kepada para jamaah. Di dalam hati sang putra mengatakan, seandainya aku diberi kesempatan untuk berceramah niscaya banyak dari para jamaah akan menangis dan tersadar.
    Suatu hari, Syaikh Abdul Qadir Jailani ingin mendidik sang putera. Maka di hadapan para jamaah beliau berkata, “Putraku, berdirilah dan bertausiyahlah kepada para jamaah.” Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Maka segera putra Syaikh Abdul Qadir Jailani ini memulai tausiyahnya dengan kalimat-kalimat yang indah dan memukau. Diselingi dengan dalil-dalil Al Quran, hadis, dan qoul-qoul para ulama. Tetapi anehnya, jangankan jamaah ini ada yang menangis, tertarik pun tidak. Bahkan para jamaah terkesan bosan dengan apa yang disampaikan oleh putra Syaikh Abdul Qadir tersebut.
    Selesai sang putra memberikan tausiyah. Maka berdirilah Syaikh Abdul Qadir Jailani, dan di hadapan para jamaah beliau bertausiyah memulai kalimatnya, “Hadirin yang terhormat, semalam istriku ummul fuqara’ menghidangkan ayam panggang yang sangat lezat. Tiba-tiba seekor kucing menyambar ayam tersebut dan mengambilnya,” mendengar kalimat yang diucapkan oleh Syaikh Abdul Qadir tersebut, para jamaah histeris. Banyak di antara mereka menangis.
    Melihat kejadian ini, sang putra menjadi heran. “Ketika saya bertausiyah, saya sampaikan Al Quran, hadis, mereka tidak ada yang menangis. Tapi giliran ayah menyampaikan sesuatu, yang sebenarnya tidak bermakna. Kucing mencuri ayam panggang. Mengapa para jamaah ini menangis?”
    Rupanya, para jamaah menafsirkan apa yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Qadir tentang kucing yang mencuri ikan di atas. Ada yang menafsirkan bahwa itu seperti manusia yang su’ul khotimah, ada juga tafsiran lain seperti amal baik manusia yang dicuri oleh setan, dan tafsiran-tafsiran yang lain. Mengapa, dengan kalimat yang sederhana tetapi mampu menyadarkan para jamaah untuk berpikir.
     Hadirin Jamaah Jumah Rahimakumullah
    Tidak lain karena Syaikh Abdul Qadir Jailani ketika menyampaikan sesuatu itu dengan hati. Apa yang keluar dari lisannya, sesungguhnya itu berasal dari hati. Sehingga apa yang keluar dari hati, akan mudah masuk kepada hati yang lain. Karena itu, sekarang banyak pemimpin, baik kenegaraan maupun keagamaan, yang tidak ditaati oleh rakyat dan umatnya.
    Banyak penyebab yang melatarbelakanginya, sekarang rasanya sudah tidak ada pemimpin, yang banyak adalah pejabat. Kalau pun ada pemimpin, itu pun bermental pejabat. Cirinya adalah mereka lebih mengutamakan hak daripada kewajiban. Hak untuk mendapatkan tunjangan ini dan itu. Hak untuk mendapatkan mobil dinas, perumahan, dan sebagainya. Mereka minta dilayani, tapi tidak mau melayani. Mereka lupa bahwa hakikat pemimpin itu adalah pelayan sebagaimana kata Rasulullah SAW :
    سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
    “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”
    Hakikat pemimpin adalah pelayan. Maka ketika seorang pemimpin lebih mengutamakan hak daripada kewajibannya, tentu saja sulit akan diikuti dan ditaati oleh rakyat atau umatnya. Kedua, ketika mereka berbicara tidak menggunakan hatinya. Sehingga apa yang mereka bicarakan itu berbeda dengan apa yang mereka kerjakan. Padahal seorang pemimpin itu seharusnya mempunyai rambu-rambu. Ketika berbicara dan memberikan petunjuk hendaknya berdasarkan aturan-aturan, bukan hanya aturan negera tapi juga aturan Allah SWT.
    Sebagaimana firman Allah SWT:
    وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا وَكَانُوْا بِآيَاتِنَا يُوْقِنُوْنَ
    “Dan Kami jadikan diantara mereka pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
    Di dalam surah lain, al-Anbiya ayat 73:
    وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيْتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوْا لَنَا عَابِدِيْنَ
    “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami. Dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk berbuat kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka menyembah.”
    Artinya seorang pemimpin itu ketika berbicara dituntun oleh Allah, seharusnya. Tentu berbeda dengan pejabat. Karena itu, tidak salah apa yang dikatakan oleh Gus Dur, bahwa di Indonesia ini apa yang dikatakan itu berbeda dengan apa yang dikerjakan. Berbicara menentang korupsi, koruptor harus dihukum ini dan itu. Ternyata dia tertangkap tangan meneriman suap. Ini pejabat, bukan pemimpin. Maka menjadi sulit sekarang ini, kita mencari sosok pemimpin yang tepat untuk bangsa Indonesia ini.
    Ketiga, karena mereka tidak bisa memberikan suri tauladan yang baik. Sehingga ketika seseorang itu sulit memberikan suri tauladan, maka yang lain pun akan sulit untuk mengikutinya. Padahal, satu perbuatan yang baik jauh lebih efektif daripada seribu kali berkata-kata. Maka kalau kanjeng Nabi lebih suka berdakwah bi al-hal, dengan perbuatan. Karena dakwah dengan perbuatan itu lebih efektif dibandingkan dengan dakwah lewat kata-kata.
    Apalagi kita berkata-kata, berucap, dan merintahkan ini dan itu tetapi kita tidak mampu melaksanakannya. Maka, sesungguhnya kita semua ini adalah pemimpin. Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi. Kamu semua adalah pemimpim, paling tidak menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Maka hendaknya kita menjadi pemimpin yang baik, karena kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kita.
    Semoga bermanfaat. Semoga kita menjadi pemimpin-pemimpin yang baik, dan kita mendapatkan pemimpin-pemimpin yang baik dan soleh. Sehingga negeri Indonesia ini akan menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur.
    إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ،  كَلَامُ اللهِ الْمَلِكُ الْمَنَّانُ، وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا، وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلآيَةِ    وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    ,

    Dasar Keutamaan Ibadah

    Drs. KH. Junaedi Hidayat
    Oleh: Drs. KH. Junaedi Hidayat
    اَلْحَمْدُ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، أَمَّابَعْدُ.
    فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ،  إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
    Maasiral Muslimin Jamaah Jumah Rahimakumullah
    Melalui khutbah ini marilah kita memperkuat terhadap komitmen dan kesungguhan kita, di dalam melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Kita lakukan dengan penuh kepatuhan dan kesadaran, segala hal yang diperintahkan al-ma’murat baik berupa al-wajibat maupun perintah Allah yang bersifat anjuran al-mandubat.
    Begitu pula kita tinggalkan segala hal yang dilarang di dalam agama kita al-manhiyat baik berupa al-muharramat maupun al-makruhat. Kesadaran denga sepenuhnya dalam segala situasi dan keadaan untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Yang di dalam bahasa agama disebut dengan imtitsal dan sekaligus meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Ini akan menjadi modal utama bagi kehidupan kita, untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki di dalam kehidupan dunia maupun di akhirat nanti.
    Maasiral Muslimin Rahimakumullah
    Hari ini kita berada di dalam bulan yang penuh dengan kemuliaan, bulan Ramadan. Di dalam bulan ini Allah mewajibkan seluruh umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah, yang disyariatkan sesungguhnya mempunyai keutamaan dan keistimewaan masing-masing. Tidak sepatutnya kalau kita membandingkan satu jenis ibadah dengan jenis ibadah lain yang sama disyariatkan.
    Karena di dalam masing-masing ibadah, Allah telah memberikan tekanan. Ada stretching yang berkaitan dengan keistimewaan dan keutamaan di dalam ibadah tersebut. Salat mempunyai keistimewaan tersendiri. Puasa mempunyai keistimewaan tersendiri. Zakat, dan haji juga demikian. Sehingga masing-masing mempunyai stretching terkait dengan bangunan yang diinginkan, dalam hal memperbaiki dan membangun kehidupan seorang manusia di kehidupan dunia ini.
    Oleh karena itu, maka yang harus kita lakukan adalah memahami keistimewaan dari masing-masing ibadah itu, yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya.
    Maasiral Muslimin Rahimakumullah
    Sesungguhnya Allah memberikan keistimewaan secara khusus itu kemungkinan bisa berdasarkan dua hal. Yang pertama, fada’il atau keistimewaan itu bisa menempel kepada waktu. Yang kedua, bisa menempel kepada tempat. Seperti bulan Ramadan ini, Allah memberi keistimewaan karena menempel kepada waktu. Bahwa ibadah di bulan Ramadan, Allah memberikan kemuliaan dengan berlipat ganda. Bahkan Allah tidak menentukan berapa ganjaran yang akan diberikan, tetapi bergantung kepada semau permintaan hamba-Nya. Tergantung kualitas ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan ini.
    Ini namanya adalah keutamaan yang menempel kepada waktu. Contoh lagi, pada waktu malam hari. Ada waktu-waktu, Allah memberi kemuliaan secara khusus. Ini kemuliaan yang diberikan Allah karena menempel pada waktu, terutama pada tengah malam ketika mendekati dua pertiga malam. Saat masuk waktu sahur, maka saat itu Allah memberikan keutamaan yang lebih dari waktu yang lain.
    Ma baina al-adzanaini, waktu antara azan dan iqomah itu juga termasuk waktu yang istimewa. Yang di dalam hadisnya disebut dengan waktu yang mustajabah. Baina khutbataini, waktu antara khutbah pertama dan khutbah kedua. Ketika seorang khatib duduk di antara dua khutbah itu, termasuk juga waktu yang mustajabah.
    Sesuatu yang menempel kepada waktu itu tentu tidak bisa kita cari ketika dia sudah berlalu. Ramadan ini ketika sudah selesai dan kita masuk pada tanggal satu Syawal, maka secara otomatis keistimewaan dan keutamaan hanya bisa kita tunggu kembali ketika kita berjumpa di bulan Ramadan yang akan datang. Ini adalah kelebihan yang diberikan oleh Allah pada jenis ibadah yang punya keistimewaan menempel pada waktu, yang ditentukan dan ditunjuk oleh Allah.
    Yang kedua, ada fada’il atau kelebihan ibadah itu menempel kepada tempat. Masjid, dia mempunyai keistimewaan berbeda sehingga ada hukum-hukum yang berlaku dalam ukuran dan batasan yang ditetapkan di wilayah masjid itu. Ini karena Allah memberikan kemuliaan yang berbeda. I’tikaf di dalam masjid itu mendapatkan pahala yang luar biasa. Apalagi nanti di asyri al-awahir, sepuluh hari terakhir Ramadan. Di hari itu kita berburu pahala sebesar-besarnya dan sebanyak mungkin. I’tikaf itu hanya bisa dilakukan di dalam masjid. Karena masjid mempunyai keistimewaan dan hukum-hukum tertentu yang ditentukan oleh Allah, yang berbeda dengan tempat diluar masjid itu.
     
    Di tanah Haram, al-Haramain. Disana Allah memberikan keistimewaan karena faktor tempat. Dalam radius tertentu, baik di Madinah atau Makkah itu mempunyai keistimewaan yang berbeda. Ada hukum-hukum yang berlaku, disana berbeda dengan tanah diluar tanah Haram. Disana ada ketentuan hukum yang ditulis besar di pintu gerbang masuk tanah Haram, mamnu’ ad-dukhul ghoiro muslimin dilarang masuk di tanah Haram selain orang Islam.
    Karena apa, disana Allah memberikan hukum yang berlaku itu berbeda. Termasuk siapa yang boleh masuk tanah Haram atau tidak. Termasuk hukum-hukum yang menyangkut tentang perlindungan Allah atas binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Termasuk ibadah disana, ada ketentuan yang berbeda. Keutamaan diberikan oleh Allah karena menempel pada faktor tempat, yang tidak mungkin ada di tempat yang lain.
    Apalagi di sekitar masjid al-Haram, masjid itu sendiri Allah memberikan keutamaan yang luar biasa. Di sekitar Ka’bah, disana ada multazam, ada hijr Ismail, ada maqam Ibrahim, yang disana Allah memberikan begitu banyak fada’il yang berbeda, yang tidak dimiliki oleh tempat yang lain. Ini keutamaan yang menempel pada tempat, yang bisa dikunjungi siapa pun dan kapan pun ketika dia mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk datang kesana.
    Maasiral Muslimin Rahimakumullah
    Oleh karena itu, seorang mukmin yang baik dan berada dalam tingkat haqqo tuqotihi kualitas ketakwaan yang maksimal, dia sesungguhnya akan berburu mendapatkan sesuatu yang berlipat-lipat ganda dalam hal amalan ibadah yang dia lakukan. Baik itu terkait persoalan dimensi waktu maupun terkait dimensi tempat seperti tadi.
    Puasa ini mempunyai keistimewaan yang berbeda. Kalau ibadah yang lain itu bersifat fi’liyyah. Salat itu ibadah fi’liyyah, ibadah yang melakukan sesuatu. Ada takbiratul ihram, ada ruku’, ada sujud, itu namanya fi’lu syai’ melakukan sesuatu. Haji itu ibadah fi’liyyah, kita tawaf, sa’i, wukuf di Arafah. Itu semua ibadah fi’lu syai’, karena melakukan sesuatu maka ibadah itu bisa dilihat oleh mata kita, oleh orang lain. Bahkan punya potensi untuk dipamerkan. Dipakai show off kepada orang lain itu sangat bisa. Dipakai sebagai gaya hidup itu sangat mungkin.
    Berbeda dengan puasa, dia tarku syai’. Puasa itu terdefinisi imsakun ‘an al-mufthirat. Menahan. Puasa itu ibadah tidak. Tidak makan, tidak minum, tidak kumpul suami-istri, tidak melakukan hal yang membatalkan puasa, tidak melakukan hal yang membatalkan pahala puasa. Tidak ada sesuatu yang bisa dipamerkan, karena tidak ada yang bisa dilihat di dalam pelaksanaan puasa.
    Allah memberikan keistimewaan terhadap puasa. Puasa itu Untuk-Ku. Dia tidak mungkin dipamerkan kepada orang lain. Wa ana ajzi bihi, biarkan Aku yang memberikan balasan kepada hamba-Ku yang melakukan puasa itu. Sebera pun permintaan balasan tersebut. Unlimited, tergantung kepada kualitas pelaksanaan puasa yang kita lakukan.
    Bagaimana puasa yang berkualitas, tentu puasa yang disempurnakan dengan ibadah-ibadah yang dianjurkan. Yang menyertai di dalam kewajiban puasa ini. Karena di dalam setiap kewajiban, sesungguhnya Allah menyertakan hal-hal yang menyempurnakan. Ada takmiliyyah, di dalam puasa Ramadan ada tadarus al-Quran, ada qiyamu al-lail, ada tarawih, ada anjuran untuk I’tikaf, ada malam lailatul qadr, ada anjuran untuk sedekah dan sebagainya.
    Tentu puasa bukan hanya imsakun ‘an al-muftirot, tetapi puasa adalah imsakun ‘an al-ma’ashi. Mata kita, puasakan. Telinga kita, puasakan. Mulut kita, puasakan. Termasuk pikiran dan hati kita, puasakan.
    Maasiral Muslimin Rahimakumullah
    Marilah kita masuki puasa ini dengan sungguh-sungguh. Mumpung Allah memberikan waktu kepada kita, waktu tidak mungkin diulang. Kalau keutamaan yang berkaitan dengan tempat masih kita cari tetapi keutamaan yang berkaitan dengan waktu kita tidak tahu. Yang kita mohonkan adalah kita diberikan umur yang panjang lalu umur itu berkah bagi kita. Termasuk kembali bisa melakukan ibadah di bulan Ramadan yang akan datang. Amin.
    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،  وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم
     إنَّهُ تَعَالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ رَؤُوْفٌ الرَّحِيْمُ

    ,

    Muslim yang Belum Islami

    KH. A. Musta’in Syafi’ie
    KH. A. Musta’in Syafi’ie
    إِنَّ الْحَمْدَلِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىآلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُ.
    فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْ اللهَ، اِتَّقُوْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، أَعُوْذُبِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ
    Kita dituntut untuk selalu meningkatkan prestasi taqwallah, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bahwa pertanyaan yang sering muncul ditengah-tengah kita mengenai ibadah, salah satu fungsi as-Sholat yaitu tanha ‘ani al-fakhsya wa al-munkar bisa mencegah dari perbuatan buruk.
    Sehingga, orang yang sungguhan dan bisa menikmati, menemukan nilai dan mutiara dalam salat itu maka pasti perilaku dia akan menjadi baik. Persoalan, banyak orang yang salat tetapi perilakunya belum bisa baik. Jawabannya adalah salat dia kurang berkualitas. Tidak berarti harus ditinggalkan, tetapi salat itu wajib dan kita diperintah untuk terus meningkatkan prestasi salat itu sehingga bisa memetik substansinya.
    Dalam prestasi takwa ini, yang tertinggi digabung dengan keilmuan. Sehingga al-Quran menyebut “Ulama’ , orang yang pintar itu digandengkan dengan prestasi khosyyah.Inna ma yakhsya Allaha min ‘ibadihi al-‘Ulama’ bahwa orang yang sekedar pintar seperti professor, doktor, ahli ini dan itu, dan sebagainya. Itu belum sebuah prestasi dihadapan Allah. Memang prestasi akademik, tapi belum sempurna.
    Sealim apa pun seseorang, bukan itu ukurannya. Sekaya apa pun seseorang, bukan itu ukurannya. Masih ditunggu bagaimana sikap seorang alim bisa menimbulkan sikap khosyyah. Ditunggu bagaimana seorang yang kaya itu bisa mendermakan hartanya.
    Karena itu, benarlah apa yang disiratkan oleh baginda Rasul bahwa pewaris nabi atau ulama tidak seluruhnya itu baik. Ada juga sebagian yang disebut dengan ‘Ulama’ as-Su’. Imam Al-Ghazali banyak membicarakan soal ini.
    Peristiwa pilkada Jakarta kemarin sudah selesai. Itu adalah salah satu ujian, dan cara Tuhan untuk memperlihatkan kepada umat Islam di negeri ini. “Siapa yang sesungguhnya ulama itu. Kyai sungguhan itu siapa?” Disitulah akan muncul fatwa-fatwa yang arahnya itu jelas.
    Ketika Imamuna as-Syafi’I rahimahullah ‘alaihi, dalam pergumulan politik yang sangat mengganas waktu itu, bahkan sampai disinyalir bahwa as-Syafi’I yang berumur 54 sampai sekarang masih misteri, wafatnya seperti apa. Indikator yang menunjukkan as-Syafi’I itu diracun karena fatwa-fatwanya tidak mau kompromi dengan pemerintah yang zalim.
    Saat itu ditanya, “Ya Syaikh, pada saat orang-orang pintar, para kyai, saling beradu dalil sendiri-sendiri. Kemudian kami ini orang awam, harus mengikuti ulama yang mana.”
    Jawabannya tegas, “ikutilah ulama yang dibenci oleh orang kafir atau orang-orang yang ahli maksiat. Karena fatwanya itu lebih jernih. Lebih berpedoman kepada khosyyah, ketakwaan, dan pertanggungjawaban ukhrawi. Jangan mengikuti ulama-ulama yang disukai oleh non-muslim, oleh kafir, dan ahli maksiat. Karena biasanya, fatwa-fatwa yang disampaikan itu berpertimbangan keilmuan.” Itu bedanya.
    Kalau pertimbangan keilmuan, maka semua sisi bisa dijadikan dalil. Meminta dalil apa pun dari al-Quran dan Hadis, ketemu. Tetapi mana yang berkualitas menurut keimanan, yaitu sebuah fatwa yang didasari oleh sebuah khossyah dan tidak murni didasari dengan ilmu.
    Hari ini kita bisa mengukur dengan hati murni seperti apa sikap pemerintahan sekarang. Dan seperti apa nikmatnya Indonesia ini. Ditakdir oleh Allah, mayoritas penduduknya itu beragama Islam. Santun, sabar, tetapi jangan kelewatan. Tetap menyebar kedamaian. Untung sekali, yang disiram air keras saat keluar dari masjid usai melaksanakan jamaah subuh itu penyidik KPK senior. Dan beragama Islam.
    Maka umat Islam dengan segala ketulusannya menyerahkan ke polisi dan yang berwenang. Dan tidak ada reaksi apa-apa, meski polisi terlihat agak ayem-ayem saja.
    Bias dibayangkan, kalau yang disiram air keras itu penyidik KPK senior yang baru keluar dari gereja. Keluar dari kebaktian gereja, lalu disiram seperti itu. Saya yakin, mereka akan turun tangan dan menuduh tidak ada toleransi, mengacau kerukunan antar umat, dan sebagainya. Langsung zona militer, gereja dijaga dan sebagainya.
    Harusnya kita membuka mata, bagaimana nikmatnya fadl Allah yang diberikan kepada NKRI ini, mayoritas penduduknya adalah muslim. Untung, yang melakukan demo membawa api lilin itu bukan orang Islam. Peraturan tidak membolehkan berkerumun malam setelah jam enam. Apalagi membawa api lilin, itu membahayakan. Tetapi atas nama solidaritas, itu dibiarkan oleh aparat keamanan.
    Buat Islam, para kyai, para intelektual, politikus, mohon dipikirkan bahwa sesungguhnya kita ini banyak dikepung. Hanya saja tinggal waktu, menunggu segalanya. Tetapi Islam tenang saja, aman kita penuh pengertian. Sementara orang Islam yang hanya ingin salat Jumah berjamaah di masjid, hanya membawa surban dan sajadah. Dijaga (militer) seperti mau perang saja.
      Pengajian Ramadan Pesantren Tebuireng Resmi Ditutup
    Hal-hal seperti ini cukup kita maknai dengan yang terbaik. Dan kita tetap dewasa, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Tetapi, persatuan dan kesatuan NKRI ketika diucapkan oleh seorang muslim itu tidak begitu dihiraukan. Dengan demikian, sesungguhnya militansi di dalam Islam, saya tidak membicarakan soal politik, tetapi persoalan benarkah bahwa kita yang selama ini sebagai muslim itu benar-benar (kembali ke pribadi kita), yang oleh hadratu Rasul  disampaikan, “benarkah kita ini sudah bisa menikmati khalawata al-Iman kenikmatan iman?”
    Saya ambil bahasa yang paling bagus. Al-Quran al-Karim, di dalam bahasa Arab kata “iman” dan kata “aman” itu identik. Amina ya’manu aman, Aamana yu’minu beriman. Seharusnya, seseorang itu merasa aman di tengah-tengah orang yang beriman. Orang non-muslim yang tidak beriman kepada Allah itu merasa aman di tengah-tengah umat Islam yang beriman.
    Tetapi persoalannya, di antara kita pribadi-pribadi, perangkat desa, RT, RW, benarkah lingkungan kita ini aman di tengah-tengah umat yang beriman. Itu persoalan.
    Pernah ada sebuah dialog antara as-Syaikh Muhammad Abduh di Mesir dan Ernest Renan seorang filosof Prancis. Ernest Renan ini dalam orasinya mengkritik habis umat Islam. Tidak disiplin, tertinggal, terbelakang, dan lain-lain.
    Setelah itu, as-Syaikh Muhammad Abduh berbicara menangkis semua tuduhan-tuduhan jorok. Tidak aman, tidak jujur dan lain-lain. Menangkis tuduhan dengan menyebut sekian konsep agama bahwa konsep Islam itu begini, hebat, dan seterusnya.
    Dibantah, giliran Ernest Renan yang bertanya, “Tuan, saya tahu persis konsep Islam seperti itu bagus sekali. Dan saya tahu. Saya tahu persis bagaimana hebatnya konsep Islam, tidak ada yang melebihi hebatnya dibanding konsep Islam. Tapi Tuan, tolong tunjukkan satu komunitas, satu negara saja, yang merepresentasikan, melambangkan, mewakili dan mengamalkan itu semua?”
    As-Syaikh Muhammad Abduh diam. Karena memang tidak ada di dunia ini.
    Beberapa hari kemudian, di George Washington University melakukan penelitian mengenai negara-negara “Islami”. Artinya negara yang perilakunya sesuai dengan ajaran Islam walaupun bukan orang muslim. Diteliti 200 negara, dengan memasang indikator-indikator Islami yang disebut dengan Islamicity Index, semua indikator diambilkan dari al-Quran dan al-Hadis.
    Anda bisa bayangkan, George Washington University meniliti negara-negara di dunia ini yang teraman dan terbagus, yang Islami dengan indikator Islami. Contohnya, bagaimana perilaku jujur. Semua hadis-hadis tentang etika itu dikumpulkan semua dijadikan indikator.
    Subhanallah, dari sampling populasi 200 negara ini. Yang tertinggi, teraman, dan berprilaku Islami, nomer satu adalah New Zealand. Kanada nomer lima.
    Teman saya yang di Kanada itu bertanya kepada tuan rumah, “Kenapa kamu kok tidak mengunci pintu rumah?” Si tuan rumah menjawab, “buat apa dikunci?” Itu sudah cukup menjadi jawaban.
    Negara-negara Islam, Arab dan seterusnya. Itu seluruhnya berada dalam urutan di atas 100. Dan Indonesia urutan 144. Negara paling tidak aman.
    Memang benar, terkadang pulang dari salat Jumah saja kita membawa sandal (orang lain). Kita masih saling berlomba memperbesar gembok. Yang salat Jumah kadang juga kehilangan sepeda. Di perkuliahan juga dan lain-lain. Mohon maaf, koruptor-koruptor yang muslim juga banyak.
    Andai kita balikkan, sesungguhnya apakah kita ini sudah beriman. Memang kita muslim, tetapi khalawatu al-Iman itu dimana. Arab, termasuk Makkah, orang yang pernah umrah dan haji di hotel Makkah yang biasanya itu. Perkara dibobol dan kehilangan itu tidak tehitung. Tetapi, kalau di negara Eropa yang maju itu aman. Uang kami pernah tertinggal di bawah bantal sebuah hotel. Kami kembali lagi, kamar sudah dibersihkan dan uang tetap ada di bawah bantal. Tapi kalau di Arab, lain cerita nanti.
    Apakah peneliti dari George Washington University itu salah indikator. Andaikata indikatornya itu dibalik bukan menggunakan Islamicity Index melainkan menggunakan formalistik atau bukan value melainkan lahiriah. Contohnya, indikatornya adalah jumlah paling banyak orang yang melakukan umrah dan haji. Jumlah paling banyak yang hafal al-Quran. Jumlah paling banyak yang mengaji Hadis.
    Andai indikator dibalik menjadi formalistik, maka saya yakin Indonesia mendapat urutan yang tinggi.
    Untuk itu, ini adalah sebuah gambaran. Bagaimana keimanan di lingkungan kita, bukan untuk mencaci tetapi untuk memberitahu. Orang yang ingin sehat, harus siap menelan pil sepahit apa pun. Sebagai pengantar bulan Ramadan, kita bisa berikhtiar. Menghadapi Ramadan ini dengan ibadah yang berkualitas. Mudah-mudahan kita sebagai orang beriman bisa menikmati khalawata al-Iman. Keindahan dan manisnya iman itu.
    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْم، وَنَفَعَنابه وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأٓيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، فتقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ تعالى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ البَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، و الحمد للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


    مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41) Al- A’nkabut

    Al-Qur’an hadir tidak sekedar memberi petunjuk bagi umat manusia meraih kebahagiaan ganda isi para sastrawan yang gemar mengomentari hal-hal besar dan lupa mengangkat makhluk tuhan yang sepele, yang kecil. Akan tetapi Al-Qur’an hadir dari makhluk yang paling besar, hewan yang terbesar sampai hewan yang terkecil diungkap dalam berbagai perspektif. Ada al-fil, gajah dalam konteks pasukan perang yang sebegitu dahsyat waktu itu dengan kekuatan militer penuh, artileri yang tak terbayangkan hebatnya. Tuhan tidak perlu menghadapi kekuatan itu dengan kekuatan yang besar untuk memproteksi rumah-Nya sendiri, baitulLah. Tuhan cukup menunjuk burung kecil, bul-bul (ababil), yang dipersenjatai secara misterius dan supercanggih. Binasalah tentara gajah itu, ka’ashfim- ma’kul , seperti rerumputan kering yang dikunyah-kunyah oleh hewan ternak. Apa maksudnya ? Sesungguhnya tidak ada kekuatan yang berarti di hadapan Tuhan. Apalagi manusia yang jauh lebih ringkih dibanding tulang-belulang dan kulit gajah, tidak ada apa-apanya.

    Kemudian ditunjuk al-ibil , unta dalam konteks akademik dan perspektif keilmuan dengan bahasa penelitian, afala yandzhuruna ila al-ibili kaifa khuliqat. Dunia biologi mengakui bahwa keunikan yang amat mengagungkan pada tubuh unta. Itu artinya sains atau ilmu normal, ditantangkan di sini untuk mengimbangi ilmu Tuhan, untuk menggali ilmu-ilmu Tuhan. Senada dengan al-ibil, adalah al-baqar. Dalam konteks ini, baqarah itu pada dunia mistik yang tak terbayangkan oleh akal. Sehingga peristiwa diangkat pada zaman Nabi Musa, bagaimana untuk melacak pembunuh misterius. Tuhan memirintahkan agar yang bersangkutan menyembelih seekor sapi. Dan dari sapi yang disebut shafra’u faqi’ul-launuha itu pembunuh berhasil ditangkap dengan cepat, meskipun tanpa bantuan intelejen maupun Densus 88. Itu artinya bahwa ada dimensi spiritual, dimensi yang lain, yang memang milik Tuhan. Dan yang kita tahu hanya sebagian saja.

    Lalu, hewan-hewan yang tekecil yang akan kami angkat adalah al-‘ankabut, laba-laba. Binatang ini tidak bisa dipandang remeh, meskipun rendah menurut pandangan manusia, tapi sangat berjasa dalam agama. Pada bulan-bulan sekarang, adalah bulan-bulan monumental yang sesungguhnya Hadhratur-Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan hijrah, yakni pada awal-awal Bulan Rabi’ul Awwal, meskipun programnya pada bulan Muharram. Dengan rute yang aneh, masuk dulu ke Gua Tsur. Dan kehebatan pelacak, mampu menemukan jejak kaki Hadhratur-Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sampai ke mulut gua. Tuhan memang kuasa, tapi Tuhan harus menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya dengan tanda-tanda yang dibuatnya sendiri. Bisa dibayangkan, tiba-tiba al-‘ankabut langsung mendesain rumahnya persis menutup mulut gua secara bagus, artistik dan rapi dalam waktu yang singkat. Sehingga para pemburu Nabi yang berhadiah 100 ekor unta itu dihadapkan dalam problem dilematik. Satu sisi perasaannya, hati nuraninya mengatakan bahwa pastilah Muhammad itu masuk ke Gua ini. Karena hasil pelacakannya seperti itu. Tetapi akal menunjukkan fenomena lain, laba-laba yang merupakan makhluk kecil dan tak diperhitungkan siapapun, malah sebagai sebab selamatnya nyawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya. Di sinilah ada pertarungan antara logika akal yang mengatakan andai Muhammad itu masuk sini, pasti rusak sarang laba-laba tersebut. Ternyata dalam akal itu terdapat kekurangan, dan tak seluruhnya sempurna. Para pemburu Rasulullah melupakan kecepatan laba-laba itu membuat jaring-jaring yang menutupi mulut gua. Sehingga dikiranya sudah lama. Maka diputuskanlah berdasarkan akal, mereka mundur, menghentikan pengejaran. Dan kesimpulan mundur itu salah. Andaikan menggunakan rasanya, maka akan menemukan yang diburu.

    Untuk itu se-‘alim apapun, tidak bisa rumusan akal itu menjadi suatu pedoman. Masih ada Tuhan Yang Maha Segalanya di luar itu semua. Terus apa yang bisa kita petik ? Sesungguhnya antara hewan dengan kita manusia, itu sama. Daging, hewan juga punya. Apalagi daging hewan itu lebih enak dan laku dijual. Sedangkan daging kita tidak laku. Ada tulang, kulit, hewan juga makan, kawin, mati, dan lain lain. Sama sesungguhnya. Tetapi Tuhan menunjukkan, ada hewan-hewan remeh tapi mempunyai jasa yang besar di dalam kehidupan ini, dalam agama ini, seperti laba-laba. Persoalannya adalah, apakah kita ini malu ? Apa yang harus kita lakukan sehingga sebagai hamba Allah yang diberi kelebihan akal sehat, pikiran yang hebat, semestinya prestasi ketaqwaannya jauh. Prestasi pengabdiannya terhadap agama jauh dan melebihi dari semu hewan-hewan yang ada.

    Untuk itu, seorang sufi membahasakan bahwa seluruh bunyi-bunyian hewan itu adalah tasbih yang kita tidak mengerti bahasa mereka. Seluruh ucapan, kicauan hewan-hewan itu adalah sindiran terhadap kita yang lalai. Hanya saja kita tidak paham sindiran tersebut, walakin la tafqahuna tasbihahum. Hanya Nabiyullah Sulaiman saja yang diberi pemahaman bisa menangkap sindiran-sindiran hewan, termasuk ketika beliau dengan tentaranya mau lewat dan mendengarkan komandan semut untuk mengintrusksikan bawahannya agar masuk lubang supaya tidak terinjak-injak pasukan Nabi Sulaiman sementara mereka tidak merasa. Sindiran yang hebat. Tersinggungkah kita ? Semut itu benar. Bahwa biasanya orang besar menyakiti, menginjak-injak orang kecil itu tidak merasa sadar. Masih bagus kalau merasa sadar. Tapi disindir oleh semut, la tasy’urun.

    Kemudian Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa awhanul-buyut, rumah yang paling lemah di dunia adalah rumah laba-laba. Studi di Cornell Univesity menunjukkan bahwa benang yang dihasilkan oleh laba-laba itu kelenturannya bisa 5 kali lipat. Dari 1 cm benang yang ada bisa diulur, ditarik menjadi 5 kali panjangnya dengan tanpa putus dan tetap kuat. Ditunjuk lagi bahwa senar benang laba-laba itu 5 kali kekuatan serat baja dalam ukuran yang sama. Ditunjuk lagi bahwa andaikan bisa dikumpulkan, maka menjadi bahan anti peluru yang terhebat di dunia terbuat dari senar laba-laba. Di mesir, seminar dibuka dalam perspektif kebahasaan dan menunjukkan hasil yang mengecewakan waktu itu. Bahwa hubungan antara fi’il dan fa’il isim dzhahir seperti yang tertera pada ayat ini sebagai hubungan yang janggal dan tidak selaras dengan kaidah nahwu. Kamatsali al-‘ankabut ittakhadzat baita. Siapapun tahu bahwa al-‘ankabut merupakan bentuk mudzakkar, sedangkan ittakhadzat yang menyimpan dhamir (kata ganti) mu’annats itu kembali ke dhamir  dalam lafadz al-‘ankabut yang mudzakkar. Seharusnya ittakhadza baita. Ahli bahasa tidak bisa memberesi persoalan ini. Justru yang menyelesaikan masalah ini adalah sarjana biologi yang melakukan penelitian tentang kehidupan laba-laba. Dia bediri dan memberikan informasi bahwa menurut hasil penelitiannya, seluruh laba-laba yang membuat sarang/rumah dengan desain yang teratur dan simetris seperti itu adalah berjenis kelamin betina. Karena benang laba-laba itu diproduksi dari rahimnya, dan hanya jenis kelamin betinalah yang mempunyai rahim. Maka benarlah Al-Qur’an, memasang bentuk mu’annats.

    Untuk itu, kita dihadapkan pada persoalan akademik lagi. Sekuat itu benang laba-laba, tapi mengapa Al-Qur’an menunjuk dengan bahasa awhanul-buyut (yang paling lemah)? Jawabannya adalah kelemahan atau al-awhan, itu merupakan tesis metaforik. Atau juga disebut bahasa sindiran, bahasa tamtsil. Orang yang mengambil Tuhan, bertuhan selain Allah itu seluruh logikanya lemah seperti lemahnya sarang laba-laba. Terkena hujan, rusak. Terkena sentuhan, rusak, dan lain-lain. Siapapun orangnya yang bertuhan selain Allah itu pasti logikanya tidak masuk akal.

    Terkait dengan Natal, sangat mudah sekali menggugurkan, menggagalkan, dan menyalahkan konsep teologi Nasrani atau Katolik tersebut. Jika Yesus atau Nabi Isa itu lahir pada masa itu, lalu diangkat menjadi Tuhan, persoalannya adalah umat-umat yang sudah hidup di dunia ini ratusan sampai ribuan tahun lalu itu bertuhan siapa? Mana ada Tuhan lahir belakangan setelah kehidupan dunia berjalan ribuan tahun. Yesus yang dianggap punya ayah, dianggap Tuhan ayahnya. Yesus juga punya Ibu, betul karena ibunya adalah Maryam. Nabi Isa juga punya kakek, punya nenek. Dengan begitu, persoalannya menjadi lebih runyam. Apakah seorang kakek, seorang nenek, harus menyembah cucunya sendiri yang menjadi Tuhan ? Karena lemahnya logika itulah, oleh Al-Qur’an disebut dengan awhanul-buyut. Mudah-mudahan dengan konfigurasi dan gambaran ini, keimanan kita semakin mantap dan makin memproyeksikan diri menggapai taqwa yang sangat berkualitas. Semoga bermanfaat.

    Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i, Mudir PP Madrasatul Qur’aN Tebuireng

    ,


    Ada dua kalam yang pembacaannya dianggap berpahala. Pertama, kalaamulloh Al Quran Al Karim sebagai kalam yang literat. Al Muta’abbadu bitilawatih, siapapun yang membaca Al Qur’an tanpa ngerti maksudnya maka pembacaan itu sudah dihitung ibadah. Dibawah itu (kedua) adalah pembacaan sholawat kepada hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad ahollallohu’alaihi wasallam. Tidak perlu mengerti detail maknanya. Tidak perlu mengerti arti secara harfiah dari bahasa Arab sholawat itu. Cukup mengreti  bahwa dia sedang membaca sholawat. Sedang showan kehadirat Rosululloh dengan mengedepankan, menyajikan sholawat dan salam. Maka cukuplah itu dianggap membaca sholawat yang berpahala.




    Saya yakin bahwa tidak semua orang-orang yang membaca sholawat, seperti kawan-kawan ISHARI (Ikatan Hadroh) mengerti artine kabeh, saya gak yakin. Sama dengan orang yang baca diba’ yang bahasanya sulit, berbahasa saatra. Saya yakin, tidak semua ngerti artine. Opo atfatayyaji rotal ‘lamin iku opo? Mungkin anda tidak mengerti tapi anda tahu kalau anda sedang membaca sholawat. Itu cukup sebagai pembacaan yang dihitung berpahala.

    Terkait dengan hari ini sebagai maulidirrosul Nabiyyulloh Muhammad shollallohhu’alayhi wasallam. Ada catatan yang musti direnungkan. Belum pernah Alloh Subhanahu Wata’ala memerintahkan syariat apapun yang didahului dengan keteladanan. Dengan memberikan contoh diriNya sendiri selain perintah membaca sholawat.

    Ketika Alloh memerintahkan manusia agar berzakat, atau sholat, haji dan lain-lain, tidak ada pernyataan bahwa Alloh melakukan itu. Namun, begitu memerintahkan membaca sholawat kepada Nabi maka Alloh mencontohkan diriNya sendiri. Apalagi pernyataan itu dilafalkan dengan bahasa yang sangat serius “innalloha wamalaikatahu  yusholluuna ‘alnnabi”. Sesungguhnya Alloh dan para malaikat aktif lebih dahulu membaca sholawat kepada nabi. Setelah Alloh memberi teladan baru memerintahkan kepada kita “Yaa ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi”.

    Dari sisi dimensi takbir banyak yang bisa kita ungkap pada ayat ini. Itu artinya kalau kita mau membaca sholawat kepada Hadroturrosul Rosul maka ada etika, ada tata akhlaq dan ada kesopanan. Tata etik ini diperankan sendiri oleh Alloh beserta para malaikat. Alloh sudah membuat contoh, “Ngenelo carane moco sholawat.”

    Siapapun tau bahwa Alloh itu Maha Sempurna. Bisa diterka bagaimana etika Alloh saat membaca sholawat kepada Hadroturrosul? Jawabannya, pasti dengan cara yang sangat sopan dan sangat bagus karena Alloh Maha Indah, Maha Berahlaq.

    Itu artinya awa’e dewe lek moco sholawat yo nyonto ahlake gusti Alloh. Ketika Alloh itu bersholawat kepada nabi, apa penghormatan Alloh kepada Nabi? Tidak pernah Alloh itu memanggil Nabi Muhammad dengan menyebut nama aslinya. Di Al Qur’an iku gak ono”Ya Muhammad!” Pasti dipanggil dengan gelarnya “Ya ayyuhanNabi, ya ayyuharRosul !”.

    Dari segi ini maka penghormatan kepada hadirat beliau itu mutlak barangkali hanya mulut-mulut yang fasik saja, jiwa-jiwa yang tidak bersih saja yang tega menyebut nama Nabi secara njangkat dengan cara mentah-mentah. Lalu diatur kalau memanggil Hadroturrosul maka tidak sama dengan memanggil antar sesama kawan.

    Tolong, bagi orang-orang yang membaca sholawat kepada Rosul dengan iringan musik, terbang, dengan iringan apapun. Tidak ada agama itu melarang musik. Tapi tolong kalau sudah membaca sholawat beriringan musik maka bagi pembaca itu yang wajib dikedepankan adalah nilai khudurnya, nilai hadroh, nilai dihadapan rosululloh. Bukan nilai musiknya.! Sehingga orang kalau rumongso membaca sholawat, seakan-akan ada dihadapan Rosul. Jangan cengengesan!, gak sempat senyum-senyum.

    Apapun group musiknya mengatas namakan kiyai sopoae. Kalau nampak membaca sholawat kok masih lebih dominan musiknya daripada nilai khudurnya, cengengesannya masih ada,  berarti dia hanya tampil dengan bermusik belum bersholawat secara haqiqi seperti yang dicontohkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

    Bisa saya buatkan sebuah analog. Kalau sampean bicara dihadapan kiyai, sedang nelpon kiyai, apakah anda berbicara dengan cengengesan?, apakah anda berbicara dengan senyum-senyum? Jawabannya tentu tidak. Pasti bicara dengan sopan.

    Oleh karena itu para ulama’ menggubah kata-kata dalam sholawat itu ada dua. Pertama, sholawat yang digubah dengan bahasa nasab. Selanjutnya ada sholawat yang digubah dengan bahasa saja’ atau qosidah. Sholawat yang tidak dirancang untuk dilagukan, maka pasti kalau dilagukan itu akan rusak. Begitu pula dengan sholawat yang digubah dengan saja’ pelaguan, memang sudah ada patokannya sendiri.

    Kita ambil contonh sholawat yang digubah dirancang untuk qosidah maka semua akan pas sesuai karena memang dirancang seperti itu. Sholawat “Burdah” dengan lagunya yang bagus huwalkhabibulladzi turja syafa’atuhu panjang pendeknya pasti tepat dan pas. Sedangkan sholawat yang oleh pengarangnya sengaja digubah bukan untuk dilagukan bukan untuk syair. Seperti sholawat “nariyah” allohumma sholli sholatan kaamilatan wa sallim salaman taamman digubah tidak untuk dilagukan. Jadi andaikan ada yang mau melagukan tidak akan cocok. Panjang pendeknya rusak. Untung didalam agama itu masih ada toleransi.

    Untuk itu sesungguhnya dalam mimbar ini memang saya harus menyampaikan secara tegas sekaligus memberi peringatan. Bahwa belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan rosululloh itu mesti dijawab dengan syafa’at. Saya ingatkan sekali lagi, belum tentu orang yang membaca sholawat dihadapan Hadroturrosul itu mesti dijawab dengan sysafa’at. Barangkali karena rosul tersinggung, penyajian sholawat itu tidak etik.

    Belum tentu orang yang menyajikan makanan dihadapan orang tua itu mesti dimakan. Terserah bagaimana caranya dan bahasanya. Kalau dia pakai bahasa yang sopan “mbah ini mbah, monggo dipun dahar mbah!” insya Alloh makanan yang tidak enak pun mbah ngerti “mugo-mugo dibales gusti Alloh” tapi kalau penyajiannya itu membentak “mbah ikilo mbah panganen, pangaen-pangaen!” seenak apapun makanan itu pati si mbah menolak dan tersinggung.

    Dalam momen maulid ini saya sampaikan ayat yang mengerikan tentang orang-orang yang membaca sholawat atau berhubungan dengan Hadroturrosul dengan cara yang tidak baik. Seperti ditera dalam ujung suroh An Nur yang menunjukkan bahwa memanggil, berkonsultasi dengan Rosul itu harus bagus, tidak boleh terjadi tahallul yang liwadzah dan seterusnya.

    Peringatan bagi orang yang membaca sholawat yang kurang etik sajiannya kurang etik dihadapan Rosululloh falyahdzat! hati-hatilah kalian antushibahum fitnah Anda bukan mendapat syafa’at tapi anda malah tertimpa fitnah. Tafsiran Ulama’ tentang fitnah salah satunya adalah sebuah kenegatifan, hambatan berbuat baik, hambatan ketaqwaan pada diri pembaca sholawat itu.

    Kenapa banyak groub-groub musik membaca shoilawat, berjanzi. Tetapi kenapa para pelaku-pelaku itu, musisi-musisi itu tidak bertambah taqwa?padahal membaca sholawatnya sudah dikemas begini-begini. Jawabannya adalah ayat ini “Dia bukan mendapat syafa’at tapi malah mendapat fitnah yang menghambat prestasi taqwanya sendiri. Walaupun dipanggung beraction merem-merem.

    Pait memang khutbah ini tapi kalau kita berfikir ingin sembuh maka perlu sesekali kita itu minum pil/obat. Sepait apapun. Mudah-mudahan kita besok bisa bersama Hadroturrosul Nabiyulloh Muhammad Roaululloh Shollallohu’alaihi wasallam.

    Dikutib dari Khutbah Jum’at KH. A. Musta’in Syafi’i pada tanggal 26 Pebruari 2010 di Masjid Tebuireng.


    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
    أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:
    اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ فِي السِرِّ وَالعَلَانِيَةِ وَالغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ .

    Ibadallah,
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Alquran pada banyak ayat dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits tentang besarnya pahala yang diperoleh dari melaksanakan shalat malam. Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa shalat yang paling afdhal setelah shalat wajib adalah shalat malam.
    Ibadallah,
    Di dalam banyak ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kepada Nabi-Nya yang mulia untuk melakukan shalat malam. Antara lain adalah:
    وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ
    “Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjud-lah kamu….” (QS. Al-Israa’/17: 79).
    وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا
    “Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insaan/76: 25-26).
    وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ
    “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat.” (QS. Qaaf/50: 40).
    وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ
    “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (QS. Ath-Thuur/52: 48-49).
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai melakukan shalat wajib agar melakukan shalat malam, hal itu sebagaimana terdapat pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
    “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mu-lah hendaknya kamu berharap.” (QS. Asy-Syarh/94 : 7-8).
    Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memuji para hamba-Nya yang shalih yang senantiasa melakukan shalat malam dan bertahajjud, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
    “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzaariyaat/51: 17-18).
    Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Tak ada satu pun malam yang terlewatkan oleh mereka melainkan mereka melakukan shalat walaupun hanya beberapa raka’at saja.”
    Al-Hasan al-Bashri berkata, “Setiap malam mereka tidak tidur kecuali sangat sedikit sekali.”
    Al-Hasan juga berkata, “Mereka melakukan shalat malam dengan lamanya dan penuh semangat hingga tiba waktu memohon ampunan pada waktu sahur.”
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam memuji dan menyanjung mereka:
    تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkah-kan sebagian dari rezeki yang Kami berikan ke-pada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah/32: 16-17).
    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan apa yang mereka lakukan adalah shalat malam dan meninggalkan tidur serta berbaring di atas tempat tidur yang empuk.”
    Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Dia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam surga.”
    Dari Asma binti Yazid radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    إِذَا جَمَعَ اللهُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، جَاءَ مُنَادٍ فَنَادَى بِصَوْتٍ يَسْمَعُ الْخَلاَئِقُ: سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ اَلْيَوْمَ مَنْ أَوْلَى بِالْكَرَمِ، ثُمَّ يَرْجِعُ فَيُنَادِي: لِيَقُمَ الَّذِيْنَ كاَنَتْ (تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ) فَيَقُوْمُوْنَ وَهُمْ قَلِيْلٌ.
    “Bila Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir pada hari Kiamat kelak, maka datang sang penyeru lalu memanggil dengan suara yang terdengar oleh semua makhluk, ‘Hari ini semua yang berkumpul akan tahu siapa yang pantas mendapatkan kemuliaan!’ Kemudian penyeru itu kembali seraya berkata, ‘Hendaknya orang-orang yang ‘lambungnya jauh dari tempat tidur’ bangkit, lalu mereka bangkit, sedang jumlah mereka sedikit.”(HR. Abu Ya’la).
    Di antara ayat-ayat yang memuji orang-orang yang selalu melakukan shalat malam adalah firman Allah:
    أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
    “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?…” (QS. Az-Zumar/39: 9).
    لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ
    “Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” (QS. Ali ‘Imraan/3: 113).
    وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
    “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al-Furqaan/25: 64).
    سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
    “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud….” (QS. Al-Fat-h/48: 29).
    الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
    “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali-‘Imran/3: 17).
    Dan lain sebagainya dari ayat-ayat Alquran.
    Barangsiapa yang menginginkan pengetahuan yang bermanfaat dan faidah yang banyak, hendaknya menelaah penafsiran ayat-ayat ini dalam kitab-kitab tafsir, karena pada ayat-ayat terdapat manfaat dan faidah yang amat besar.
    Kaum muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kepada para sahabatnya untuk melakukan shalat malam dan membaca Alquran di dalamnya. Hadits-hadits yang mengungkapkan tentang hal ini sangat banyak untuk dapat dihitung. Namun kami hanya akan menyinggung sebagiannya saja, berikut panda-ngan para ulama sekitar masalah ini.
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ صَلاَةِ الْمَفْرُوْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ.
    “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.” (HR. Muslim).
    Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Bab Keutamaan Shalat Malam.” Selanjutnya ia membawakan hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata: “Seseorang di masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamapabila bermimpi menceritakannya kepada beliau. Maka aku pun berharap dapat bermimpi agar aku ceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat aku muda, aku tidur di dalam masjid lalu aku bermimpi seakan dua Malaikat membawaku ke Neraka. Ternyata Neraka itu berupa sumur yang dibangun dari batu dan memiliki dua tanduk. Di dalamnya terdapat orang-orang yang aku kenal. Aku pun berucap, ‘Aku berlindung kepada Allah dari Neraka!’ Ibnu ‘Umar melanjutkan ceritanya, ‘Malaikat yang lain menemuiku seraya berkata, ‘Jangan takut!’ Akhirnya aku ceritakan mimpiku kepada Hafshah dan ia menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda:
    نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ.
    ‘Sebaik-baik hamba adalah Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.’
    Akhirnya Abdullah tidak pernah tidur di malam hari kecuali hanya beberapa saat saja.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
    Ibnu Hajar berkata: “Yang menjadi dalil dari masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sebaik-baik hamba adalah ‘Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.’ Kalimat ini mengindikasikan bahwa orang yang melakukan shalat malam adalah orang yang baik.”
    Ibnu Hajar menambahkan, “Hadits ini menunjukkan bahwa shalat malam bisa menjauhkan orang dari adzab.”
    Aisyah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukan shalat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ! فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى اِنْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ.
    “Setan mengikat di pangkal kepala seseorang darimu saat ia tidur dengan tiga ikatan yang pada masing-masingnya tertulis, ‘Malammu sangat panjang, maka tidurlah!’ Bila ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan lepas, bila ia berwudhu’ satu ikatan lagi lepas, dan bila ia shalat satu ikatan lagi lepas. Maka di pagi hari ia dalam keadaan semangat dengan jiwa yang baik. Namun jika ia tidak melakukan hal itu, maka di pagi hari jiwanya kotor dan ia menjadi malas.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
    Ibnu Hajar berkata: “Apa yang terungkap dengan jelas dalam hadits ini adalah, bahwa shalat malam memiliki hikmah untuk kebaikan jiwa walaupun hal itu tidak dibayangkan oleh orang yang melakukannya, dan demikian juga sebaliknya. Inilah yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:
    إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
    “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih terkesan.” (QS. Al-Muzzammil/73: 6).
    Sebagian ulama menarik kesimpulan dari hadits ini bahwa orang yang melakukan shalat malam lalu ia tidur lagi, maka setan tidak akan kembali untuk mengikat dengan beberapa ikatan seperti semula.”
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْـدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ.
    “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa pada) bulan Allah yang mulia (Muharram) dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
    Hadits ini menjadi dalil bagi kesepakatan ulama bahwa shalat sunnah di malam hari adalah lebih baik daripada shalat sunnah di siang hari.
    وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
    “Dan pada sebagian malam hari bershalat ta-hajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengang-katmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Israa’/17: 79).
    Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata…” (QS. As-Sajdah/32: 16-17).
    Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma ia menuturkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ: كاَنَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا.
    “Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Dawud ‘alaihissallam dan puasa yang paling dicintai Allah juga puasa Nabi Dawud ‘alaihissallam. Beliau tidur setengah malam, bangun sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam serta berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
    mengatakan Nabi Dawud ‘alaihissallam mengistirahatkan dirinya dengan tidur pada awal malam lalu ia bangun pada waktu di mana Allah menyeru, ‘Adakah orang yang meminta? Niscaya akan Aku berikan permintaannya!’ lalu ia meneruskan lagi tidurnya pada malam yang tersisa sekedar untuk dapat beristirahat dari lelahnya melakukan shalat Tahajjud. Tidur terakhir inilah yang dilakukan pada waktu sahur. Metode seperti ini lebih dicintai Allah karena bersikap sayang terhadap jiwa yang dikhawatirkan akan merasa bosan (jika dibebani dengan beban yang berat) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
    إِنَّ اللهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوْا.
    “Sesungguhnya Allah tidak akan pernah merasa bosan sampai kalian sendiri yang akan merasa bosan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin selalu melimpahkan karunia-Nya dan memberikan kebaikan-Nya.”
    Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
    إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَـةً، لاَ يُوَافِقُهَا رَجُـلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ.
    “Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam.” (HR. Muslim).
    Hadits ini menetapkan adanya waktu dikabulkannya doa pada setiap malam, dan mengandung dorongan untuk selalu berdoa di sepanjang waktu malam, agar mendapatkan waktu itu.”
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    رَحِمَ اللهُ رَجُـلاً، قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ اِمْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِيْ وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ اِمْرَأَةً، قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِيْ وَجْهِهِ الْمَاءَ.
    “Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan isterinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila si suami enggan untuk bangun ia pun memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Abu Dawud dan selainnya).
    Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    مَنِ اسْتَيْقَظَ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ.
    “Barangsiapa yang bangun di waktu malam dan ia pun membangunkan istrinya lalu mereka shalat bersama dua rakaat, maka keduanya akan dicatat termasuk kaum laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan selainnya).
    Hadits ini seperti dikemukakan oleh ath-Thibi menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan kebaikan seyogyanya menginginkan untuk orang lain apa yang ia inginkan untuk dirinya berupa kebaikan, lalu ia pun memberikan kepada yang terdekat terlebih dahulu.
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ، صَحَّابٍ فِي اْلأَسْوَاقِ، جِيْفَةٍ بِاللَّيْلِ، حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ اْلآخِرَةِ.
    “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang perilakunya kasar, sombong, tukang makan dan minum serta suka berteriak di pasar. Ia seperti bangkai di malam hari dan keledai di siang hari. Dia hanya tahu persoalan dunia tapi buta terhadap urusan akhirat.'” (HR. al-Baihaqi).
    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمْ صَلاَةَ قَوْمٍ أَبْرَارٍ يَقُوْمُوْنَ اللَّيْلَ وَيَصُوْمُوْنَ النَّهَارَ، لَيْسُوْا بِأَثَمَةٍ وَلاَ فُجَّارٍ.
    “Allah telah menjadikan pada kalian shalat kaum yang baik; mereka shalat di waktu malam dan berpuasa di waktu siang. Mereka bukanlah para pelaku dosa dan orang-orang yang jahat.” (HR. Abd bin Humaid).
    Dari ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Yang pertama kali aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sabda beliau:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا اْلأَرْحَـامَ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.
    “Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR. at-Tirmidzi).
    Abdullah bin Qais mengatakan, bahwa Aisyah radhiyallahun anhuma berkata: “Janganlah kalian meninggalkan shalat malam karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau malas, beliau shalat dalam keadaan duduk.” (HR. Ahmda dan Abu Dawud).
    Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    فَضْلُ صَلاَةِ اللَّـيْلِ عَلَى صَلاَةِ النَّهَارِ، كَفَضْلِ صَدَقَةِ السِّرِّ عَلَى صَدَقَةِ الْعَلاَنِيَةِ.
    “Keutamaan shalat malam atas shalat siang, seperti keutamaan bersedekah secara sembunyi atas bersedekah secara terang-terangan.” (HR. al-Haitsami dan selainnya).
    Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia menuturkan pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    أَلاَ إِنَّ اللهَ يَضْحَكُ إِلَى رَجُلَيْنِ: رَجُلٌ قَـامَ فِيْ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ مِنْ فِرَاشِهِ وَلِحَافِهِ وَدِثَارِهِ، فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَلاَئِكَتِهِ: مَا حَمَلَ عَـبْدِيْ هَذَا عَلَى مَا صَنَعَ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: رَبُّنَا رَجَاءً مَا عِنْدَكَ وَشَفَقَةً مِمَّا عِنْدَكَ، فَيَقُوْلُ: فَإِنِّي قَدْ أَعْطَيْتُهُ مَا رَجَا وَأَمَّنْتُهُ مِمَّا يُخَافُ.
    “Ketahuilah, sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu’ dan melakukan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para Malaikat-Nya, ‘Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu dan takut dari apa yang ada di sisi-Mu pula.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.'” (HR. Ahmad dan selainnya).
    Masih banyak lagi hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang keutamaan shalat malam, dorongan terhadapnya dan kedudukan orang-orang yang senantiasa melakukannya.
    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
    Khutbah Kedua:
    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
    أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى .
    Ibadallah,
    Selain firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada pula perkataan para sahabat yang turut memotivasi kita untuk melaksanakan shalat malam. Di antaranya:
    Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya di dalam Taurat tertulis, ‘Sungguh Allah telah memberikan kepada orang-orang yang lambungnya jauh dari tempat tidur apa yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia, yakni apa yang tidak di-ketahui oleh Malaikat yang dekat kepada Allah dan Nabi yang diutus-Nya.'” (HR. al-Hakim).
    Saat menjelang wafatnya Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Tidak ada sesuatu yang sangat aku sedihkan di dunia ini selain rasa dahaga di siang hari dan kelelahan di malam hari.”
    Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kemulian seseorang terletak pada shalatnya di malam hari dan sikapnya menjauhi apa yang ada pada tangan orang lain.”
    Thalhah bin Mashraf berkata, “Aku mendengar bila seorang laki-laki bangun di waktu malam untuk melakukan shalat malam, Malaikat memanggilnya, ‘Berbahagialah engkau karena engkau telah menempuh jalan para ahli ibadah sebelummu.'” Thalhah mengatakan lagi, “Malam itu pun berwasiat kepada malam setelahnya agar membangunkannya pada waktu di mana ia bangun.” Thalhah mengatakan lagi, “Kebaikan turun dari atas langit ke pembelahan rambutnya dan ada penyeru yang berseru, ‘Seandainya seorang yang bermunajat tahu siapa yang ia seru, maka ia tidak akan berpaling (dari munajatnya).’”
    Dari al-Hasan al-Bashri berkata, “Kami tidak mengetahui amal ibadah yang lebih berat daripada lelahnya melakukan shalat malam dan menafkahkan harta ini.”
    Al-Hasan juga pernah ditanya, “Mengapa orang yang selalu melakukan shalat Tahajjud wajahnya lebih indah?” Ia menjawab, “Sebab mereka menyendiri bersama ar-Rahman (Allah), sehingga Allah memberikan kepadanya cahaya-Nya.” (Diriwayatkan oleh al-Marwazi).
    Syuraik berkata, “Barangsiapa yang banyak shalatnya di malam hari, maka wajahnya akan tampak indah di siang hari.”
    Yazid ar-Riqasyi berkata, “Shalat malam akan menjadi cahaya bagi seorang mukmin pada hari Kiamat kelak dan cahaya itu akan berjalan dari depan dan belakangnya. Sedangkan puasa seorang hamba akan menjauhkannya dari panasnya Neraka Sa’ir.”
    Wahab bin Munabih berkata, “Shalat di waktu malam akan menjadikan orang yang rendah kedudukannya menjadi mulia, dan orang yang hina menjadi berwibawa. Sedangkan puasa di siang hari akan mengekang seseorang dari dorongan syahwatnya. Tidak ada istirahat bagi seorang mukmin tanpa masuk Surga.”
    Al-Awza’i berkata, “Aku mendengar barangsiapa yang lama melakukan shalat malam, maka Allah akan meringankan siksanya pada hari Kiamat kelak.”
    Ishaq bin Suwaid berkata, “Orang-orang Salaf memandang bahwa berekreasi adalah dengan cara puasa di siang hari dan shalat di malam hari.”
    Kita berlindung kepada Allah dari kerugian dan hanya Dia-lah tempat memohon pertolongan.
    وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
    اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَرْضِ الشَامِ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ شَاكِرِيْنَ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا.
    اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ. اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
    عِبَادَ اللهِ: أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، { وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ } .


Top