, ,

    Prof. Haris Supratno: KKNT Unhasy Juga Bawa Nama Pesantren Tebuireng

    Wakil Rektor I Unhasy Prof. Dr. Haris Supratno menyampaikan sambutan dalam pembukaan pembekalan KKNT Unhasy di Auditorium Unhays pada Senin (10/07/2017).
    Wakil Rektor I Unhasy Prof. Dr. Haris Supratno menyampaikan sambutan dalam pembukaan pembekalan KKNT Unhasy di Auditorium Unhays pada Senin (10/07/2017).
    Dalam rangka memberikan bekal yang cukup bagi para mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) pada 22 Juli-22 Agustus 2017, Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng melaksanakan pembekalan pada Senin-Rabu (10-12/07/2017). Pembekalan yang harus diikuti oleh mahasiswa peserta KKNT ini, dibuka langsung oleh Wakil Rektor I Unhasy Prof. Dr. H. Haris Supratno pada Senin (10/07/2017) di Auditorium Gedung Rektorat.
    Selain itu tampak hadir Wakil Rektor II Unhasy, Drs. Mukhsin, Ks., Camat Kudu Shalahuddin Hadi dan perwakilan KUA Kecamatan Kudu, Muhammad Zainul Fanani, seluruh dekan fakultas di Unhasy, dosen pembimbing beserta SC, dan staff LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat),
    Prof. Haris dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa Unhasy dalam KKNT ini tidak hanya berangkat atas nama kampus saja, melainkan juga membawa nama Pesantren Tebuireng. Sehingga beliau berharap mahasiswa menjalankan program KKNT ini mampu menjaga moral sebagai manusia yang berpendidikan. Menurut beliau KKNT tahun ini bersistem Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) berbasis masjid.
    “Sikap, perilaku anda dan tutur kata anda dinilai oleh masyarakat, sehingga tolong tetap mejaga sikap moral anda, apalagi anda membawa nama Pesantren Tebuireng yang mana telah terkenal baik nasional dan internasional,” ujar mantan Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.
    Selanjutnya, beliau juga menyampaikan bahwa sebelumnya KKNT tahun ini sebenarnya akan diadakan di Kecamatan Ngusikan. Namun, karena telah ditempati peserta KKNT dari kampus lainnya, maka Unhasy mengalihkannya ke daerah lain, yaitu Kecamatan Kudu.
    “Dalam kelompok kekompakan itu penting, semisal setiap kelompok ada mahasiswa dari fakultas keagamaan bukan berarti dari fakultas umum harus lepas tanggung jawab dalam bidang keagamaan karena anda juga ada di lingkup perguruan tinggi yang berbasis pesantren,” pesan beliau.
    Selain itu, beliau juga memaparkan bahwa setiap program yang nanti diajukan juga perlu kiranya diselesaikan supaya tidak mempunyai tanggungan di kemudian hari. “Kalau perlu laporannya juga bisa sekalian dicicil, supaya ketika kembali ke kampus anda tinggal menyetorkan laporannya yang disertai dokumentasi nya,” tambah beliau.

    , ,

    5 Keuntungan yang Hanya Bisa Didapat di Pesantren


    Oleh: Fatkhurrahman Karyadi*
    Oleh: Fatkhurrahman Karyadi*
    Bagi orangtua mungkin akan bingung memikirkan tempat pendidikan yang cocok untuk anaknya. Banyak lembaga yang bagus, berprestasi, dan unggulan, namun masih saja ragu. Kini saatnya membuang keraguan itu. Pesantren bisa menjadi solusi terbaik. Karena banyak hal yang ternyata hanya ada di pondok pesantren. Berikut lima di antaranya:
    Kasih Sayang Kiai
    Jika di rumah seorang anak hanya mendapat kasih sayang orangtua saja maka di pesantren para santri akan mendapatkan kasih sayang dan didikan dari para guru dan kiai. Betapa tidak, sejak subuh mereka sudah dibangunkan untuk beraktivitas. Mulai bersih-bersih diri, Shalat Subuh berjamaah, berdoa, dan berolahraga.
    Jika seorang santri melanggar aturan, mereka akan diganjar oleh kiai dengan takzir atau hukuman. Ganjaran itu biasanya akan membentuk mental dan karakter lebih baik. Terkadang disuruh membaca 1 juz Al Quran dengan berdiri, disuruh menyapu halaman seluruh pondok, menguras kamar mandi, shalat di shaff awal selama sebulan penuh, dan lain-lain.
    Tak sampai di situ, kasih sayang kiai juga terlontarkan kepada para santri ketika terlelap tidur. Saat malam sunyi menyelimuti, kiai bangun untuk Shalat Tahajjud dan mendoakan seluruh santrinya. Bahkan, sampai si santri menjadi alumni pun doa beliau tak akan putus.
    Sahabat Sepanjang Masa
    Orang yang pernah menempuh pendidikan di pesantren pasti ia akan punya banyak sahabat. Berbeda dengan yang hanya menempuh pendidikan di dunia formal, mereka hanya saling kenal sebatas wilayahnya saja dan sekadar teman bukan sahabat erat.
    Bagaimana tidak, para santri akan berinteraksi satu sama lain selama 24 jam full. Mereka akan makan bersama, mencuci bersama, berolahraga bersama, belajar bersama, sampai tidur pun bersama.
    Di samping itu, para santri berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka memiliki budaya, bahasa, serta bentuk fisik yang heterogen sehingga rasa ingin berkenalan dan bersahabat erat akan semakin terjalin. Maka tak heran, ketika mereka sudah keluar pesantren hubungan persahabatan terus berlanjut.
    Berpotensi Jadi Multitalenta
    KH Abdul Wahid Hasyim pernah berkata, “Alumnus pesantren tak harus menjadi ahli agama”. Artinya, para santri mampu menjadi apa saja dan berkiprah di mana saja. Hal ini tak lain karena di dalam pesantren mereka digembleng banyak disiplin keilmuan, baik teori maupun praktik.
    bagi yang menyukai ilmu eksakta mereka akan bertemu dengan komunitasnya, begitu juga mereka yang menyukai dunia seni, sastra, beladiri, dst. Tak perlu ditanya tentang kemampuan mereka membaca Al Quran, memahami kitab kuning, berdialog bahasa Arab, dan berpidato, itu adalah lauk-pauk sehari-hari mereka.
    Tak heran, di tingkat nasional di berbagai bidang maupun institusi negeri atau swasta banyak tokoh yang lahir dari bilik pesantren.
    Insan Berakhlak Mulia
    Pernah mendengar pesantren terlibat aksi tawuran? Atau para santri terjerat kriminal? Pasti tidak. Jika iya, hal itu sangat jarang bahkan langka dari jumlah pesantren dan santri yang ratusan ribu.
    Ya, di pesantren para santri ditekankan adab, akhlak atau sopan santun. Baik untuk dirinya sendiri, maupun kepada orang lain terlebih kepada yang usianya lebih tua.
    Bahkan, di pesantren mereka juga dikenalkan dengan ilmu tasawuf yakni adab atau tatakrama seorang hamba kepada Tuhannya dalam beribadah dan kehidupan sehari-hari.
    Genealogi Keilmuan yang Jelas
    Ini adalah satu hal yang menjadi pembeda antara pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang lainnya. Yaitu adanya sanad atau mata rantai guru dan murid sebagai satu kesatuan genealogi keilmuan yang jelas.
    Seorang santri akan menerima ijazah sanad tersebut setelah mereka berhasil mengkhatamkan sebuah kitab yang dikaji. Semisal  mempelajari Kitab Shahih Bukhari, mereka akan menerima keterangan bahwa sang guru belajar dari gurunya dari guru selanjutnya hingga sampai sang pengarang kitab bahkan Rasulullah SAW.
    Jadi tak perlu khawatir, santri-santri pesantren tak akan menyebarkan faham sesat, atau terlarang. Mereka memiliki banyak bekal, salah satunya mata rantai tersebut. Kalaupun ada yang sedikit menyimpang, mereka akan segera sadar dan kembali ke khitahnya.
    So, tidak ragu lagi kan menyelam di lautan pondok pesantren untuk mengarungi mutiara-mutiaranya?

    *Alumnus Ponpes Sawahan Rembang dan Pesantren Tebuireng Jombang.

    , , ,

    KH. Irfan Sholeh Sampaikan 3 Ciri Hidup Bahagia pada Santri

    KH. Irfan Sholeh Sampaikan 3 Ciri Hidup Bahagia pada Santri

    KH. Irfan Sholeh Sampaikan 3 Ciri Hidup Bahagia pada Santri


    Tebuireng.online- Ahad (12/07/17) merupakan hari yang dijadikan momen penting bagi santri baru dalam mengikuti pentupan kegiatan Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) Pesantren Tebuireng tahun 2017. Pada kesempatan itu, seluruh santri turut menghadiri acara tersebut dengan khidmat dan bersemangat. Acara penutupan MOSBA 2017 juga dihadiri oleh KH. Irfan Sholeh selaku pengisi mauidlah hasanah.
    Dalam tausiyahnya, beliau memberikan indikator orang-orang yang nantinya berbahagia dalam hidupnya. Seluruh santri mendengarkan penjelasan beliau dengan khidmat dan seksama. “Jika kalian ingin bahagia hidupnya, kalian harus tahu indikatornya dulu. Maksudnya 3 ciri yang bisa membuat kalian bahagia nantinya,” ucap beliau saat menerangkan materi dalam tausiyah.
    “Yang pertama adalah Ù‚ُÙˆْØ·ٌ Ø­َلاَÙ„ٌ (bekal yang halal),” tegasnya. Menurut beliau, bahwa jika  sebagai tholabul ilmi harus mempunyai bekal yang harus terjamin halalnya. Jika terdapat secuil saja yang tergolong haram, maka ilmu yang kita peroleh akan sia-sia karena masih ada yang haram walau sedikit. Maka beliau berpesan kepada santri dan walisantri yang hadir untuk memberikan bekal yang halal agar ilmu dari guru bisa masuk dengan lancar.
    “Kedua, ini yang sangat penting khususnya bagi santri zaman sekarang Ù…ُجَالَسَتُÙ‡ُ Ù…َعَ الْعُÙ„َÙ…َاء (saling berkomunikasi dengan ulama),” ucapnya. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah orang yang telah memberikan ilmu kepada tholabul ‘ilmi. Beliau menegaskan bahwa kehidupan santri harus saling berinteraksi dengan kiai, ustad/ustadah agar terjalin hubungan yang baik dan ilmunya tidak terputus (sanad keilmuan).
    “Ketiga, ini juga sangat penting bagi kalian yang sedang nyantri صَÙ„َاتُÙ‡ُ بِالْجَÙ…َاعَØ©ِ (mengusahakan shalat berjamaah),” ujar beliau. Beliau menitikberatkan pada satu hal ini, karena di luar pesantren jarang sekali menemukan orang yang selalu shalat berjamaah. Beliau menghimbau kepada seluruh santri agar rajin shalat berjamaah, karena itu adalah ciri khas anak pesantren. Jadi menurut beliau, shalat berjamaah merupakan hal yang lazim bahkan selalu ada di dunia pondok pesantren meskipun terdapat libur pondok.

    “Semua itu hanya ada di pondok pesantren, yang lain nggak bakal nemu kalian. Bersyukurlah kalian yang sekarang jadi santri,” tukas beliau memberikan semangat kepada seluruh santri baru  untuk mampu melaksanakan tiga hal tersebut.
    “Kalian harus sering mulazamah (kontinyu) membacakan Al-Fatihah kepada kiai, ustad/ustadah agar kalian juga nanti didoakan walaupun beliau sudah wafat. Kemudian taati peraturan, hindari kenakalan, Insya Allah kalian nanti mondoknya barokah,” jelas beliau di hadapan semua santri.

    ,

    KPID: Saatnya Dai Pesantren Belajar Tampil ‘Keren’

    Foto Kru Majalah Tebuireng dengan Ketua KPID Jatim, Afif Amrulloh. (Foto: AR)
    Foto Kru Majalah Tebuireng dengan Ketua KPID Jatim, Afif Amrulloh. (Foto: AR)
    Tebuireng.online- Maraknya tayangan atau siaran yang muncul dari berbagai media, terutama radio dan televisi, memberikan dampak tersendiri kepada seluruh masyarakat sebagai penikmat media. Dalam hal ini, masyarakat menjadi salah satu target dalam menerima informasi, memercayai, dan melaksanakan pesan yang telah disampaikan dalam siaran radio atau televisi tersebut. Tidak hanya sebagai penikmat, masyarakat harusnya memberikan sumbangsih untuk memberikan feedback atau timbal balik terhadap apa yang telah ditontonnya, seperti memberikan masukan berupa kritik dan saran sehingga mereka tidak hanya menjadi penikmat belaka yang menerima mentah-mentah isi dari program televisi atau radio tersebut. Begitu pun dengan pihak KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), ia memiliki banyak tugas dan wewenang dalam menangani dan mengarahkan konten program penyiaran radio atau televisi di Indonesia agar tetap dalam koridor yang pantas, wajar dan memberikan manfaat, bukan sebaliknya.
    Sebagaimana amanat Undang-Undang 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, bahwa kewenangan untuk mengatur dunia penyiaran baik itu dari aspek perizinan, aspek pengawasan isi siaran, dan aspek kelembagaannya. Terkait tayangan-tayangan televisi, KPID mempunyai aturan berupa P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran), sebagai aturan atau kitab suci dalam dunia penyiaran di Indonesia yang disusun oleh KPI pusat dan berlaku secara nasional untuk KPI, KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) dan seluruh Lembaga Penyiaran Indonesia.
    Arah Program Televisi Ramadan
    Terkait dengan program Ramadan, televisi maupun radio atau bahkan media cetak pada umumnya akan selalu berusaha menyajikan sesuatu yang aktual, memiliki proximity (kedekatan) dengan pemirsa. Pada saat Ramadan, stasiun televisi akan berlomba-lomba menyajikan program Ramadan, adalah sesuatu yang alami dan wajar. Lembaga penyiaran atau media massa ingin mendapat perhatian dari pemirsa, sehingga harus sedekat mungkin dengan kebutuhan pemirsanya. Stasiun televisi menawarkan beraneka ragam program sesuai dengan tugas masing-masing lembaga penyiaran tersebut, ada yang muncul dengan model ceramah, talkshow, komedi, sahur keliling, dan lainnya. Hal itu merupakan kreativitas dari masing-masing TV.
    Dalam menentukan program penyiaran/tayangan TV, KPI/KPID tidak berwenang untuk membatasi. Yang dilakukan KPI adalah mengawasi apakah itu melanggar P3SPS atau tidak? Jika terbukti melanggar, maka akan dikenakan sanksi, kalau tidak, akan tetap jalan terus. Setahun terakhir, KPI pusat dan KPID sudah melakukan monitoring yang ketat terhadap tes penyiaran khususnya program Ramadan, terutama program-program komedi yang berlebihan, seperti ada unsur kekerasan baik fisik maupun verbal. Contoh di-bully dalam siaran tersebut.
    Menurut evaluasi KPI, Ramadan tahun 2016 kemarin, ada peningkatan kualitas dari isi siaran program. Memang modelnya rata-rata masih sama; komedi, sinetron, dialog agama, dan lain-lain. Akan tetapi dari isi siaran tidak separah tahun-tahun sebelumnya, karena KPI dan KPID melakukan pengawasan secara ketat terhadap isi, termasuk adanya teguran keras dari KPI terhadap pelanggaran penyiaran sehingga ada dampak pada Ramadan tahun 2016 kemarin.
    KPI dan Batas Kewenangannya
    Dalam sebuah wawancara, ketua KPID Jatim, Afif Amrullah (Kang Afif)mengungkapkan bahwa KPI/KPID tidak boleh atau tidak ada payung hukum untuk menentukan kriteria seseorang yang harus tampil, seperti ustad/dai di acara TV, kecuali memang ada kronologi dan track record (rekam jejak) yang jelas dari dai. Semisal kasus yang akhir-akhir ini terjadi, dai yang ceramah kemudian diprotes, malah ditayangkan di TV Nasional.
    Dalam sebuah wawancara, Kang Afif mengaku, bahwa kemudian ada teman pengurus ormasnya yang bertanya tentang tanggapan KPI kepada dai yang dalam ceramahnya sering menyampaikan suatu hal yang bersifat provokasi atau menjelekkan kelompok lain, “tapi kok dibiarkan?” Dalam tanggapannya, Ketua KPID Jawa Timur tersebut mengungkapkan bahwa KPI tidak bisa melarang orang tampil di TV, yang dilarang adalah isi siarannya yang berpotensi meresahkan masyarakat. Sekalipun dia adalah mantan narapidana pecandu narkoba.
    Sebagai contoh, kasus program TV yang ditayangkan oleh TV Nasional menyiarkan acara berita Islam, kemudian presenter pada acara tersebut mengeluarkan statement atau pernyataan; kalau memberi azan pada anak yang baru lahir itu hukumnya bid’ah/sesat, pernyataan tersebut kemudian diprotes oleh banyak orang, aduannya masuk ke KPI, dan KPI memberi teguran kepada stasiun TV itu bahwa orang ini telah mengatakan pernyataan. Jadi, tetap bukan orangnya tapi pernyataannya, akhirnya diberi sanksi, beberapa hari kemudian sang presenter tersebut memohon maaf kepada publik melalui TV itu. Lalu bagaimana? Ya tetap siaran, dengan teguran itu dia menjadi berhati-hati. Kalau dia di komunitas sendiri, membahas soal khilafah yaa itu haknya, tapi kalau tampil di TV yaa gak boleh, karena TV adalah ranah publik yang frekuensinya milik publik yang dititipkan di lembaga penyiaran dalam waktu tertentu. Tentu tidak boleh sembarangan, harus mengayomi semuanya, tidak boleh membuat keresahan pada kelompok tertentu apa lagi persoalan yang sensitif, seperti agama.
    Idealisme Program Televisi
    Prinsipnya bahwa TV adalah industri, mereka harus hidup dari sumber-sumber kegiatan off air. Maka dari itu, pihak stasiun TV pasti memilih program yang diminati oleh masyarakat, yang disukai oleh masyarakat, termasuk dalam kriteria memilih ustad/dai yang mereka tampilkan. Kadang-kadang memang ustad yang tampil di TV itu kualitasnya masih diragukan, ada istilah ustad artis. Kenapa mereka yang dipillih? Karena aspek bisnis sepertinya lebih menonjol bagi lembaga penyiaran tersebut. Misalnya kiai yang ‘alim, wira’i, yang tawadlu’-nya luar biasa tetapi di depan kamera tidak menarik, mereka tidak akan memilih beliau sebagai dai, yang dipilih pasti yang memenuhi kebutuhan dua aspek. Pertama, aspek keagamaannya mumpuni dan kedua, aspek face-nya, gaya penampilannya, menarik untuk dilihat sehingga pemirsa tertarik untuk menonton itu. Jadi hal ini bisa jadi bertabrakan dengan lembaga penyelenggara di penyiaran, memilih penampilan atau kualitas keagamaan.
    Sebenarnya kita sebagai komunitas keagamaan juga perlu introspeksi. Dengan hal yang seperti itu, mestinya kita punya cara untuk mengubah mindset (cara berpikir) dakwah kita. Sudah saatnya kita menyiapkan generasi-generasi yang mumpuni di bidang itu, yang agamanya oke, berkualitas, dan memiliki penampilan yang menarik serta public speaking-nya bagus.
    Itu merupakan tantangan bagi kita, khususnya civitas di dunia pesantren dan perguruan tinggi agama. Jadi, kenapa ustad yang sering tampil di TV itu bukan dari kalangan pesantren, bukan dari kalangan Nahdliyin misalnya, dan lainnya? Karena yang dibutuhkan TV adalah pengetahuan agama dan penampilan/public speaking. Selama ini, pesantren hebat dalam hal keagamaan. Tapi untuk bisa tampil menarik dan meyakinkan di layar kaca atau di depan kamera masih perlu banyak latihan.
    Pemilihan dai yang berorientasi pada rating oleh lembaga penyiaran sebagai pengisi acara keagamaan adalah murni hak dari pihak stasiun TV dan selama yang disampaikan itu tidak melanggar P3SPS, tidak mengakibatkan keresahan di masyarakat akan tetap jalan terus. Karena bagaimana pun KPI adalah lembaga negara yang mengayomi seluruhnya. Tidak boleh misalnya saya dari kelompok A kemudian memaksakan lembaga penyiaran harus orang ini yang dipasang. Tapi bisa dengan pendekatan personal, misalnya teman-teman komisioner kemudian mendekati para produser di TV itu agar mengusulkan nama tertentu yang bagus, bisa saja, tetapi keputusan tetap di mereka. Apabila ketika disodori nama kemudian mereka merasa bahwa ini menarik dan diprediksi akan banyak peminatnya yaa bisa saja. Tapi kalau KPI memaksa, kemudian mereka tidak menginginkannya, tentu sulit terealisasi. Sebab sikap memaksa (yang bukan wewenang KPI) adalah di luar wilayah kewenangan dan justru akan menjadi kebijakan yang bersifat kontraproduktif terhadap KPI maupun terhadap TV.
    Peran Masyarakat di Dunia Pertelevisian
    Masyarakat diundang untuk kritis terhadap isi siaran. Kalau memang ada unsur-unsur yang diduga melakukan pelanggaran, silakan dilaporkan kepada KPI. Satu sisi kami evaluasi diri dan di sisi lain kami menyayangkan selera masyarakat yang belum ideal dan sesuai harapan kami. Contoh, rating diukur dari kuantitas masyarakat yang menonton, dan tayangan sinetron selalu menempati urutan pertama dalam hal rating. Padahal kita semua tahu, bahwa sinetron memberi dampak yang kurang baik terhadap masyarakat terutama anak-anak. Karena ada kata-kata atau adegan yang kurang baik dan hal itu bisa memengaruhi pola pikir anak.
    Akhirnya, kita yang harus bersama-sama menciptakan penyiaran yang sehat. KPI akan terus melakukan tugasnya dengan mengawasi dan memberikan pembinaan kepada lembaga penyiaran, juga memberikan masukan-masukan acara TV yang bagus dan layak untuk ditayangkan. KPI menghimbau agar masyarakat juga sama-sama mempertimbangkan dampak sebuah tayangan terhadap psikologi anggota keluarga. Kalau ada tayangan yang berindikasi merusak psikologi anak, orangtua harus berkorban untuk menjauhkan, tidak malah mengajak anaknya menonton.
    Dari berbagai kondisi dan pernyataan di atas, merupakan sebuah keharusan bagi kita bersama untuk lebih serius dan memiliki kelapangan berpikir. Membantu meringankan tugas KPI sebagai lembaga yang mengawasi konten program siaran, baik di televisi maupun di media lainnya. Sama artinya masyarakat menjadi agen pencegah kerusakan bangsa. Sehingga tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut berpartisipasi mewujudkan program siaran yang sehat untuk stasiun televisi Indonesia, yang pengaruh dan manfaatnya akan kembali pada kita sendiri.

    ,


    Harta Waris
    Harta Waris

    Oleh: M. A. Rohim, S.H., M.H.*
    Assalamualaikum, Wr. Wb.
    Kepada Yth. Bpk. Kiyai Sekalian, Ponpes Tebuireng,
    Jombang – Jawa Timur
    Dalam keluarga atau rumah tangga antara Bapak S dengan Ibu K, saling membawa harta berupa sawah dan pekarangannya, juga memperoleh harta gono-gini berupa sawah dan pekarangan. Selama berumah tangga diberi keturunan 4 (empat) orang anak yaitu 1 (satu) wanita dan 3 (tiga) laki-laki. Pada tahun 1975, Ibu K (istri Bapak S) meninggal dunia.
    Setelah Ibu K (istri Bapak S) meninggal dunia. Bapak S menikah kembali dengan seorang gadis bernama Ibu N, yang tidak membawa harta apapun juga, dan selama berumah tangga tidak mendapatkan harta gono-gini, serta selama berumah tangga dikaruniai keturunan 3 (tiga) orang anak, yaitu: 2 (dua) wanita dan 1 (satu) laki-laki. Kemudian, saat ini suaminya (Bapak S) telah meninggal dunia.
    Mohon penjelasan dari Yth. Bapak Kiyai sekalian, bagaimana sistem dan cara pembagian harta warisan kepada anak-anak, dari istri pertama dan istri kedua, sesuai dengan ketentuan Syariat Islam. Atas penjelasan dari Yth. Bapak Kiyai sekalian, sebelumnya saya sampaikan terima kasih.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb
    Ahmad Mulyo Redjo, Bandarlampung

    Waalaikumsalam Wr. Wb.
    Saudara penanya yang kami hormati.
    Dalam hukum Islam, tata cara pembagian harta warisan diatur dalam hukum faroidl, yaitu hukum yang mengatur tentang orang-orang yang berhak menerima warisan, besarnya bagian serta tata cara pembagian harta warisan tersebut.
    Sumber utama hukum faroidl adalah Al Quran, kemudian dari hadis Nabi, ijma’ serta ijtihad shohabat, yang selanjutnya di Indonesia sumber-sumber tersebut dirumuskan dalam sebuah aturan yang dimuat dalam sebuah kompilasi yang disebut dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) berdasarkan Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991.
    Hukum kewarisan sangat terkait dengan hukum perkawinan, karena dari perkawinan akan melahirkan keturunan yang menyebabkan pertalian nasab. Terkait pertanyaan Saudara mengenai harta yang diperoleh dalam atau selama perkawinan, maka sesuai ketentuan Pasal 35 (1) UU No. 1 Tahun 1974 disebutkan bahwa: Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta benda bersama. Dalam ayat 2 Pasal tersebut disebutkan pula bahwa: Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
    Dalam kasus seperti pertanyaan yang diajukan, seorang suami yang ditinggal mati istrinya (Bu K), kemudian suami (Pak S) kawin lagi, selagi tidak ada perjanjian mengenai harta benda, maka dipilah dulu harta yang diperoleh dalam perkawinan suami (Pak S) dengan istrinya (Bu K) yang disebut dengan harta bersama. Harta bersama ini dibagi dua, separuh menjadi bagian/hak suami, dan separuh sisanya ditambah harta asal istri yang telah meninggal menjadi harta warisan yang harus dibagi waris kepada suami (Pak S) beserta 4 (empat) anaknya, jika almarhumah (Bu K) tidak mempunyai orang tua. Yang berarti suami (Pak S) memperoleh 1/4 (seperempat) bagian, sedang sisanya 3/4 (tigaperempat) bagian dibagikan kepada 4 (empat) orang anaknya, dengan ketentuan bagian seorang anak laki-laki adalah 2(dua) dibanding 1 (satu) dengan anak perempuan.
    Setelah Pak S menikah lagi dengan Bu N yang tidak membawa harta asal dan tidak mempunyai harta bersama, namun dalam perkawinan dengan Pak S ini mempunyai 3 (tiga) anak (2 perempuan dan 1 laki-laki), kemudian jika Pak S meninggal dunia tanpa ada orang tua, maka seluruh harta warisan Pak S, baik yang berasal dari hasil bagian warisan dari istri terdahulu maupun bagian harta bersama dari istri terdahulu dan harta asal Pak S sendiri jika masih ada, menjadi harta warisan yang harus dibagi waris kepada istri kedua (Bu N) dan seluruh anak-anaknya baik dari istri pertama (4 anak) maupun dari istri kedua (3 orang anak). Sehingga istri kedua Pak S (Bu N) mendapat 1/8 bagian sedang sisanya 7/8 bagian dibagi kepada seluruh anak Pak S baik dari istri pertama (Bu K) maupun anak dengan istri kedua (Bu N) yang seluruhnya berjumlah 7 (tujuh) orang anak (4 laki-laki dan 3 perempuan). Dengan ketentuan bagian seorang anak laki-laki memperoleh bagian 2 dibanding 1 dengan seorang anak perempuan.
    Demikian, semoga bermanfaat.

    *Praktisi Hukum Peradilan Agama
    Nb: nama sengaja publisher ubah inisial untuk menjaga privasi keluarga.

    , ,

    KH. Habib Ahmad
    KH. Habib Ahmad

    KH. Habib Ahmad, merupakan salah satu santri Tebuireng yang tak pernah bosan dalam menuntut ilmu agama, dalam kesederhanaannya, setelah lulus sekolah, beliau memilih untuk mengaji Kitab Shahih Bukhari pada Kiai Idris Kamali dan Kiai Syansuri dengan mengharap barokah, yang akhirnya mengantarkan beliau menjadi Qari’ Shahih Bukhari (penerus Mbah Yai Idris Kamali dan Mbah Yai Syansuri). Dalam hal ini, wartawan Majalah Tebuireng memiliki kesempatan langsung menemui dan mewawancarai KH. Habib Ahmad, sebagai Qari’ Shahih Bukhari.
    Bisa diceritakan sejak kapan Kiai jadi Qori’ Shahih Bukhari ?
    Waktu itu, saya lulus Aliyah pada tahun 1967 dan saya mau melanjutkan kuliah tapi maa fi fulus alias gak punya uang, jadinya ya ndak kuliah. Tapi meskipun saya gak jadi kuliah, saya yakin semua itu ada hikmahnya. Setelah lulus, saya ngaji kitab Shahih Bukhari kepada Mbah Yai Idris Kamali, yakni menantu dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Karena saya pada waktu itu termasuk menjadi santri yang paling ndak mampu, jadinya ya saya ndak mampu beli kitab. Biasanya saya cuma usung-usung kitabnya Mbah Idris, lalu saat pulang dikembalikan, tapi justru di situ ada barokah yang saya rasakan.
    Setelah saya ngaji terus selama kurang lebih lima tahun di situ, lalu tujuh tahun selanjutnya Mbah Yai Idris Hijrah ke Jakarta dengan diikuti juga beberapa santri Tebuireng. Setelah itu, ketika Mbah Yai ke Makkah, pengajian di Masjid Tebuireng itu vakum untuk beberapa waktu. Akhirnya Mbah Yai Syansuri yang datang untuk menggantikan jadi Qori’ Kitab Shahih Bukhari, dan metode ngajinya itu sama seperti sekarang ini, setahun Shahih Bukhari, setahun besoknya lagi Shahih Muslim.
    Beberapa waktu kemudian Mbah Yai Syansuri mendapat tugas pemerintah untuk menjadi anggota dewan dari PPP, beliau diangkat menjadi DPR pusat di Jakarta, kalo ndak salah itu tahun 1973, kemudian pengajian di Tebuireng kembali vakum. Lalu Almarhum Pak Kiai Yusuf Hasyim datang ke rumah saya, mengatakan bahwa menurut musyawarah oleh beberapa santri dan guru, saya ditunjuk untuk meneruskan pengajiannya Mbah Yai Syansuri dan Mbah Yai Idris, awalnya saya ya merasa berat untuk menjalankan amanah ini, tapi yang namanya Mbah Yai ya harus ditaati. Menurut periodisasi, yang pertama jadi Qori’ Shahih Bukhari ini Mbah Hasyim, lalu Mbah Idris, kemudian Mbah Syansuri. Nah, sejak itulah saya jadi Qori’ Shahih Bukhari di Tebuireng.
    Bagaimana kondisi ngaji Kitab Shahih Bukhari pada zaman dulu?
    Pengajian Shahih Bukhari dulu bertempat di Masjid Tebuireng, Mbah Yai Idris itu bawa Kitabnya kurang lebih ada dua puluh kitab dengan syarahnya juga, di antaranya kitab-kitab hadis Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abu Dawud, Tafsir Jalalain, Tafsir Baghowi, Tafsir Ibnu Katsir, dan sebagainya. Kalo pagi itu beliau ngaji Kitabul Hadis, kalo setelah Zuhur Kitabut Tafassir.
    Apakah ada syarat khusus?
    Pernah saya mendapat firasat petunjuk lewat mimpi, dalam mimpi itu saya lihat Mbah Idris itu manggil saya “Pak Habib, saya mau datang ke rumah kamu…,” dalam hati saya bicara, apa ini pertanda bahwa saya bakal menggantikan Mbah Yai Idris.
    Apa yang menjadi harapan Kiai Habib?
    Harapan saya satu, bisa meneruskan jejak-jejak guru yang saya muliakan. Yang kedua ingin santri-santri besok bisa menjadi kiai-kiai yang hebat, yang bisa bermanfaat bagi masyarakat.
    Apa ada kiat khusus dalam mengajar kitab Shahih Bukhari?
    Pada awalnya saya berpuasa beberapa hari lalu minta ilmu kepada Allah. Dan setiap mau ngaji, saya selalu mengirimkan hadiah fatihah untuk Mbah Hasyim, terus sampai saat ini. Hasilnya setiap saya ngaji gak ada satu kalimat pun yang kecantol alias lancar-lancar saja.

    ,

    santri bule
    santri bule

    Kerja sama program “nyantri” The King’s College (TKC), New York, Amerika Serikat dengan Pesantren Tebuireng yang berlangsung pada 13-24 Meri 2017 telah memberikan kesan tersendiri bagi mahasiswa dari Negeri Paman Sam tersebut, terutama mengenai Islam. Berikut wawancara Tebuireng Online dengan beberapa mahasiswa TKC.


    Why do you want to study or join this program in Tebuireng (Mengapa anda ingin belajar atau mengikuti program ini di Tebuireng)?
    Rachel Cline, Junior, Religious Theological Studies and Journalism: We came to study the culture into understand more about Islam. (Kami datang untuk mempelajari budaya agar lebih mengerti tentang Islam.)
    Cassidy Fahey, Fresh graduate of Politics Philosophy and Economics: I was really interested in the idea of what it looked like to integrate into Muslim community, because Dr. Carl told us, like, that the women have to wear the jilbab and wear modest clothing and would be like living amongst Muslim community. And I have interest in Islam, just like Muslim. So, I was really interested how it would that be like living in day-to-day daily life. (Saya sangat tertarik dengan gagasan tentang bagaimana rasanya menyatu ke dalam komunitas Muslim, karena Dr. Carl mengatakan kepada kami bahwa wanita harus memakai jilbab dan mengenakan pakaian sederhana dan akan tinggal di antara komunitas Muslim. Dan saya memiliki ketertarikan pada Islam seperti Muslim. Jadi saya sangat tertarik bagaimana rasanya hidup dalam kehidupan sehari-hari.)
    Nick Gulley, Fresh graduate of Business Administration: I found Tebuireng very insightful for understanding Indonesian culture and Islam. (Saya menemukan Tebuireng sangat mencerahkan dalam memahami budaya Indonesia dan Islam.)
    What did you think of Islam before you came to Jombang (Bagaimana menurutmu mengenai Islam sebelum datang ke Jombang)?
    Rachel: I think that we only studied it from books and from very few limited interaction. But, now we’ve been able to see people practicing Islam. And it’s been really neat to understand the exactly what they have it all the practice are like they’re getting up for prayer and be fasting and work for the community. And it’s all like. (Saya pikir kita hanya mempelajarinya dari buku dan dari sedikit interaksi terbatas. Namun, sekarang kita dapat melihat orang-orang mempraktikkan Islam. Dan telah sangat baik untuk memahami dengan tepat apa yang mereka miliki dari semua praktik itu, seperti mereka bersiap untuk beribadah dan berpuasa dan bekerja untuk masyarakat. Dan semacam itu.)
    Cassidy: I know a lot about like your five pillars, and practices, traditions, holiday like Ramadan, I attended mosques in America as well as to zikirs. So I have seen the religion practices, but I haven’t seen, like, it would be like day-to-day. (Saya tahu banyak tentang, seperti lima pilar (rukun Islam), praktik, tradisi, hari raya, seperti bulan Ramadhan. Saya datang ke masjid-masjid di Amerika dan juga zikir. Jadi saya telah melihat praktik agama, tapi saya belum pernah melihat dari kesehariannya.
    NickI knew it was very nuance and diverse in terms of how people approached it, but overall I have a lot of respect for Islam. (Saya tahu Islam sangat bernuansa dan beragam dalam hal bagaimana pendekatan orang-orang terhadapnya namun secara keseluruhan saya sangat menghormati Islam.)
    What did you get or learn after visiting Tebuireng (Apa yang anda dapatkan atau pelajari setelah mengunjungi Tebuireng)?
    Rachel: I think I might just have a deeper appreciation and understanding for what Islam is. And I think that there are many things that we should implement in daily life even in Christians that Islam does really really well with forming good, have it in teaching, disciplining teaching, and throw examination of Holy scripture, and practicing prayer and fasting, and loving your neighbor well and providing one and another’s need especially in taking care of the poor. (Saya pikir saya memiliki apresiasi dan pemahaman yang lebih dalam tentang apa itu Islam. Dan saya pikir ada banyak hal yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari bahkan pada orang Kristen yang benar-benar dilakukan Islam dengan baik dengan membentuk yang baik, memilikinya dalam pengajaran, mengajarkan disiplin, dan mengadakan ujian Kitab Suci, dan beribadah dan puasa, dan mencintai sesamamu dengan baik dan memberikan kebutuhan satu sama lain terutama dalam merawat orang miskin.)
    Cassidy: I think it’s a religion just like Christianity and any other religions that is religion of peace. And it’s religion that is about love, loving your neighbor and caring for them, just like Christianity. We tell to love each other even your enemy. I was really impressed by when we’re traveling how you guys would stop during prayer time and you get out and pray, like we would never do that in America. (Saya pikir itu adalah agama seperti agama Kristen dan agama lain yang merupakan agama damai. Dan ini adalah agama tentang cinta, mencintai sesama tetangga dan merawat mereka, sama seperti agama Kristen. Kita memerintahkan untuk saling mencintai bahkan musuhmu. Saya benar-benar terkesan dengan saat kita bepergian bagaimana kalian akan berhenti saat sholat dan kalian keluar dan berdoa. Kita tidak akan pernah melakukannya di Amerika.)
    NickI learned a lot about how a moderate yet devout Islamic nation can work in light of the extremism and liberalism westerners are familiar with. (Saya belajar banyak mengenai bagaimana sebuah negara Islam moderat namun taat dapat bekerja berhubungan dengan  ekstrimisme dan liberalisme yang akrab dengan orang Barat.)
    What’s your impression of this trip (Bagaimana kesanmu terhadap perjalanan ini)?
    Rachel: I loved it. I feel very honoured and very grateful to be able to come and to meet everyone and to experience everything that we’re able to experience. And we really enjoy being able to go to all of different pesantrens and hear from the leaders and really understand Islam educations and to see different mosques and understand prayer and just being able to meet everyone. I really enjoyed it. (Aku menyukainya. Saya merasa sangat terhormat dan sangat bersyukur dapat datang dan bertemu dengan semua orang dan untuk mengalami semua hal yang dapat kami alam. Dan kami sangat menikmati dapat pergi ke semua pesantren yang berbeda, dan mendengar dari para pemimpin, dan sangat memahami pendidikan Islam, dan melihat masjid yang berbeda, dan memahami ibadah dan dapat bertemu semua orang. Saya sangat menikmatinya.)
    Cassidy: I really hope it continues. I really hope they get funding for another group of students to come because I think this could be so life-changing to others. Because, I think it will get break down barriers for people what they think of Islam. We learned a lot about it and we learned about like the veil and everything. We formed opinion. But like interacting with you or like other Muslims that, just like, takes our impression away. You know, I don’t think, like the veil was a very terrible thing like I minded of. So, I think it can really tell people who come to this in this program, like Islam is a peaceful religion and it’s something that is practiced and is not evil or like terrorist organization. I think when you see someone who lives this out day-to-day, it’s like you’re human, I am human. We are all fundamental human. (Saya sangat berharap terus berlanjut. Saya sangat berharap mereka mendapatkan dana untuk kelompok pelajar lain yang akan datang karena saya pikir ini dapat mengubah hidup orang lain. Karena, menurut saya ini akan meruntuhkan penghalang bagi orang-orang tentang apa yang mereka pikirkan tentang Islam. Kami belajar banyak tentang hal itu dan kami belajar tentang seperti jilbab dan segalanya. Kami membentuk opini. Tapi seperti berinteraksi denganmu atau seperti orang Muslim lainnya, seperti mengubah kesan kami. Anda tahu, saya tidak berpikir, seperti kerudung adalah hal yang sangat mengerikan seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Jadi, saya pikir itu benar-benar dapat memberi tahu orang-orang yang datang ke program ini, seperti Islam adalah agama yang damai dan ini adalah sesuatu yang dipraktikkan dan tidak jahat atau seperti organisasi teroris. Saya pikir ketika anda melihat seseorang yang menjalani ini dari hari ke hari, ini seperti anda manusia, saya manusia. Kita semua pada dasarnya manusia.)
    NickFor a new venture I found it successful, and I think it can get even better over time. (Untuk suatu usaha yang baru, saya menemukannya sukkses, dan saya pikir ini dapat menjadi lebih bagus dengan seiring waktu berjalan.)

    What will you miss the most about Indonesia (Apa yang akan paling anda rindukan mengenai Indonesia)?
    Rachel: Definitely, the people, like you. Aku akan merindukanmu. And all the food. And mostly the people. And the country itself. I just really like the how everything’s just so close and everything is in walking distance like whether food stands and pesantren and everything just very tightened. And I think I’m gonna miss the feel of always having people around who know you in care about you. And having open door policy, like in the Western don’t really think that we have that kind of open door you can pop in and I make you the coffee. That kind of feel. (Pastinya, orang-orang, sepertimu. Aku akan merindukanmu. Dan semua makanannya. Dan terutamanya orang-orangnya. Dan negaranya. Saya suka bagaimana semuanya begitu dekat dan semuanya dalam jarak jalan kaki, seperti warung makan dan pesantren dan semuanya sangat rapat. Dan saya pikir saya akan merindukan nuansa, di mana selalu ada orang-orang yang mengenal anda dan merawat anda. Dan memiliki kebijakan pintu terbuka, seperti di Barat tidak benar-benar berpikir bahwa kita memiliki pintu terbuka semacam itu yang Anda dapat masuk dan saya membuatkan kopi. Perasaan yang seperti itu.)
    NickI miss the food and the scenery. (Saya merindukan makanan dan pemandangannya.)
    What will you tell the world if you get a chance to tell your experience in term of Islam in Indonesia (Apa yang akan anda ceritakan pada dunia jika anda mendapatkan kesempatan untuk menceritakan pengalamanmu mengenai Islam di Indonesia?
    Rachel: I think I would like tell to people who have misconception about what Islam is, about how beautiful of the people and religion itself is. And tell them that like they have misconception that all Muslims are terrorist. And tell them that is absolutely not true. And show pictures from the trip and explain what Islam education is and what the practices that Muslims engaging are. And really tell them they could learn a lot from Islam. And explain the ways the best they could. And I would like to tell them that they should come to Indonesia and meet you all. (Saya pikir saya ingin mengatakan kepada orang-orang yang memiliki kesalahpahaman tentang apa itu Islam, tentang betapa indahnya orang dan agama itu. Dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka telah mempunyai kesalahpahaman bahwa semua Muslim adalah teroris. Dan mengatakan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak benar. Dan menunjukkan gambar dari perjalanan dan menjelaskan apa itu pendidikan Islam dan  praktik-praktik apa Muslim terlibat. Dan benar-benar mengatakan kepada mereka bahwa mereka bisa belajar banyak dari Islam. Dan jelaskan cara terbaik yang bisa mereka lakukan. Dan saya ingin mereka agar datang ke Indonesia dan menemui anda semua.)
    Cassidy: I’ll say that we need to love each other. We need to be kind to each other. We need to be open-minded and just like listening to people and hearing their stories because we share similar experience. We have the same dreams and same fears. And we should not be closed off and build the gate. (Saya akan berkata bahwa kita harus mencintai sesama. Kita harus ramah terhadap satu dengan yang lain. Kita harus berpandangan terbuka dan mendengarkan orang-orang dan ceritanya karena kita mempunyai kemiripan pengalaman. Kita mempunyai impian yang sama dan ketakutan yang sama. Dan kita harus tidak tertutup dan membangun gerbang.)
    NickI would tell the world they need to pay attention to how Indonesia approaches Islam, as they seem to have struck a balance between western values and Islamic practices. (Saya akan mengatakan ke dunia, mereka harus memperhatikan bagaimana Indonesia mendekati Islam sebagaimana mereka terlihat telah mencapai keseimbangan antara nilai Barat dan praktik-praktik Islam.)

    What messange do you want to leave for the world (Pesan apa yang ingin kamu titipkan pada dunia)?
    Rachel: Love God, love people, and work with the excellence. (Cintai Tuhan, cintai manusia, dan kerja dengan keunggulan.)
    Cassidy: Take the time to listen to a person’s story because it feels similar thing that you have feel whether loneliness, fear, excitement, dreaming. We’re all human. We deserve respect and love. (Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita seseorang karena merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan, apakah kesepian, ketakutan, kegembiraan, dan mimpi. Kita semua manusia. Kita pantas dihormati dan dicintai.)
    Nick: You don’t know people until you visit where they live. (Kamu tidak mengerti orang hingga kamu berkunjung di mana mereka tinggal.)


Top