,

    Hukum Mufaraqah dari Sholat Jumat

    ilustrasi gambar sedang shalat
    ilustrasi gambar sedang shalat
    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Bolehkah mufaraqah dari shalat Jumat karena bacaan imam tidak fasih atau berbeda madzhab (tidak membaca basmalah dalam surat al Fatihah)? Mohon penjelasanya.
    Mizanuddin AS (Yogyakarta)
    Wa’alaikum salam Wr. Wb.
    Terima kasih kepada penanya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amin. Adapun ulasan jawaban pertanyaan tersebut sebagai berikut:
    Tentang niat mufaraqah (memisahkan diri) seorang makmum dari imam, yang kemudian ia (makmum) menyempurnakan shalatnya sendirian baik karena udzur atau tidak hukumnya boleh meskipun makruh kecuali pada rakaat pertama shalat Jum’at menurut pendapat ulama madzhab Syafi’i. Pendapat tersebut dijelaskan dalam kitab Fiqh Islami wa Adilatuhu karya Syaikh Wahbah Zuhaili Allahu yarham juz 2 halaman 372 sebagai berikut:
    نية مفارقة الإمام وقطع القدوة
    عرفنا سابقاً أنه عند الشافعية: تنقطع القدوة بمجرد خروج الإمام من صلاته، بحدث أو غيره. وقال الشافعية والحنابلة (1) : إن أحرم الشخص مأموماً، ثم نوى مفارقة الإمام وإتمام صلاته منفرداً، جاز عند الشافعية سواء أكان لعذر، أم لغير عذر مع الكراهة، لمفارقته للجماعة المطلوبة وجوباً أو ندباً مؤكداً. وجاز لعذر فقط عند الحنابلة، أما لغير عذر ففيه روايتان: إحداهما: تفسد صلاته وهي الأصح والثانية: تصح. واستثنى الشافعية الجمعة فلا تصح نية المفارقة في الركعة الأولى منها، والصلاة التي يريد إعادتها جماعة، فلا تصح نية المفارقة في شيء منها، وكذا الصلاة المجموعة تقديماً. ومن العذر: تطويل الإمام، أو تركه سنة مقصودة، كتشهد أول وقنوت، فله فراقه ليأتي بتلك السنة، أو المرض، أو خشية غلبة النعاس أو شيء يفسد صلاته، أو خوف فوات ماله أو تلفه، أو فوت رفقته، أو من يخرج من الصف ثم لا يجد من يقف معه
     ودليلهم مافي الصحيحين: «أن معاذاً صلى بأصحابه العشاء، فطوَّل عليهم، فانصرف رجل، فصلى، ثم أتى النبي صلّى الله عليه وسلم ، فأخبره بالقصة، فغضب وأنكر على معاذ، ولم ينكر على الرجل، ولم يأمره بالإعادة» .وأجاز الحنفية (2) فقط مع الكراهة سلام المقتدي قبل الإمام، ولا تجوز المفارقة. وقال المالكية (3) : من اقتدى بإمام لم يجز له مفارقته
    Dalam penjelasan redaksi tersebut bahwa ulama madzhab Syafi’i memperbolehkan niat mufaraqah baik adanya udzur atau tidak meskipun makruh, karena ia (makmum) memisahkan diri dari berjama’ah yang merupakan kewajiban dan sunnah mu’akkad. Sedangkan menurut ulama’ madzhab Hanbali diperbolehkan mufaraqah harus terdapat udzur. Apabila tidak terdapat udzur, maka dalam hal tersebut ada dua riwayat, pertama: shalat orang mufaraqah tidak sah, pendapat inilah yang shohih. Kedua, shalatnya sah. Selain itu, ulama madzhab Syafi’i mengecualikan tidak sah niat mufaraqah pada rakaat awal shalat Jum’at, orang yang menginginkan shalat i’adah secara berjama’ah, begitu juga shalat jama’ taqdim. Tak luput juga para ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa boleh seorang makmum melakukan salam sebelum imam meskipun hal itu makruh, akan tetapi mereka tidak memperbolehkan melakukan mufaraqah.
    Sedangkan, ulama madzhab Maliki mengatakan, “Barang siapa yang mengikuti (menjadi makmum) imam, maka tidak boleh baginya mufaraqah.” Sebagian contoh dari udzur adalah panjangnya bacaan imam, meninggalkan salah satu sunnah shalat seperti tasyahud awwal dan qunut (maka dirinya boleh mufaraqah dengan mengerjakan sunnah tersebut), sakit, khawatir dirinya diserang rasa ngantuk, terdapat sesuatu yang merusak shalatnya, takut hartanya hilang atau rusak, dan lainnya.
    Penjelasan dalil ulama disebutkan dalam ash shahihaini, “Bahwa Muadz bin Jabal melaksanakan shalat Isya’ bersama para sahabatnya dan beliau memanjangkan bacaannya lalu terdapat seorang lelaki yang keluar dari shaff dan mengerjakan shalat. Kemudian Muadz sowan kepada Nabi SAW dan menceritakannya, kemudian Nabi SAW marah dan mengingkari apa yang dilakukan Muadz dan beliau (Nabi) tidak mengingkari apa yang dilakukan lelaki itu serta Nabi SAW tidak memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya.
    Dalam redaksi lain dijelaskan, ketika seseorang ingin niat mufaraqah maka harus selesai sujud yang kedua (rakaat pertama) kemudian mereka sempurnakan shalat Jum’at sendiri-sendiri.
    Pendapat ini tersirat dalam kitab at Taqrirat as Sadiidah halaman 327 sebagai berikut:
    وتجب الجماعة في ركعة الأولى إلى الفراغ من السجدة الثانية فلو نووا المفارقة بعدها وأكملوها فرادى إلى نهايتها تصححت الجمعة
    Dan wajib berjama’ah pada raka’at pertama sampai selesai sujud yang kedua. Jikalau mereka berniat mufaraqah (harus setalah/selesai sujud kedua pada rakaat pertama), dan sempurnakan shalat Jum’at sendiri-sendiri sampai selesai, maka sah jum’atnya.
    Untuk itu hendaknya kita bermakmum kepada yang bacaan imamnya lebih baik dan fasih. Dikarenakan sah shalatnya seseorang dalam shalat berjama’ah dipengaruhi juga oleh kualitas bacaan imam dan kita wajib menentukan siapa imam shalatnya sehingga ibadah jama’ah shalat kita semakin baik. Amiin.. Wallahu ‘alam bisshowab.
    Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.


    *) Penulis:ustad Zaenal Karomi, Mahasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari kelas Akhir, Pegiat Bahsul Masa’il Pesantren Tebuireng

    ,

    Hukum Jual Beli dengan Sistem Kredit?

    jual-beli-kredit
    sumbe gambar: Bisnis.com
    Oleh: Zainal Karomi
    Pertanyaan:
    Assalamu’alaikum admin, bahwa di zaman sekarang ini sudah mayoritas kalangan masyarakat membeli sesuatu dengan sistem berkredit. Nah, misal kendaraan bermotor kan di situ sudah tertera harga cash sekian dan harga kredit sekian. Bagaimana hukum syariat menyikapi masalah tersebut?
    Anang Brow, Jepara.
    Jawaban:
    Wa’alaikum salam, terima kasih atas pertanyaannya. Semoga Allah selalu memberikan limpahan hidayahNya dan rahmatNya. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
    Salah satu kegiatan ekonomi yang terjadi di zaman sekarang ini adalah jual beli barang secara kredit, sering disebut bai taqsith yaitu transaksi jual beli dengan harga yang lebih tinggi daripada harga pada biasanya (sistem cash). Dalam artian, dalam jual beli tersebut sudah jelas harganya kredit sekian dan kalau cash/tunai sekian.
    Pada dasarnya para ulama menetapkan bahwa transaksi jual beli hukumnya mubah/boleh kecuali kalau di dalamnya terdapat unsur gharar (penipuan), masysir (spekulasi), dan sebagainya. Dengan demikian, transaksi sistem kredit dengan harga yang lebih tinggi dibanding membeli cash/ jual beli yang pembayarannya ditangguhkan dan penambahan harga untuk pihak penjual hukumnya sah, asalkan transaksi/akad antara penjual dan pembeli dilakukan secara sharih/jelas.
    Dalam artian, antara pembeli dan penjual sama-sama mengetahui dan terdapat kesepakatan harga barang dan batas waktu saat akad. Selain itu, jangan sampai akad sudah selesai dan barang sudah dibawa pulang belum ada kesepakatan harga dan waktu antara pembeli dan penjual. Apakah barang tersebut dibeli secara cash atau kredit. Sehingga yang terjadi pembeli menetapkan/memutuskan sendiri akadnya setelah beberapa waktu dari waktu transaksi. Keterangan tersebut berlandaskan dalam kitab Raudlatut Tholibin karya Imam Nawawi yang berbunyi:
    روضة الطالبين وعمدة المفتين   (1/ 422ا)
    والثاني أن يقول بعتكه بألف نقدا أو بألفين نسيئة فخذه بأيهما شئت أو شئت أنا وهو باطل أما لو قال بعتك بألف نقدا وبألفين نسيئة أو قال بعتك نصفه بألف ونصفه بألفين فيصح العقد.
    Dalam redaksi di atas dapat disimpulkan semisal penjual berkata kepada pembeli, aku akan jual barang ini kepada kamu dengan harga 1000 secara kontan atau dengan harga 2000 dengan tempo (kredit).  Kemudian terserah kamu ambil yang mana. Transaksi jual beli seperti inilah hukumnya batal.
    Dan sebagian ulama dunia berpendapat bahwa transaksi kredit diperbolehkan, sebagaimana para ulama membahasnya dalam sidang al Fiqih al Islami pada Muktamar ke enam di Jeddah Kerajaan Arab Saudi tanggal 14-20 Maret 1990 M. Hasil keputusan tersebut dibukukan dalam kitab al Fiqh al Islami wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Zuhaili juz 7 halaman 175 – 176. Dalam muktamar tesebut memutuskan enam point tentang transaksi jual beli. Salah satu point tersebut adalah:
    “Boleh melakukan penjualan dengan harga kredit yang lebih tinggi dari harga tunai. Sebagaimana pula, boleh menyebutkan harga suatu barang secara kontan sementara pembayaran harganya diangsur dalam waktu tertentu yang diketahui dengan pasti. Jual beli yang ada tidak sah kecuali jika kedua belah pihak menegaskan dan memastikan apakah pembayarannya secara tunai atau kredit. Oleh sebab itu, apabila akad jual beli yang dilakukan masih mengambang, belum jelas dan belum pasti apakah secara tunai atau tidak. Dalam artian belum terjadinya kesepakatan yang pas mengenai harga yang pas/pasti, maka itu hukumnya tidak boleh”. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘Alam.

    ,

    Ini Hukum Kesenian Kuda Lumping

    Ustadz Yusuf Suharto
    ilustrasi seni kuda lumping
    Oleh: Ustadz Yusuf Suharto
    Pertanyaan:
    Assalamualaikum Wr. Wb., Salam kenal bapak kiai saya Ahmad dari Lampung ingin bertanya masalah hukum kesenian nusantara khususnya kesenian Jaran Kepang? Karena di dalam kesenian tersebut terdapat unsur mistik dan sesaji bagaimana pandangan Islam mengenai hal itu serta mengapa para wali terdahulu tidak menghilangkan kesenian tersebut jikalau memang haram. Terimakasih pak yai Wassalamualaikum, Wr. Wb.
    Jawaban:
    Waalaikum salam Wr. Wb., Pak Ahmad yang berbahagia, kuda Lumping juga disebut Jaran Kepang atau Jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda.Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda.
    Beberapa penampilan Kuda Lumping menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.
    Ada versi yang menyebutkan, bahwa tari Kuda Lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Juga ada yang mengatakan ada hubungannya dengan tari Reog Ponorogo, dan Jaran Kepang dari Kediri dalam cerita Songgo Langit.
    Pakar budaya dan sejarah Nusantara, Agus Sunyoto menyatakan bahwa  bahwa keseniann Kuda Kepang adalah kesenian yang lahir pada masa peralihan jaman Hindu ke Islam, di mana yang diketahui menggelar kesenian kuda kepang untuk dakwah yang pertama adalah Sunan Ngudung. Seni sejenis, di mana kuda kepang
    ditambah Reog, Bujangg Anong, Pentul, dan Tembem dikembangkan raja
    muslim Bathara Katong.
    Semua kesenian itu untuk mengumpulkan orang untuk didakwahi agama Islam. Dengan demikian adalah tergesa-gesa jika dinyatakan bahwa kesenian kuda kepang dianggap seni syirik warisan agama bukan Islam. Menurut al-faqir, tradisi yang berkembang di masyarakat seperti jaran kepang,  misalnya, selama dalam konteks tidak membawa kekufuran dan tidak membahayakan dirinya dan orang lain serta
    melestarikan budaya dan adat istiadat (yang tidak bertentangan dengan hukum syara’) maka hukumnya diperbolehkan. Adapun jika ada yang tidak sesuai maka perlu kita edukasi bersama agar masyarakat dan generasi muda tidak menyalah artikan tradisi. Parawali terdahulu ketika masuk dalam ranah masyarakat, diterapkan Fiqhud Dakwah, ajaran Islam diterapkan secara lentur, sesuai dengan kondisi masyarakat, dan dengan terus mengedukasinya. Dengan demikian para muballigh dan Wali Songo mengembangkan agama Islam dengan bertahap (tadrijy).
    Dengan demikian, bagaimana jawaban atas pertanyaan itu? Sebagian fenomena Jaran kepang diduga adalah bagian dari bentuk sihir. Dengan demikian  hukumnya ditafsil (diperinci) pertama, Jika wasilah untuk menjadikan orang kesurupan itu hal-hal yang mengandung kekufuran maka hukumnya kufur. Kedua, Jika jampi-jampinya berupa hal-hal yang haram maka hukumnya haram. ketiga, Jika tidak maka dilihat pada dampaknya. Jika Jaran Kepang itu berdampak negatif atau membahayakan (dirinya atau orang lain) maka hukumnya haram. Jika tidak berbahaya, maka hukumnya boleh. (al-Fiqh’ala Al-Madzahib al-Arba’ah, 5/460-461)
    .قال الإمام النووي رحمه الله تعالى : عمل السحر حرام وهو من الكبائر بالإجماع وقد عدهالرسول صلوات الله وسلامه عليه من الموبقات السبع ومن السحر ما يكون كفرا ومنه مالا يكون كفرا بل معصية كبيرة فإن كان فيه قول أو فعل يقتضي الكفر فهو كفر وإلا فلا, المالكية رحمهم الله قالوا : الساحر كافر يقتل بالسحر ولا يستتاب بل يتحتم قتله كالزنديق :قال عياض : وقول مالك قال أحمد وجماعة من الصحابة والتابعين وذلك فيمن عمل بهللباطل والشر أمامن تعلمه لفك المسحور ومنع الأذى عنه أو تعلمه للعلم فقط ولم يعمل به فهو جائز وقدسئل الإمام أحمد عمن يطلق السحر عن المسحور فقال : لا بأس به وهذا هو المعتمد فحكمالسحر تابع للقصد فمن فصد به الخير جاز له وإلا حرم عليه إلا أن أدى إلى الشركوإلا كان كافرا ولايقتل الساحر إلا أن يقتل أحدا بسحره ويثبت عليه بإقراره وأما إذا كان ذميا وأوصلبسحره ضررا لميلم يكون قد نقض العهد ويحل قتله وإنما لم يقتل النبي صلى الله عليهو سلم لبيد بن الأعصم على سحره وقد كان ذميا لأنه صلى الله عليه و سلم كان لاينتقم لنفسه ولأنه خشي إذا قتل لبيد بن الأعصم أن تقوم فتنة بين المسلمين فيالمدينة. لأنه كان من بين زريق وهم بطن منالأنصار مشهور من الخزرج وكان الناس حديثي بالإسلام.

    *Ketua Aswaja Center PCNU Jombang.

    ,

    Mengedarkan Kotak Amal Saat Khutbah Berlangsung

    Ilustasi peredaran kotak amal
    Ilustasi peredaran kotak amal
    Oleh: Ustadz Zaenal Karomi*
    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Begini admin, suatu ketika perjalanan pulang dan saya sempatkan shalat Jum’at di masjid pinggir jalan. Ketika khutbah Jum’at masih disampaikan terlihat kotak infak dijalankan kepada para jamaah. Saya pernah dengar menjalankan kotak tersebut saat khutbah berlangsung hukumnya tidak boleh, apa benar admin? Terimakasih.
    Fath al Muhammad (Jombang)
    Wa’alaikumsalam Wr. Wb
    Terima kasih kepada penanya. Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amiin. Adapun ulasan jawaban pertanyaan tersebut sebagai berikut;
    Khutbah Jum’at merupakan salah satu syarat sah penyelenggaraan shalat Jum’at seperti halnya terdapat 40 orang ahli Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat rukun-rukun khutbah, misalnya membaca hamdalah, membaca shalawat Nabi Muhammad SAW. dan lain-lain. Lalu, bagaimana ketika khutbah sedang berlangsung para jama’ah menjalankan kotak infak?
    Bagi para jama’ah ketika khutbah sedang berlangsung dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan dan mendengarkan khutbah dengan sungguh-sungguh. Keterangan ini dipaparkan dalam kitab Shahih Muslim juz 1 halaman 377 sebagai berikut;
    وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
    “Barangsiapa berwudu, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya (kesalahan yang dicela).” (HR. Muslim)

    Dalam syarhnya Imam Nawawi menjelaskan bahwa pencegahan memegang (bermain-main) krikil  dan lainnya merupakan salah satu perbuatan yang sembrono/sia-sia dalam keadaan khutbah. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat sedang khutbah Jum’at. (Hadis ini tergolong hadis hasan shahih)
    Dalam pandangan Syaikh Sulaiman bin Umar bin Manshur al Ujaili al Azhari al Jamal di kitab khasyiyat al Jamal ala minhaj juz 2 halaman 36 bahwa melakukan segala sesuatu yang dapat memalingkan dari dzikir dan mendengar khutbah hukumnya makruh. Dengan demikian, dalam persoalan menjalankan kotak amal dapat dikategorikan sebagai illat tersebut. Sebagaimana redaksi di bawah ini:
    قَوْلُهُ : وَيُكْرَهُ الْمَشْيُ بَيْنَ الصُّفُوفِ لِلسُّؤَالِ وَدَوْرَانِ الْإِبْرِيقِ وَالْقِرَبِ لِسَقْيِ الْمَاءِ وَتَفْرِقَةِ الْأَوْرَاقِ وَالتَّصَدُّقِ عَلَيْهِمْ ؛ لِأَنَّهُ يُلْهِي النَّاسَ عَنْ الذِّكْرِ وَاسْتِمَاعِ الْخُطْبَةِ ا هـ
    “Dimakruhkan menjalankan di antara shaf-shaf untuk meminta dan memutarkan teko, mendekatkan teko untuk menyuguhkan air dan membagikan kertas-kertas serta shadaqah kepadanya, karena itu semua menyebabkan manusia lalai dari dzikir dan mendengarkan khutbah.
    Karena makruh, maka seyogyanya untuk dicarikan alternatif lain. Kalau masih bisa dicarikan alternatif dengan efektifitas dan kondusifitas yang lebih baik, kenapa tidak? Langkah alternatifnya bisa dengan meletakkan kotak amal di setiap pintu masuk masjid, sehingga orang yang ingin bersedakah bisa langsung memasukkannya baik sebelum khutbah dimulai maupun setelahnya. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘Alam bis showab.

    *Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng dan penggerak Bahtsul Masail di Tebuireng

    ,

    Dalil dan Keutamaan Maulid Nabi Muhammad SAW

     

     

    Oleh: Muhammad Zaenal Karomi*

    Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim as kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa as.

    Allah SWT menyampaikan shalawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan shalawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bershalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:

    إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Azhab: 56)

    Di bulan Rabi’ul Awal yang penuh dengan rahmat dan berkah ini seluruh masyarakat muslim di dunia dengan penuh cinta menyambut maulid Nabi Muhammad SAW, yakni tanggal 12 Rabi’ul Awal. Seluruh umat Islam dunia berlomba-lomba untuk mengepresiasikan kecintaan Nabi Muhammad dengan melakukan amalan-amalan yang tidak bertentangan dengan syariat islam seperti halnya di dusun-dusun membaca shalawat nabi yang dimulai pada malam pertama bulan Robiu’l awal sampai malam tanggal 12 rabiu’ul awal, dengan bertujuan untuk mendapatkan syafa’at di dunia akhirat kelak nanti.

    Keutamaan Maulid

    Banyak keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh bagi seorang muslim yang mau mengangungkan baginda Nabi Muhammad.

    Ungkapan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad

    Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah sebuah ungkapan kecintaan dan kegembiraan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran it.

    فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الإثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلم. وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح. ورواه الإمام عبد الرزاق الصنعانيفي المصنف ج ٧ ص ٤٧٨

    Dalam hadits di atas yang diriwayatkan Imam al-Bukhori. dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi , menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia , Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya diringankan setiap hari senin tiba.

    Meneguhkan Kembali Kecintaan kepada Beliau

    Meneguhkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad. Bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Nabi adalah sebuah keharusan, salah satu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Kecintaan kepada nabi harus berada diatas segalanya, bahkan melebihi kecintaan kepada istri, anaknya, bahkan  kecintaan diri sendiri.

    لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين.

    Artinya:

    “Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori Muslim).

    Mendapatkan Rahmat Allah SWT

    Mendapatkan rahmat Allah berupa taman surga dan dibangkitkan bersama-sama golongan orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang yang sholeh. Imam Sirri Saqathi Rahimahullah  berkata:

    من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم : وقد قال صلى الله عليه وسلم: من أحبني كان معي في الجنة.

    Artinya:

    “Barang siapa menyengaja (pergi) ke suatu tempat yang dalamnya terdapat pembacaan maulid nabi, maka sungguh ia telah menyengaja (pergi) ke sebuah taman dari taman-taman surga, karena ia menuju tempat tersebut melainkan kecintaannya kepada baginda rasul. Rosulullah bersabda:  barang siapa mencintaku, maka ia akan bersamaku di syurga.

    Sedangkan Imam Syafi’i Rohimahullah berkata:

    من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ، ويكون في جنات النعيم.

    Artinya :

    “Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan dia akan dimasukkan dalam syurga na’im.”

    Dalil-dalil tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

    Banyak dalil-dalil, baik al-Qur’an, al-Sunnah, maupun perkataan ulama, yang menunjukkan dianjurkannnya memperingati Maulid Nabi. Diantaranya dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 58 dan surat al-Abiya’ ayat 107.

    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.(يونس: ٨٥

    Artinya:

    Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. الأنبياء: ١٠٧

    Artinya:

    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS al-Anbiya: 107)

    Kelahiran Nabi Muhammad digambarkan oleh al-Qur’an sebagai keutamaan dan rahmat yang universal dan agung, memberikan kebahagiaan dan kebaikan bagi seluruh manusia. dalam dua ayat di atas Allah SWT dengan lahirnya beliau dan diutusnya beliau sebagai rasul adalah sebuah rahmat yang tidak terkira bagi seluruh alam semesta ini, rahmatan lil ‘alamin. Merayakan tahun kelahiran raja, negara, atau hanya orang biasa, saja bermegah-megahan, kenapa kita sebagai muslim merayakan kelahiran  Nabi yang disanjung-sanjung, cukup dengan shalawat, salam, dzikir, doa, dan berbuat kebaikan seperti sedekah dan membahagiakan orang, ogah-ogahan?

    عن أبي قتادة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عن صوم يوم الإثنين؟ فقال “فيه ولدت، وفيه أنزل علي” رواه الإمام مسلم في الصحيح في كتاب الصيام.

    Artinya:

    Dari Abi Qotadah Ra, bahwa Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari senin. Maka beliau menjawab “Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu diturunkan padaku (al-Qur’an)” (HR. Imam Muslim dalam Shohih-nya pembahasa tentang puasa)

    Hari  senin, hari kelahiran Nabi, oleh beliau dianjurkan untuk melakukan puasa. Hal tersebut menunjukkan keutamaan hari itu, dimana cayaha kebenaran terbentang di negeri padang pasir yang jahiliyyah. Pantas jika kelahiran beliau adalah sebuah hari yang patut untuk diperingati dan diisi dengan kegiatan yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibn Asyakir, Ibn Warrahawi, dan al-Dhiya’ dari shahabat Abu Sa’id al-Khurdi disebutkan:

    أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ إِنَّ رَبِّيْ وَرَبَّكَ يَقُوْلُ لَكَ: تَدْرِى كَيْفَ رَفَعْتُ ذِكْرَكَ؟ قُلْتُ: اَللهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لاَ أَذْكُرُ إِلاَّ ذُكِرْتَ مَعِيْ (ع حب) وابن عساكر وابن والرهاوي في الأربعين، والضياء في المختارة عن أبى سعيد الخدري . (فيض القدير جزء ١ ص:١٢٨

    Artinya:

    “Jibril datang kepadaku, lalu berkata ‘Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berkata kepadamu: Kamu tahu, bagaimana aku mengangkat sebutanmu? Lalu aku menjawab: Allahu a’lam. Jibril berkata: Aku tidak akan menyebut, kecuali engkau disebut bersamaku.” (HR. Ibnu ‘Asyakir, Ibnu Warrohawi dalam kitab al-‘Arbain, dan al-Dhiya’ dalam kitab al-Mukhtarah dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri)

    Bahkan Ibnu Taimiyah yang menjadi kiblat pemikiran para tokoh Islam kanan, dan digambarkan sangat menolak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. malah menganjurkan untuk melakukannya, bahkan dikatakan memiliki faedah pahala. Hal tersebut tidak dijelaskan oleh siapapun, tapi oleh beliau sendiri dalam kitab beliau Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim halaman 297. Berikut stetemen beliau dalam kitab tersebut:

    فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ. (الشيخ ابن تيمية، اقتضاء الصراط المستقيم، مخالفة أصحاب الجحيم: ص/٢٩٧.

    Artinya:

    Mengagungkan maulid (Nabi Muhammad) dan melakukannya rutin (setiap tahun), yang kadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan baginya dalam merayakan maulid tersebut, pahala yang agung/besar karena tujuan yang baik dan mengagungkan Rasulullah SAW. dan keluarga beliau. Sebagaimana yang telah aku sampaikan padamu. (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim: 297)

    فقام عند ذلك السبكي، وجميع من عنده فحصل أنس كبير في ذلك المجلس ، وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك مستحسن. قال الإمام أبو شامة شيخ النووي: من أحسن ما إبتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقة والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن فيه مع الإحسان للفقراء إشعارا بمحبته صلى الله عليه وسلم وتعظيمه وشكر على ما من به علينا.  قال السخاوي وحدوث عمل المولد بعد القرون الثلاثة ، ثم لا زال المسلمون يفعلونه. وقال إبن الجوزي من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشري عاجلة، واول من أحدثه من الملوك المظفر. قال سبط إبن الجوزي في مرأة الزمان: حكي لي من حضر سماط المظفر في بعض المولد أنه عد فيه خمسة الاف رأس غنم شواء وعشرة ألاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين الف صحن حلواء ، وكان يحضره أعيان العلماء والصوفية ، ويصرف عليه ثلاثمائة الف دينار.   (إسعاد الرفيق جزء 1 ص 26).

    Imam Subkhi dan para pengikutnya juga menganggab baik peringatan maulid dan berkumpulnya manusia untuk merayakannya. Imam Abu Syammah Syaikh al-Nawawi mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan kebaikan seperti hal-hal baik yang terjadi di zaman kami yang dilakukan oleh masyarakat umum di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. diantarnya sedekah, berbuat baik, memperlihatkan hiasan dan kebahagiaan. Maka sesungguhnya dalam hari tersebut beliau menganjurkan agar umat muslim berbuat baik kepada para fakir sebagai syiar kecintaan terhadap baginda Rasul. mengangungkan beliau, dan sebagai ungkapan rasa syukur.

    Menurut Imam al-Sakhawi, adanya peringatan itu sejak abad ketiga hijriyah. Sejak itu, orang-orang Islam terus mengerjakannya.

    Bahkan, Ibnu al-Jauzi, yang biasanya dijadikan hujjah oleh para kaum ekstrimis kanan mengharamkan perayaan maulid, sama seperti Ibn Taimiyah, malah menukil sejarah maulid itu sendiri. Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa perayaan maulid dimulai pada masa Raja al-Mudhafar. Beliau menceritakan parayaan tersebut sangat besar, megah, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Disediakan 5.000 kambing, 10.000 ayam, 100.000 porsi, dan 30.000 piring manisan. Dihadiri oleh para ulama dan para sufi, yang oleh Raja al-Mudhaffar diberikan setiap orang 300.000 dinar. (Is’adur Rofiq:1:26)

    Kalau saja rasul masih hidup, apa yang hendak kita banggakan di hadapan beliau? Kemaksiatan, dosa, dan tidak menjalankan ajaran beliau, apa itu yang bisa kita sampaikan? Hanya sekedar merayakan dengan sederhana namun bermakna dan penuh rahmat dan berkah, kita merasa enggan dan justru secara buta mengharamkannnya, umat Islam lain dikafirkan dan dianggap melenceng dari ajaran Nabi? Kalau Maulid Nabi dilarang, bagimana dengan perayaan Maulid Raja? Allahumma sholli wa sallim la Sayyidina Muhammad wa a’la ali wa shohbihi ajma’in. Selamat hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

    *Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, semester 5, aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang

    Sudah tak heran dan sering kita dengar bahwa ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan) menjadi salah satu problematika di Masyarakat terutama mengenai acara pengajian umum di tempat terbuka dan lainnya. Walau pun dikatakan haram, masyarakat kita masih banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Fenomena tersebut pun muncul di kalangan lingkungan sekitar kita (terutama anak muda-mudi), ketika ada acara rapat tertentu dan acara tertentu seperti halnya Organisasi Daerah (ORDA), IPNU – IPPNU dan lainnya berkumpul dalam satu majlis. Begitu juga ketika mengadakan wisata religi, tampak jelas percampuran laki-laki dan perempuan dalam satu bus.

    Pertanyaan:

    A. Bagaimana batasan satu majlis dalam kasus ikhtilat

    B. Jika ikhtilat seperti itu diharamkan, siapa yang bertanggungjawab?

    jawaban:

    A. Batasan satu majlis dalam kasus ikhtilat adalah tidak menimbulkan terjadinya fitnah sebagai berikut

    Ketika duduk antara laki-laki dan perempuan tidak terlalu dekat.
    Tidak terjadi nya kholwah
    Tidak bersenda gurau berlebihan
    Tidak berpegang-pegangan.
    Memakai pakaian sesuai tatanan syari’at Islam (tidak memakai pakaian yang ketat dengan menonjolkan lekuk tubuhnya ) sehingga dapat menimbulkan syahwat.
    Referensi :

    Isadur- rofiqJuz 2 hal 67 
    Ianatut- thalibinJuz 1 hal 313 
    Mughnil-muhtajJuz 3 hal 407 
    Ianatut- thalibinJuz 1 hal 64 
    (ﺇﺳﻌﺎﺩ ﺍﻟﺮﻓﻴﻖ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ (ج2/ﺹ: 67 

    ﺧﺎﺗﻤﺔ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﺢ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ, ﻭﺍﺷﺪ ﺍﻟﻤﺤﻈﺮﺍﺕ ﺍﺧﺘﻼﻁ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﺴﺎﺀ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺎﺕ ﻟﻤﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻭﺍﻟﻔﺘﻦ ﺍﻟﻘﺎﺑﺤﺔ . ﻗﺎﻝ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﻓﻰ ﺑﻌﺾ ﻣﻜﺎﺗﺒﺎﺗﻪ ﻟﺒﻌﺾ ﺍﻻﻣﺮﺍﺀ , ﻭﻣﺎ ﺫﻛﺮﺗﻢ ﻣﻦ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻣﺘﺰﻳﻨﺎﺕ ﺑﻤﺤﻞ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻦ ﻣﺤﻞ ﺭﺟﺎﻝ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻨﺴﻮﺏ ﻟﺴﻴﺪﻧﺎ ﻋﻤﺮ ﺍﻟﻤﺤﻀﺎﺭ ﻓﺈﻥ ﺧﻴﻔﺖ ﻓﺘﻨﺔ ﺑﻨﺤﻮ ﺳﻤﺎﻉ ﺻﻮﺕ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﺍﻟﺘﻰ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻨﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻭﻻﺓ ﺍﻻﻣﺮ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺍﺫﺍﺧﺎﻑ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﺍﻥ ﻳﺤﻀﺮﻫﻢ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻟﻤﺎ ﻭﺻﻒ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ” ﻭﻋﻠﻴﻚ ﺑﺨﺎﺻﺔ ﻧﻔﺴﻚ ﻭﺩﻉ ﻋﻨﻚ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ ” ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻗﺪ ﺻﺎﺭ ﺍﻟﻰ ﻓﺴﺎﺩ ﻋﻈﻴﻢ ﻭﻓﺘﻦ ﻫﺎﺋﻠﺔ ﻭﺍﻏﺮﺍﺽ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻻﺧﺮﺓ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺍﻻﺣﺘﺮﺍﺯ ﻋﻨﻬﺎ ﺍﻫ 

    ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ( -ﺝ 1 / ﺹ 313) 

    ﻭﻣﻨﻪ ﺍﻟﻮﻗﻮﻑ ﻟﻴﻠﺔ ﻋﺮﻓﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺸﻌﺮ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ، ﻭﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻟﻴﺎﻟﻲ ﺍﻟﺨﺘﻮﻡ ﺁﺧﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻭﻧﺼﺐ ﺍﻟﻤﻨﺎﺑﺮ ﻭﺍﻟﺨﻄﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻓﻴﻜﺮﻩ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺍﺧﺘﻼﻁ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﺴﺎﺀ ﺑﺄﻥ ﺗﺘﻀﺎﻡ ﺃﺟﺴﺎﻣﻬﻢ. ﻓﺈﻧﻪ ﺣﺮﺍﻡ ﻭﻓﺴﻖ. 

    ﻣﻐﻨﻲ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺝ ( ﺝ3/ ﺹ407 )

    )ﺗﻨﺒﻴﻪ) ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺍﻥ يخلو ﺑﺎﻣﺮﺃﺗﻴﻦ ﺍﺟﻨﺒﻴﻴﻦ ﺛﻴﻘﺘﻴﻦ ﻓﺄﻛﺜﺮ ﻛﻤﺎ ﻧﻘﻠﻪ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻋﻦ ﺍﻻﺻﺤﺎﺏ ﺍﻫـ 44 

    ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – (ﺝ1 / ﺹ 64( با ﺠﻮﺭﻱ)ﺝ1/ﺹ72( 

    (ﻗﻮﻟﻪ ﻻﻧﺘﻔﺎﺀ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ )ﺍﻱ ﻻﻧﺘﻔﺎﺀ ﺍﻟﻤﺤﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻈﻦ ﻓﻴﻪ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺎﻣﻮﺱ ﻣﻈﻨﺔ ﺍﻟﺸﻴﺊ ﻣﻮﺿﻊ ﻳﻈﻦ ﻓﻴﻪ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﺸﻴﺊ

    الموسوعة الفقهية الكويتية (7/ 77)

    وَقَدْ جَعَل الشَّافِعِيُّ وَالأْصْحَابُ لِلأْمِّ مَدْخَلاً فِي وُجُوبِ التَّعْلِيمِ ؛ لِكَوْنِهِ مِنَ التَّرْبِيَةِ وَهِيَ وَاجِبَةٌ عَلَيْهَا كَالنَّفَقَة .وَمِنَ الْعُلُومِ غَيْرِ الشَّرْعِيَّةِ مَا يُعْتَبَرُ ضَرُورَةً بِالنِّسْبَةِ لِلأُْنْثَى كَطِبِّ النِّسَاءِ حَتَّى لاَ يَطَّلِعَ الرِّجَال عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ . جَاءَ فِي الْفَتَاوَى الْهِنْدِيَّةِ : امْرَأَةٌ أَصَابَتْهَا قُرْحَةٌ فِي مَوْضِعٍ لاَ يَحِل لِلرَّجُل أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهِ ، لاَ يَحِل أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا ، لَكِنْ يُعَلِّمُ امْرَأَةً تُدَاوِيهَا ، فَإِنْ لَمْ يَجِدُوا امْرَأَةً تُدَاوِيهَا وَلاَ امْرَأَةً تَتَعَلَّمُ ذَلِكَ إِذَا عُلِّمَتْ ، وَخِيفَ عَلَيْهَا الْبَلاَءُ أَوِ الْوَجَعُ أَوِ الْهَلاَكُ فَإِنَّهُ يَسْتُرُ مِنْهَا كُل شَيْءٍ إِلاَّ مَوْضِعَ تِلْكَ الْقُرْحَةِ ، ثُمَّ يُدَاوِيهَا الرَّجُل ، وَيَغُضُّ بَصَرَهُ مَا اسْتَطَاعَ إِلاَّ عَنْ ذَلِكَ الْمَوْضِعِ . (

    وَإِذَنْ ، فَلاَ خِلاَفَ فِي مَشْرُوعِيَّةِ تَعْلِيمِ الأْنْثَى . لَكِنْ فِي الْحُدُودِ الَّتِي لاَ مُخَالَفَةَ فِيهَا لِلشَّرْعِ وَذَلِكَ مِنَ النَّوَاحِي الآْتِيَةِ :

    أ – أَنْ تَحْذَرَ الاِخْتِلاَطَ بِالشَّبَابِ فِي قَاعَاتِ الدَّرْسِ ، فَلاَ تَجْلِسِ الْمَرْأَةُ بِجَانِبِ الرَّجُل ، فَقَدْ جَعَل النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ يَوْمًا غَيْرَ يَوْمِ الرِّجَال يَعِظُهُنَّ فِيهِ . بَل حَتَّى فِي الْعِبَادَةِ لاَ يُخَالِطْنَ الرِّجَال ، بَل يَكُنْ فِي نَاحِيَةٍ مِنْهُمْ يَسْتَمِعْنَ إِلَى الْوَعْظِ وَيُؤَدِّينَ الصَّلاَةَ ، وَلاَ يَجِبُ اسْتِحْدَاثُ مَكَانٍ خَاصٍّ لِصَلاَتِهِنَّ ، أَوْ إِقَامَةِ حَاجِزٍ بَيْنَ صُفُوفِهِنَّ وَصُفُوفِ الرِّجَال .

    ب – أَنْ تَكُونَ مُحْتَشِمَةً غَيْرَ مُتَبَرِّجَةٍ بِزِينَتِهَا لِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى : { وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا } (1) وَفِي اتِّبَاعِ ذَلِكَ مَا يَمْنَعُ مِنَ الْفِتْنَةِ وَمِنْ إِشَاعَةِ الْفَسَادِ.

    الموسوعة الفقهية الكويتية(2/ 289)

    التَّعْرِيفُ :

    الاِخْتِلاَطُ ضَمُّ الشَّيْءِ إِلَى الشَّيْءِ ، وَقَدْ يُمْكِنُ التَّمْيِيزُ بَيْنَهُمَا كَمَا فِي الْحَيَوَانَاتِ ، وَقَدْ لاَ يُمْكِنُ كَمَا فِي الْمَائِعَاتِ فَيَكُونُ مَزْجًا  . وَلاَ يَخْرُجُ اسْتِعْمَال الْفُقَهَاءِ لَهُ عَنْ هَذَا الْمَعْنَى .

    الاِمْتِزَاجُ هُوَ انْضِمَامُ شَيْءٍ إِلَى شَيْءٍ بِحَيْثُ لاَ يُمْكِنُ التَّمْيِيزُ بَيْنَهُمَا ، وَيَخْتَلِفُ عَنْهُ الاِخْتِلاَطُ بِأَنَّهُ أَعَمُّ ؛ لِشُمُولِهِ مَا يُمْكِنُ التَّمْيِيزُ فِيهِ وَمَا لاَ يُمْكِنُ 

    اخْتِلاَطُ الرِّجَال بِالنِّسَاءِ : يَخْتَلِفُ حُكْمُ اخْتِلاَطِ الرِّجَال بِالنِّسَاءِ بِحَسَبِ مُوَافَقَتِهِ لِقَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ أَوْ عَدَمِ مُوَافَقَتِهِ ، فَيَحْر

    الاِخْتِلاَطُ إِذَا كَانَ فِيهِ :

    أ – الْخَلْوَةُ بِالأَْجْنَبِيَّةِ ، وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ إِلَيْهَا .ب – تَبَذُّل الْمَرْأَةِ وَعَدَمُ احْتِشَامِهَا .ج – عَبَثٌ وَلَهْوٌ وَمُلاَمَسَةٌ لَلأَْبْدَانِ كَالاِخْتِلاَطِ فِي الأَْفْرَاحِ وَالْمَوَالِدِ وَالأَْعْيَادِ ، فَالاِخْتِلاَطُ الَّذِي يَكُونُ فِيهِ مِثْل هَذِهِ الأُْمُورِ حَرَامٌ ، لِمُخَالَفَتِهِ لِقَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ .قَال تَعَالَى : { قُل لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ } . . . { وَقُل لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ }

    B. Siapa yang bertanggung jawab?

    dilihat dari segi umum yang bertanggungjawab adalah pemimpin (waliyul Amri). Karena terjadinya kemaksiatan yang terdapat pada wilayahnya (dibawah kepengurusannya)
    dilihadarisegi khususnya adalah pihak yang mengadakan, jika mereka tahu (dzon) acara tersebut memungkinkan terjadinya kemungkaran dan fitnah.


    الفتاوى الفقهية الكبرى(1/ 199)

    وَسُئِلَ رضي اللَّهُ عنه أَنَّهُ قد كَثُرَ في هذه الْأَزْمِنَةِ خُرُوجُ النِّسَاءِ إلَى الْأَسْوَاقِ وَالْمَسَاجِدِ لِسَمَاعِ الْوَعْظِ وَلِلطَّوَافِ وَنَحْوِهِ في مَسْجِدِ مَكَّةَ على هَيْئَاتٍ غَرِيبَةٍ تَجْلِبُ إلَى الِافْتِتَانِ بِهِنَّ قَطْعًا وَذَلِكَ أَنَّهُنَّ يَتَزَيَّنَّ في خُرُوجِهِنَّ لِشَيْءٍ من ذلك بِأَقْصَى ما يُمْكِنُهُنَّ من أَنْوَاعِ الزِّينَةِ وَالْحُلِيِّ وَالْحُلَلِ كَالْخَلَاخِيلِ وَالْأَسْوِرَةِ وَالذَّهَبِ. (فأجاب) َ بِأَنَّ الْكَلَامَ على ذلك يَسْتَدْعِي طُولًا وَبَسْطًا لَا يَلِيقُ لَا بِتَصْنِيفٍ مُسْتَقِلٍّ

    في الْمَسْأَلَةِ وَحَاصِلُ مَذْهَبِنَا أَنَّ إمَامَ الْحَرَمَيْنِ نَقَلَ الْإِجْمَاعَ على جَوَازِ خُرُوجِ الْمَرْأَةِ سَافِرَةَ الْوَجْهِ وَعَلَى الرِّجَالِ غَضُّ الْبَصَرِ وَاعْتُرِضَ بِنَقْلِ الْقَاضِي عِيَاضٍ إجْمَاعَ الْعُلَمَاءِ على مَنْعِهَا من ذلك .

    وَأَجَابَ الْمُحَقِّقُونَ عن ذلك بِأَنَّهُ لَا تَعَارُضَ بين الْإِجْمَاعَيْنِ لِأَنَّ الْأَوَّلَ في جَوَازِ ذلك لها بِالنِّسْبَةِ إلَى ذَاتِهَا مع قَطْعِ النَّظَرِ عن الْغَيْرِ. ِ وَالثَّانِي بِالنِّسْبَةِ إلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْإِمَامِ وَنَحْوِهِ أو يَجِبُ عليه مَنْعُ النِّسَاءِ من ذلك خَشْيَةَ افْتِتَانِ الناس بِهِنَّ . وَبِذَلِكَ تَعْلَمُ أَنَّهُ يَجِبُ على من ذَكَرَ مَنْعَ النِّسَاءِ من الْخُرُوجِ مُطْلَقًا إذَا فَعَلْنَ شيئا مِمَّا ذُكِرَ في السُّؤَالِ مِمَّا يَجُرُّ إلَى الِافْتِتَانِ بِهِنَّ انْجِرَارًا قَوِيًّا . على أَنَّ ما ذَكَرَهُ الْإِمَامُ يَتَعَيَّنُ حَمْلُهُ على ما إذَا لم تَقْصِدْ كَشْفَهُ لِيُرَى أو لم تَعْلَمْ أَنَّ أَحَدًا يَرَاهُ أَمَّا إذَا كَشَفَتْهُ لِيُرَى فَيَحْرُمُ عليها ذلك لِأَنَّهَا قَصَدَتْ التَّسَبُّبَ في وُقُوعِ الْمَعْصِيَةِ



    )ﺇﺳﻌﺎﺩ ﺍﻟﺮﻓﻴﻖ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ (ج2/ﺹ: 67 

    ﺧﺎﺗﻤﺔ ﻣﻦ ﺃﻗﺒﺢ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ, ﻭﺍﺷﺪ ﺍﻟﻤﺤﻈﺮﺍﺕ ﺍﺧﺘﻼﻁ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﺴﺎﺀ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺎﺕ ﻟﻤﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻔﺎﺳﺪ ﻭﺍﻟﻔﺘﻦ ﺍﻟﻘﺎﺑﺤﺔ . ﻗﺎﻝ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﻓﻰ ﺑﻌﺾ ﻣﻜﺎﺗﺒﺎﺗﻪ ﻟﺒﻌﺾ ﺍﻻﻣﺮﺍﺀ , ﻭﻣﺎ ﺫﻛﺮﺗﻢ ﻣﻦ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻣﺘﺰﻳﻨﺎﺕ ﺑﻤﺤﻞ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻦ ﻣﺤﻞ ﺭﺟﺎﻝ ﻳﺠﺘﻤﻌﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻨﺴﻮﺏ ﻟﺴﻴﺪﻧﺎ ﻋﻤﺮ ﺍﻟﻤﺤﻀﺎﺭ ﻓﺈﻥ ﺧﻴﻔﺖ ﻓﺘﻨﺔ ﺑﻨﺤﻮ ﺳﻤﺎﻉ ﺻﻮﺕ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﺍﻟﺘﻰ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻨﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻭﻻﺓ ﺍﻻﻣﺮ ﻭﻳﺤﺴﻦ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺍﺫﺍﺧﺎﻑ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﺍﻥ ﻳﺤﻀﺮﻫﻢ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻟﻤﺎ ﻭﺻﻒ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ” ﻭﻋﻠﻴﻚ ﺑﺨﺎﺻﺔ ﻧﻔﺴﻚ ﻭﺩﻉ ﻋﻨﻚ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ ” ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻭﺃﻫﻠﻪ ﻗﺪ ﺻﺎﺭ ﺍﻟﻰ ﻓﺴﺎﺩ ﻋﻈﻴﻢ ﻭﻓﺘﻦ ﻫﺎﺋﻠﺔ ﻭﺍﻏﺮﺍﺽ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻻﺧﺮﺓ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺍﻻﺣﺘﺮﺍﺯ ﻋﻨﻬﺎ ﺍﻫ.

    والله أعلم بالصواب

    *Disampaikan dalam :

    Musyawarah Bulanan Se-Pesantren Tebuireng

    Forum Bahtsul Masa’il (FBM) 

    Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng

    Kamis, 23 April 2015.


    Mutaakhir ini, umat Islam mudah sekali terprovokasi dengan banyak isu yang tak penting. Karuan saja menjadi santapan ‘lezat’ bagi mereka yang senang melihat umat Islam tercerai berai. Sebagaimana kita saksikan bersama di jagat maya. Menunjukan betapa keroposnya rasa persatuan dan kesatuan sesama umat Islam. Begitupun dengan para elite pejabat negara dan ulama yang makin hari berjalan sendiri-sendiri. Umat Islam dikalangan bawah pun makin kehilangan rasa kedaiman dan kesejukan. Lantas, bagaiamana membangun masa depan Islam yang berkemajuan dan berperdaban di masa depan?

    Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Bapak Umat Islam Indonesia, jauh-jauh hari sudah memberikan nasehat yang baik dan masih relevan untuk di jalankan, yakni; Jagalah persatuan dan kesatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka. Kadang-kadang suatu kebathilan mencapai kemenangan disebabkan mereka bersatu dan terorganisasi. Sebaliknya kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran bercerai-berai dan saling bersengketa.

    Pesan Pendiri NU itu lantas di sebarkan ke sejumlah pemimpin pesantren. Tak butuh lama, pesan tersebut pun tersebar luas. Sebagai tokoh yang memiliki kharisma dan menjadi panutan umat pesan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pun mampu menghimpun kekuatan di kalangan masyarakat.

    Demi kemajuan bangsa dan umat Islam Indonesia khususnya di masa depan terus berkarya penting di wujudkan. Kesemua itu tidak akan terwujud jika perselisihan dan perbedaan pendapat yang tak bermutu terus digaungkan. Maka hanya akan menimbulkan kegaduhan semata. Perpecahan secara perlahan-lahan pun terjadi. Padahal menjaga rasa persatuan dan kesatuan amatlah penting. Segala keegoisan, ketamakan, kerakusan, dan lainnya akan terus merongrongnya. Sebagai orang yang mengagungkan beliau sudah selayaknya, nasehat para tokoh kita seperti Kiai Hasyim Asy’ari ini, diikuti dan dijalankan. (Ahmad Faozan, disarikan dari: Buku “Kiyai Haji Hasyim Asy’ari”, karya Heru Soekardi, cet. Department pendidikan Dan kebudayaan pusat penelitian sejarah Dan budaya proyek inventaris Dan dokumentasi 1977/1920; Hal 92-93)


Top