,

    Rincian Biaya Daftar Ulang Biaya Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 2016 - 2017

    Rincian Biaya Daftar Ulang Biaya Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 2016 - 2017
    Rincian Biaya Daftar Ulang Biaya Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 2016 - 2017

    Rincian Biaya Daftar Ulang Biaya Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 2016 - 2017
    Rincian Biaya Daftar Ulang Biaya Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 2016 - 2017

    Rincian Biaya Daftar Ulang Biaya Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 2016 - 2017
    Rincian Biaya Daftar Ulang Biaya Pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tahun 2016 - 2017

    , ,

    Pengumuman Seleksai Masuk Santri Gelombang 2 SMA Trensains Tebuireng 2016 - 2017
    Pengumuman Seleksai Masuk Santri Gelombang 2 SMA Trensains Tebuireng 2016 - 2017

    Pengumuman Seleksai Masuk Santri Gelombang 2 SMA Trensains Tebuireng 2016 - 2017
    Pengumuman Seleksai Masuk Santri Gelombang 2 SMA Trensains Tebuireng 2016 - 2017

    ,

    Ajaran ahlus sunnah wal jamaah yang menjadi pegangan jemaah dan jam'iyyah Nahdlatul Ulama sudah hadir di Nusantara sejak sekitar 1.000 tahun lalu.
    Ajaran itu dibawa penyebar Islam yang bersedia berdialog dengan budaya setempat dan memakai media tradisional dalam menyebarkan Islam.
    Pesantren yang menjadi salah satu pusat penyebaran Islam adalah lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Pesantren tertua yang kini masih aktif adalah Pesantren Sidogiri, berdiri pada 1718.


    Pesantren Tebuireng didirikan pada 1899 oleh KH Hasyim Asy'ari, jadi daya tarik bagi para pemuda berpotensi dari berbagai daerah.
    Sejumlah santri terpilih yang dibina khusus oleh Hasyim Asy'ari kemudian mendirikan pesantren di tempat mereka tinggal setelah meninggalkan Tebuireng.
    Pesantren-pesantren itu kelak menjadi pesantren besar, seperti Lirboyo, Ploso Kediri, Tegalrejo Magelang, dan Denanyar Jombang.
    Pesantren-pesantren yang didirikan oleh alumni Tebuireng itu membentuk jama'ah (komunitas) penganut paham Islam ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja), yang mengikuti mazhab empat (terutama mazhab Syafi'i).
    Para kiai dari komunitas pesantren itu merasakan kebutuhan untuk mendirikan jam'iyyah (organisasi) untuk bisa meningkatkan pengabdian mereka.
    Penggagas awal berdirinya jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU) adalah KHA Wahab Hasbullah, santri Hasyim Asy'ari. Kiai Wahab menyampaikan usul itu karena paham bahwa organisasi NU hanya akan bisa tumbuh kalau dipimpin oleh Hasyim Asy'ari. 
    Setelah mendapat perintah dua kali dari Syaikhona Kholil, guru yang dihormatinya, Hasyim Asy'ari menyatakan berdirinya organisasi NU pada 31 Januari 1926 (17 Rajab 1344).
    Mandiri dan maju
    Organisasi NU lalu dikembangkan melalui jaringan pesantren, terutama alumni Pesantren Tebuireng, yang tersebar di banyak tempat. Ternyata metode itu amat efektif.
    Tahun 1935, NU punya 68 cabang dengan 67.000 anggota. Tahun 1938, berkembang jadi 99 cabang, termasuk di luar Jawa. 
    Organisasi baru ini tumbuh secara mandiri. Sampai 1940, setiap tahun diselenggarakan 15 muktamar. Itu menunjukkan bahwa organisasi NU dikelola dengan baik, dilandasi roh jihad yang kuat.

    Dalam Muktamar 1938 di Banten, NU menyatakan Hindia Belanda sebagai "dar-al Islam", artinya negeri yang dapat diterima umat Islam. Alasannya, penduduk Muslim dapat menjalankan syariat Islam yang dilakukan oleh para pegawai yang juga Muslim.

    Ini pertama kalinya NU menerapkan tradisi Sunni dalam pengesahan kekuasaan yang dapat diterima bila berfaedah bagi kehidupan beragama.

    Walaupun sudah menerima Hindia Belanda sebagai "dar al Islam", dalam persidangan BPUPKI, bersama ormas Islam lain NU memperjuangkan Islam menjadi dasar negara. Komprominya ialah Mukadimah UUD yang terkenal dengan sebutan "Piagam Jakarta".

    Di dalamnya tercantum bahwa dasar negara ialah Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya.

    Pada 18 Agustus 1945 beberapa tokoh Islam bertemu Bung Hatta untuk membahas penolakan kelompok Kristen di Indonesia Timur terhadap "tujuh kata Piagam Jakarta" itu.

    Menghadapi pilihan sulit itu, para tokoh Islam itu setuju untuk mencoret tujuh kata itu sehingga sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Dalam persidangan Konstituante (1956-1959), partai-partai Islam  meneruskan perjuangan menjadikan Islam sebagai dasar negara. Dalam pemungutan suara, dasar negara Pancasila meraih suara di atas 56 persen dan dasar negara Islam meraih 43 persen.

    Karena Konstituante mengalami jalan buntu, akhirnya Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang memberlakukan kembali UUD 1945. Dalam pertimbangan dekrit itu, dinyatakan Piagam Jakarta menjadi bagian tidak terpisahkan dari UUD 1945 dan menjiwainya.

    PBNU membentuk tim yang diketuai oleh KH Achmad Siddiq untuk menyusun naskah tentang "Hubungan Islam dengan Pancasila". Pada Desember 1983, naskah tersebut dipaparkan Achmad Siddiq di depan Munas Alim Ulama NU.

    Walaupun amat sulit, para ulama NU bisa diyakinkan untuk menerima naskah itu. Pada Muktamar NU 1984, naskah itu ditetapkan sebagai keputusan muktamar.

    NU dan partai politik

    Pada 1945, NU bergabung dalam Partai Masyumi di mana Hasyim Asy'ari menjadi Ketua Majelis Syuro. Pada tingkat nasional terdapat perbedaan mencolok antara tokoh-tokoh NU dengan tokoh-tokoh Masyumi.

    Tokoh-tokoh NU adalah lulusan pesantren dan tokoh-tokoh Masyumi adalah lulusan sekolah Barat dan universitas. Selain itu, juga terdapat perbedaan pemikiran keagamaan. Pada 1952, NU keluar dari Masyumi dan mendirikan Partai NU, yang jadi pemenang ketiga Pemilu 1955.

    Dalam Pemilu 1971, Partai NU yang masih berjuang untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara adalah partai yang paling lantang mengkritisi pemerintah. 

    Tak heran jika banyak juru kampanye NU diturunkan pihak keamanan dari podium kampanye. Aktivis NU di Departemen Agama diharuskan memilih jadi PNS atau NU. Maka, NU kehilangan banyak tokohnya.

    Pada 1973, Partai NU bergabung dengan  partai-partai Islam ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Walau unsur terbesar di dalam PPP, NU kurang berperan akibat intervensi pemerintah.
    Pada Muktamar 1984, NU menegaskan Khittah NU 1926 yang antara lain menegaskan NU menjaga jarak yang sama terhadap semua partai Islam. Penegasan itu dimaknai NU keluar dari PPP. Maka, di berbagai daerah tokoh-tokoh NU muncul sebagai aktivisGolkar.
    Hanya 14 tahun NU mampu tidak terlibat dalam politik praktis. Pasca Orde Baru, saat pemerintahan BJ Habibie membuka kesempatan mendirikan partai baru untuk bisa ikut dalam Pemilu 1999, lima  tokoh PBNU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai wadah penyaluran aspirasi politik warga NU.
    PKB berhasil mengantarkan Gus Dur menjadi presiden ke-4 RI. NU bergeser dari ranah masyarakat sipil menuju ranah politik.
    Kini timbul kesan kuat bahwa NU meninggalkan Khittah NU 1926 dalam masalah politik. PKB yang dimaksudkan sebagai sayap politik NU, kini justru terkesan mengendalikan organisasi NU dan organisasi di bawah NU.
    Nuansa paradigma partai politik dan pragmatisme amat terasa di dalam organisasi NU dan sejumlah badan otonom di bawahnya.
    Perlu dirawat
    Organisasi NU didirikan oleh para ulama yang penuh keikhlasan, jauh dari popularitas. NU pernah diejek sebagai kelompok sarungan, "teklekan", dan dianggap oportunis saat menjadi partai politik, serta ketinggalan zaman.
    Kini banyak kiai NU tidak canggung memakai sarung tampil dalam berbagai kesempatan, termasuk di Istana Merdeka, bahkan Presiden hadir dalam pembukaan Muktamar NU dengan memakai sarung.
    Bersama Muhammadiyah, NU kini menjadi organisasi dan komunitas yang dianggap sebagai pengawal negara dan penjaga moral bangsa.
    Tentu itu harus disyukuri dengan merawatnya sesuai harapan para ulama pendiri NU. Hasyim Asy'ari menyatakan bahwa santri yang baik adalah santri yang ketika pulang ke rumah masing-masing bisa menerapkan apa yang diperolehnya di pesantren.
    Berarti para santri harus menunjukkan akhlak dan moralitas ketika tamat dari pesantren dan bergiat sebagai apa pun.
    Untuk bisa berperan menjadi penjaga moral bangsa, terlebih dulu moral para petinggi NU harus baik. Petinggi NU harus bisa betul-betul menjadi pemimpin. 
    Petinggi NU harus belajar pada pemimpin NU masa lalu, terutama saat NU belum menjadi partai politik, karena NU kini bukan partai politik.
    Petinggi NU harus bisa menjadi negarawan bukan politisi. Roh jihad yang amat menipis perlu segera ditumbuhkan kembali. Petinggi NU harus bisa betul-betul memberi manfaat bagi NU, bukan hanya pandai memanfaatkan NU.

    Salahuddin Wahid
    Pengasuh Pesantren Tebuireng

    Angkatan Pertama Pelatihan Kader Pesantren Tebuireng

    Angkatan Pertama Pelatihan Kader Pesantren Tebuireng
    Angkatan Pertama Pelatihan Kader Pesantren Tebuireng

    Di Pesantren Tebuireng 2 yang terletak di Desa Jombok Ngoro Jombang, sebelah selatan Ponpes Utama Pesantren Tebuireng kira2 10 KM. telah berlangsung peresmian Gedung baru untuk Pelatihan Kader Tebuireng, bersama itu juga sedang berlangsung pelantikan para Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, diantaranya :

    Pelantikan:

    1. Wakil Pengasuh : H. Abdul Khakim Mahfudz
    2. Sekretaris Utama : Ir. H. Abdul Ghofar
    3. Mudir Pengembangan Pondok Baru : H. Abdul Halim Mahfudz
    4. Mudir Pembinaan Bidang Pendidikan : H. Kusnadi Said
    5. Mudir Pembinaan Bidang Pondok : H. Lukman Hakim
    6. Mudir Bidang Investasi & Optimalisasi Aset : H. A. Baidlowi
    7. Wakil Pengasuh Pondok Putri : Hj. Aisyah Muhammad

    Semoga beliau - beliau semua diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat yang diberikan. Amin Y Rabbal Alamin....
    Pelantikan langsung disampaikan oleh K.H. Salahuddin Wahid.

    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru
    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru

    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru
    Wakil Pengasuh Tebuireng Baru


    , ,

    Di Pesantren Tebuireng 2 yang terletak di Desa Jombok Ngoro Jombang, sebelah selatan Ponpes Utama Pesantren Tebuireng kira2 10 KM. sedang berlangsung peresmian Gedung baru untuk Pelatihan Kader Tebuireng, bersama itu juga sedang berlangsung pelantikan para Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, diantaranya :

    Pelantikan:

    1. Wakil Pengasuh : H. Abdul Khakim Mahfudz
    2. Sekretaris Utama : Ir. H. Abdul Ghofar
    3. Mudir Pengembangan Pondok Baru : H. Abdul Halim Mahfudz
    4. Mudir Pembinaan Bidang Pendidikan : H. Kusnadi Said
    5. Mudir Pembinaan Bidang Pondok : H. Lukman Hakim
    6. Mudir Bidang Investasi & Optimalisasi Aset : H. A. Baidlowi
    7. Wakil Pengasuh Pondok Putri : Hj. Aisyah Muhammad

    Semoga beliau - beliau semua diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat yang diberikan. Amin Y Rabbal Alamin....
    Pelantikan langsung disampaikan oleh K.H. Salahuddin Wahid.





     



    Layar monitor elektrokardiograf di ruang ICU terus bergerak. Grafiknya yang bergerak naik turun masih menandakan aktivitas jantung normal. Namun tubuhnya yang lemah tidak mampu ia kendalikan, bahkan untuk membuka kedua matanya ia tak mampu. Sudah hampir satu bulan ia tergeletak tak berdaya dalam keadaan koma dan kritis. Lelaki gagah yang selalu kuidolakan, sekarang sedang mengalami masa sulitnya, dan aku benar-benar tak mampu menolong karena faktor ekonomi keluargaku yang pas-pasan.
    Kehidupan abah tergolong sederhana, Di era dimana semua guru seangkatannya telah diangkat menjadi pegawai negeri dan mendapat tunjangan dana pensiunan. Beliau tetap menjadi guru honorer yang bahkan untuk menghidupi kehidupannya sehari-hari beliau tak mampu. Belakangan ini beliau melawan penyakit yang dideritanya. Tubuh tegapnya sedikit demi sedikit diusik oleh penyakitnya. Namun pribadinya yang kuat tak pernah terkalahkan.
    Aku menatap wajahnya yang sendu, siang malam hanya do’a yang bisa ku lantunkan, meminta belas kasih Tuhan dan keajaiban yang datang menghampiri sang guru sejati, setidaknya bagiku, dan bagi orang-orang terdekatnya. Dalam kesunyian malam aku terbuai pada kharismanya yang membawaku mengarungi alam bawah sadar untuk merekamnya kembali dalam ingatan.
    Matahari menyapa pagi, kutemui sosok pahlawanku sudah siap dengan pakaian dinas kebanggaannya. Ia tersenyum menyapaku dan ibu yang telah duduk manis di meja makan. Tempat inilah menjadi saksi bisu, bahwa sosok didepanku selalu mengajariku makna penting dari komunikasi, disinilah keluargaku selalu bercerita semua aktivitasnya seharian.
    “Abah, Cici ikut berangkat bareng abah ya,” gumamku.
    “Kalo kau berangkat sama abah, bagaimana dengan teman-temanmu, berjalanlah bersama, gandenglah tangan teman-temanmu ci,” nasehatnya lembut. Aku termangu dengan ucapannya. Lantas ia bangkit dan menyalamiku.
    Dari kejauhan aku melihat punggungnya yang makin lama menghilang dari pandanganku bersama biola dan onthel kesayangannya. Dia telah menghilang dari pelataran rumah sebelum matahari tersenyum sempurna.
    Aku dan abah berada di sekolah yang sama, aku sebagai murid dan abah seorang tenaga pengajar. sekolah kami termasuk elit pada akhir abad ke 19-an, yang dikelola langsung oleh pemerintah daerah setempat. Abah termasuk guru tetua di sekolah ini, Ia mulai mengajar sejak genap berkepala dua. Hampir semua penduduk desa mengenal abah sebagai sosok guru yang menyenangkan. Selain pintar membawa suasana abah selalu menganalogikan pelajarannya dengan alunan nada dari biola.
    Namun aku tak pernah diajar olehnya, abah selalu menghindari kelasku. Ia memberi alasan kepadaku agar tetap profesional dan terhindar dari pandangan subjektif dari yang lain. Aku selalu mencuri dengar abah mengajar, namun abah menegurku agar kembali ke kelas, dan sesampainya di rumah aku dinasihatinya agar tidak mengulangi lagi. Abah selalu mengingatkanku, “Jika mengabaikan kalimat guru walau hanya satu detik bagaikan kehilangan mata rantai gelang emas.”
    Sepulang sekolah kutemui umi sedang memangkas daun-daun yang rusak dimakan ulat. Rumah keluargaku tidak besar namun terlihat asri, dipenuhi dengan bunga-bunga melati yang tumbuh subur. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah piano tua yang selalu dimainkan abah sepulangnya dari sekolah. Piano tersebut ia dapatkan setelah memenangkan sayembara cipta lagu.
    Kegemarannya bermusik terus ia tekuni, aku selalu berlari ke arahnya dan duduk disampingnya ketika tuts piano mulai dimainkan oleh jari jemarinya yang gemulai, terkadang tanpa sadar aku hanyut dan ikut bernyanyi dengan alunannya.
    “Hidup itu seperti alunan musik, yang harus kita dengar, rasakan, dan kita nikmati,” ungkapnya disela-sela permainan.  Aku pun hanya mengangguk dan melemparkan senyum manisku padanya.
    ****
    Aku tersentak dan terbangun dari lamunanku, seketika aku melihat layar monitor elektrodiograf yang tidak stabil, dengan semua rasa panik aku berlari mencari dokter. Tim medis memasuki ruangan ICU, mereka melarangku untuk memasuki ruangan, dengan berat hati aku dan suamiku menunggu di luar ruangan sambil berdo’a dan terus memohon.
    Logikaku tak utuh, rasa khawatir dan takut menyusup ke sanubariku. Aku merasa duniaku akan berhenti, isak tangis menyesakan jiwa, beruntung suamiku setia menemaniku dan menenangkanku.
    “Jangan khawatir, abah baik-baik saja,” ucapnya menenangkan.
    Tim medis satu persatu keluar dari ruangan, segera mungkin aku menemuinya, dengan tenang aku bertanya pada dokter dengan memaksa, “Bagaimana dokter, bagaimana keadaan abah saya?” Namun sang dokter hanya menggelengkan kepala dan bergumam lirih. “Maaf Tuhan telah berkehendak lain, yang sabar bu,” ucapnya sambil berbela sungkawa.
    Seketika aku berlari memasuki ruangan, segera aku peluk abah yang kini telah terbujur kaku, ruangan itu kini pecah dengan suara isakan tangisku. Suamiku segera menyadarkanku, aku lihat wajah abah, ia memberikan senyuman terakhirnya padaku. Aku bangga menjadi bagian dari sejarahnya.
    Beliau adalah sosok yang selalu mengajarkan makna keikhlasan dan pengabdian sejati. Bahwa mengabdi adalah memberi tanpa mengharap jasa. Dan perjalanan hidup abah menyiratkan makna kehidupan.
    Jasad abah kini siap dikebumikan, aku dan keluarga tak pernah menyangka banyak pelayat yang datang berbondong-bondong mengucapkan bela sungkawa. Satu lagi kejutan yang datang menjadi bagian dari hadiah untuk abah. Semua murid abah datang dari semua penjuru kota. Mereka berjajar rapi sambil memainkan biola, dawai-dawai itu menyatu, menghasilkan aliran irama merdu nan syahdu.
    “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
    Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
    Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
    Sebagai prasasti terima kasiku, tuk pengabdianmu
    Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
    Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan,
    Engkau patriot pahlawan bangsa
    Tanpa tanda jasa.”

    Lagu yang beliau ciptakan pada sayembara “Hari Pendidikan Nasional” tahun 1980, “Hymne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, telah mewakili perjuangan dan pengabdiannya selama 24 tahun.
    *tulisan ini hanya fiktif belaka, namun terinspirasi dari kehidupan Pak Sartono pencipta lagu “Hymne guru” asal Madiun. Penulis adalah Mahasantri Putri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng semester 5 dan aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang.


Top