, ,

    5 Keuntungan yang Hanya Bisa Didapat di Pesantren


    Oleh: Fatkhurrahman Karyadi*
    Oleh: Fatkhurrahman Karyadi*
    Bagi orangtua mungkin akan bingung memikirkan tempat pendidikan yang cocok untuk anaknya. Banyak lembaga yang bagus, berprestasi, dan unggulan, namun masih saja ragu. Kini saatnya membuang keraguan itu. Pesantren bisa menjadi solusi terbaik. Karena banyak hal yang ternyata hanya ada di pondok pesantren. Berikut lima di antaranya:
    Kasih Sayang Kiai
    Jika di rumah seorang anak hanya mendapat kasih sayang orangtua saja maka di pesantren para santri akan mendapatkan kasih sayang dan didikan dari para guru dan kiai. Betapa tidak, sejak subuh mereka sudah dibangunkan untuk beraktivitas. Mulai bersih-bersih diri, Shalat Subuh berjamaah, berdoa, dan berolahraga.
    Jika seorang santri melanggar aturan, mereka akan diganjar oleh kiai dengan takzir atau hukuman. Ganjaran itu biasanya akan membentuk mental dan karakter lebih baik. Terkadang disuruh membaca 1 juz Al Quran dengan berdiri, disuruh menyapu halaman seluruh pondok, menguras kamar mandi, shalat di shaff awal selama sebulan penuh, dan lain-lain.
    Tak sampai di situ, kasih sayang kiai juga terlontarkan kepada para santri ketika terlelap tidur. Saat malam sunyi menyelimuti, kiai bangun untuk Shalat Tahajjud dan mendoakan seluruh santrinya. Bahkan, sampai si santri menjadi alumni pun doa beliau tak akan putus.
    Sahabat Sepanjang Masa
    Orang yang pernah menempuh pendidikan di pesantren pasti ia akan punya banyak sahabat. Berbeda dengan yang hanya menempuh pendidikan di dunia formal, mereka hanya saling kenal sebatas wilayahnya saja dan sekadar teman bukan sahabat erat.
    Bagaimana tidak, para santri akan berinteraksi satu sama lain selama 24 jam full. Mereka akan makan bersama, mencuci bersama, berolahraga bersama, belajar bersama, sampai tidur pun bersama.
    Di samping itu, para santri berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka memiliki budaya, bahasa, serta bentuk fisik yang heterogen sehingga rasa ingin berkenalan dan bersahabat erat akan semakin terjalin. Maka tak heran, ketika mereka sudah keluar pesantren hubungan persahabatan terus berlanjut.
    Berpotensi Jadi Multitalenta
    KH Abdul Wahid Hasyim pernah berkata, “Alumnus pesantren tak harus menjadi ahli agama”. Artinya, para santri mampu menjadi apa saja dan berkiprah di mana saja. Hal ini tak lain karena di dalam pesantren mereka digembleng banyak disiplin keilmuan, baik teori maupun praktik.
    bagi yang menyukai ilmu eksakta mereka akan bertemu dengan komunitasnya, begitu juga mereka yang menyukai dunia seni, sastra, beladiri, dst. Tak perlu ditanya tentang kemampuan mereka membaca Al Quran, memahami kitab kuning, berdialog bahasa Arab, dan berpidato, itu adalah lauk-pauk sehari-hari mereka.
    Tak heran, di tingkat nasional di berbagai bidang maupun institusi negeri atau swasta banyak tokoh yang lahir dari bilik pesantren.
    Insan Berakhlak Mulia
    Pernah mendengar pesantren terlibat aksi tawuran? Atau para santri terjerat kriminal? Pasti tidak. Jika iya, hal itu sangat jarang bahkan langka dari jumlah pesantren dan santri yang ratusan ribu.
    Ya, di pesantren para santri ditekankan adab, akhlak atau sopan santun. Baik untuk dirinya sendiri, maupun kepada orang lain terlebih kepada yang usianya lebih tua.
    Bahkan, di pesantren mereka juga dikenalkan dengan ilmu tasawuf yakni adab atau tatakrama seorang hamba kepada Tuhannya dalam beribadah dan kehidupan sehari-hari.
    Genealogi Keilmuan yang Jelas
    Ini adalah satu hal yang menjadi pembeda antara pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang lainnya. Yaitu adanya sanad atau mata rantai guru dan murid sebagai satu kesatuan genealogi keilmuan yang jelas.
    Seorang santri akan menerima ijazah sanad tersebut setelah mereka berhasil mengkhatamkan sebuah kitab yang dikaji. Semisal  mempelajari Kitab Shahih Bukhari, mereka akan menerima keterangan bahwa sang guru belajar dari gurunya dari guru selanjutnya hingga sampai sang pengarang kitab bahkan Rasulullah SAW.
    Jadi tak perlu khawatir, santri-santri pesantren tak akan menyebarkan faham sesat, atau terlarang. Mereka memiliki banyak bekal, salah satunya mata rantai tersebut. Kalaupun ada yang sedikit menyimpang, mereka akan segera sadar dan kembali ke khitahnya.
    So, tidak ragu lagi kan menyelam di lautan pondok pesantren untuk mengarungi mutiara-mutiaranya?

    *Alumnus Ponpes Sawahan Rembang dan Pesantren Tebuireng Jombang.

    , , ,

    KH. Irfan Sholeh Sampaikan 3 Ciri Hidup Bahagia pada Santri

    KH. Irfan Sholeh Sampaikan 3 Ciri Hidup Bahagia pada Santri

    KH. Irfan Sholeh Sampaikan 3 Ciri Hidup Bahagia pada Santri


    Tebuireng.online- Ahad (12/07/17) merupakan hari yang dijadikan momen penting bagi santri baru dalam mengikuti pentupan kegiatan Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) Pesantren Tebuireng tahun 2017. Pada kesempatan itu, seluruh santri turut menghadiri acara tersebut dengan khidmat dan bersemangat. Acara penutupan MOSBA 2017 juga dihadiri oleh KH. Irfan Sholeh selaku pengisi mauidlah hasanah.
    Dalam tausiyahnya, beliau memberikan indikator orang-orang yang nantinya berbahagia dalam hidupnya. Seluruh santri mendengarkan penjelasan beliau dengan khidmat dan seksama. “Jika kalian ingin bahagia hidupnya, kalian harus tahu indikatornya dulu. Maksudnya 3 ciri yang bisa membuat kalian bahagia nantinya,” ucap beliau saat menerangkan materi dalam tausiyah.
    “Yang pertama adalah قُوْطٌ حَلاَلٌ (bekal yang halal),” tegasnya. Menurut beliau, bahwa jika  sebagai tholabul ilmi harus mempunyai bekal yang harus terjamin halalnya. Jika terdapat secuil saja yang tergolong haram, maka ilmu yang kita peroleh akan sia-sia karena masih ada yang haram walau sedikit. Maka beliau berpesan kepada santri dan walisantri yang hadir untuk memberikan bekal yang halal agar ilmu dari guru bisa masuk dengan lancar.
    “Kedua, ini yang sangat penting khususnya bagi santri zaman sekarang مُجَالَسَتُهُ مَعَ الْعُلَمَاء (saling berkomunikasi dengan ulama),” ucapnya. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah orang yang telah memberikan ilmu kepada tholabul ‘ilmi. Beliau menegaskan bahwa kehidupan santri harus saling berinteraksi dengan kiai, ustad/ustadah agar terjalin hubungan yang baik dan ilmunya tidak terputus (sanad keilmuan).
    “Ketiga, ini juga sangat penting bagi kalian yang sedang nyantri صَلَاتُهُ بِالْجَمَاعَةِ (mengusahakan shalat berjamaah),” ujar beliau. Beliau menitikberatkan pada satu hal ini, karena di luar pesantren jarang sekali menemukan orang yang selalu shalat berjamaah. Beliau menghimbau kepada seluruh santri agar rajin shalat berjamaah, karena itu adalah ciri khas anak pesantren. Jadi menurut beliau, shalat berjamaah merupakan hal yang lazim bahkan selalu ada di dunia pondok pesantren meskipun terdapat libur pondok.

    “Semua itu hanya ada di pondok pesantren, yang lain nggak bakal nemu kalian. Bersyukurlah kalian yang sekarang jadi santri,” tukas beliau memberikan semangat kepada seluruh santri baru  untuk mampu melaksanakan tiga hal tersebut.
    “Kalian harus sering mulazamah (kontinyu) membacakan Al-Fatihah kepada kiai, ustad/ustadah agar kalian juga nanti didoakan walaupun beliau sudah wafat. Kemudian taati peraturan, hindari kenakalan, Insya Allah kalian nanti mondoknya barokah,” jelas beliau di hadapan semua santri.

    ,

    Matahari dan Awan Cerah
    Matahari dan Awan Cerah
    Cerpen oleh : Nurul Insani
    Hakikat bertemu adalah untuk berpisah. Berpisah tak selamanya menjadi simbol akhir sebuah hubungan. Berpisah tak selamanya lara. Kadang kala berpisah menjadi satu kepastian yang dapat mengubah sifat seseorang agar lebih dewasa dalam menyikapi keadaan. Seperti perpisahan yang dialami oleh seorang anak dengan orang tuanya. Gadis kecil nan lugu ini gemar bercerita pada buku harian. Tiap sendu dan peluh, Ia wujudkan dengan tulisan. Keseluruhan tulisannya penuh dengan perasaan. Namanya Ziyadatul Ilmi, yang biasa dipanggil Ziya. Sudah tiga hari Ia tinggal di pesantren yang jauh dari kota kelahirannya.
    Di bawah terik matahari yang menjulurkan cahaya hangatnya masuk ke dalam pesantren, wajah Ziya yang berhias jilbab kuning kepodang terlihat gelisah. Ia tidak sedang menggerutu, tidak juga membisu. Bertahun-tahun Ia hidup bersama Ayah dan Ibunya tanpa kekurangan apapun. Tak ayal jika beberapa hari ini Ia menangis sendu.
    Setelah lulus Sekolah Dasar, orang tua Ziya memutuskan untuk mengirim putri sulungnya ini ke pesantren salaf di kota Gresik, sebab sudah saatnya Ziya belajar memaknai hidup secara mandiri. Selain itu, orang tua Ziya juga ingin agar kelak Ziya terbekali oleh ilmu-ilmu agama. Dengan demikian Ia tak akan terjerumus dalam kemaksiatan yang kian merajalela. Ziya tak bisa mengelak keputusan orang tuanya. Ia sadar bahwa ini demi kebaikannya sendiri. Bersandang ridho, maka berangkatlah Ziya ke pesantren ditemani orang tuanya.
    “Nak, cepat keluarkan bajumu dari dalam tas. Ini lemarimu,” pinta Ibu Ziya. Ziya bergegas melaksanakan perintah Ibunya sembari memandang sebuah kotak berbentuk persegi yang ukurannya hanya dapat memuat buku dan empat potong baju. Inilah lemari kecil seadanya untuk para santri baru seperti Ziya. Beberapa menit kemudian sang Ibu keluar menghampiri suaminya yang sedari tadi menunggu di ruang tunggu khusus pengunjung lelaki. Sementara Ziya merapikan barang-barang keperluannya di kamar.
    “Bu, apa Ziya sudah selesai beres-beresnya? Kalau sudah, ayo pulang, Bu! Kasihan anak-anak yang menunggu kita di rumah,” pinta Ayah Ziya dengan nada merajuk.
     “Iyah, Pak. Sebentar lagi kusuruh Ziya keluar untuk segera menemui kita,” Sahut ibu Ziya.
    Dari kejauhan terlihat Ziya berjalan lambat menghampiri orang tuanya. Hati kecil Ziya tak ingin berpisah, namun Ia juga tak ingin mengecewakan orang tua yang selama dua belas tahun ini merawat dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Ziya pun berusaha membiaskan perasaan sedih di raut wajahnya agar tak terlihat merah merona. Ziya mencium lembut tangan orang tuanya sebagai petanda mereka akan segera meninggalkan Ziya.  Sebelum itu Ibu Ziya mengeluarkan selembar uang dari dompet lalu memberikannya pada Ziya. Ziya tertegun dan terdiam. Ia ingin menangis saja. Hebatnya Ziya, Ia tak sampai hati meneteskan air mata di depan orang tuanya. Demikian agar mereka tak merasa iba dan haru pada Ziya. Sesungguhnya, setiap tetes air mata yang Ziya tahan bukan karena nominal uang yang diperoleh dari Ibunya. Hanya saja Ziya tak ingin perpisahan yang sudah pasti meninggalkan rindu pada orang tuanya ini ditukar dengan uang.
    ***
    Langit semakin gelap. Perlahan bintang yang bersanding dengan rembulan tak kuasa memancarkan cahaya. Awan hitam menggumpal. Cuaca mendung. Hujan pun turun mengguyur lapangan pesantren. Meski begitu, derasnya hujan tak dapat menandingi riuh suara santri bersenandung imrithi. Warna-warni jilbab berbaris rapi memenuhi mushala pesantren malam itu. Tak disangka, di sudut mushala paling depan, Ziya nampak khusyu’ dengan imrithi yang dipegangnya. Sebelum mengawali hafalan, bibirnya selalu berkecamuk lirih membaca Al-Fatihah yang dikhususkan pada Nabi SAW, Syaikh Syarifuddin Yahya Al-Imrithi yang merupakan pengarang nadzmul imrithi, guru, dan juga orang tuanya. Meski Ziya tak pernah unggul di kelas, hanya satu yang Ia harapkan, Ilman nafi’ah.
    Semenjak rasa rindu pada orang tuanya mengalir deras, Ziya mulai berpikir tegas dan bertekad keras untuk membahagiakan orang tuanya. Sekalipun setelah beberapa bulan tinggal di pesantren, Ziya merasa belum ada perkembangan signifikan dalam dirinya. Terbukti bahwa selama ini belum ada satu pun pelajaran pesantren yang dapat Ia pahami. Terlebih dalam ilmu nahwu yang merupakan salah satu ilmu tata bahasa arab sebagai dasar membaca kitab kuning bagi santri pemula. Di pesantren para santri dituntut menghafal dan memahami 254 nadzam imrithi yang di dalamnya terkandung materi dasar membaca kitab kuning.
    Sejak dulu, Ziya jago dalam menghafal. Ingatannya sangat kuat. Di tengah padatnya kegiatan pesantren, hanya dengan waktu enam bulan Ia dapat mengkhatamkan hafalan dari seluruh nadzam tersebut dengan lancar. Sayang, kelebihan itu terlampau kurang di hadapan asatidz jika Ziya tetap saja tak mampu memahami nadzam yang telah dihafalkannya. Hingga pernah sekali, seorang teman sengaja mencelanya.
    “Kalaupun hafal seluruh nadzam sampai ke akar-akarnya tanpa paham apa maksud yang terkandung, seperti halnya menanam tumbuhan dan memberi pupuk, tapi jika tak pernah menyiramnya sama saja bohong. Jika begini terus, kukira kau tak akan dapat memetik bunga ataupun buahnya, Ziya,” sindir Nisak, teman sekelas sekaligus teman karib Ziya yang berhasil meraih peringkat tertinggi saat itu.
    Bagai belati penghujam ulu hati, ucapan itu nyaris merentas seluruh harapan dan menyisakan kenistaan. Ziya sudah tak kepalang tanggung sakit hatinya pada Nisak yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Bukan motivasi yang Ia dapat dari temannya. Ziya berusaha lapang dada menerima segala apa yang ada dalam dirinya sebab Ia tak ingin menaruh dendam dan benci terhadap teman karibnya itu. Ziya hanya melempar senyum pada Nisak. Demi kenyamanan pesantren, Ia tak ingin beradu mulut membantah ucapan yang kiranya tak patut disampaikan.
    ***
    Hari demi hari semangat Ziya semakin membara seiring dengan terpilihnya Ia menjadi kandidat peserta seleksi membaca kitab se Kabupaten Gresik. Ziya tak menyangka bahwa pihak asatidz mempercayakan amanah padanya yang tidak semua santri dapat mengemban.
    “Ziya, kemari!” Ustadz Rosyad selaku wali kelas Ziya memanggilnya di ruang guru.
    “Ada apa njenengan memanggil saya, Ustadz?” Tanya Ziya setelah mengetuk pintu dan memasuki ruang guru.
    “Ada yang ingin kubicarakan denganmu, duduklah!”
    “Iya, Ustadz,”
    “Begini, akhir-akhir ini kuperhatikan kemampuanmu memahami nahwu semakin meningkat. Kalau kau tidak keberatan, apa kau mau membimbing teman-temanmu yang nilainya masih dibawa standard?”
    “Iya, insya Allah saya akan berusaha membimbing mereka semampu saya, Ustadz,”
    “Satu hal yang harus kau tahu. Kurang lebih dua bulan lagi akan ada seleksi membaca kitab se Kabupaten Gresik. Peserta yang lolos akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi nanti. Berdasarkan hasil rapat dengan kepala madrasah, kau dan Nisak ditunjuk untuk menjadi peserta mewakili pesantren ini,” Ustadz Rosyad menambahi.
    Keresahan yang dulu pernah Ia khawatirkan merupakan kesempatan Ziya untuk mencari pengalaman setelah sekian lama Ia berusaha, belajar, dan bersabar. Tanpa berpikir panjang, Ziya bersedia menerima keputusan ustadz. Ia tak ingin menolak dengan alasan apapun meski Ia harus bersaing dengan Nisak yang lebih unggul dan pandai di kelas. Sebab baginya, menolak sama saja mengecewakan. Mengecewakan guru juga termasuk mengecewakan orang tuanya. Lantas Ziya berencana untuk tidak memberitahukan hal ini pada orang tuanya. Ia takut jikalau nanti keberuntungan tak berpihak padanya dan sudah pasti tak akan membuat bahagia orang tuanya.
    ***
    Di waktu yang berbeda, Ziya memancarkan wajah berseri di balik kerudung putih sembari menyongsong hari penuh percaya diri dan mengutarakan segenap isi hati pada Ilahi. Ia duduk di hadapan para juri setelah master of ceremony menyebut nama indahnya dengan tegas dan hati-hati. Dengan mudah, Ziya dapat menjawab seluruh pertanyaan juri. Sama halnya Nisak. Nilai mereka sebanding, lebih tinggi dari peserta yang lain. Sehingga keduanya terpilih menjadi peserta yang akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi mewakili Kabupaten Gresik.
    Jantung berdetak lebih kencang mengiringi harapan yang menyeruak dalam pikiran. Ziya berharap usahanya membuahkan hasil. Sebab ini merupakan salah satu cara membahagiakan orang tuanya. Meski tak sebanding dengan apa yang telah Ia dapat dari orang tuanya, setidaknya ada segelintir bahagia memukau di ujung harapan.
    Satu minggu lagi Ziya dan Nisak diberangkatkan oleh pihak Departemen Agama Kabupaten Gresik menuju kota Probolinggo, di mana musabaqah tingkat provinsi diselenggarakan. Berdasarkan informasi dari panitia, seluruh peserta akan difasilitasi tempat tinggal di asrama Pesantren Nurul Qodim. Begitu pula dengan ustadz atau ustadzah pendamping.
    Satu minggu ini juga Ziya mempersiapkan diri dengan mengajak Nisak berdiskusi tentang seluruh materi yang akan dilombakan. Ia juga menghubungi orang tuanya agar tak berkunjung ke pesantren untuk menjenguk Ziya sementara ini. Sesuai rencana, tetap saja Ziya tak menceritakan alasan logis pada orang tuanya agar menjadi kejutan istimewa untuk mereka. Namun satu hal yang tak pernah lupa Ia sampaikan pada orang tuanya melalui telpon.
    “Bu, Ziya baik-baik saja. Doakan Ziya ya, bu. Doa terbaik Ziya harapkan dari ibu dan ayah,”
    ***
    Musabaqah dimulai. Ziya menjawab dan menjelaskan beberapa pertanyaan juri secara detail dan sistematis. Semua juri menyimak penjelasan Ziya dengan seksama. Tak ada satu pun jawaban Ziya yang diragukan oleh juri. Tentunya hal ini menjadi nilai plus yang dapat dipertimbangkan untuk memasuki final.
    Lima belas menit setelah menjelaskan, Ziya menemui Ustadz Rosyad yang sedari tadi berdiri menyaksikan penampilan Ziya di sudut ruangan.
    “Ustadz, maaf jika penampilan saya dalam menjelaskan pertanyaan juri tadi kurang sempurna,”
    “Tidak apa-apa. Sudah bagus, kok. Semoga hasilnya nanti memuaskan. Kita tunggu saja nanti malam saat pengumuman peserta masuk final dibacakan,” tutur Ustadz Rosyad.
    “Iya, Ustadz,”
    Malam yang diidamkan oleh seluruh peserta datang seperti cerahnya surya yang tak tertutup oleh tabir mendung. Dengan rasa penasaran, Ziya memperhatikan gulungan kertas yang sedikit demi sedikit dibuka oleh panitia dan mendengarkan pengumuman yang dibacakan oleh mereka.
    Tiba-tiba tangan Ziya bergetar, terlebih saat panitia menyebut namanya yang tertera dalam daftar peserta masuk final. Dari enam peserta yang lolos final, Ziya berada di urutan ketiga. Ia sangat bahagia. Ia tersenyum tipis namun tetap saja ada senja di pelupuk mata. Tanpa sengaja, air mata bahagia mengalir mengikuti garis lengkung pipinya. Dari belakang, Nisak menepuk pundak Ziya dan mengucapkan selamat.
    “Selamat dan semoga berhasil, Ziya. Maafkan aku yang selalu angkuh dan sering meremehkan kemampuanmu. Aku sadar, roda kehidupan pasti berputar. Tak selamanya unggul adalah juara. Begitu pun tak selamanya biasa-biasa saja adalah tak bias,”
    “Iya, Nisak. Terima kasih banyak. Tak apa, wajar semua manusia pernah mengalami kekhilafan,”
    Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan oleh kedatangan Ustadz Rosyad.
    “Ziya, bersiap-siaplah! Besok pagi final berlangsung,”
    “Iya, Ustadz Rosyad,” sembari menganggukkan kepala.
    Terlepas dari persiapan final, seperti biasa Ziya menuliskan hari-harinya. Ia merangkai huruf demi huruf hingga menjadi kata dan untaian kalimat indah. Tidak cukup itu, Ziya juga membayangkan jika nanti Allah menakdirkannya menjadi juara musabaqah ini, hal pertama yang akan Ia lakukan saat bersua dengan orang tuanya adalah memanjakan mereka, meluapkan rindu dalam dada, dan berterima kasih atas kasih sayang yang telah diberikan sehingga detik ini Ziya dapat mempersembahkan piala sang juara untuk orang tuanya. Semua yang dibayangkannya, Ia tulis dalam catatan harian. Kegiatan ini terus berlangsung setiap hari sesaat menjelang tidur malam.
    Tiada hari yang dirasa menjemukan bila ikhlas bersanding dengan ketulusan. Pada pagi yang tak biasa, Ziya beranjak menuju gedung musabaqah. Final segera dimulai. Peserta akan dipanggil satu per satu sesuai urutan abjad nama masing-masing. Yang pasti Ziya berada di urutan terakhir. Sekali lagi, Ziya menambatkan niat dalam hati bahwa semua ini untuk sedikit membahagiakan orang tuanya.
    Betapapun Ziya sangat bahagia untuk kesekian kalinya. Usahanya membuahkan hasil. Piala sang juara telah digenggamnya setelah panitia menyebut satu nama dalam penutupan musabaqah yang tak lain adalah nama Ziya.
    Malam semakin tenteram seiring bulan dan bintang bersinar terang. Memadu kasih di sekitar langit yang kelam. Dingin pun mulai mencengkeram. Ziya memutuskan segera berwudu dan memasuki kamar. Tak seperti malam-malam sebelumnya, tiba-tiba Ziya merasakan kantuk yang dahsyat setelah menulis semua peristiwa hari ini dalam catatan hariannya. Ia lalu menarik selimut seraya berdoa.
    “Bismikallahumma ahyaa wa bismika amuut,”
    Lima belas menit kemudian Nisak menyusul Ziya, memasuki kamar. Pandangan Nisak tertuju pada catatan harian milik Ziya yang sedang dalam keadaan terbuka. Dalam hati Nisak, ada rasa ingin membacanya.
    Probolinggo, 29 Juni 2016
    Ribuan mimpi kuukir dengan kata. Bagiku, meski tak begitu indah dibaca, yang terpenting usahaku penuh makna. Tiada waktu yang kurasa indah bila ku tak bisa membahagiakan mereka, Ayah dan Ibuku. Aku pernah terjerembab dalam diam. Hingga suatu ketika diamku berbuah lamunan. Lamunan yang mengantarkanku meraih asa yang terpendam dalam dada. Sejak saat itu, aku mulai membuka mata, mengumpulkan kembali semangat yang dulu mereda, dan mantap dalam hati bahwa aku bisa. Hari ini piala sang juara telah kubawa. Aku sudah tak sabar menunggu hari esok, di mana aku akan meninggalkan kota ini dan kembali ke pondok. Besok pagi aku harus menelpon Ibu agar lusa segera sambang ke pondok. Lalu kan kuceritakan semua peristiwa yang kurahasiakan dari Ayah dan Ibu. Dan kupersembahkan pula piala dan hadiah uang ini untuk mereka. Meski nominalnya tak seberapa dibanding dengan apa yang sudah mereka berikan padaku, setidaknya dengan uang ini aku bisa sedikit meringankan beban mereka. Dan dengan piala ini, kuharap akan ada bahagia yang terlintas di raut wajah mereka. Hari ini adalah hari yang melelahkan. Aku sudah tak kuasa menahan kantuk. Aku harus istirahat sebab dinginnya malam membuat tubuhku seperti tersayat.
    ***
    Sebelum subuh, Nisak bergegas mengemasi pakaian dan barang bawaannya. Agaknya Ia keheranan melihat Ziya yang masih tidur dengan pulas. Padahal, biasanya Ziya bangun lebih dulu daripada Nisak. Anehnya lagi, Ziya tidur dengan posisi yang sama seperti pada saat Nisak membaca catatan hariannya malam itu.
    “Ziya, ayo bangun! Setelah shalat Subuh, kita harus berkumpul di halaman. Secepatnya pagi ini kita kembali ke pondok,” seru Nisak sembari menggoyang-goyangkan kaki Ziya agar segera bangun.
    Berkali-kali Nisak mencoba membangunkan Ziya, namun tetap tak ada respon dari Ziya. Nisak mulai panik. Ia khawatir sesuatu terjadi pada Ziya. Sesegera mungkin Nisak menemui Ustadz Rosyad dan menceritakan keadaan Ziya pagi ini. Tanpa basa-basi, Ustadz Rosyad meminta Nisak untuk mengantarkannya melihat keadaan Ziya.
    Ustadz Rosyad mencoba memeriksa denyut nadi tangan Ziya. Tiada reaksi. Nisak terkejut dan menangis seketika. Ustadz Rosyad langsung menghubungi panitia, pihak asatidz yang lain dan terutama orang tua Ziya.
    “Mengapa teman sebaik Ziya begitu cepat meninggalkanku yang baru saja menyadari akan ketulusannya?” ucap Nisak dengan nada lirih sambil terisak.
    “Sebab Allah sangat menyayanginya, Nisak,” sahut Ustadz Rosyad yang tanpa sengaja mendengar ucapan Nisak.
    ***
    Sehari setelah pemakaman Ziya, Nisak meminta izin pada pihak keamanan pesantren untuk berkunjung ke rumah orang tua Ziya. Nisak menjelaskan maksud dan tujuannya. Dan pada akhirnya pihak keamanan dapat memahami penjelasan Nisak. Ia pun diizinkan.
    Sesampai di rumah orang tua Ziya, Nisak menceritakan semua peristiwa yang dirahasiakan Ziya pada orang tuanya. Mulai dari terpilihnya Ziya dalam lomba membaca kitab se Kabupaten Gresik hingga perjuangan Ziya untuk mendapatkan piala dan uang ini demi membahagiakan orang tuanya. Tak lupa, Nisak juga menyerahkan sebuah catatan harian pada orang tua Ziya. Catatan harian yang mengungkap seluruh mimpi dan asa Ziya yang sekian lama terukir dengan kata dan terpendam dalam dada.

    Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya

    ,

    (Ilustrasi resepsi pernikahan)
    (Ilustrasi resepsi pernikahan)

    Oleh: Hilmi Abedillah
    Di bulan Syawal ini, banyak sekali pasangan kekasih yang melangsungkan pernikahan. Bukannya tanpa alasan, menikah di bulan Syawal merupakan salah satu anjuran yang didasarkan pada hadis riwayat ‘Aisyah ra. yang berbunyi:
    “Rasulullah SAW menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku di bulan Syawal pula. Maka istri-istri Rasulullah manakah yang lebih beruntung dariku?”
    Pernikahan Rasulullah di bulan Syawal menepis tradisi Arab Jahiliyah yang meyakini bahwa pernikahan di bulan Syawal akan berujung kesialan. Karena Syawal sendiri berasal dari Syaulanun Nuuq, habisnya susu unta-unta betina. Unta betina mengangkat ekornya yang bertanda bahwa ia tidak mau untuk menikah dan enggan dengan unta jantan.
    Akibat dari anjuran menikah di bulan Syawal ini, banyak undangan berdatangan dari kerabat, teman, dan kenalan. Saking banyaknya, mungkin kita diundang oleh orang yang tidak terlalu akrab, sekedar tahu namanya saja, atau bahkan banyak tanggal yang bertabrakan yang membuat kita malas untuk hadir.
    Tidak ada khilaf bahwa menyelenggarakan walimatul urs (pesta pernikahan) hukumnya sunnah. Nabi SAW pernah bersabda:
    أولم ولو بشاة
    “Berwalimahlah walau dengan seekor kambing.”
    Sedangkan menghadiri walimatul ‘urs hukumnya sunnah menurut Hanafiyyah. Sementara menurut Syafiiyyah dan Hanabilah, hukumnya wajib selama tidak ada kemungkaran.
    Ketika menghadiri pernikahan, disunnahkan setelah makan mendoakan shohibut tho’am atau tuan rumah. Karena Nabi pernah berbuka di rumah Sa’d bin Mu’adz, lalu Rasul berdoa, “Orang-orang puasa berbuka di rumahmu, para malaikat mendoakanmu, dan orang-orang baik memakan makananmu.”
    Kemungkaran di Walimatul ‘Urs
    Apabila yang diundang sudah mengetahui bahwa di dalam walimatul ‘urs yang akan dihadirinya ada kemungkaran, maka ia tidak perlu menghadirinya. Rasulullah pernah bersabda, “Akan ada dari umatku kaum-kaum yang menghalalkan minuman keras, babi, sutera, dan mi’zaf (jenis alat musik yang bersenar banyak).”
    Namun apabila ia tidak tahu, dan saat tiba ia baru sadar kalau ada khamr di tempat hidangan, maka ia tidak boleh duduk. “Rasulullah melarang kita duduk di tempat yang digunakan minum khamrnya, dan makan sambil telungkup.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim)
    Apabila kemungkaran terdapat di rumah (tempat tinggal), bukan di tempat hidangan, maka ia harus mencegah semampunya. Karena tempat hidangan biasanya terletak di luar rumah. Namun, bila tidak mampu dan ia seorang panutan, maka lebih baik keluar meninggalkan tempat. Karena itu akan mencela agama dan pintu maksiat bagi muslimin. Jika ia bukan panutan, maka duduk saja, bersabar, menikmati makanan dan minuman, dan tidak perlu keluar. Karena menghadiri undangan hukumnya sunnah.

    ,

    Pelatihan Jurnalistik
    Pelatihan Jurnalistik

    Dalam kegiatan Pesantren Ramadhan Bahagia 1438 H. di Islamic Center Masjid Baitul Mu’minin Jombang pada Sabtu-Ahad (17-18/06/2017), Pimpinan Cabang (PC) Iikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jombang membekali kader-kadernya dengan ilmu jurnalistik.
    Untuk materi ini, panitia mengundang dua pemateri, yaitu Mantan Redaktur Jawa Pos, H. Nur Hidayat dan Kepala Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Ahmad Faozan.
    Di depan kader-kader muda IPNU-IPPNU, H. Nur Hidayat atau yang biasa disapa Gus Dayat menjelaskan bahwa jurnalistik adalah kegiatan penyiapan, peliputan, penulisan dan penyajian berita.
    “Kalau mau menggeluti dunia jurnalistik, harus mau keluar untuk mencari berita. Jika mencari berita, jangan mencari berita karena suka atau tidak suka,” ungkap mantan ketua PW IPNU Jawa Timur tahun 2003-2005 itu.
    “Kalau pemuda IPNU IPPNU ditanya bagaimana menjadi jurnalis? Jurnalis itu harus jujur, dan setia pada fakta. Penting atau tidak menjadi seorang jurnalis? Jawabannya sangat penting menjadi seorang jurnalis,” tambah pria yang kini dipercaya mengurus bidang kehumasan di Pesantren Tebuireng itu.
    “Dalam menyampaikan berita itu harus menarik, dan berita itu harus menceritakan sesuatu yang baru. Misalnya ada anjing menggigit orang, itu bukan berita. Tetapi jika ada orang menggigit anjing itu bisa dinamakan berita,” jelas pria asal Mojokerto itu.
    Sementara itu, pada Ahad (18/06/2017), Ahmad Faozan menyampaikan bahwa jurnalis yang baik adalah yang mengerti kaidah-kaidah jurnalistik secara baik dan benar. Jika Gus Dayat fokus pada news (berita), maka Ahmad Faozan fokus pada views seperti opini esai dan resensi.
    Ia juga mengungkapkan manfaat menjadi penulis, di antaranya karyanya akan abadi, dapat menyampaikan pemikiran kepada banyak orang, dan dapat fleksibel dengan berbagai profesi. Jika seseorang hanya ngomong saja, maka profesinya terbatas,” tambahnya.
    Selain itu, menurutnya, kemampuan menulis harus diasah, tidak terlalu fokus pada teori, dan memperbanyak membaca. Namun, lanjutnya, modal yang paling penting untuk menulis, yaitu memiliki kemauan terlebih dahulu.
    “Empat kesusahan dalam menulis, tidak memiliki kemauan, tidak memiliki tema, tidak memiliki waktu yang cukup, dan tidak suka membaca,” ungkapnya.
    Ia memaparkan pula tentang jenis-jenis artikel, seperti artikel prediktif (prediksi masa depan), prestkriptif (penyuluhan terhadap masalah), eksploratif (mengungkapkan fakta berdasarkan kajian), deskriptif (menggambarkan masalah dengan tambahan opini), dan eksplantif (memberi jawaban atas persoalan).
    Ia mengatakan bahwa menulis itu mudah jika memiliki kesungguhan. “Menulis itu jalan dakwah potensial. Tebarkan kata-kata positif dalam ruang medsosmu, mulai sekarang tulis status yang positif,” pesannya.
    Untuk itu ia berpesan agar para kader IPNU-IPPNU, dalam meningkatkan motivasi menulis, harus banyak membaca buku, diskusi, ikut kegiatan intelektual, dan sharing dengan penulis yang lebih mahir. “Setelah mendapat ide, maka tulislah. Yang penting dicatat,” pungkasnya.



    Layar monitor elektrokardiograf di ruang ICU terus bergerak. Grafiknya yang bergerak naik turun masih menandakan aktivitas jantung normal. Namun tubuhnya yang lemah tidak mampu ia kendalikan, bahkan untuk membuka kedua matanya ia tak mampu. Sudah hampir satu bulan ia tergeletak tak berdaya dalam keadaan koma dan kritis. Lelaki gagah yang selalu kuidolakan, sekarang sedang mengalami masa sulitnya, dan aku benar-benar tak mampu menolong karena faktor ekonomi keluargaku yang pas-pasan.
    Kehidupan abah tergolong sederhana, Di era dimana semua guru seangkatannya telah diangkat menjadi pegawai negeri dan mendapat tunjangan dana pensiunan. Beliau tetap menjadi guru honorer yang bahkan untuk menghidupi kehidupannya sehari-hari beliau tak mampu. Belakangan ini beliau melawan penyakit yang dideritanya. Tubuh tegapnya sedikit demi sedikit diusik oleh penyakitnya. Namun pribadinya yang kuat tak pernah terkalahkan.
    Aku menatap wajahnya yang sendu, siang malam hanya do’a yang bisa ku lantunkan, meminta belas kasih Tuhan dan keajaiban yang datang menghampiri sang guru sejati, setidaknya bagiku, dan bagi orang-orang terdekatnya. Dalam kesunyian malam aku terbuai pada kharismanya yang membawaku mengarungi alam bawah sadar untuk merekamnya kembali dalam ingatan.
    Matahari menyapa pagi, kutemui sosok pahlawanku sudah siap dengan pakaian dinas kebanggaannya. Ia tersenyum menyapaku dan ibu yang telah duduk manis di meja makan. Tempat inilah menjadi saksi bisu, bahwa sosok didepanku selalu mengajariku makna penting dari komunikasi, disinilah keluargaku selalu bercerita semua aktivitasnya seharian.
    “Abah, Cici ikut berangkat bareng abah ya,” gumamku.
    “Kalo kau berangkat sama abah, bagaimana dengan teman-temanmu, berjalanlah bersama, gandenglah tangan teman-temanmu ci,” nasehatnya lembut. Aku termangu dengan ucapannya. Lantas ia bangkit dan menyalamiku.
    Dari kejauhan aku melihat punggungnya yang makin lama menghilang dari pandanganku bersama biola dan onthel kesayangannya. Dia telah menghilang dari pelataran rumah sebelum matahari tersenyum sempurna.
    Aku dan abah berada di sekolah yang sama, aku sebagai murid dan abah seorang tenaga pengajar. sekolah kami termasuk elit pada akhir abad ke 19-an, yang dikelola langsung oleh pemerintah daerah setempat. Abah termasuk guru tetua di sekolah ini, Ia mulai mengajar sejak genap berkepala dua. Hampir semua penduduk desa mengenal abah sebagai sosok guru yang menyenangkan. Selain pintar membawa suasana abah selalu menganalogikan pelajarannya dengan alunan nada dari biola.
    Namun aku tak pernah diajar olehnya, abah selalu menghindari kelasku. Ia memberi alasan kepadaku agar tetap profesional dan terhindar dari pandangan subjektif dari yang lain. Aku selalu mencuri dengar abah mengajar, namun abah menegurku agar kembali ke kelas, dan sesampainya di rumah aku dinasihatinya agar tidak mengulangi lagi. Abah selalu mengingatkanku, “Jika mengabaikan kalimat guru walau hanya satu detik bagaikan kehilangan mata rantai gelang emas.”
    Sepulang sekolah kutemui umi sedang memangkas daun-daun yang rusak dimakan ulat. Rumah keluargaku tidak besar namun terlihat asri, dipenuhi dengan bunga-bunga melati yang tumbuh subur. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah piano tua yang selalu dimainkan abah sepulangnya dari sekolah. Piano tersebut ia dapatkan setelah memenangkan sayembara cipta lagu.
    Kegemarannya bermusik terus ia tekuni, aku selalu berlari ke arahnya dan duduk disampingnya ketika tuts piano mulai dimainkan oleh jari jemarinya yang gemulai, terkadang tanpa sadar aku hanyut dan ikut bernyanyi dengan alunannya.
    “Hidup itu seperti alunan musik, yang harus kita dengar, rasakan, dan kita nikmati,” ungkapnya disela-sela permainan.  Aku pun hanya mengangguk dan melemparkan senyum manisku padanya.
    ****
    Aku tersentak dan terbangun dari lamunanku, seketika aku melihat layar monitor elektrodiograf yang tidak stabil, dengan semua rasa panik aku berlari mencari dokter. Tim medis memasuki ruangan ICU, mereka melarangku untuk memasuki ruangan, dengan berat hati aku dan suamiku menunggu di luar ruangan sambil berdo’a dan terus memohon.
    Logikaku tak utuh, rasa khawatir dan takut menyusup ke sanubariku. Aku merasa duniaku akan berhenti, isak tangis menyesakan jiwa, beruntung suamiku setia menemaniku dan menenangkanku.
    “Jangan khawatir, abah baik-baik saja,” ucapnya menenangkan.
    Tim medis satu persatu keluar dari ruangan, segera mungkin aku menemuinya, dengan tenang aku bertanya pada dokter dengan memaksa, “Bagaimana dokter, bagaimana keadaan abah saya?” Namun sang dokter hanya menggelengkan kepala dan bergumam lirih. “Maaf Tuhan telah berkehendak lain, yang sabar bu,” ucapnya sambil berbela sungkawa.
    Seketika aku berlari memasuki ruangan, segera aku peluk abah yang kini telah terbujur kaku, ruangan itu kini pecah dengan suara isakan tangisku. Suamiku segera menyadarkanku, aku lihat wajah abah, ia memberikan senyuman terakhirnya padaku. Aku bangga menjadi bagian dari sejarahnya.
    Beliau adalah sosok yang selalu mengajarkan makna keikhlasan dan pengabdian sejati. Bahwa mengabdi adalah memberi tanpa mengharap jasa. Dan perjalanan hidup abah menyiratkan makna kehidupan.
    Jasad abah kini siap dikebumikan, aku dan keluarga tak pernah menyangka banyak pelayat yang datang berbondong-bondong mengucapkan bela sungkawa. Satu lagi kejutan yang datang menjadi bagian dari hadiah untuk abah. Semua murid abah datang dari semua penjuru kota. Mereka berjajar rapi sambil memainkan biola, dawai-dawai itu menyatu, menghasilkan aliran irama merdu nan syahdu.
    “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
    Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
    Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
    Sebagai prasasti terima kasiku, tuk pengabdianmu
    Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
    Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan,
    Engkau patriot pahlawan bangsa
    Tanpa tanda jasa.”

    Lagu yang beliau ciptakan pada sayembara “Hari Pendidikan Nasional” tahun 1980, “Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, telah mewakili perjuangan dan pengabdiannya selama 24 tahun.
    *tulisan ini hanya fiktif belaka, namun terinspirasi dari kehidupan Pak Sartono pencipta lagu “Hymne guru” asal Madiun. Penulis adalah Mahasantri Putri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng semester 5 dan aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang.

    Oleh: Hilmi Abdillah*

    “Banyak alumni lulusan dari sini sukses. Bukan karena mereka pandai atau cerdas, tapi semua itu karena barokah Yai,” kata Ustadz Utsman sambil melipat sebuah halaman kitab untuk menandai.

    Pondok ini mendadak ramai ketika seorang kiai kenamaannya dipanggil Sang Pencipta. Hari itu, langit siang terlihat mendung seperti mau menurunkan butir-butir air hujan. Para santri kebanyakan asik bersantai karena pengajian libur, hanya beberapa yang muthala’ah kitab. Tiba-tiba juga seorang tukang sapu bekerja membersihkan semua halaman pondok yang mestinya masih bersih.

    Tepat pukul empat sore, speaker masjid berkoar keras. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Seluruh santri kaget, mengucapkan lafal yang sama. Mereka kemudian bangun mengambil pakaian dan peci mereka yang menggantung. Menyambut jenazah Yai yang pulang dari rumah sakit.

    Sebelum berangkat ke masjid, Wabil mencatat kata-kata Kang Utsman dan mengingatnya dalam hati dan pikiran. Sore ini hujan turun begitu deras. Rupanya, air-air itu sedari tadi menunggu di atas sana, menyambut pula kedatangan Yai dari rumah sakit. Pakaian dan peci pun kini basah kuyup.

    Salah seoang santri ahli hikmah mengadahkan tangannya ke langit, lalu ia gerak-gerakkan tangannya ke arah Timur. Seolah ia menyuruh air-air itu pindah ke lain tempat. Mulutnya berbisik, “Allahumma hawalaina wa la alaina,” Sebuah doa yang berarti: Tuhan, kami sudah berkecukupan air.

    Jenazah Yai dikeluarkan dari ambulans dalam keadaan sudah kaku. Seember air kembang di pemandian sudah menunggunya. Pemandian yang hanya ditutup dengan bilik kain putih. Orang-orang yang sejak tadi menunggu di masjid tidak kebasahan air hujan, seperti Pak Takmir. Tapi, speaker masjid kemasukan air dan sekarang imam shalat jenazah harus mengeraskan suaranya.

    Setelah hujan reda, menangis seorang abdi dalem di teras rumah Yai. Wabil memperhatikannya sejenak, lalu melenggang. Kenapa ia menangis, padahal Yai dimakamkan dengan cepat. Tidak ada air yang menggenangi liang lahatnya walaupun hujan turun begitu lama. Orang-orang berbisik kalau itu bagian dari karomah Yai. Mungkin saja Yai adalah wali.

    Sebelum matahari tenggelam, makam telah sepi oleh pelayat. Kecuali seorang abdi dalem yang menangis di situ. Wabil tak menghiraukannya lagi. Sampai adzan maghrib berkumandang, abdi dalem itu tetap duduk di samping makam Yai.

    ***

    Setelah tujuh hari kematian Yai kegiatan pondok kembali berjalan normal. Yang berubah hanyalah isi dari ucapan wasilah yang bertambah satu orang. Wabil kembali mengaji, dan Ustadz Utsman kembali mengajar. Speaker masjid pun sudah dibetulkan.

    “Apa itu barokah?”, Wabil melempar pertanyaan kepada Ustadz Utsman.

    Dengan keilmuannya yang lumayan, Ustadz Utsman langsung menjawab, “Barokah hiya ziyadatul khoir. Barokah adalah peningkatan kebaikan.”

    “Seperti apa, Ustadz?”

    “Jika hari ini kau sedekah lima ratus rupiah, lalu besok kau sedekah seribu rupiah, berarti itu barokah. Jika hari ini kau membaca shalawat seratus kali, lalu besoknya dua ratus kali, berarti itu barokah. Tapi jika hari ini kau ghasab sandal sekali, lalu besoknya dua kali, itu bukan barokah.”

    “O, begitu. Lalu apa artinya barokah Yai?”

    “Barokah Yai maksudnya, bila kita mendapat barokah dari Yai, maka kita seolah mendapat tambahan kebaikan dari beliau.”

    “Kenapa itu bisa terjadi?”

    “Ya… karena Yai sayang kepada para santrinya.”

    “Apa semuanya?”

    “Ya, semuanya. Tak terkecuali.”

    “Andai saja ada santri yang nakal, sering melanggar aturan pondok, gak pernah ngaji, apakah dia akan mendapat barokah Yai?”

    “Tentu. Yai tetap memberikan barokahnya kepada seluruh santrinya, walaupun santri itu nakal”, Dari bau mulutnya, Ustadz Utsman seperti habis makan bakso.

    Wabil mengangguk seolah paham, walaupun sebenarnya ia masih punya pertanyaan panjang yang akan ia lempar lain waktu.

    Di hari berikutnya, seperti biasa, Wabil telah menunggu Ustadz Utsman di lantai dua masjid usai maghrib. Mudzakaroh baru akan dimulai ketika Ustadz Utsman datang dan membuka kitab kuningnya. Pelajaran baru sampai di bab shalat witir.

    “Ustadz, sebenarnya, barokah Yai itu diberikan oleh Yai atau oleh Allah? Apakah Yai bisa mengatur barokah itu sendiri?”

    Ustadz Utsman tidak menjawab. “Seharusnya barokah itu bukan untuk semua santri, tapi sebagian,” lanjut Wabil.

    Akhirnya Ustadz Utsman menjawab, “Barokah itu tidak dapat dilihat. Tapi sebagai santri pondok, kita harus percaya itu. Setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata benar juga pendapatmu. Barokah itu mungkin buat sebagian santri saja.”

    “Lalu, jika Ustadz sudah setuju, bagaimana caranya menjadi orang yang mendapat jatah barokah itu?”

    Ustadz Utsman terdiam lagi. Sepertinya ia hanya paham soal definisi barokah, tapi tidak memahami artinya secara mendalam. “Saya belum bisa menjawab. Maaf, kita lanjutkan saja baca kitabnya.”

    Di pertengahan bacaan kitab, Wabil melihat seorang santri yang ribut di halaqoh lain. Ia tidak memperhatikan ustadznya yang sedang menerangkan. Wabil memotong, “Akankah barokah diperuntukkan buat santri seperti itu, Ustadz?”

    Ustadz Utsman yang sedari kemarin Wabil tanyai tentang barokah sepertinya sudah geregetan. “Wabil, aku pikir kau masih punya banyak pertanyaan tentang barokah. Aku tak bisa menjawab semuanya. Sebaiknya kau tujukan saja kepada Ustadz Umar.”

    Satu jam sebelum tengah malam, Wabil bertemu dengan Ustadz Umar di persimpangan jalan. Sepertinya beliau sedang buru-buru, gumam Wabil. “Ustadz, barokah itu diberikan oleh Yai atau Allah?”.  Dia tetap berjalan cepat. Wabil hampir meraih tangannya.

    Nampaknya Ustadz Umar tidak kebingungan dengan pertanyaan yang tiba-tibamelucut dari mulut Wabil itu. Ia pun akhirnya memelankan langkah. “Barokah itu seperti jodoh. Sama halnya dengan hidayah. Dan jodoh pasti bertemu.”

    “Lalu, bagaimana caranya menemukan jodohku, Ustadz?”

    “Jodoh itu kan takdir.”

    Wabil dan Ustadz Umar akhirnya duduk di serambi masjid paling Selatan. Di sana agak gelap, dekat dengan tempat wudhu dan jemuran-jemuran santri.

    “Takdir kan juga bisa diusahakan?”, wabil belum puas.

    “Ya, kau harus rajin belajar, rajin mengaji, tidak usah melanggar aturan pondok. Itulah yang akan mendekatkanmu dengan barokah.”

    “Semudah itu?”

    Ustadz Umar mengangguk yakin. “Lalu kenapa banyak alumni yang tidak pintar dan dulunya nakal, kemudian menjadi sukses? Bukankah itu karena barokah?”

    Ustadz Umar mengangguk kedua kalinya. “Ada yang perlu kau ketahui. Banyak jalan menuju barokah. Yang aku sebutkan tadi hanyalah salah satunya. dan itu cara paling gampang. Mungkin saja alumni yang waktu mondoknya bodoh, nakal, suka ngelanggar itu sangat ta’dhim kepada Yai. Saking ta’dhim-nya, ia mendapat pancaran barokah dari Yai.”

    Kini giliran Wabil yang mengangguk. “Umm… kalo begitu, barokah itu dari Yai atau dari Allah?”

    “Hakikatnya yang mengatur semuanya adalah Allah. Yai tidak menentukan kau yang akan dapat barokah atau aku. Namun, kebaikan Yai yang seperti samudera itulah yang membuat santrinya mendapat tambahan kebaikan. Seperti gelas yang berlebihan air, lalu airnya tumpah ke tempat yang tidak pernah ditentukan gelas itu.”

    Ustadz Umar mengangkat pinggulnya dari tempat duduk. Sebelum ia berdiri penuh, Wabil menahannya dengan sebuah pertanyaan, “Terakhir, Ustadz! Kalau Yai sudah meninggal, apakah beliau masih bisa barokahi?”

    “Tentu,” jawab Ustadz Umar singkat.

    “Sampai kapan?”

    “Sampai kapan pun. Kita takkan pernah tahu.”

    “Iya, kita tak mungkin tahu. Maksudku, apakah barokah Yai akan habis pada suatu waktu?”

    Ustadz Umar berhenti sejenak. Berpikir. Lalu melanjutkan, “Bagiku, barokah itu tidak akan pernah habis. Ia akan terus memancar. Walaupun Nabi Muhammad sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, mungkin saja kau bisa menerima barokahnya. Coba, bila kamu punya api, dan seribu orang datang membawa lilin, menempelkan ujung lilin mereka ke apimu. Apakah apimu akan berkurang? Tidak. Dua ribu lilin? Tidak. Sejuta lilin? Tetap saja. Apimu tetap saja segitu.”

    “O, begitu. Jadi sampai hari kiamat pun akan tetap ada orang sukses lulusan pondok ini?”

    “Belum tentu. Pada suatu waktu barokah akan berhenti.”

    Dahi Wabil mengernyit. “Lho katanya tadi?”

    “Aku bilang barokah akan berhenti, bukan habis.”

    “Kapan itu?”

    “Ketika tidak ada orang yang pantas diberi barokah.”

    ***

    Wabil bangun dari bantal yang amat keras. Ia temui sebuah pancaran cahaya dari makam Yai yang selalu harum bunga. Pundaknya kini telah kosong dari beban. Semua pertanyaannya tentang barokah telah dijawab Ustadz Umar semalam.

    “Barokah itu bukan untuk santri ahli hikmah yang bisa mengalihkan hujan. Bukan untuk si tukang sapu yang bersih-bersih saat halaman pondok masih bersih. Bukan untuk abdi dalem yang menangisi Yai sampai di pusara kuburnya. Apalagi untuk santri malas yang ribut saat halaqoh.”

    “Lalu buat siapa?”

    “Buat orang-orang yang pantas.”

     

    *Mahasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang, dan cerpenis muda Tebuireng



Top