, ,

    Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid


    posdayaGus Sholah : Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid

    Gus Sholah : Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid

    Kamis (26/05/2016), Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng meresmikan program Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) berbasis masjid di Masjid Ulul Albab Tebuireng. Acara ini dihairi oleh  Rektor Unhasy dan Pengasuh Pesantren Tebuireng Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) segenap dosen Unhasy, dzuriyah Tebuireng, dan Ketua Posdaya wilayah Jawa Timur, DR. Hj. Mufidah, MA.
    “Harapannya, disamping kita kembangkan secara domestik, kita juga akan mengarahkan perkembangan ke Asia,” DR. Miftahur Rachim Syarkun dalam sambutannya mewakili Unhasy. Masjid Ulul Albab didirikan pada tahun 1999 dalam rangka satu abad Pesantren Tebuireng.
    Gus Sholah sangat mengapresiasi langkah strategis ini. “Langkah yang sederhana ini mempunyai makna yang besar untuk ke depannya. Saya mendorong kawan-kawan mahasiswa untuk aktif dalam Posdaya. Karena ini merupakan tempat untuk kita belajar. Supaya ketika supaya jangan menjadi barisan pencari kerja. Tapi jadilah barisan yang aktif dalam kegiatan pengabdian di masyarakat,” jelas Gus Sholah.
    Beliau juga mengatakan bahwasudah terlalu banyak politisi di Indonesia, bahkan jumlahnya bisa dikatakan mengalami inflasi. Menurut beliau yang masih kurang adalah pengembangan wirausaha di kalangan mahasiswa. Beliau meminta agar para dosen membimbing mahasiswa yang mempunyai kemampuan dan kemauan di dalam kegiatan Posdaya.
    Ketua Posdaya Jatim mengatakan, di dalam posdaya ini mahasiswa dilatih untuk berkomunikasi dan berorganisasi, karena kedepannya pemimpin yang dibutuhkan Indonesia adalah pemimpin yang bisa bekerja, bukan pemimpin yang hanya bisa berpidato. Modal yang dibutuhkan dalam Posdaya adalah modal sosial, gotong royong, keikhlasan, kejujuran, dan kedisiplinan.
    “Kami tidak berangkat dari masalah sosial, tapi dari kemampuan yang dimiliki di dalam masyarakat,” DR. Hj. Mufidah, MA. Posdaya didirikan pada tahun 2010, dan mulai menggandeng mahasiswa sejak tahun 2011 yang dicetuskan oleh Bapak Haryono, mantan Menteri Kesra dan Ketua BKKBN. “Semoga kita semua mampu memakmurkan masjid dan memberdayakan umat”, harap Hj. Mufidah.

    ,

    Dukung KPK Lawan Pansus Angket, Tokoh Lintas Agama Akan Kumpul di Tebuireng

    GUs Sholah dan sejumlah tokoh lintas agama memberikan dukungan moral ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (6/7/2017). (Sumber foto: kompas.com)
    Tebuireng.online—Jakarta- Dukungan moral untuk KPK yang tengah berhadapan dengan Pansus Angket DPR terus berdatangan. Pada Kamis, (06/07/2017) Sejumlah tokoh lintas agama mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta. Bahkan rencananya akan diadakan pertemuan pada bulan ini di Pesantren Tebuireng menindaklanjuti dukungan itu.
    Seperti yang disampaikan KH. Salahuddin Wahid bahwa beliau dan tokoh lintas agama lainnya memberikan dukungan moral untuk lembaga pemberantasan korupsi yang dibentuk era presiden SBY itu.
    “Jadi, kami ingin menyatakan dukungan terhadap KPK yang terakhir-terakhir ini mendapatkan tekanan dari berbagai pihak untuk bisa terus maju melawan praktik korupsi dan secara umum penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan di negara kita ini,” kata Gus Sholah di laman kompas.com.
    Pengasuh Pesantren Tebuireng ini mengungkapkan, bahwa beliau dan para tokoh lintas agama merencanakan menggelar kegiatan bersama sebagai bentuk ungkapan dukungan terhadap KPK.
    Gus Sholah menegaskan, pemberantasan korupsi dan pembentukan KPK merupakan salah satu tuntutan reformasi. Namun, beliau bersama tokoh lintas agama prihatin dengan kondisi saat ini. Korupsi tidak berkurang dan justru makin bertambah banyak. “Yang ditangkap banyak, tapi korupsinya juga makin banyak,” imbuh mantan Aktivis HAM itu.
    Di sisi lain, Gus Sholah juga prihatin dengan gejala-gejala perpecahan bangsa. Menurut dia, sudah seharusnya seluruh komponen bangsa bersama-sama memerangi korupsi. Beliau berharap, dukungan dari para tokoh lintas agama dapat menguatkan KPK dalam melawan korupsi.
    Sementara itu, Agus Susanto menambahkan, kemungkinan pertemuannya akan dilangsungkan pada bulan ini di Pesantren Tebuireng, Jawa Timur. “Yang akan diundang bukan hanya tokoh lintas agama, tapi juga putra-putri pendiri bangsa ini dari berbagai kalangan,” kata Agus.
    Wakil Ketua KPK, La Ode Muhammad Syarif menyatakan, KPK menyambut baik dukungan moral yang diberikan oleh para tokoh lintas agama. “Mereka melihat ketidakharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kemudian masih banyaknya korupsi, dan beliau-beliau juga prihatin kok serangan makin banyak ditujukan kepada komisi yang memberantas korupsi, bukan pada koruptornya,” kata La Ode.
      Novelis Nomor 1 Indonesia, Berbagi Rahasia Menulis Pada Ribuan Santri
    Pansus Angket KPK tetap berjalan meski dikritik berbagai pihak. Pansus ini muncul pascapenyidikan kasus korupsi e-KTP oleh KPK yang menyeret sejumlah anggota DPR. Para pakar yang tergabung dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) menilai, pembentukan Pansus Hak Angket KPK oleh DPR RI cacat hukum.
    APHTN-HAN bersama Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas mengkaji soal pembentukan Pansus hak angket. Kajian yang ditandatangani 132 pakar hukum tata negara seluruh Indonesia tersebut kemudian akan diserahkan ke KPK.

    ,

    Viral Foto Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Ini Tanggapan Cucu Beliau

    Foto asli Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang sekarang sedang viral di media sosial
    Foto Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang viral sepekan terakhir di media sosial instagram dan facebook mendapat tanggapan beragam dari nitizen. Sebagian nitizen ada yang mempercayai kebenaran foto tersebut, dan tidak sedikit pula yang mempertanyakan sumber dari foto hitam putih Mbah Hasyim yang diketahui dibagikan pertama kali oleh Muhammad al-Mubasyir  dari Sumenep, Madura, melalui akun instagram @al_mubas itu.
    Akun Instagram @al_mubas milik Muhammad al-Mubasyir yang membagikan pertama kali foto itu.
    Hal itu kemudian dibenarkan oleh akun facebook Muhammad al-Faiz yang merupakan kakak Muhammad al-Mubasyir. Muhammad al-Faiz menerangkan bahwa foto yang Ramai diperbicangkan itu didapat oleh adiknya pada tanggal 2 Syawal 1438 H lalu, saat bongkar-bongkar arsip peninggalan Kakeknya, KH. Moh. Amir Ilyas, salah seorang pengasuh Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura, murid langsung Hadratussyaikh dan kakak kandung KH. Ashiem Ilyas, pencipta lambang Pesantren Tebuireng.
    “Adik saya bilang, ‘Kak, saya bagikan di medsos, ya?’ Saya jawab, ‘Ah, ndak usah, sudah banyak yang punya kok’. Dia maksa. Eh, ternyata memang masih banyak yang belum pernah lihat foto serupa sebelumnya. Untuk itu, saya bantu scan-kan, plus tulisan tangan di balik foto yang menerangkan bahwa sosok itu adalah Hadratussyaikh. Demikian asal-usulnya, semoga manfaat dan menambah kecintaan kita,” tulis Muhammad al-Faiz di laman facebook-nya tanggal 03 Juli 2017.
    Namun, akun instagram @indonesiabertauhid sempat mem-posting ulang, tetapi dengan foto yang salah dan tetap menyandarkan sumbernya dari Muhammad al-Mubasyir. Dalam foto yang diunggah @indonesiabertauhid itu, terlihat seorang berjubah dan ber-imamah difoto dari arah samping kiri, yang diasumsikan sebagai Kiai Hasyim. Merasa nama adiknya dicatut, Muhammad al-Faiz memberikan klarifikasi kebenaran foto yang sebenarnya dimaksud.
    Salah repost oleh @indonesiabertauhid yang sudah diklarifikasi kesalahannya oleh Muhammad al-Faiz kakak Muhammad al-Mubasyir.
    “Alhamdulillah, foto Hadratussyaikh yang saya bagikan tersebar luas. Banyak yang membagikan ulang. Namun, sayang sekali, rupanya tidak semua (dari) mereka teliti, atau mungkin, jujur dalam me-repost. Perlu saya sampaikan kembali bahwa foto beliau yang saya punya dan saya bagikan hanya satu, yaitu foto nomor 1 di bawah (merujuk pada foto Kiai Hasyim menghadap ke depan) ini yang saya beri keterangan, atau yang saya posting di status sebelumnya, atau yang memperlihatkan Hadratussyaikh memegang tongkat (?),” tulisnya di akun facebook-nya pada pagi tadi (05/07/2017).
    Selain foto itu, ia merasa tidak menyebarkan dan tidak tahu sumbernya, termasuk foto yang diunggah oleh akun IG @indonesiabertauhid . “Saya rasa ini penting untuk disampaikan agar tidak sembarang menisbatkan kepada yang bukan sumbernya, terlebih jika sesuatu yang dinisbatkan (itu) tidak benar, juga khawatir ada orang yang datang ke saya untuk melihat langsung fisik foto beliau dalam beraneka pose itu, padahal yang saya punya cuma satu. Trims,” lanjutnya setelah itu.
    Kepala Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Ahmad Faozan, berangkat dari permintaan sejumlah alumni, mengklarifikasi kebenaran foto tersebut kepada salah satu cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Irfan Yusuf, putra KH. M. Yusuf Hasyim. Gus Irfan, sapaan akrab beliau, meyakini bahwa benar foto itu adalah Hadratussyaikh. “Gambar paling sesuai dengan aslinya menjelang beliau wafat,” kata Gus Irfan.
    Terkait hal tersebut, Tebuireng Online juga menghubungi cucu Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang lain, KH. Agus M Zaki yang juga mengamini kebenaran foto tersebut. Dalam laman akun facebook-nya, Gus Zaki, sapaan akrab beliau, menulis keterangan yang membenarkan adanya foto Mbah Hasyim yang sedang viral itu. Beliau menerangkan bahwa foto yang sedang viral saat ini sama persis seperti yang ditunjukkan oleh almarhum KH Yusuf Hasyim sebelas tahun yang lalu.
    “Sedang ramai foto ini, 11 tahun yang lalu, sebelum KH. Yusuf Hasyim wafat, beliau mengajak saya ke Dalem Ijo yang tepat berada di utara rumah orang tua saya. Di Dalem Ijo itu, beliau menunjukkan sebuah foto ukuran besar dan beliau berkata ‘Ini foto Kiai Hasyim’. Kebetulan yang ditunjukkan tidak seutuh seperti dalam foto yang baru saja muncul di medsos. Beliau juga berkata bahwa foto inilah yang paling beliau suka,” terang Gus Zaki pada Senin (02/07/2017) di laman facebook-nya.
    Gus Zaki juga menceritakan beberapa bulan sebelum wafat, Kiai Khotib Umar Jember, berkesempatan mampir ke rumah beliau dan memberikan foto yang sama dengan milik KH. Yusuf Hasyim. “Akhirnya, muncul pula yang utuh dan syukran (terima kasih) kepada yang meng-upload-nya,” lanjut Gus Zaki.
    Konon, foto tersebut diambil diam-diam, karena Kiai Hasyim, infonya, tidak suka berfoto. Sama dengan menantu beliau, Kiai Maksum Aly, pengarang al-Amtsilat at-Tasrifiyah, yang membakar semua foto beliau sebelum wafat.
    Tentang lokasi foto itu diambil, Gus Zaki tidak mengetahui secara pasti. Namun,  jika kembali ke Tebuireng tempo dulu, Gus Zaki menerangkan, komplek F, G, H, I dan lainnya yang berada di selatan Masjid Tebuireng, mempunyai bentuk pintu model kupu tarung yang persis seperti yang ada di foto itu. “Sekarang yang tersisa hanya komplek Y dan K yang pintunya masih seperti itu,” tambah Pengasuh Pesantren al-Masruriyah Tebuireng itu.
    “Pertanyaannya, apakah komplek-komplek itu sudah ada sejak zaman kiai Hasyim? Jika tidak, pikiran saya melayang ke  Pesantren Salafiyah di Kapu Kediri tempat mertua beliau Kiai Hasan Muhyi  tinggal.  Di utara Masjid Pondok Kapu, ada bangunan yang sangat mirip dengan yang ada dalam foto ini. Bangunan itu sekarang masih ada dan menjadi madrasah diniyah, Wallahu a’lam bisshowab,” pungkas beliau dalam status itu.
    Tentang foto yang diunggah oleh akun IG @indonesiabertauhid, Gus Zaki merasa tidak yakin kalau itu adalah Mbah Hasyim. “Foto yang sebelah kanan, saya kok ragu kalau itu kiai Hasyim Asy’ari,” tulis beliau di kolom komentar status Muhammad al-Faiz sebagai klarifikasi atas kesalahan posting oleh @indonesiabertauhid.
    Hingga sekarang foto yang sudah dibenarkan oleh dua cucu Hadratussyaikh itu, masih menjadi perbincangan hangat di kalangan santri dan alumni Pesantren Tebuireng, serta Nahdliyin dan umat Islam. Beberapa akun facebook juga membagikannya seperti Ala_NU, MusliModerat, Masjid Tebuireng, Fiqh Menjawab, dan beberapa akun lainnya. Viralnya foto ini juga terjadi di media sosial WhatsApp dan Instagram.

    ,

    Gus Sholah
    Gus Sholah

    Masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri 1438 H., Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) berkesempatan memberikan nasihat dalam acara Halal bi Halal dan Haul Masyayikh Pesantren Tebuireng yang diadakan oleh IKAPETE (Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng) DKI Jakarta dan sekitarnya.
    Acara yang berjalan khidmat ini mengusung tema “Melalui Halal bi Halal Kita Jalin Semangat Silaturahim yang Lebih Erat lagi antar Alumni Pesantren Tebuireng”. Hadir dalam acara tersebut para alumni, ulama, kiai, dan pengurus pondok putra/putri di Masjid an-Nur Cipete Jakarta Selatan pada Ahad (02/07/17).
    Dalam kesempatan ini, Gus Sholah menyampaikan beberapa hal, termasuk mengenai informasi capaian, dan perkembangan Pesantren Tebuireng. Menurut beliau, Pesantren Tebuireng saat ini sedang meningkatkan kualitas maupun kuantitas. Salah satu caranya dengan membuka cabang pesantren di luar pulau Jawa. “Yang memprihatinkan itu yang di luar pulau Jawa,” tutur beliau.
    Mantan aktivis HAM tersebut, bercerita tentang keadaan IAIN Ambon yan hanya mempunyai 20 persen mahasiswa yang mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar. “Jika yang di IAIN saja segitu, apalagi yang bukan,” ungkap Gus Sholah. Karena alasan itulah, cucu Hadratussyikh KH. Hasyim Asy’ari ini membuka cabang Pesantren Tebuireng di Ambon beberapa waktu lalu.
    Pada kesempatan ini pula Gus Sholah menyampaikan kepada para hadirin beberapa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari yang mulai dilupakan oleh para pengikut beliau, khususnya pada jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Beliau menjelaskan secara rinci bagaimana peran KH. Hasyim Asy’ari dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.
    Gus Sholah menjelaskan, secara tidak langsung peran KH. Hasyim Asy’ari dilakukan oleh keturunan dan santri beliau. “Pemikiran KH. Hasyim tersampaikan melalui KH. Wahid Hasyim saat jadi menteri agama, adapula melalui KH. Ahmad Shiddiq saat menerima Pancasila sebagai dasar negara yang mana beliau adalah santri mbah Hasyim,” ungkap suami Nyai Hj. Farida Salahuddin Wahid itu.
    Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng Jombang ini juga menyampaikan keprihatinan beliau terhadap kondisi Indonesia saat ini. Menurutnya, ada beberapa pihak yang sekarang seolah-olah ingin membenturkan antara Indonesia dengan Islam.
    “Mana yang benar? Saya warga negara Indonesia yang beragama Islam atau bukan? Kalau saya, lebih baik, saya warga negara Indonesia yang beragama Islam dan sebaliknya,” tegas beliau pada para hadirin halal bi halal.
    Acara  ini diakhiri doa dan musafahah bersama pengasuh, masyayikh, serta para anggota IKAPETE DKI Jakarta dan sekitarnya. Seusai acar,  para hadirin dipersilakan untuk menikmati hidangan dan jajanan khas Jakarta yang disediakan oleh panitia.

    ,

    gus sholah
    KH. Salahuddin Wahid saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan Seminar Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Gedung MPR RI Jakarta, pada Sabtu (06/05/2017). (Foto: Dokumentasi panitia)
    Di dalam BPUPKI (Mei-Juni 1945), muncullah pertentangan antara keindonesiaan dan keislaman, yakni ketika kalangan ”nasionalis Islam” mengusulkan dasar negara Islam dan kalangan ”nasionalis Pancasila” mengusulkan dasar negara Pancasila. Komprominya ialah ”Piagam Jakarta”, yang di dalamnya terkandung dasar negara Pancasila dengan sila pertama ”Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.
    Ternyata kompromi itu masih ditolak kalangan ”non-Islam” pada 17 Agustus 1945. Maka, para tokoh Islam dengan lapang dada menyetujui dicoretnya anak kalimat ”dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan menyetujui rumusan: ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Itulah keberhasilan awal dari upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
    Keberhasilan kedua upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman ialah ketika para ulama di bawah pimpinan KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad (22 Oktober 1945), yang mengilhami dan mendorong para pemuda Muslim untuk bertempur melawan tentara Sekutu pada 10 November 1945. Jihad, sebuah istilah agama, digunakan untuk perjuangan bersifat kebangsaan.
    Para tokoh Islam berhasil dalam perjuangan mendirikan Departemen Agama pada Januari 1946. Itu adalah keberhasilan ketiga upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman. Pada 1951, Menteri Agama KH. A Wahid Hasyim dan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Bahder Johan (keduanya dari Partai Masyumi) membuat nota kesepahaman tentang pendirian madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah. Ini adalah keberhasilan keempat dalam memadukan keindonesiaan dan keislaman, yang memberi tempat bagi pendidikan Islam di dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan Islam dalam bentuk pesantren sebenarnya sudah aktif 500 tahun sebelum Belanda mendirikan sekolah di Hindia Belanda pada 1840, yang menjadi cikal bakal pendidikan nasional Indonesia.
    Menerima asas Pancasila
    Pertentangan antara keindonesiaan dan keislaman muncul kembali ketika partai-partai Islam (Masyumi, Partai NU, PSII, Perti, AKUI) memperjuangkan dasar negara Islam dalam Konstituante pada 1956-1959. Perjuangan itu gagal, karena kalah dalam pemungutan suara.
    Pertentangan antara keindonesiaan dan keislaman berlanjut dalam Pemilu 1971, ketika partai-partai Islam (Partai NU, Parmusi, PSII, dan Perti) berkampanye untuk memperjuangkan dasar negara Islam. ABRI dan aparat pemerintah Orde Baru berjuang untuk mengalahkan partai-partai Islam dengan segala cara. Kursi yang diperoleh partai-partai Islam jauh di bawah jumlah kursi pada Pemilu 1955. Berarti kedudukan partai-partai Islam di dalam DPR amat lemah.
    Pada 1973 dilakukan pembahasan terhadap RUU Perkawinan, yang beberapa pasal di dalamnya dianggap oleh para ulama bertentangan dengan hukum Islam. Yang paling penting ialah Pasal 2, yang rumusan awalnya ialah ”perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut UU ini”. Syuriah PBNU yang dipimpin Rais Aam KH. Bisri Syansuri (murid KH. Hasyim Asy’ari) menolak rumusan tersebut dan mengusulkan supaya diganti menjadi ”perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya”. Kalangan non-Islam tentu saja menolak usul tersebut karena hal itu berarti menerima syariat Islam yang partikular ke dalam sistem perundang-undangan kita. Presiden Soeharto menyetujui usulan para ulama itu. Ini adalah keberhasilan kelima dalam upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
    Pemerintah pada awal 1980-an berusaha supaya Pancasila menjadi satu-satunya asas bagi parpol dan ormas yang ada di Indonesia. Menghadapi situasi seperti di atas, Syuriah PBNU membentuk sebuah tim untuk mengkaji ”hubungan antara Islam dan Pancasila”. Tim terdiri atas sejumlah ulama mumpuni yang dipimpin KH. Ahmad Siddiq, alumnus Pesantren Tebuireng yang pernah mengaji langsung kepada KH. Hasyim Asy’ari. Berdasar dokumen ”Hubungan Islam Pancasila” yang disusun tim di atas, Muktamar NU 1984 di Situbondo memutuskan untuk menerima secara resmi Pancasila sebagai dasar negara. Langkah itu lalu diikuti oleh PPP dan semua ormas Islam, kecuali beberapa ormas yang jumlahnya amat sedikit. Ini adalah keberhasilan keenam dari upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
    Pada 1989, DPR membahas RUU Peradilan Agama sebagai lanjutan dari UU No 14/1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Kembali muncul konflik antara keindonesiaan dan keislaman sehingga terjadi perdebatan panas antara yang menyetujui dan menolak RUU tersebut. Pada 29 Desember 1989, RUU tersebut disetujui menjadi UU No 7/1989. Muktamar NU 1989 di Pesantren Krapyak DI Yogyakarta menghargai pengesahan UU tersebut. Ini adalah keberhasilan ketujuh dari upaya memadukan keindonesiaan dan keislaman.
    Setelah itu, masih terdapat banyak lagi keberhasilan dalam memadukan keindonesiaan dan keislaman, seperti UU Perbankan Syariah, UU Haji, dan UU Wakaf. Selain itu, UU Sistem Pendidikan Nasional (2003) memasukkan pesantren ke dalam nomenklatur pendidikan Indonesia sehingga memberikan peluang lebih luas bagi pesantren untuk mengembangkan diri. Di dalam masyarakat kini tampak peningkatan minat masyarakat untuk mengirim siswa ke pesantren dan juga minat untuk mendirikan pesantren. Jumlah pesantren yang pada 1999 hampir 10.000 kini mendekati angka 30.000, yang keseluruhannya adalah milik swasta.
    Kondisi mutakhir
    Saat ini ada gejala munculnya kembali konflik antara keindonesiaan dan keislaman. Gejala itu terjadi dalam kaitan pemilihan gubernur DKI Jakarta. Ada kelompok yang menganggap bahwa merekalah yang ”paling Islam” dan sebaliknya juga ada kelompok yang menganggap bahwa merekalah yang ”paling Indonesia”. Yang memilih Ahok-Djarot dianggap anti-Islam dan munafik, sedangkan yang memilih Anies-Sandi dianggap anti-Indonesia, intoleran, dan anti-kebhinekaan. Kedua anggapan itu keliru.
    Kalau kita pelajari kembali proses penyusunan UUD pada 1945, ada keinginan tokoh-tokoh Islam supaya presiden RI adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam. Setelah melalui musyawarah, tokoh-tokoh Islam yang menyusun UUD menyetujui bahwa syarat ”harus beragama Islam” itu dibatalkan. Kesediaan tokoh dan umat Islam menghapus syarat harus beragama Islam bagi presiden sebenarnya sudah menunjukkan toleransi mereka.
    Akan tetapi, mereka yang tidak memilih non-Muslim karena alasan keagamaan tidak bisa dianggap sebagai orang yang tidak toleran atau melanggar UUD atau merusak kebhinekaan. Itu didasarkan pada Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945. Yang perlu dijaga ialah cara menyampaikan pendapat itu, jangan sampai memakai bahasa yang menyinggung atau mengandung nada kebencian. Juga perlu diperhatikan tempat dan waktu dalam menyampaikan pendapat tersebut.
    Sebenarnya konflik dalam kaitan pemilihan gubernur DKI Jakarta bukanlah antara umat Islam dan umat non-Islam. Akan tetapi, justru terjadi antara kelompok dalam umat Islam: antara yang menyetujui calon non-Muslim dan yang menolak calon non-Muslim. Perbedaan pandangan itu terjadi karena perbedaan penafsiran terhadap Surat Al-Maidah Ayat 51 dan sejumlah surat lain.
    Di dalam kalangan Islam sejak abad pertama Hijriah sudah terdapat dua aliran besar dalam menafsirkan ayat-ayat suci. Aliran pertama berpendapat bahwa syariat Islam bersifat dogmatis dengan berpegang pada teks nash murni tanpa menggunakan potensi akal. Tokoh utama aliran ini adalah Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, dan Amr bin Ash. Aliran kedua berpendapat bahwa syariat itu bersifat rasional, maka dalam menafsirkan teks suci, kita perlu mengoptimalkan penggunaan potensi akal. Tokoh-tokohnya ialah Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib. Menyikapi adanya dua kelompok seperti di atas, kedua pihak harus saling menghormati pilihan masing-masing. Tidak perlu saling menyalahkan, saling menyerang, atau saling mengejek.
    Konflik keindonesiaan dan keislaman itu mungkin meluas pada Pilkada 2018. Kalau pada Pilpres 2019 konflik semacam itu masih terjadi, hal itu berpotensi mengancam persatuan Indonesia. Perlu ada upaya untuk meredamnya. Perlu dilakukan dialog antarkelompok di dalam Islam maupun dengan kalangan agama lain untuk meredamnya. Dalam dialog itu perlu dibahas dengan rinci apa yang dimaksud dengan ”politisasi agama”, apa yang dimaksud dengan ”isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)”. Dialog itu harus dilakukan dengan hati dan kepala dingin supaya dapat menghasilkan kesepakatan yang bisa diikuti dalam praksis sehari-hari. Memang perlu waktu yang cukup untuk bisa mendinginkan suasana.
    Pertanyaannya: siapa pihak yang akan memprakarsai dialog itu dan siapa tokoh yang akan mewakili kedua pihak? Berapa jumlahnya? Kapan saat yang tepat untuk memulai dialog? Di mana dialog itu diadakan? Pihak yang memprakarsai dialog ialah pihak yang dapat diterima oleh kedua kelompok. Ramadhan dan Syawal adalah saat yang tepat untuk mengadakan dialog. Tempatnya harus mendapat persetujuan kedua kelompok. Gedung MPR dan rumah di Jalan Imam Bonjol tempat para pendiri merumuskan naskah proklamasi pada Agustus 1945 dapat dijadikan alternatif tempat dialog diadakan.
    Dalam dialog itu harus disampaikan secara jelas dan terbuka apa saja keinginan kedua kelompok dan apa saja yang tidak diinginkan oleh kedua kelompok. Sejumlah keberhasilan memadukan keindonesiaan dan keislaman yang telah menjadi modal berharga bangsa Indonesia harus menjadi acuan di dalam dialog tersebut. Kelompok yang seusai putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara terhadap Ahok mengeluarkan seruan untuk menjaga keindonesiaan perlu memahami bahwa yang juga perlu dijaga adalah keterpaduan keindonesiaan dan keislaman karena itu adalah faktor utama persatuan Indonesia.

    *Tulisan ini disampaikan KH. Salahuddin Wahid dalam Pembukaan Seminar Pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Gedung Nusantara V Komplek MPR RI Jakarta pada 06 Mei 2017, dimuat Harian Kompas pada 16 Mei 2017, dan dimuat ulang di media tebuireng.online untuk kepentingan pendidikan.

    ,

    Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

    k.h hasyim asy'ari
    k.h hasyim asy'ari

     
    Setelah mengenal Allah SWT dan beriman kepada-Nya, setiap mukallaf wajib beriman kepada Rasulullah SAW dan mempercayai apa yang dibawa dari Tuhannya. (Karena beriman kepada Rasulullah SAW dan kepada semua Rasul merupakan salah satu rukun iman yang enam. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah SAW. ketika menjawab pertanyaan Jibril as. dalam sebuah hadis yang panjang, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahihnya).
    Allah Ta’ala berfirman :
    فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
    “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.[1]
    Allah Ta’ala berfirman :
    إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
    “Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang”[2].
    Allah Ta’ala berfirman :
    فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون.
    “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”.[3]
    Allah Ta’ala berfirman :
    وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَعِيرًا.
    “Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala”. [4]
    Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda :
    أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِى وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
    “Saya diperintahkan oleh Allah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa, tidak ada tuhan yang wajib disembah selain Allah dan beriman kepada-Ku dan beriman kepada apa yang saya bawa. Jika mereka melakukan itu, maka terlindungilah darah mereka dariku, dan hisab mereka diserahkan kepada Allah”.[5]
    Maka beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah fardlu ain (wajib bagi setiap muslim), dan tidak sempurna iman (seorang muslim) secara syar’i kecuali dengan beriman kepada Nabi SAW dan tidak sah Islamnya kecuali dengan beriman kepadanya SAW
    Adapun makna beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah dengan mempercayai kenabiannya dan kerasulannya, dan mempercayai semua yang dibawa dari Allah, serta mempercayai apa saja yang disabdakannya. Adapun persaksian lisan yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah adalah merupakan ungkapan yang sesuai dengan keyakinan hati yang mempercayai kerasulan itu. Maka jika keyakinan hati yang mempercayai kerasulan itu bersatu dengan ucapan persaksian lisan, maka sempurnalah iman dan keyakinannya.
    Diceritakan dalam sebuah hadisnya Jibril as. ketika berkata kepada Nabi SAW:
    أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ ! أَنَّهُ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ …  
    ”Ceritakanlah kepada saya tentang Islam!”. Lalu Nabi SAW bersabda : ”Hendaklah kamu bersaksi bahwa, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah….”. [6]
    Kemudian Jibril as. menanyakan tentang “iman”. Jawab beliau SAW :
    أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِه ….
    “Hendaklah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para Rasul-Nya … “. [7]
    Dalam hadis di atas, Nabi SAW telah menetapkan bahwa, iman kepada Nabi SAW membutuhkan keyakinan dalam hati. Demikian juga Islam membutuhkan pengucapan dengan lisan. Maka persaksian dengan lisan tanpa keyakinan dalam hati adalah kemunafikan yang nyata, wal ‘iyadzu billah. Allah Ta’ala berfirman :
    إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
    “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui, bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti”.[8]

    [1] At Taghabun ayat 8.
    [2] Al Fath ayat 8 – 9
    [3] Al A’raf ayat 158.
    [4] Al Fath ayat 13.
    [5] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
    [6] Hadis riwayat Imam Muslim.
    [7] Idem
    [8] Al Munafiqun ayat 1 -3.

    *Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

    ,

    gus sholah
    Gus Sholah


    Kaum muslimin telah rampung menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Namun spirit puasa hendaknya tetap dilanjutkan pada bulan berikutnya.
    Ajakan ini disampaikan KH. Salahuddin Wahid selaku Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu (01/07/2017) pagi. Hal itu disampaikan Gus Sholah, sapaan akrabnya pada acara silaturahim dan halal bihalal bersama pengasuh dengan seluruh dewan guru dan karyawan pesantren setempat.
    “Kita lanjutkan dengan puasa yang lain,” kata adik kandung KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.
    Puasa yang dimaksud adalah puasa batin dan pikiran yang tidak semata kegiatan fisik berupa menahan makan dan minum. “Itulah yang dapat kita petik dari puasa sebulan lalu,” kata cucu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tersebut.
    Bagi putra pahlawan nasional KH. Wahid Hasyim ini, melanjutkan puasa seperti itu tidaklah mudah. “Akan tetapi, itulah makna puasa yang sesungguhnya,” ujarnya.
    Gus Sholah tidak bisa menyembunyikan keresahannya lantaran justru kalau Ramadhan, ada saja pejabat yang melakukan perbuatan menyimpang. “Bulan Ramadhan kok malah tertangkap KPK,” sergahnya.
    Mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini menandaskan bahwa para pejabat dan wakil rakyat yang tertangkap mungkin saja tengah menjalankan puasa. “Tapi yang puasa hanya mulutnya,” tukasnya.
    Oleh sebab itu, umat Islam harus terus menjaga spirit puasa usai Ramadhan. “Agar mampu meraih derajat sebagai hamba yang bertakwa,” pungkasnya.

    ,


    gus sholah
    Gus Sholah




    Oleh: KH. Dr. Ir. Salahuddin Wahid

    Alkisah, suatu ketika Nabi Musa berjalan menuju Bukit Sinai tempat di mana ia menerima perintah-perintah Tuhan.
    Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang abid (ahli ibadah) yang sedang uzlah (menjauh dari keramaian). Sang abid yang tahu bahwa Nabi Musa akan menghadap Allah SWT memohon supaya ditanyakan di surga tingkat berapa ia nanti akan ditempatkan di akhirat. Nabi Musa bertanya bagaimana sang abid itu begitu yakin akan masuk surga. Sang abid menjawab, ia sudah 40 tahun mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Ia tidak pernah berbuat dosa, hanya berzikir dan beribadah kepada Allah.
    Nabi Musa melapor kepada Allah bahwa di tengah perjalanan ia bertemu abid yang mohon jawaban di surga tingkat berapakah ia akan ditempatkan. Jawab Allah: sampaikan kepadanya bahwa tempatnya di neraka.
    Nabi Musa pulang dan menemui sang abid yang dengan semangat dan penuh optimisme lalu bertanya, di lantai berapa tempatnya di surga. Nabi Musa lama berdiam diri karena sulit menjawab. Lalu Nabi Musa menjawab bahwa abid itu harus sabar karena akan ditempatkan di neraka.
    Sang abid tak percaya dirinya yang sudah beribadah selama 40 tahun harus masuk neraka. Ia lalu berkata, mungkin Nabi Musa salah dengar dan mengusulkan  Nabi Musa menghadap Allah lagi dan memastikan di surga tingkat berapa abid itu akan ditempatkan. Nabi Musa, yang berpikir mungkin dirinya salah dengar, menghadap Allah lagi.
    Nabi Musa matur bahwa ia ingin kejelasan apa benar sang abid akan dimasukkan ke neraka? Jawab Allah, katakan bahwa tempatnya nanti di surga. Tadinya Aku mau menempatkannya di neraka karena Aku menciptakan manusia bukan untuk bersikap egoistis, termasuk karena alasan spiritual. Aku menciptakan manusia untuk membantu manusia lain. Abid itu bukan mendekatkan dirinya pada-Ku, tetapi melarikan diri dari kehidupan yang nyata.
    Ya Allah, secepat itukah keputusan-Mu berubah? Jawab Allah, pada saat engkau menuju ke sini lagi, Abid itu tersungkur dan menangis tersedu-sedu. Ia memohon kepada-Ku kalau ia ditempatkan di neraka, supaya tubuhnya dijadikan sebesar neraka, supaya tidak ada orang lain yang masuk ke dalam neraka kecuali dirinya. Ketika memohon seperti itu, ia tidak egoistis lagi, tetapi telah mementingkan orang lain.
    Ibadah sosial
    Pesan dari kisah di atas ialah bahwa  ibadah mahda (ritual) dan ibadah sosial tak dapat dipisahkan, keduanya harus dijalankan. Kita tak boleh hanya menjalankan salah satunya. Banyak kita lihat orang yang rajin dan tekun menjalankan ibadah mahda, tetapi melalaikan ibadah sosial. Sebaliknya ada orang yang melalaikan ibadah mahda, seperti shalat, puasa, zakat, haji, tetapi aktif dalam ibadah sosial, seperti membantu kaum lemah atau ibadah sosial lain.
    Ibadah mahda yang bersifat hubungan pribadi antara manusia dan Allah  adalah ibadah yang pahalanya untuk diri sendiri. Sementara ibadah sosial itu sifatnya memang hubungan antarmanusia, tetapi juga mengandung hubungan dengan Allah.
    Menarik untuk diperhatikan, Islam mengatur bahwa ibadah mahda bisa diganti dengan amal sosial, sebagai contoh bahwa orang yang tidak kuat untuk berpuasa karena alasan yang benar bisa mengganti puasa itu dengan membayar fidyah, tetapi orang yang tidak membayar zakat tidak bisa menggantinya dengan shalat atau puasa.
    Puasa Ramadhan sebagai ibadah mahda diharapkan memberi dampak berupa ibadah sosial bagi yang berpuasa. Dalam berpuasa, kita merasakan lapar yang bersifat sementara karena setelah tiba waktu maghrib kita bisa makan dan minum. Dengan merasakan lapar bersifat sementara itu, diharapkan kita bisa merasakan beratnya rasa lapar permanen yang dirasakan oleh orang yang tidak punya cukup uang untuk membeli makanan. Dampak yang diharapkan ialah kita mau membantu orang yang kekurangan. Namun, tidak semua orang berpuasa Ramadhan bisa memperoleh dampak positif itu.
    Dalam surah Al-Ma’un ditentukan orang yang mendustakan agama ialah orang mengusir anak yatim dan tak menganjurkan (tentu juga melakukan) memberi makan orang miskin. Dan juga ditentukan bahwa celakalah orang yang shalat, tetapi melalaikan shalatnya, yaitu orang yang riya (yang ingin dipuji) dan enggan bersedekah. Surah ini seyogianya menggarisbawahi dampak positif puasa yang berbentuk kepedulian terhadap orang yang sulit memperoleh makanan.
    Kondisi terkini
    Berdasarkan data yang ada, di Indonesia masih banyak rakyat bergizi buruk atau kekurangan gizi, belasan persen dari jumlah penduduk. Dan, tampaknya banyak umat Islam yang mampu secara ekonomi belum membantu kaum fakir sebagaimana mestinya. Mungkin juga tidak banyak yang bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia termasuk orang yang bisa disebut sebagai pendusta agama karena tidak memberi makan orang kekurangan gizi yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
    Saya ingin mengemukakan dua fakta sebagai gambaran kondisi kita. Menurut penelitian Bank Pembangunan Islam (IDB), potensi ZIS (zakat, infak, sedekah) di Indonesia di atas Rp 200 triliun). Pada 2016, dana ZIS yang terkumpul melalui LAZ/BAZ berjumlah sekitar Rp 5 triliun. Mungkin yang menyalurkan ZIS tak melalui LAZ/BAZ juga sebesar Rp 5 triliun. Keseluruhannya sekitar Rp 10 triliun. Dibandingkan dengan Rp 200 triliun, jumlah itu hanya mencapai 5 persen.
    Jumlah yang pergi umrah setiap tahun mencapai satu juta orang. Kalau satu orang membayar 2.000 dollar AS, dana untuk pergi umrah per tahun mencapai 2 miliar dollar AS atau sekitar 27 triliun rupiah. Ibadah umrah yang, menurut saya, prioritasnya ada di bawah ZIS ternyata mampu menarik dana dari rekening Muslimin Indonesia hampir tiga kali lipat jumlah dana ZIS  per tahun. Sekali lagi,  ibadah mahda lebih menarik, lebih nikmat dan dianggap lebih utama dibandingkan dengan ibadah sosial.
    Saya menduga banyak umat Islam yang belum atau tidak sepenuhnya menyadari arti penting dari apa yang dikemukakan di atas. Kalau mereka sering diingatkan, insyaallah mereka akan tergerak untuk mau membantu saudara seagama atau saudara sebangsa yang mengalami kekurangan gizi dan kekurangan lain. Mungkin diperlukan suatu sistem yang membantu memudahkan Muslimin untuk bisa membantu orang yang kekurangan gizi di sekitar lingkungan di mana dia tinggal.

    Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas, pada 9 Juni 2017, dimuat ulang untuk keperluan pendidikan.

    Di Pesantren Tebuireng 2 yang terletak di Desa Jombok Ngoro Jombang, sebelah selatan Ponpes Utama Pesantren Tebuireng kira2 10 KM. telah berlangsung peresmian Gedung baru untuk Pelatihan Kader Tebuireng, bersama itu juga sedang berlangsung pelantikan para Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, diantaranya :

    Pelantikan:

    1. Wakil Pengasuh : H. Abdul Khakim Mahfudz
    2. Sekretaris Utama : Ir. H. Abdul Ghofar
    3. Mudir Pengembangan Pondok Baru : H. Abdul Halim Mahfudz
    4. Mudir Pembinaan Bidang Pendidikan : H. Kusnadi Said
    5. Mudir Pembinaan Bidang Pondok : H. Lukman Hakim
    6. Mudir Bidang Investasi & Optimalisasi Aset : H. A. Baidlowi
    7. Wakil Pengasuh Pondok Putri : Hj. Aisyah Muhammad

    Semoga beliau - beliau semua diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat yang diberikan. Amin Y Rabbal Alamin....
    Pelantikan langsung disampaikan oleh K.H. Salahuddin Wahid.

    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru
    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru

    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru
    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru


    , ,

    Di Pesantren Tebuireng 2 yang terletak di Desa Jombok Ngoro Jombang, sebelah selatan Ponpes Utama Pesantren Tebuireng kira2 10 KM. sedang berlangsung peresmian Gedung baru untuk Pelatihan Kader Tebuireng, bersama itu juga sedang berlangsung pelantikan para Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, diantaranya :

    Pelantikan:

    1. Wakil Pengasuh : H. Abdul Khakim Mahfudz
    2. Sekretaris Utama : Ir. H. Abdul Ghofar
    3. Mudir Pengembangan Pondok Baru : H. Abdul Halim Mahfudz
    4. Mudir Pembinaan Bidang Pendidikan : H. Kusnadi Said
    5. Mudir Pembinaan Bidang Pondok : H. Lukman Hakim
    6. Mudir Bidang Investasi & Optimalisasi Aset : H. A. Baidlowi
    7. Wakil Pengasuh Pondok Putri : Hj. Aisyah Muhammad

    Semoga beliau - beliau semua diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat yang diberikan. Amin Y Rabbal Alamin....
    Pelantikan langsung disampaikan oleh K.H. Salahuddin Wahid.





     

    Oleh: Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng

    Alhamdulillah, pada malam hari ini (Kamis, 29 Desember 2015), saya bisa hadir di sini (Lapangan Tumapel Singosari, Malang), menyaksikan atau merasakan peristiwa yang menggetarkan hati. Tanggal lima desember yang lalu, majlis ini (Majlis Riyadul Jannah) mengadakan kegiatan yang sama di Tebuireng. Tapi sayang sekali, pada waktu itu saya harus berada di Jakarta. Alhamdulillah pada malam hari ini saya bisa berada disini, bersama bapak dan ibu sekalian.

    Kita menyelenggarakan kegiatan semacam ini (majlis dzikir dan shalawat), bertujuan untuk, pertama, menghormati dan memuliakan Rasulullah SAW. Kedua, untuk mengungkapkan rasa cinta kita, rasa rindu kita kepada beliau. Ketiga, kita bisa berdoa, memohon kepada Allah SWT, dan juga kita mencoba menambah pengetahuan kita tentang keutamaan Rasulullah. Mudah-mudahan kita bisa meneladi keutaman tersebut.

    Bagaimana kita memandang sosok Rasulullah dan sebagai apa kita pandang beliau. Tentu pertama sebagai utusan Allah, yang membawa risalah terakhir yang sempurna bagi umat manusia. Kedua, sebagai juru selamat, dengan memberi syafa’at kepada kita pada hari akhir. Mudah-mudahan kita mendapatkan syafa’at beliau. Ketiga, sebagai pemimpin masyarakat Madinah. Di sini Rasulullah juga menjadi pemimpinnya umat muslim, bahkan orang non-Muslim pun menjadi bawahan atau umatnya Rasulullah, bahkan mereka memandang beliau sebagai guru.

    Yang berikutnya, (kelima) sebagai sumber inspirasi, ini juga berlaku untuk umat non-muslim. Keenam, sebagai bahan kajian. Banyak ahli-ahli non-muslim yang menkaji Rasulullah dengan berbagai motif, ada yang untuk mencari kelemahan, ada yang betul-betul mengagumi Rasulullah. Yang ketujuh, tentunya teladan yang baik, uswah hasanah. Ini juga berlaku untuk non-muslim. Uswah hasanah dalam peran sebagai apa? Sebagai manusia, orang tua, suami, pedagang, pendidik, pemimpin, dan lain sebagainya.

    Jadi peran Rasulullah sebagai pemimpin banyak dikaji oleh orang-orang di seluruh dunia.  Saya ingin sampaikan materi-materi dari sudut pandang yang tidak banyak kita lakukan. Seorang penulis barat, pernah membuat pernyataan sebagai berikut, “Muhammad adalah sosok yang benar-benar hebat. Mengapa? Karena Muhammad lah yang menjadi perintis berdirinya hampir 100 negara, di atas prinsip, sistem, dan aturan yang dia ajarkan. Muhammad adalah arsitek bagi sekian banyak peradaban.” Itu yang ditulis oleh seorang ahli barat.

    Banyak sekali tokoh non-muslim yang memberikan penghargaan dan pendapat yang senada bahwa Nabi Muhammad adalah tokoh yang tidak ada duanya. Antara lain kami sebutkan, nama Mahatma Gandhi, pemimpin yang dikagumi banyak orang, beliau justru mengagumi Rasulullah. Kemudian ada seorang ilmuan Amerika, Michael H. Hart, mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah tokoh nomer satu  dalam daftar 100 orang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Peringkat kedua adalah ilmuan bernama Isaac Newton, yang menemukan teori gravitasi, sedangkan yang ketiga adalah Nabi Isa. Ada tokoh Islam lain yang mendapatkan peringkat nomer 51, yaitu Khalifah Umar bin Khattab.

    Di masa hidup beliau Rasulullah SAW., telah mendidik banyak panglima perang dan negarawan yang pada masa selanjutnya mampu melanjutkan dakwah Islam dengan sangat baik. Contohnya Khalid bin Walid, lalu dilanjutkan oleh Uthbah bin Nafi’, lalu dilanjutkan oleh Ahmad ibn Qois, dan selanjutnya oleh Thariq bin Ziyad. Nama Thariq bin Ziyad yang asalnya adalah budak Barbar yang kemudian memimpin pasukan Islam yang hanya berjumlah 12.000 orang mampu mengalahkan pasukan Spanyol yang hampir 100.000 orang. Rasulullah mempunyai kemampuan mampu memilih orang yang tepat pada posisi tertentu. Ja’far bin Abi Thalib dipilih untuk memimpin rombongan ke Habasyah yang berhasil dengan baik berdialog dengan Raja Najasyi. Mus’ab bin Umair dipilih Rasulullah untuk menyampaikan dakwah awal ke Madinah, karena dia memang pandai menayampaikan dakwah dengan lembut dan akhlaknya baik. Untuk menyimpan rahasia, Rasulullah menyampaikan kepada Hudzaifah bin Yaman yang memang pandai menyimpan rahasia. Rasulullah berhasil memilih orang yang tepat dalam mengurus keuangan Negara, yaitu al-Arqam bin Abil Arqam, orang yang teliti, jujur, dan memiliki pemikiran yang jauh kedepan.

    Dalam peperangan menghadapi Romawi (Perang Mu’tah), dengan kekuatan berjumlah 200.000 orang, pasukan muslim hanya berjumlah 3000 orang, Nabi memilih Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang. Kalau Zaid gugur maka penggantinya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Kalau Ja’far gugur diganti oleh Abdullah bin Rawahah. Kalau Abdullah gugur, harus dicarikan penggantinya dengan cara musyawarah, yang terpilih adalah Khalid bin Walid. Timbul pertanyaan, bagaimana mungkin dalam satu generasi, muncul begitu banyak tokoh yang genius. Bukan hanya tokoh militer yang muncul dari kalangan Islam, tapi juga menurut cendekiawan masa kini, telah lahir pada masa Rasulullah SAW para genius.

    Madrasah yang didirikan Rasulullah adalah satu-satunya tempat, dimana begitu banyak individu dapat menggali banyak potensi dan kemampuan mereka secara maksimal. Siapapun yang pernah mengenyam pendidikan di madrasah ini, bisa mengasah segala potensi yang ada, baik potensi intelektual maupun potensi spiritual. Antara lain genius dalam bidang ilmu agama, kita kenal nama Abdullah bin Mas’ud yang membuat Kuffah menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di bawah bimbingannya, ratusan cendekiawan yang menguasai ilmu fikih, ilmu hadits, ilmu kalam, termasuk Imam Abu Hanifah bin Nu’man. Juga ada Ibn Abbas yang mempunyai murid, yaitu Imam Malik, yang kemudian mempunyai murid Imam Syafi’i. Juga terdapat orang yang genius dalam bidang sains, misalkan al-Jabir, penemu teori al-Jabar, al-Khawarizmi, ahli matematika, Ibn Sina, ahli kedokteran, al-Zahrawi, ahli bedah, yang bukunya digunakan selama beradab-abad. Juga ada banyak sekali orang genius di dalam masalah spiritual.

    Paling tidak ada sifat-sifat utama yang membuat Rasulullah mencapai keberhasilan dalam banyak bidang. Pertama sifat kasih sayang dan santun, kedua sifat Rendah hati, bukan rendah diri. Rendah hati itu merasa percaya diri tetapi bersikap tidak sombong. Kemudian sifat murah hati, pemaaf, lapang dada, sering memberikan nasihat, tegas, dan pemberani. Selain itu kepemimpinan Rasulullah juga berdasarkan pada empat aspek yang sudah sering kita kenal, yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathanah. Menurut pakar kepemimpinan, semua aspek di atas dapat diringkas menjadi tiga kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin yang ideal.

    Pertama, integritas yang meliputi kejujuran, keberanian bersikap, dan kesederhanaan. Kedua, kemampuan yang meliputi kecerdasan, wawasan luas, dan kemampuan melimpahkan wewenang secara baik dan memantaunya. Ketiga, memiliki elektabilitas yang meliputi bobot amanah dan kepercayaan masyarakat. Kita juga mengetahui bahwa Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak kita, “Innama buitstu li utammima makarima al-akhlak.”  Menurut Siti ‘Aisyah akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Akhlak yang baik, paling tidak meliputi kejujuran, prilaku baik, rasa malu, rendah hati, murah hati, dan sabar. Apakah kita mampu meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari?

    Kita lihat saja di Indonesia, banyak pemimpin yang sudah kehilangan rasa bersalah, rasa tidak tahu malu, dan rasa takutnya telah hilang. Bahkan, takut kepada Allah pun sudah hilang. Meraka hanya takut dimiskinkan. Kemudian tidak adanya sanksi sosial dari masyarakat. Kita tahu, pejabat yang sudah ketahuan korupsi, tetap dihormati oleh masyarakat. Inilah yang menurut saya harus diperbaiki. Kejujuran masyarakat kita juga menjadi masalah.

    Saya ambil contoh di Jepang. Kebetulan dua tahun lalu, saya diundang oleh PCINU Jepang. Di sana ketemu dengan teman-teman Indonesia di Masjid Kyoto. Mereka mengatakan bahwa di Jepang kejujuran itu ada dan terasa. Salah satu peserta mengatakan dia pernah naik kereta api. Dia tinggal jauh, di Tokyo menempuh perjalanan satu jam setengah.  Dia turun di stasiun, kameranya tertinggal di gantungan di atas bangku kereta. Dia baru sadar waktu setelah turun dan kereta sudah jalan. Kemudian dia melapor kepada petugas kereta, bahwa kameranya tertinggal di kereta ini dan gerbong ini. Petugas kereta mengatakan, “Nanti beberapa hari lagi akan ketemu, dan  anda kembali kesini.” Dan itu betul.

    Ternyata seorang wartawan asal Amerika menemukan sebuah kamar, mungkin ukuran 4×4, isinya barang-barang yang tidak bertuan, tertinggal di kereta atau di stasiun dan tidak ada yang mengaku memiliki barang itu. Kalau sudah setahun tidak ada yang mengaku, maka itu disumbangkan kepada orang-orang yang memerlukan. Lah ini pertanyaan, bagaimana kita bisa mencapai seperti itu? Padahal di Jepang kebanyakan tidak percaya kepada Tuhan. Agama Shinto itu tidak bertuhan, hanya memberikan pelajaran tentang kebaikan. Ini menjadi tantangan bagi kita semua.

    Kita juga ambil contoh. Kan kita telah menyaksikan pelantikan KPK. Ada ketua KPK yang mengatakan akan memperbaiki Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Kita sekarang mencapai 34 atau 35, kalau tidak salah, menempati nomer 117 dari 175 negara. Dari 175 negara tersebut, kalau diambil 10 negara paling bawah, sembilan Negara itu adalah mayoritas berpenduduk muslim. Kalau kita ambil 10 negara paling sedikit korupsinya, adalah Negara yang mayoritas rakyatnya 80 % tidak percaya kepada Tuhan. Di sini kita temukan, tidak adanya hubungan antara beragama dengan perilaku bermasyarakat. Ini masalah kebudayaan dan ini menjadi tantangan kita bersama, supaya kedepan kita bisa memperbaiki keadaan.

    Tadi saya sampaikan Rasulullah pandai memilih pembantu. Artinya, selain orang-orang itu tepat pada posisinya, mereka juga setia dan tidak berkhianat. Di Indonesia, dulu waktu Pak Harto, semua orang menghormati, tidak hanya menghormati, menghamba bahkan banyak yang cium tangan. Tapi beberapa hari sebelum Pak Harto jatuh, sebagian menterinya itu membelot, tidak mendukung Pak Harto lagi. Yang Kedua Gus Dur. Banyak orang-orang yang dijadikan “orang”, akhirnya meraka juga mengkhianati Gus Dur.

    Tidak ada pemimpin yang bisa menyamai Rasulullah. Kita semua merasakan keagungan Rasulullah. Ini menjadi tantangan kita, Islam yang begitu hebat adanya, kemudian dicontohkan oleh Rasulullah dan pengikut-pengikutnya, tetapi saat ini ternyata tidak begitu baik. Dulu Islam bersatu, kecuali ada peperangan antara kelompok Sayyidina Ali dengan kelompok Siti ‘Aisyah. Tapi setelah itu bersatu lagi. Namun sekarang kita lihat, di Timur Tengah di beberapa Negara mengalami peperangan saudara. Ini yang menurut saya, harus kita perhatikan. Jangan sampai timbul hal-hal semacam itu di Indonesia. Kalau itu terjadi, kita akan mengalami keadaan yang sangat buruk. Saya ambil contoh, yang terjadi di Syiria. Penduduk Syiria itu 20 juta lebih sedikit, 20%-nya harus mengungsi ke luar negeri, yang lain menderita di dalam negeri. Mereka hijrah, tidak hanya dari Syiria, termasuk dari Afrika, yang meyoritas penduduknya muslim, hijrah ke negara-negara non-Islam, yaitu ke Eropa. Karena mereka merasa tidak aman, di negara sendiri.

    Kita merasa aman di Negara sendiri. Ini yang harus kita jaga, kita pertahankan, dan kita rawat. Negara Indonesia, yang berdasarkan pada Pancasila ini, adalah negara yang baik sekali. Kalau kondisinya ada yang belum baik, kita akui dan bersama-sama akan kita perbaiki dengan cara meneladani perilaku Rasulullah SAW. yang dilandasi oleh akhlakuk karimah, yang dilandasi oleh sifat zuhud, yang tidak memandang harta lebih tinggi dari diri kita sendiri. Saat ini kalau kita lihat contoh-contoh yang ada di dalam negara kita ini, kita tidak peduli. Uswah hasanah kita adalah Rasulullah SAW. Itulah yang kami sampaikan mudah-mudahan ada manfaatnya.

    *Tulisan ini adalah transkip ceramah Gus Sholah dalam acara Safari Shalawat 40 Hari Majlis Maulid wa al-Ta’lim Riyadhul Jannah pada Kamis, tanggal 29 Desember 2015 di Lapangan Tumapel, Singosari, Malang, Jawa Timur. 


    , ,

    Pengumuman Libur Semester 1 di Lembaga Pendidikan di bawah Naungan Yayasan Hayim Asy'ari Tebuireng





    ,

    Haul ke - 6 Wafatnya K.H. Abdurrahman Wahid di Pesantren Tebuireng Jombang



    Dalam rangka memperingati wafatnya K. H. Abdurrahman Wahid atau yang maklum kita panggil Gus Dur. Pesantren Tebuireng Jombang akan mengadakan serangkaian acara yang akan di laksanakan pada tanggal 26 Desember 2015 akhir bulan ini.

    Pesantren Tebuireng mempunyai banyak agenda besar dalam bulan ini, sebelumnya pada tanggal 24 Desember 2015 akan diadakan Tes Seleksi Santri Baru Gelombang I di semua unit pendidikan yang berada di  lingkungan yayasan hasyim asy'ari tebuireng, setelah itu jelang 2 hari, diadakan Haul Gus Dur yang ke - 6. ini merupakan perjuangan yang harus dilakukan demi memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.

    Dalam acara haul Gus Dur yang ke - 6 ini, akan ada beberapa rangkaian acara, diantaranya :
    1. Khatmil Qur'an Se-Jombang yang akan di mulai pada pukul 05.00 WIB pada tanggal 26 Desember 2015.
    2. Tahlil dan Pengajian Akbar yang dimulai pada pukul 19.00 WIB hari sabtu malam tanggal 26 Desember 2015, yang insyaallah akan dihadiri oleh :
         a. Drs. H. M. Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden Republik Indonesia
         b. K.H. Maiun Zubir atau yang lazim dikenal dengan sebutan Mbah Mun dari rembang
         c. dan K.H. Jamaluddin Ahmad dari Tambakberas.

    Bagi semua santri, alumni, masyarakat, dan Warga yang ingin menghadiri haul Gus Dur ini, silahkan datang di Pesantren Tebuireng Jombang.

    Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi Ustadz Iskandar, selaku Wakil Kepala Pondok Putra Pesantren Tebuireng di Nomor Handphone : 085 648 316 441.

    Dalam kitab suci al-Qur’ân disebutkan: “masuklah kalian ke dalam Islam (kedamaian) secara penuh (udkhulû fi al-silmi kâffah)” (QS al-Baqarah [2]:208). Di sinilah terletak perbedaan pendapat sangat fundamental di antara kaum muslimin. Kalau kata “al-silmi” diterjemahkan menjadi kata Is­lam, dengan sendirinya harus ada sebuah entitas Islam formal, dengan keharusan menciptakan sistem yang Islami. Sedangkan mereka yang menterjemahkan kata tersebut dengan kata sifat kedamaian, menunjuk pada sebuah entitas universal, yang tidak perlu dijabarkan oleh sebuah sistem tertentu, termasuk sistem Islami.




    GusdurBagi mereka yang terbiasa dengan formalisasi, tentu digunakan penterjemahan kata al-silmi itu dengan kata Islami, dan dengan demikian mereka terikat kepada sebuah sistem yang dianggap mewakili keseluruhan perwujudan ajaran Islam dalam kehidupan sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah. Hal ini membawakan implikasi adanya keperluan akan sebuah sistem yang dapat mewakili keseluruhan aspirasi kaum muslimin. Karena itu, dapat dimengerti mengapa ada yang menganggap penting perwujudan “partai politik Islam” dalam kehidupan berpolitik. Tentu saja, demokrasi mengajarkan kita untuk menghormati eksistensi parpol-parpol Islam, tetapi ini tidak berarti keharusan untuk mengikuti mereka.

    Di lain pihak kita juga harus menghormati hak mereka yang justru mempertanyakan kehadiran sistem Islami tersebut, yang secara otomatis akan membuat mereka yang tidak beragama Islam sebagai warga dunia yang kalah dari kaum muslimin. Ini juga berarti, bahwa dalam kerangka kenegaraan sebuah bangsa, sebuah sistem Islami otomatis membuat warga negara non-mus­lim berada di bawah kedudukan warga negara beragama Islam, alias menjadi warga negara kelas dua. Ini patut dipersoalkan, karena juga akan berdampak pada kaum muslimin yang tidak menjalankan ajaran Islam secara penuh. Kaum muslimin seperti ini, -sering disebut muslim nominal atau abangan-, tentu akan dinilai kurang Islami jika dibandingkan dengan mereka yang menjadi anggota/warga partai/organisasi yang menjalankan ajaran Islam secara penuh, yang juga sering dikenal dengan nama “kaum santri”.

    Apabila terdapat pendapat tentang perlunya sebuah sistem Islami, mengapa lalu ada ketentuan-ketentuan non-organisatoris yang harus diterapkan di antara kaum muslimin oleh kitab suci al-Qur’ân? Sebuah ayat menyatakan adanya lima syarat untuk dianggap sebagai “muslim yang baik”, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di kitab suci al-Qur’ân, yaitu menerima prinsip-prinsip keimanan, menjalankan ajaran (rukun) Islam secara utuh, menolong mereka yang memerlukan pertolongan (sanak saudara, anak yatim, kaum miskin dan sebagainya) menegakkan profesionalisme dan bersikap sabar ketika menghadapi cobaan dan kesusahan.

    Kesetiaan kepada profesi itu, digambarkan oleh kitab suci al-Qur’ân dengan istilah, “mereka yang memenuhi janji yang mereka berikan” (wa al-mûfûna bi ‘ahdihim idzâ ‘âhadû) (QS al-Baqarah [2]: 177). Adakah janji yang lebih nilainya daripada janji kepada profesi masing-masing, yang disampaikan ketika membacakan janji prasetia pada waktu menerima sebuah jabatan?

    Kalau kelima syarat di atas dilaksanakan oleh seorang mus­lim, tanpa menerima adanya sebuah sistem Islami, dengan sendirinya tidak diperlukan lagi sebuah kerangka sistemik menurut ajaran Islam. Dengan demikian, mewujudkan sebuah sistem Islami tidak termasuk syarat bagi seseorang untuk dianggap “mus­lim yang taat”. Ini menjadi titik sengketa yang sangat penting, karena di banyak tempat telah tumbuh paham yang tidak mementingkan arti sistem.

    Maka ketika NU (Nahdlatul Ulama) menyatakan deklarasi berdirinya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), tanpa menyebutkan bahwa partai tersebut adalah partai Islam, penulis dihujani kritik tajam selama berbulan-bulan dari mereka yang menginginkan partai tersebut dinyatakan sebagai partai Islam. Ini dilakukan oleh mereka yang tidak menyadari, bahwa NU sejak semula telah menerima kehadiran upaya berbeda-beda dalam sebuah negara atau kehidupan sebuah bangsa dan tidak mau terjebak dalam tasyis an-nushush al-muqaddasah (politisasi terhadap teks keagamaan).

    Dalam Muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin, muktamar harus menjawab sebuah pertanyaan: wajibkah bagi kaum muslimin mempertahankan kawasan yang waktu itu bernama Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang diperintah oleh orang-orang non-muslim (para kolonialis Belanda)? Jawab muktamar saat itu; wajib. Karena di kawasan tersebut, yang di kemudian hari bernama Indonesia, ajaran Islam dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga bangsa secara bebas, dan dahulu ada kerajaan-kerajaan Islam di kawasan itu. Dengan demikian, tidak harus dibuat sistem Islam, dan dihargai perbedaan cara dan pendapat di antara kaum muslimin di kawasan tersebut.

    Diktum Muktamar NU di Banjarmasin tersebut, memungkinkan dukungan pimpinan NU kepada mendiang Presiden Soekarno dan Hatta untuk memimpin bangsa ini. Demikian pula, pembentukan badan-badan formal Islam bukanlah satu-satunya medium bagi perjuangan Islam untuk menerapkan ajaran di bumi nusantara. NU yang resminya sebagai organisasi kemasyarakatan Islam dan bukannya lembaga politik, dapat saja menyalurkan aspirasinya tentang pelaksanaan ajaran Islam di kawasan tersebut melalui Golkar (Golongan Karya) yang bukan sebagai organisasi Islam resmi. Perbedaan jalan perjuangan antara yang menganut paham lembaga Islam sebagai sistem di satu pihak, dan mereka yang tidak ingin melaksanakan perjuangan melalui jalur-jalur resmi Islam, dihargai dan diterima oleh para pendukung Ibn Taimiyyah2 beberapa abad yang lalu.

    Lalu, bagaimana dengan adagium yang dikenal Islam; “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan” (La Islama Illa bi Jama’ah wala Jama’ata Illa bi Imarah wala Imarata Illa Bi Tha’ah)3. Bukankah ini sudah menunjukkan adanya sebuah sistem, maka jawabannya bahwa tidak ada sesuatu dalam ungkapan tersebut yang menunjukkan secara spesifk adanya sebuah sistem Islami. Dengan demikian, setiap sistem diakui kebenarannya oleh ungkapan tersebut, asal ia memperjuangkan berlakunya ajaran Islam dalam kehidupan sebuah bangsa/negara.

    Karena itu penulis berpendapat, dalam pandangan Islam tidak diwajibkan adanya sebuah sistem Islam, ini berarti tidak ada keharusan untuk mendirikan sebuah negara Islam. Ini penting untuk diingat, karena sampai sekarang pun masih ada pihak-pihak yang ingin memasukkan Piagam Jakarta ke dalam UUD (Undang-Undang Dasar) kita. Dengan klaim mendirikan negara untuk kepentingan Islam jelas bertentangan dengan demokrasi. Karena paham itu berintikan kedaulatan hukum di satu pihak dan perlakuan sama pada semua warga negara di hadapan Undang-Undang (UU) di pihak lain.

    MEMORANDUM, 22 Juli 2002

    History shows that pesantren (Islamic boarding schools) have made a great contribution to the independence of this country; most have also played a significant role in making Indonesian Muslims moderate and tolerant. However, the condition of pesantren, especially in rural areas, is deplorable. Most have been left behind in comparison to other educational institutions in urban areas. One reason is the lack of attention from the government on the development of pesantren.

    Thus, the government needs to create an affirmative program to help the schools develop, and to support their surrounding communities to face the influence of globalization. Only about 7 percent of students from rural areas continue their studies to a university level; most cannot study in major cities due to the high living costs.

    The affirmative program should include affordable non-religious studies for people in rural areas. Such programs would have a multiplier effect, which would improve their competitiveness. Importantly, these programs would reduce urbanization as well as reducing the gap between urban and rural areas; and they are plausibly a good method of de-radicalization.

    Not many understand that the oldest and earliest education in the Indonesian archipelago was Islamic education, particularly in pesantren. Islamic education started in the ninth century in Barus, on the western coast of Sumatra, when many foreigners including Islamic scholars arrived there. Foreigners were particularly attracted to the camphor trees in the area, as their sap can be used to produce kapur barus (camphor).

    Historical records suggest that the zenith of Islam in the archipelago occurred from 1400 to 1680. Modern Malay civilization developed the use of Arabic script for writing instead of the Latin alphabet; this became known as the Jawi script. Well-known scholars during this time included Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri and Abdurrauf al-Singkili.

    Anthony Johns considered the Malay people’s conversion into Muslims as a remarkable historical development. Firstly, it happened during the setback of the Islamic imperium in the Middle East. Secondly, the process was relatively rapid, in the absence of political support from any military power. Thirdly, the number of people converting from Hinduism to Islam was more than 89 percent of the population. Indisputably, the key to this phenomenon was the existence of pesantren.

    The Walisongo (nine Javanese Islamic saints) were the early figures who spread Islam in the future Indonesia. One of the Walisongo, Maulana Malik Ibrahim, who died in 1419, is known as the grand master of the pesantren tradition. Meanwhile, Java’s oldest pesantren is Tegalsari in Ponorogo, East Java, which was established 300 years ago by Hasan Besari. Ronggowarsito, a great Javanese poet, was one of his students.

    Several old pesantren that are still in operation today include: the Sidogiri in Pasuruan, East Java, which was first established in 1745; the Jamsaren in Surakarta, Central Java, established 1750; Miftahul Huda in Malang, East Java, established 1768; the Buntet in Cirebon, established 1785; Darul Ulum in Pamekasan, Madura, East Java, established 1787; and Langitan in Tuban, East Java, established 1830.

    Several pesantren which are now well-known were actually established at later times, such as the Tebuireng in Jombang, East Java (established in 1899), Lirboyo in Kediri (established in 1910) and Gontor in Ponorogo, East Java (established in 1926).

    In the Minangkabau highlands in West Sumatra, a similar institution to the pesantren exists, called the surau, as does the dayah in Aceh.

    Secular educational institutions were established by the Dutch East Indies in the early 1840s at the suggestion of Snouck Hurgronje. The main purpose was to attain more educated employees for the Dutch administration and private companies. However, the development of the secular educational institutions was also believed to challenge the influence of pesantren which had begun to irritate the colonial government.

    According to Hurgronje, the culture of the East Indies had to be combined with European culture. The Dutch education system was thus expanded, making many more Indonesians eligible to attend. This education policy, later part of the “ethical policy” toward colonial subjects, was deemed the best political decision to reduce and eventually defeat the influence of Islam in the Dutch East Indies.

    In 1919, the Bandung School of Technology was set up, followed by the School of Law in 1924 and the School of Medicine in 1926, the latter two both in Jakarta. Interestingly, even though many students received a western education, they did not lose their identities.

    A number of them gathered in Jakarta in October 1928 to hold the second youth congress, which then resulted in Sumpah Pemuda (The Youth Pledge). That moment surely formed the embryo of Indonesian independence. To achieve this vision, the future years saw cooperation and understanding between our founding fathers, who graduated from pesantren and western style education.

    In 1950, the religious affairs minister of the time, Wahid Hasyim, and the education minister, Bahder Johan, signed a memorandum of understanding (MoU) to combine Islamic and secular education. Furthermore, the pesantren also contributed to the establishment of the Islamic Indonesian University (UII) as the first private university in Indonesia. The proponents of Islamic higher education further enabled many pesantren alumni to continue their studies in any discipline they chose.

    Nowadays, there are some 28,000 pesantren across Indonesia, mostly in East Java. In 1971 there were 4,200 such schools while, in 1998, the figure rose to 8,000, and rose again to 22,000 by 2008. The increasing number of schools shows the public’s appreciation as many citizens choose to send their children to pesantren — which have continued their tradition, over hundreds of years, of educating our society.

    The writer is the director of Tebuireng Pesantren, Jombang, East Java.

    Sumber: thejakartapost.com



    ,

    Kunjungan Ibu Mensos ke tebuireng kali ini sekaligus menjenguk anak nya yang belajar di pesantren tebuireng.
















Top