Habiby87. Diberdayakan oleh Blogger.
Blog Archive
-
▼
2017
(45)
-
▼
9 Juli - 16 Juli
(23)
- Hukum Mufaraqah dari Sholat Jumat
- Hukum Jual Beli dengan Sistem Kredit?
- Ini Hukum Kesenian Kuda Lumping Oleh : Ustadz Yusu...
- Keistimewaan Bulan Berkah Oleh : KH. Fauzan Kemal...
- Hati dan Pemimpin yang Baik Oleh : KH. Fahmi Amrul...
- Unhasy Resmikan Program Posdaya Berbasis Masjid
- Prof. Haris Supratno: KKNT Unhasy Juga Bawa Nama P...
- 5 Keuntungan yang Hanya Bisa Didapat di Pesantren
- Cak Jahlun Banjir
- Cak Jahlun Jalan-jalan
- KH. Irfan Sholeh Sampaikan 3 Ciri Hidup Bahagia pa...
- Profil SMA Abdul Wahid Hasyim Tebuireng
- Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng 2017 – 2018
- Kuliah Umum Prof. Dr. Muhammad D. Al Amri , Ilmuwa...
- PROFIL SMA TRENSAINS TEBUIRENG (PESANTREN SAINS)
- Mengedarkan Kotak Amal Saat Khutbah Berlangsung
- Pada Sebuah Asa
- Tetesan Barokah Cak Jahlun
- KPID: Saatnya Dai Pesantren Belajar Tampil ‘Keren’
- Dasar Keutamaan Ibadah Oleh: Drs. KH. Junaedi Hidayat
- Muslim yang Belum Islami Oleh KH. A. Musta’in Syaf...
- Dukung KPK Lawan Pansus Angket, Tokoh Lintas Agama...
- Lulusan Perdana SMA Trensains Tebuireng Berhasil T...
- ► 2 Juli - 9 Juli (15)
- ► 25 Juni - 2 Juli (7)
-
▼
9 Juli - 16 Juli
(23)
-
►
2016
(11)
- ► 29 Mei - 5 Juni (3)
-
►
2015
(209)
- ► 26 Juli - 2 Agustus (1)
- ► 12 Juli - 19 Juli (27)
- ► 5 Juli - 12 Juli (10)
- ► 7 Juni - 14 Juni (1)
- ► 24 Mei - 31 Mei (11)
- ► 17 Mei - 24 Mei (20)
- ► 10 Mei - 17 Mei (14)
- ► 3 Mei - 10 Mei (5)
- ► 19 April - 26 April (37)
- ► 12 April - 19 April (34)
Cari Blog Ini
Label
Mengenai Saya
Pendidikan, Terkini
Atap Rumah Salah Satu Karyawan Yaitu Bapak Zarqoni Widodo di SMA Trensains Tebuireng Terhempas oleh angin Ribut akibat Hujan
Hujan yang melanda daerah JOmbok dan sekitarnya, termasuk lokasi di rumah salah satu karyawan SMA Trensains Tebuireng Jombang yang terletak di batan blaru badas kediri, mengakibatkan atap rumah yang terbuat dari asbes itu rontok.
Setidaknya ada sekitar 6 buah papan asbes ukuran 80 cm x 2 meter itu hancur tertiup angin. tetapi tidak sampai menimbulkan korban jiwa. selain itu, pohon keres yang terdapat di depan rumah juga ikut tumbang.
Hujan yang melanda daerah jombok dan sekitarnya ini sangat deras sekali, selain hujan yang lebat, angin berhembus kencang juga menyertai hujan yang turun sekitar 2 jam tersebut.
Tadi siang, para pimpinan SMA Trensains Tebuireng melakukan sidak langsung ke rumah yang terkena musibah, dengan harapan bisa membantu mencarikan solusi atas musibah yang menimpa ini.
berikut sebagian dokumentasi atas kejadian yang melanda salah satu karyawan tersebut.
untuk mengetahui kondisi terkini, silahkan klik videonya di sini :
Sastra
Itu cuma warung makan di depan masjid. Warung makan kecil yang tak berpintu. Hanya bermodal meja dan kursi panjang. Lebih mirip dengan kios di pasar. Tapi kau tahu, jika penjualnya bicara, semua pembelinya akan terdiam menghayati kata-kata yang mengalir dari mulutnya.
Bisa dibilang itu adalah warung favorit para santri Pondok Jagalan. Penjualnya adalah wanita yang umurnya melebihi lima puluh, namun tubuhnya sangat energik. Santri-santri menyebutnya Mak Tami. Warung ini juga dekat dengan Kali Gelis yang membelah antara Jombang Barat dan Jombang Timur.
Menu-menu yang disajikan beragam, dan keseluruhannya tradisional. Nasi pecel, nasi lodeh, nasi campur, mendoan, rujak, pisang goreng, dan sejenisnya. Kenapa bisa menjadi langganan para santri?
“Kenyang dan murah,” kata Kang Arip yang telah mondok lima tahun.
Memang mendoan di manapun berada berharga lima ratus perak. Tetapi, mendoan Mak Tami adalah mendoan jumbo yang lebih besar dari umumnya.
Aku juga sering ke warung itu, bersama dengan teman-teman santri akrab berjalan sekitar tiga ratus meter dari Pondok Jagalan. Tak ada yang istimewa selain porsi yang melebihi warung lain. Harganya pun sama.Hanya saja, dalam menyajikan minuman, Mak Tami tidak terlalu ahli. Setiap kali ia menuangkan teh panas ke dalam gelas, selalu saja ada yang jatuh ke meja, membuat meja tampak becek. Gula-gula yang beralih dari toplesnya pun banyak tercecer seolah ia bukan penyaji minuman yang ahli.
Mak Tami hanya menyerahkan senyumnya pada anak kecil, bisa dibilang cuek, dan mudah marah. Orangnya pendek, lumayan kurus, dan rambutnya yang perlahan memutih terikat dengan gelang karet yang biasanya digunakan sebagai pengikat bungkus nasi.
Lebih tepatnya warung ini berada di depan masjid Kaujon, setelah menyeberang jalan kecil, jalan desa. Mak Tami berjualan hanya pada siang hari. Ia menata dagangannya sekitar jam satu usai dhuhur dan mungkin akan habis sebelum matahari tertelan ufuk barat. Tidak ada warung lain di dekat warung Mak Tami. Kalaupun ada, itu sudah berjarak lebih dari lima puluh meter. Yang ada cuma jasa pemarutan kelapa yang kadang buka, kadang tutup. Dan di sampingnya lagi sebuah bengkel yang terlalu sering sepi karena letaknya yang tidak strategis. Di samping masjid, berjajar pula kios-kios penjual barang mentah, minyak tanah, beras, dan juga bahan-bahan konveksi.
Karena terletak di pinggiran kota, pepohonan tumbuh sangat jarang. Hanya tanaman-tanaman dan bunga-bunga dalam pot. Selebihnya rumput yang tumbuh secara liar dan ganas. Di belakang masjid, tumbuh pohon matoa yang lumayan banyak. Namun aku hanya bisa memandangnya ketika pohon itu berbuah dan buahnya masak.
Jika ditanya pondok mana yang paling dekat dengan masjid Kaujon, jawabannya adalah Pondok Jagalan. Pondok di mana aku berada, mengisi waktu dan hari dengan mengaji dan menuntut ilmu agama. Pondok ini ramai. Walaupun jumlah santrinya hanya berkisar 300-an, tetapi tidak sebanding dengan luas pondok yang ada.
Suatu hari, sekolahku mengadakan seminar motivasi dengan menghadirkan motivator nasional dari Jakarta. Seminar itu dihadiri oleh ribuan peserta dari Jombang maupun luar Jombang. Aku sangat tercengang sekali. Seumur hidup aku di pondok hanya berkelut dengan selimut kotor, kitab-kitab kuno, dan wajah kusam sahabat karibku. Tak pernah aku merasakan duduk di kursi seminar yang dibelongsong dengan kain mewah. Saat hendak duduk, aku harus berhati-hati jangan sampai kain itu kusut dan terlipat.
Acara ini digelar atas kerja sama antara sekolahku sebagai panitia penyelenggara dan sebuah lembaga di Jakarta sebagai penyokong dana. “Menurut Winston Chuchill, keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat,” tutur Sang Motivator.
Aku manggut-manggut. Aku pikir semua temanku yang datang juga terkejut. “Oh, ternyata selama ini kita tak tahu apa-apa. Kita hidup di pondok pesantren dan tidak melihat kenyataan hidup yang terang benderang seperti ini.”
Sang Motivator itu pun melanjutkan dengan kutipan orang lain, “Seorang yang sukses adalah dia yang bisa meletakkan pondasi kokoh dengan menggunakan batu bata yang dilemparkan orang lain kepadanya, kata David Brinkley.”
Dalam sesi tanya-jawab, seseorang mengacungkan tangan dan menerima microphone, lalu bertanya dengan penuh semangat, “Bapak, mengapa Bapak sangat mendorong orang-orang untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan, padahal Albert Einstein pernah bilang, ‘Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.’ Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses, melainkan orang yang bernilai. Dan kata-kata ini juga senada dengan perkataan Ranchodas SC dalam film 3 Idiots. ‘Jangan bermimpi menjadi orang sukses. Bermimpilah menjadi orang besar, maka sukses akan mengikutimu.’ Bagaimana Bapak menanggapi ini? Terima kasih,” pungkas si penanya.
Sebelum pertanyaan itu terjawab, ada sesuatu yang mengganjal dalam isi kepalaku. Aku segera bangkit dari kursi dan tak mempedulikan lipatan-lipatan yang ada di belongsongnya. Aku keluar tanpa tanda tanya dari Kang Arip yang tadi di sebelahku. Setelah melewati ribuan kursi, akhirnya aku sampai di pintu keluar. Aku tak merasakan udara buatan AC lagi.
Beberapa resepsionis memandangiku dengan tatapan aneh. Mereka mengira aku mencari toilet, atau minta tambahan snack. Tapi aku lebih memilih beranjak ke bawah pohon yang tumbuh melengkung di depan gedung penyelenggaraan itu. Aku pun tak mengenali pohon apa itu. Setelah pantatku menyentuh rerumputan, aku menemukan apa yang sedari tadi mengganjal di dalam isi kepalaku. Oh, itu sebuah pertanyaan.
“Kenapa setiap orang yang ada di gedung itu mengutip kata-kata orang lain?”
***
“Kau tahu Winston Chuchill?” tanya Kang Arip pada Mahmudi yang sedang khusyuk menelaah kitab Safinatun Naja.
Mahmudi menaikkan kedua alisnya, pertanda ia tak tahu apa yang Kang Arip katakan. Menyebut nama itu pun susahnya bukan main, lebih susah daripada mengucapkan makharijul huruf. Mahmudi menggeleng kepala. “Siapa?”
“Winston Chuchill, tokoh terkenal internasional…” Kang Arip mengadahkan dagunya. “Tidak tahu kan? Kalo Albert Einstein? Pasti tidak tahu! Apalagi David Brinkley.”
Mahmudi mengalihkan pandangannya dari kitab yang sedang ia baca. “Kalau Imam Bukhori saya tahu, Kang. Namanya Muhammad bin Ismail, lahir di Bukhara tahun 810 Masehi. Tapi kalau nama yang Anda sebutkan tadi saya gak kenal sama sekali.”
“Winston Chucill, Albert Einstein, David Brinkley,” Kang Arip mengulangi lagi. “Coba sebutkan!”
“Gak bisa, ah!”
Kang Arip berseloroh. “Hahaha… makanya ikut seminar kemarin, jangan ngaji kitab gituan terus. Kapan kita bisa maju? Buktinya, kamu ndeso, kan?”
Mahmudi kehabisan kalimat. Kami masih melingkar berempat.
“Kang Arip, ikut aku yuk,” ajak Kang Qorib, teman sekamarku selain Mahmudi dan Kang Arip.
“Kemana?”
“Ke tempat di mana kita akan memborong banyak kutipan.”
“Di mana itu?”
“Warnet.”
“Warnet? Haram. Itu pelanggaran,” tolak Kang Arip.
“Tidak masalah, cuma sekali-kali, yang penting kita bisa mendapatkan kata-kata dari orang terkenal yang tingkatnya sudah internasional.”
Setelah dibujuk berapa lama, akhirnya Kang Arip mengikuti ajakan Kang Qorib. Mereka berdua berangkat dengan pakaian ala santri, mengendap-endap seperti tahanan lapas yang mau melarikan diri.
Sedangkan aku dan Mahmudi pergi ke warung Mak Tami dua jam setelah matahari tergelincir. Di warung itu, aku memesan nasi pecel, sedangkan Mahmudi memesan menu yang sama. Kebiasaan kami minum air putih dari teko yang telah disediakan.
Di tengah suap nasi pecel, datang seorang ibu membawa anaknya yang baru pulang dari sekolah. Ibu itu berniat membeli lauk yang akan dimakan di rumah. Sehabis ibu itu memesan dan membayar, Mak Tami memasukkan dua mendoan ke dalam plastik bersama dengan pesanan ibu itu secara gratis. “Ini buat adek,” kata Mak Tami dengan senyumnya. “Sekolah yang rajin, ya.”
Mak Tami memang terkadang begitu, memberikan gratisan kepada pelanggan. Apalagi kalau azan maghrib sudah terdengar, semua dagangannya akan digratiskan kepada santri yang datang.
“Sekarang kecipir susah nyarinya di pasar,” kata Mak Tami tiba-tiba. “Jadi pecelnya ya tidak ada kecipirnya.”
Aku baru menyadari kalau nasi pecel yang aku makan memang tidak ada sayuran merambat itu. Tapi aku rasa, kenikmatannya sama saja. Karena inti dari sebuah hidangan nasi pecel adalah sayur-sayuran dan bumbu kacang. Biasanya kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan kol. Tapi setiap kabupaten memiliki pecelnya sendiri-sendiri.
“Tidak apa-apa, Mak,” balasku. “Rasanya sama saja.” Kini yang sedang duduk di warung ini hanya aku, Mahmudi, dan Mak Tami saja. Karena jam ramai telah berlalu tadi.
“Kecipir itu aslinya enak, mirip dengan bengkuang. Warnanya hijau, bentuknya panjang, rela dipotong-potong demi untuk dibuat nasi pecel. Bila belimbing memiliki lima sudut, kecipir memiliki empat sudut. Lima atau empat sama saja bagusnya.”
“Kalau yang lain, Mak? Apa masih gampang nyarinya?”
“Kalau gampang sih gampang! Harganya itu lho, kian hari kian melonjak, walaupun dua ratus rupiah. Jadi nasi pecel itu ibarat seorang anak yang diperjuangkan oleh orang banyak, seperti kalian. Nasi pecel itu tidak cuma dibuat dari satu bahan saja, tapi racikan dari beberapa sayuran dan bumbu. Kalian juga seperti itu, diperjuangkan oleh orangtua kalian, oleh saudara kalian, teman kalian sekamar, dan oleh Mbah Yai.”
Aku mengangguk mendengar kata-kata Mak Tami, sekaligus tertegun sadar bahwa diriku kini diperjuangkan. “Kalau nasi campur, Mak?”
“Nasi campur juga kumpulan dari beberapa bahan, mie, kering, tahu. Tapi bahan-bahannya tidak alami. Sedangkan nasi pecel alami, tanpa adanya proses sebelumnya selain cuma digodok dan diulek.”
“Hubungannya sama kita apa Mak? Ada gak?”
“Oh, ada. Itu menjadi sebuah pesan. Kalian harus menjadi alami, jangan sampai kalian dipengaruhi oleh hal-hal asing. Pemikiran kalian harus tetap berpijak pada kitab-kitab para ulama, kitabnya anak pondok. Jangan kagum dengan pemikiran-pemikiran orang Barat yang sesat. Apalagi perilaku mereka yang serba maksiat. Berpakaian saja tidak benar. Hi… aku malah risih.”
“O, begitu ya, Mak. Kalau mengikuti seminar boleh apa tidak?”
“Seminar? Ya boleh-boleh saja. Itu malah perlu. Tapi ingat, kita harus punya misi. Jangan sampai kita terbawa arus, kitalah yang harus membuat arus.”
Tak terasa nasi di piringku sudah habis. Setelah aku meneguk segelas air putih, aku dan Mahmudi langsung membayar. Kami berjalan melewati Masjid Kaujon yang telah menabuh bedug ashar.
Aku berkata pada Mahmudi bahwa kebanyakan mengutip kata-kata orang terkenal tidaklah baik. Percapakan dengan Mak Tami tadi hanyalah percakapan singkat. Dan aku yakin, Mak Tami yang kerjanya jualan nasi pecel itu lebih kolot dari kami semua. Tapi dia tetap mempertahankan kekolotan itu, karena kemodernan tidak bisa membuat ia menjadi lebih baik.
“Itu tadi cuma percakapan singkat. Sejak perkataannya kepada anak SD tadi ‘sekolah yang rajin ya’ sudah membuat hatiku berubah. Itu adalah sebuah kutipan. Kutipan yang biasa dipakai banyak orangtua, walaupun tidak keluar dari mulut internasional. Kalimat itu sudah menjadi penyemangat disertai dua buah mendoan.”
“Kalau begitu, kini saatnya kata-kata kita dikutip,” kata Mahmudi.
*) Penulis adalah Hilmi Abdillah, aktif di Sanggar Kepoedang (Komunitas Penulis Muda Tebuireng) Pesantren Tebuireng Jombang.Cerpen ini pernah dimuat di Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) pada minggu (14/05/15)
Bisa dibilang itu adalah warung favorit para santri Pondok Jagalan. Penjualnya adalah wanita yang umurnya melebihi lima puluh, namun tubuhnya sangat energik. Santri-santri menyebutnya Mak Tami. Warung ini juga dekat dengan Kali Gelis yang membelah antara Jombang Barat dan Jombang Timur.
Menu-menu yang disajikan beragam, dan keseluruhannya tradisional. Nasi pecel, nasi lodeh, nasi campur, mendoan, rujak, pisang goreng, dan sejenisnya. Kenapa bisa menjadi langganan para santri?
“Kenyang dan murah,” kata Kang Arip yang telah mondok lima tahun.
Memang mendoan di manapun berada berharga lima ratus perak. Tetapi, mendoan Mak Tami adalah mendoan jumbo yang lebih besar dari umumnya.
Aku juga sering ke warung itu, bersama dengan teman-teman santri akrab berjalan sekitar tiga ratus meter dari Pondok Jagalan. Tak ada yang istimewa selain porsi yang melebihi warung lain. Harganya pun sama.Hanya saja, dalam menyajikan minuman, Mak Tami tidak terlalu ahli. Setiap kali ia menuangkan teh panas ke dalam gelas, selalu saja ada yang jatuh ke meja, membuat meja tampak becek. Gula-gula yang beralih dari toplesnya pun banyak tercecer seolah ia bukan penyaji minuman yang ahli.
Mak Tami hanya menyerahkan senyumnya pada anak kecil, bisa dibilang cuek, dan mudah marah. Orangnya pendek, lumayan kurus, dan rambutnya yang perlahan memutih terikat dengan gelang karet yang biasanya digunakan sebagai pengikat bungkus nasi.
Lebih tepatnya warung ini berada di depan masjid Kaujon, setelah menyeberang jalan kecil, jalan desa. Mak Tami berjualan hanya pada siang hari. Ia menata dagangannya sekitar jam satu usai dhuhur dan mungkin akan habis sebelum matahari tertelan ufuk barat. Tidak ada warung lain di dekat warung Mak Tami. Kalaupun ada, itu sudah berjarak lebih dari lima puluh meter. Yang ada cuma jasa pemarutan kelapa yang kadang buka, kadang tutup. Dan di sampingnya lagi sebuah bengkel yang terlalu sering sepi karena letaknya yang tidak strategis. Di samping masjid, berjajar pula kios-kios penjual barang mentah, minyak tanah, beras, dan juga bahan-bahan konveksi.
Karena terletak di pinggiran kota, pepohonan tumbuh sangat jarang. Hanya tanaman-tanaman dan bunga-bunga dalam pot. Selebihnya rumput yang tumbuh secara liar dan ganas. Di belakang masjid, tumbuh pohon matoa yang lumayan banyak. Namun aku hanya bisa memandangnya ketika pohon itu berbuah dan buahnya masak.
Jika ditanya pondok mana yang paling dekat dengan masjid Kaujon, jawabannya adalah Pondok Jagalan. Pondok di mana aku berada, mengisi waktu dan hari dengan mengaji dan menuntut ilmu agama. Pondok ini ramai. Walaupun jumlah santrinya hanya berkisar 300-an, tetapi tidak sebanding dengan luas pondok yang ada.
Suatu hari, sekolahku mengadakan seminar motivasi dengan menghadirkan motivator nasional dari Jakarta. Seminar itu dihadiri oleh ribuan peserta dari Jombang maupun luar Jombang. Aku sangat tercengang sekali. Seumur hidup aku di pondok hanya berkelut dengan selimut kotor, kitab-kitab kuno, dan wajah kusam sahabat karibku. Tak pernah aku merasakan duduk di kursi seminar yang dibelongsong dengan kain mewah. Saat hendak duduk, aku harus berhati-hati jangan sampai kain itu kusut dan terlipat.
Acara ini digelar atas kerja sama antara sekolahku sebagai panitia penyelenggara dan sebuah lembaga di Jakarta sebagai penyokong dana. “Menurut Winston Chuchill, keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat,” tutur Sang Motivator.
Aku manggut-manggut. Aku pikir semua temanku yang datang juga terkejut. “Oh, ternyata selama ini kita tak tahu apa-apa. Kita hidup di pondok pesantren dan tidak melihat kenyataan hidup yang terang benderang seperti ini.”
Sang Motivator itu pun melanjutkan dengan kutipan orang lain, “Seorang yang sukses adalah dia yang bisa meletakkan pondasi kokoh dengan menggunakan batu bata yang dilemparkan orang lain kepadanya, kata David Brinkley.”
Dalam sesi tanya-jawab, seseorang mengacungkan tangan dan menerima microphone, lalu bertanya dengan penuh semangat, “Bapak, mengapa Bapak sangat mendorong orang-orang untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan, padahal Albert Einstein pernah bilang, ‘Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.’ Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses, melainkan orang yang bernilai. Dan kata-kata ini juga senada dengan perkataan Ranchodas SC dalam film 3 Idiots. ‘Jangan bermimpi menjadi orang sukses. Bermimpilah menjadi orang besar, maka sukses akan mengikutimu.’ Bagaimana Bapak menanggapi ini? Terima kasih,” pungkas si penanya.
Sebelum pertanyaan itu terjawab, ada sesuatu yang mengganjal dalam isi kepalaku. Aku segera bangkit dari kursi dan tak mempedulikan lipatan-lipatan yang ada di belongsongnya. Aku keluar tanpa tanda tanya dari Kang Arip yang tadi di sebelahku. Setelah melewati ribuan kursi, akhirnya aku sampai di pintu keluar. Aku tak merasakan udara buatan AC lagi.
Beberapa resepsionis memandangiku dengan tatapan aneh. Mereka mengira aku mencari toilet, atau minta tambahan snack. Tapi aku lebih memilih beranjak ke bawah pohon yang tumbuh melengkung di depan gedung penyelenggaraan itu. Aku pun tak mengenali pohon apa itu. Setelah pantatku menyentuh rerumputan, aku menemukan apa yang sedari tadi mengganjal di dalam isi kepalaku. Oh, itu sebuah pertanyaan.
“Kenapa setiap orang yang ada di gedung itu mengutip kata-kata orang lain?”
***
“Kau tahu Winston Chuchill?” tanya Kang Arip pada Mahmudi yang sedang khusyuk menelaah kitab Safinatun Naja.
Mahmudi menaikkan kedua alisnya, pertanda ia tak tahu apa yang Kang Arip katakan. Menyebut nama itu pun susahnya bukan main, lebih susah daripada mengucapkan makharijul huruf. Mahmudi menggeleng kepala. “Siapa?”
“Winston Chuchill, tokoh terkenal internasional…” Kang Arip mengadahkan dagunya. “Tidak tahu kan? Kalo Albert Einstein? Pasti tidak tahu! Apalagi David Brinkley.”
Mahmudi mengalihkan pandangannya dari kitab yang sedang ia baca. “Kalau Imam Bukhori saya tahu, Kang. Namanya Muhammad bin Ismail, lahir di Bukhara tahun 810 Masehi. Tapi kalau nama yang Anda sebutkan tadi saya gak kenal sama sekali.”
“Winston Chucill, Albert Einstein, David Brinkley,” Kang Arip mengulangi lagi. “Coba sebutkan!”
“Gak bisa, ah!”
Kang Arip berseloroh. “Hahaha… makanya ikut seminar kemarin, jangan ngaji kitab gituan terus. Kapan kita bisa maju? Buktinya, kamu ndeso, kan?”
Mahmudi kehabisan kalimat. Kami masih melingkar berempat.
“Kang Arip, ikut aku yuk,” ajak Kang Qorib, teman sekamarku selain Mahmudi dan Kang Arip.
“Kemana?”
“Ke tempat di mana kita akan memborong banyak kutipan.”
“Di mana itu?”
“Warnet.”
“Warnet? Haram. Itu pelanggaran,” tolak Kang Arip.
“Tidak masalah, cuma sekali-kali, yang penting kita bisa mendapatkan kata-kata dari orang terkenal yang tingkatnya sudah internasional.”
Setelah dibujuk berapa lama, akhirnya Kang Arip mengikuti ajakan Kang Qorib. Mereka berdua berangkat dengan pakaian ala santri, mengendap-endap seperti tahanan lapas yang mau melarikan diri.
Sedangkan aku dan Mahmudi pergi ke warung Mak Tami dua jam setelah matahari tergelincir. Di warung itu, aku memesan nasi pecel, sedangkan Mahmudi memesan menu yang sama. Kebiasaan kami minum air putih dari teko yang telah disediakan.
Di tengah suap nasi pecel, datang seorang ibu membawa anaknya yang baru pulang dari sekolah. Ibu itu berniat membeli lauk yang akan dimakan di rumah. Sehabis ibu itu memesan dan membayar, Mak Tami memasukkan dua mendoan ke dalam plastik bersama dengan pesanan ibu itu secara gratis. “Ini buat adek,” kata Mak Tami dengan senyumnya. “Sekolah yang rajin, ya.”
Mak Tami memang terkadang begitu, memberikan gratisan kepada pelanggan. Apalagi kalau azan maghrib sudah terdengar, semua dagangannya akan digratiskan kepada santri yang datang.
“Sekarang kecipir susah nyarinya di pasar,” kata Mak Tami tiba-tiba. “Jadi pecelnya ya tidak ada kecipirnya.”
Aku baru menyadari kalau nasi pecel yang aku makan memang tidak ada sayuran merambat itu. Tapi aku rasa, kenikmatannya sama saja. Karena inti dari sebuah hidangan nasi pecel adalah sayur-sayuran dan bumbu kacang. Biasanya kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan kol. Tapi setiap kabupaten memiliki pecelnya sendiri-sendiri.
“Tidak apa-apa, Mak,” balasku. “Rasanya sama saja.” Kini yang sedang duduk di warung ini hanya aku, Mahmudi, dan Mak Tami saja. Karena jam ramai telah berlalu tadi.
“Kecipir itu aslinya enak, mirip dengan bengkuang. Warnanya hijau, bentuknya panjang, rela dipotong-potong demi untuk dibuat nasi pecel. Bila belimbing memiliki lima sudut, kecipir memiliki empat sudut. Lima atau empat sama saja bagusnya.”
“Kalau yang lain, Mak? Apa masih gampang nyarinya?”
“Kalau gampang sih gampang! Harganya itu lho, kian hari kian melonjak, walaupun dua ratus rupiah. Jadi nasi pecel itu ibarat seorang anak yang diperjuangkan oleh orang banyak, seperti kalian. Nasi pecel itu tidak cuma dibuat dari satu bahan saja, tapi racikan dari beberapa sayuran dan bumbu. Kalian juga seperti itu, diperjuangkan oleh orangtua kalian, oleh saudara kalian, teman kalian sekamar, dan oleh Mbah Yai.”
Aku mengangguk mendengar kata-kata Mak Tami, sekaligus tertegun sadar bahwa diriku kini diperjuangkan. “Kalau nasi campur, Mak?”
“Nasi campur juga kumpulan dari beberapa bahan, mie, kering, tahu. Tapi bahan-bahannya tidak alami. Sedangkan nasi pecel alami, tanpa adanya proses sebelumnya selain cuma digodok dan diulek.”
“Hubungannya sama kita apa Mak? Ada gak?”
“Oh, ada. Itu menjadi sebuah pesan. Kalian harus menjadi alami, jangan sampai kalian dipengaruhi oleh hal-hal asing. Pemikiran kalian harus tetap berpijak pada kitab-kitab para ulama, kitabnya anak pondok. Jangan kagum dengan pemikiran-pemikiran orang Barat yang sesat. Apalagi perilaku mereka yang serba maksiat. Berpakaian saja tidak benar. Hi… aku malah risih.”
“O, begitu ya, Mak. Kalau mengikuti seminar boleh apa tidak?”
“Seminar? Ya boleh-boleh saja. Itu malah perlu. Tapi ingat, kita harus punya misi. Jangan sampai kita terbawa arus, kitalah yang harus membuat arus.”
Tak terasa nasi di piringku sudah habis. Setelah aku meneguk segelas air putih, aku dan Mahmudi langsung membayar. Kami berjalan melewati Masjid Kaujon yang telah menabuh bedug ashar.
Aku berkata pada Mahmudi bahwa kebanyakan mengutip kata-kata orang terkenal tidaklah baik. Percapakan dengan Mak Tami tadi hanyalah percakapan singkat. Dan aku yakin, Mak Tami yang kerjanya jualan nasi pecel itu lebih kolot dari kami semua. Tapi dia tetap mempertahankan kekolotan itu, karena kemodernan tidak bisa membuat ia menjadi lebih baik.
“Itu tadi cuma percakapan singkat. Sejak perkataannya kepada anak SD tadi ‘sekolah yang rajin ya’ sudah membuat hatiku berubah. Itu adalah sebuah kutipan. Kutipan yang biasa dipakai banyak orangtua, walaupun tidak keluar dari mulut internasional. Kalimat itu sudah menjadi penyemangat disertai dua buah mendoan.”
“Kalau begitu, kini saatnya kata-kata kita dikutip,” kata Mahmudi.
*) Penulis adalah Hilmi Abdillah, aktif di Sanggar Kepoedang (Komunitas Penulis Muda Tebuireng) Pesantren Tebuireng Jombang.Cerpen ini pernah dimuat di Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) pada minggu (14/05/15)
Sastra
Nyaris dua tahun sudah aku mengecap ilmu di negeri para nabi, betapa kewibawaan Al-Azhar yang berdiri seribu tahun yang lalu pada Dinasti Fatimiyah masih tetap gagah dengan bangunan yang megah serta ulama yang ikhlas dan sabar tak terhingga dalam menularkan ilmu agama sehingga tersebarlah para penerusnya ke berbagai belahan dunia, maka pantaslah Al- Azhar di sebut sebagai ka’batul ‘ilm (pusatnya ilmu agama).
Hari semakin siang, setelah menghadiri majlis talaqqi di masjid Al-Azhar. Terik matahari yang semakin menyengat mencucurkan keringatku, asap kendaraan bermotor mengerutkan keningku menambah semangatku mempercepat langkahku ke halte busdarrosah(kawasan) perkuliahan mahasiswa.
Hampir tiga puluh menit aku menunggu bis angkutan umum berwarna merah “80/”(delapan puluh coret). Tapi aku putuskan untuk naik tramco untuk menghemat waktu. Setelah tramco penuh, sang sopir pun menjalankan mobil yang membawa kami. Di tengah perjalanan, tepatnya di nadi syurthah masih dekat dengan bu’uts(asrama putra mahasiswa Al-Azhar yang mendapat beasiswa dari Al-Azhar) aku melihat kejadian yang cukup unik dan menggelitik perut, aku pikir ini hanya terjadi disini dan tidak akan pernah aku lihat di Indonesia. Memang di Mesir ini banyak sekali hal-hal unik dan lucu yang belum pernah aku saksikan di negeriku sendiri. Saat itu sang sopir tramco menghentikan mobilnya di tengah jalan. Ia yang ketika itu sedang minum syaai sambil mengemudikan mobilnya, memberikan teh yang sempat ia nikmati kepada rekannya sesama sopir tramco yang juga berhenti tepat di sebelah tramco yang aku naiki. Padahal saat itu di belakang kami dan dibelakang tramco yang dikemudikan oleh kawan sopir tramco tadi terdapat beberapa mobil yang ingin melewati jalan tersebut. Jadilah mereka harus menuggu beberapa saat karena ulah kedua sopir tramco tersebut. Lucu dan menggelikan sekali kejadian tersebut. Masak sempat-sempatnya minum teh berdua di tengah jalan ketika sedang mengendarai mobil. Aku pun hanya bisa tersenyum kecut melihat hal itu. Di satu sisi aku melihat adanya hal positif dari kejadian itu, keinginan untuk saling berbagi dengan sesama. Di sisi lain, aku melihat kurang tepatnya si sopir untuk menempatkan sesuatu yang baik pada tempatnya. Berbagi itu baik dan indah namun kalau berbaginya dengan cara yang seperti itu, tidak bisa dibenarkan secara etika dan logika.
“Ayyuwah ‘ala ganbik ya asytho, niziil gaami’ ”dengan lantang kutirukan lahjah orang mesir memberitahu sopir agar diturunkan digami’ hay ‘asyir, kawasan yang sebagian besar di huni para mahasiswa Asia khususnya Indonesia.
Sekilas kusapu pandangan ke sekeliling kompleks gami’ kutarik napas dalam-dalam membiarkan penat hilang bersama hembusan nafas. Seketika perutku berdendang, tanpa pikir panjang aku langsung tancap ke syabrowi, restoran khas makanan Mesir. Sambil menenteng tha’miyyah bil bet, dinamit , dan tho’miyyah bil baadzinjaan aku teringat perkataan salah seorang seniorku, “Ibarat bendera Mesir, Merah menunjukkan perjuangan yang takkan pernah habisnya, Putih di nisbatkan kepada Nabi Musa yang perilakunya mulia, Hitam melambangkan kegelapan yang dikiblatkan ke Fir’aun, buruk lagi congkak tak terhingga”.
Adzan Dzuhur sudah berkumandang, kulewati jalan swessry. Langkahku tertahan memandang di luar sudut Masjid Jami’ Ar-Rohman, berjejer penjual qibdah(roti isi hati sapi), di samping kanannya duduk nenek berjubah yang di depannya tersedia dua rak ‘isy(roti dari gandum).
Nenek itu tersenyum ramah melihatku menghampirinya, “sepertinya dia sudah sering melihatku mondar mandir di jalan swessry” sangkaku. Memang kontrakanku tepat di belakang Masjid Jami’ Ar-Rohman. Rasa penasaranku semakin menjadi, kurogoh plastik bertuliskan syabrowi, “Ittafadholli ya mamah” sapaku sambil menyodorkan tho’miyyah. Mamahpun menerimanya dengan senang hati.
Agak rikuh untuk langsung bertanya, namun kupaksakan demi rasa penasaranku untuk mengobrol dengan mamah. Ada batu agak besar di samping jualan mamah, ku duduk sembari meletakkan ransel di pahaku. Penjual qibdah nongol dari gerobak qibdahnya “enta min siin?” tegurnya sambil memutar tutup tabung gas berwarna biru di sampingku. “La ah, ana anduniisi” sahutku. Masak kulitku yang berwana sawo matang ini dibilang orang Cina. Mamah hanya tersenyum mendengar kami berdua saling menyahut.
Selama ini jika orang Mesir bertanya masalah asal, tak jarang orang Mesir langsung selonong dengan pertanyaan,”apakah kamu berasal dari Cina atau tidak?”. Semua orang Asia dikira orang Cina. Entahlah, mungkin mereka buta warna dan bentuk wajah untuk membedakan antara orang Cina dan Indonesia.
Kumulai obrolanku menggunakan bahasa ‘ammiyyah , “Nama mamah siapa ?” .
“Nama saya? Panggil saja Ummu Isma’il” sahutnya dengan lirih dan senyum khasnya, mungkin sebab gigi mamah banyak yang tanggal. Terlihat guratan perjuangan kehidupan di wajahnya, rambut yang berselang-seling putih dan hitam, menarik diriku ingin tahu lebih dalam.
“Nama asli mamah siapa? Kenapa di panggil Ummu Isma’il” responku lebih dalam. “Apakah harus ya di sebutkan nama asli saya? Isma’il itu nama anak saya yang pertama sekarang umur enam belas tahun, juga ada dua orang anak perempuan juga di rumah”, jelas si mamah.
Kuberanikan bertanya lebih dalam lagi, “kenapa mamah disini setiap hari menju’al ‘isy disini? Kemana suami mamah?” seketika itu juga mamah memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong
“Suami saya juga penjual ‘isy juga”, saat kami ingin melanjutkan obrolan datang pembeli memanggil nama Ummu Isma’il seperti sudah tidak asing lagi dengan nama itu.
“Maaf nak, tadi mamah tinggal sebentar, semenjak enam tahun ditinggal suami, saya meneruskan usaha suami saya. Suami saya dulu terkena penyakit diabetes sehingga kedua kakinya di amputasi di rumah sakit, tapi saya tidak memutuskan semangatnya selalu berjualan ‘isy disini” sambil menunjuk ‘affas(sangkar dari kayu yang ia jadikan tempat duduk). Sontak aku tercenung. Kemudian kusahut dengan do’a “Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa ‘aafihi Wa’fu ‘anhu”
“Aamiin Ya Rabb… Aamiin” mamah menjawab dengan penuh khusyu’ dengan mencium perut dan punggung tangan kanannya kemudian menangadahkan tangannya ke atas langit.
‘Isy atau roti yang terbuat dari gandum merupakan makanan pokok orang Mesir, di sebut ‘isy karena kata ‘isy berasal dari kata‘aasya- ya’issyu yang bermakna kehidupan. Begitu juga kata mamah “ni’matul ma’isy bi akli ‘isy”(kenikmatan hidup di rasakan dengan memakan ‘isy). Aku mengangguk mengamini perkataan mama, walaupun dalam hati sebenarnya aku lebih suka nasi di bandingkan‘isy.
Dalam proses pembuatannya, konon sebelum membuat ‘isy, para tukang ‘isy salat dua raka’at terlebih dahulu, dengan harapan ‘isyakan memberikan keberkahan bagi penduduk Mesir.
“Suami saya Abu Isma’il wafat ketika selesai Shalat ‘Asar” dengan bangga dan bercampur haru mamah mencurahkan isi hatinya kepadaku.
“Apakah mamah tidak dapat biaya santunan dari Negara?” tanyaku.
“Demi Allah, bekerja dari keringat sendiri lebih baik dan berkah di bandingkan mendapat santunan, saya melarang diri saya untuk menerimanya” dengan santun mamah mengimbuhkan. Mamah yang berumur lebih dari enam puluh tahun ini tetap baik hati dan ramah melayani pelanggan walaupun kaki kiri mamah mulau ringkih termakan usia. Selalu saja setiap ada kenalan mamah lewat, mamah akan melambaikan tangan dengan senyum khas, dalam hatiku berkata “Ya Allah, masih ada orang seramah dan baik hati seperti mamah. Seandainya semua orang mesir baik hati seperti ini”.
Berkali – kali ku tawarkan air minum ke mamah, tapi ia tidak mau menerima. Justru mamah menawariku air yang mineral yang sudah lusuh berdebu.
Mamah dari tiga anak ini bekerja dari pukul delapan pagi sampai selesai isya’, semua dilakukannya dengan penuh semangat dan keikhlasan. Bahkan jika tiba waktu shalat, ia shalat tepat waktu. Penghasilan perhari yang ia raih mungkin hanya sekitar 20-30 L.E. (sekitar 42.000 rupiah) tapi itu tidak melunturkan semangatnya untuk menyekolahkan anaknya. Setiap hari dari bolak balikduwaia(kawasan sayyidah aisyah) ke ‘asyir dengan gagah dan ramah melayani para pembeli, bahkan kalau macet ia harus berangkat dari pagi buta.
“Misr ummu dunya (mesir intisari alam semesta)” hiburku ke mamah.
“Mamah suka lagu ummu kultsum?” tanyaku. “iya saya suka” jawab mamah. Ku keluarkan handphone dari saku celana kiriku lalu kuputar salah satu lagu ummu kultsum yang berjudul “aruuh li miin”. Seketika itu mamah melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong, “Almarhum Abu Isma’il juga suka lagu ummu kultsum” kata mamah.
Setelah selesai satu lagu, aku izin untuk meneruskan perjalanan menuju kontrakan. Sebelum beranjak pergi ku do’akan almarhum dan keluarga mamah agar selalu diberi kesehatan dan keberkahan di dalam hidupnya.
“Subhanallah” kuagungkan nama-Mu Ya Rabb, banyak hal kecil di sekitarku, namun aku kurang peka dalam menanggapinya. Sesungguhnya seseorang tidak mampu mengubah hati orang lain untuk berbaik sangka kepada dirinya, namun seseorang mampu mendidik hati diri sendiri untuk berbaik sangka kepada diri sendiri.
Bagi manusia yang berpikiran biasa, mungkin kebahagiaan itu terletak pada masa depan, pada pikirannya tentang teka-teki yang belum terlihat, mereka senang berpikir soal surga dengan ribuan kolam susu.
Namun, bagi manusia yang tercerahkan, kebahagiaan itu saat ini. Saat ia mampu menyeimbangkan hati, pikiran dan tindakan. Mereka yang tersenyum melihat dunia bekerja dan tidak pernah kecewa karenanya, karena kekecewaan adalah mesin cetak air mata.
Aku bangga padamu wahai Ummu Ismail. “Robbuna yubaarik fiik”.
Oleh : Arif Harmi Hidayatullah
*) Santri angkatan 2011, asal Bima Nusa Tenggara Barat. Sedang menempuh studi di Jami’ah Al-Azhar Kairo Mesir.
Hari semakin siang, setelah menghadiri majlis talaqqi di masjid Al-Azhar. Terik matahari yang semakin menyengat mencucurkan keringatku, asap kendaraan bermotor mengerutkan keningku menambah semangatku mempercepat langkahku ke halte busdarrosah(kawasan) perkuliahan mahasiswa.
Hampir tiga puluh menit aku menunggu bis angkutan umum berwarna merah “80/”(delapan puluh coret). Tapi aku putuskan untuk naik tramco untuk menghemat waktu. Setelah tramco penuh, sang sopir pun menjalankan mobil yang membawa kami. Di tengah perjalanan, tepatnya di nadi syurthah masih dekat dengan bu’uts(asrama putra mahasiswa Al-Azhar yang mendapat beasiswa dari Al-Azhar) aku melihat kejadian yang cukup unik dan menggelitik perut, aku pikir ini hanya terjadi disini dan tidak akan pernah aku lihat di Indonesia. Memang di Mesir ini banyak sekali hal-hal unik dan lucu yang belum pernah aku saksikan di negeriku sendiri. Saat itu sang sopir tramco menghentikan mobilnya di tengah jalan. Ia yang ketika itu sedang minum syaai sambil mengemudikan mobilnya, memberikan teh yang sempat ia nikmati kepada rekannya sesama sopir tramco yang juga berhenti tepat di sebelah tramco yang aku naiki. Padahal saat itu di belakang kami dan dibelakang tramco yang dikemudikan oleh kawan sopir tramco tadi terdapat beberapa mobil yang ingin melewati jalan tersebut. Jadilah mereka harus menuggu beberapa saat karena ulah kedua sopir tramco tersebut. Lucu dan menggelikan sekali kejadian tersebut. Masak sempat-sempatnya minum teh berdua di tengah jalan ketika sedang mengendarai mobil. Aku pun hanya bisa tersenyum kecut melihat hal itu. Di satu sisi aku melihat adanya hal positif dari kejadian itu, keinginan untuk saling berbagi dengan sesama. Di sisi lain, aku melihat kurang tepatnya si sopir untuk menempatkan sesuatu yang baik pada tempatnya. Berbagi itu baik dan indah namun kalau berbaginya dengan cara yang seperti itu, tidak bisa dibenarkan secara etika dan logika.
“Ayyuwah ‘ala ganbik ya asytho, niziil gaami’ ”dengan lantang kutirukan lahjah orang mesir memberitahu sopir agar diturunkan digami’ hay ‘asyir, kawasan yang sebagian besar di huni para mahasiswa Asia khususnya Indonesia.
Sekilas kusapu pandangan ke sekeliling kompleks gami’ kutarik napas dalam-dalam membiarkan penat hilang bersama hembusan nafas. Seketika perutku berdendang, tanpa pikir panjang aku langsung tancap ke syabrowi, restoran khas makanan Mesir. Sambil menenteng tha’miyyah bil bet, dinamit , dan tho’miyyah bil baadzinjaan aku teringat perkataan salah seorang seniorku, “Ibarat bendera Mesir, Merah menunjukkan perjuangan yang takkan pernah habisnya, Putih di nisbatkan kepada Nabi Musa yang perilakunya mulia, Hitam melambangkan kegelapan yang dikiblatkan ke Fir’aun, buruk lagi congkak tak terhingga”.
Adzan Dzuhur sudah berkumandang, kulewati jalan swessry. Langkahku tertahan memandang di luar sudut Masjid Jami’ Ar-Rohman, berjejer penjual qibdah(roti isi hati sapi), di samping kanannya duduk nenek berjubah yang di depannya tersedia dua rak ‘isy(roti dari gandum).
Nenek itu tersenyum ramah melihatku menghampirinya, “sepertinya dia sudah sering melihatku mondar mandir di jalan swessry” sangkaku. Memang kontrakanku tepat di belakang Masjid Jami’ Ar-Rohman. Rasa penasaranku semakin menjadi, kurogoh plastik bertuliskan syabrowi, “Ittafadholli ya mamah” sapaku sambil menyodorkan tho’miyyah. Mamahpun menerimanya dengan senang hati.
Agak rikuh untuk langsung bertanya, namun kupaksakan demi rasa penasaranku untuk mengobrol dengan mamah. Ada batu agak besar di samping jualan mamah, ku duduk sembari meletakkan ransel di pahaku. Penjual qibdah nongol dari gerobak qibdahnya “enta min siin?” tegurnya sambil memutar tutup tabung gas berwarna biru di sampingku. “La ah, ana anduniisi” sahutku. Masak kulitku yang berwana sawo matang ini dibilang orang Cina. Mamah hanya tersenyum mendengar kami berdua saling menyahut.
Selama ini jika orang Mesir bertanya masalah asal, tak jarang orang Mesir langsung selonong dengan pertanyaan,”apakah kamu berasal dari Cina atau tidak?”. Semua orang Asia dikira orang Cina. Entahlah, mungkin mereka buta warna dan bentuk wajah untuk membedakan antara orang Cina dan Indonesia.
Kumulai obrolanku menggunakan bahasa ‘ammiyyah , “Nama mamah siapa ?” .
“Nama saya? Panggil saja Ummu Isma’il” sahutnya dengan lirih dan senyum khasnya, mungkin sebab gigi mamah banyak yang tanggal. Terlihat guratan perjuangan kehidupan di wajahnya, rambut yang berselang-seling putih dan hitam, menarik diriku ingin tahu lebih dalam.
“Nama asli mamah siapa? Kenapa di panggil Ummu Isma’il” responku lebih dalam. “Apakah harus ya di sebutkan nama asli saya? Isma’il itu nama anak saya yang pertama sekarang umur enam belas tahun, juga ada dua orang anak perempuan juga di rumah”, jelas si mamah.
Kuberanikan bertanya lebih dalam lagi, “kenapa mamah disini setiap hari menju’al ‘isy disini? Kemana suami mamah?” seketika itu juga mamah memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong
“Suami saya juga penjual ‘isy juga”, saat kami ingin melanjutkan obrolan datang pembeli memanggil nama Ummu Isma’il seperti sudah tidak asing lagi dengan nama itu.
“Maaf nak, tadi mamah tinggal sebentar, semenjak enam tahun ditinggal suami, saya meneruskan usaha suami saya. Suami saya dulu terkena penyakit diabetes sehingga kedua kakinya di amputasi di rumah sakit, tapi saya tidak memutuskan semangatnya selalu berjualan ‘isy disini” sambil menunjuk ‘affas(sangkar dari kayu yang ia jadikan tempat duduk). Sontak aku tercenung. Kemudian kusahut dengan do’a “Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa ‘aafihi Wa’fu ‘anhu”
“Aamiin Ya Rabb… Aamiin” mamah menjawab dengan penuh khusyu’ dengan mencium perut dan punggung tangan kanannya kemudian menangadahkan tangannya ke atas langit.
‘Isy atau roti yang terbuat dari gandum merupakan makanan pokok orang Mesir, di sebut ‘isy karena kata ‘isy berasal dari kata‘aasya- ya’issyu yang bermakna kehidupan. Begitu juga kata mamah “ni’matul ma’isy bi akli ‘isy”(kenikmatan hidup di rasakan dengan memakan ‘isy). Aku mengangguk mengamini perkataan mama, walaupun dalam hati sebenarnya aku lebih suka nasi di bandingkan‘isy.
Dalam proses pembuatannya, konon sebelum membuat ‘isy, para tukang ‘isy salat dua raka’at terlebih dahulu, dengan harapan ‘isyakan memberikan keberkahan bagi penduduk Mesir.
“Suami saya Abu Isma’il wafat ketika selesai Shalat ‘Asar” dengan bangga dan bercampur haru mamah mencurahkan isi hatinya kepadaku.
“Apakah mamah tidak dapat biaya santunan dari Negara?” tanyaku.
“Demi Allah, bekerja dari keringat sendiri lebih baik dan berkah di bandingkan mendapat santunan, saya melarang diri saya untuk menerimanya” dengan santun mamah mengimbuhkan. Mamah yang berumur lebih dari enam puluh tahun ini tetap baik hati dan ramah melayani pelanggan walaupun kaki kiri mamah mulau ringkih termakan usia. Selalu saja setiap ada kenalan mamah lewat, mamah akan melambaikan tangan dengan senyum khas, dalam hatiku berkata “Ya Allah, masih ada orang seramah dan baik hati seperti mamah. Seandainya semua orang mesir baik hati seperti ini”.
Berkali – kali ku tawarkan air minum ke mamah, tapi ia tidak mau menerima. Justru mamah menawariku air yang mineral yang sudah lusuh berdebu.
Mamah dari tiga anak ini bekerja dari pukul delapan pagi sampai selesai isya’, semua dilakukannya dengan penuh semangat dan keikhlasan. Bahkan jika tiba waktu shalat, ia shalat tepat waktu. Penghasilan perhari yang ia raih mungkin hanya sekitar 20-30 L.E. (sekitar 42.000 rupiah) tapi itu tidak melunturkan semangatnya untuk menyekolahkan anaknya. Setiap hari dari bolak balikduwaia(kawasan sayyidah aisyah) ke ‘asyir dengan gagah dan ramah melayani para pembeli, bahkan kalau macet ia harus berangkat dari pagi buta.
“Misr ummu dunya (mesir intisari alam semesta)” hiburku ke mamah.
“Mamah suka lagu ummu kultsum?” tanyaku. “iya saya suka” jawab mamah. Ku keluarkan handphone dari saku celana kiriku lalu kuputar salah satu lagu ummu kultsum yang berjudul “aruuh li miin”. Seketika itu mamah melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong, “Almarhum Abu Isma’il juga suka lagu ummu kultsum” kata mamah.
Setelah selesai satu lagu, aku izin untuk meneruskan perjalanan menuju kontrakan. Sebelum beranjak pergi ku do’akan almarhum dan keluarga mamah agar selalu diberi kesehatan dan keberkahan di dalam hidupnya.
“Subhanallah” kuagungkan nama-Mu Ya Rabb, banyak hal kecil di sekitarku, namun aku kurang peka dalam menanggapinya. Sesungguhnya seseorang tidak mampu mengubah hati orang lain untuk berbaik sangka kepada dirinya, namun seseorang mampu mendidik hati diri sendiri untuk berbaik sangka kepada diri sendiri.
Bagi manusia yang berpikiran biasa, mungkin kebahagiaan itu terletak pada masa depan, pada pikirannya tentang teka-teki yang belum terlihat, mereka senang berpikir soal surga dengan ribuan kolam susu.
Namun, bagi manusia yang tercerahkan, kebahagiaan itu saat ini. Saat ia mampu menyeimbangkan hati, pikiran dan tindakan. Mereka yang tersenyum melihat dunia bekerja dan tidak pernah kecewa karenanya, karena kekecewaan adalah mesin cetak air mata.
Aku bangga padamu wahai Ummu Ismail. “Robbuna yubaarik fiik”.
Oleh : Arif Harmi Hidayatullah
*) Santri angkatan 2011, asal Bima Nusa Tenggara Barat. Sedang menempuh studi di Jami’ah Al-Azhar Kairo Mesir.
Sastra
Malam jumat yang mencekam, bulan yang seharusnya ceria kini tampak buram. Aku masih berdiri menempel di dinding yang berada di samping pintu. Orang-orang aneh di ruangan kantor BEM tampak pucat, wajah mereka bopeng dan mulutnya lebar. Gigi-gigi besar dan iler meleleh keluar dari mulut berbau busuk. Bibir mereka tidak bisa untuk sekedar menutup. Semua mata melotot seperti hantu yang ingin mengajak pergi ke dunia gaib, akan menyeret tubuhku untuk melompat ke jurang. Satu diantara mereka bergerak mendekat ke arahku, jantungku dilanda ketakutan besar, tubuhku gemetar melihat tubuhnya menjadi meleleh, matanya yang keropos dan mulutnya yang hancur. Jiwaku terguncang dan memberi isyarat untuk segera berlari kencang, menghindar dari hantu mulut besar, tetapi semakin cepat aku berlari semakin dekat dia mengejar.
Kini bulan tinggal separuh, malam ini sinarnya buta. Aku tunggang-langgang melewati gang-gang sempit. Melarikan diri dari kejaran hantu menuju puncak gedung kampus. Melompati satu persatu anak tangga dengan sekarat. Saat ini aku mendapati teror amat besar. Terbayang sebuah kematian akan segera datang dan sadar bahwa pelarian ini adalah sia-sia. Tidak sejengkalpun hantu dower itu menjauh dariku meski aku berlari kencang dan dia hanya melangkah pelan.
Aku berteriak meminta tolong tetapi tidak ada yang mampu menolong. Malam begitu sepi. Semua orang telah tidur di kamar tidur mereka. Hanya berlari dan berlari yang bisa kulakukan. Sehingga kudapati diriku telah sampai di puncak gedung dan kurasakan ajal akan segera tiba. Tidak ada tempat untuk berlari lagi kecuali melompat dari ketinggian 35 Meter. Dalam ketinggian ini aku tahu jika melompat tidak mungkin bisa hidup. Tubuhku akan hancur, tulang-tulangku remuk dan kepalaku menggelinding entah kemana. Namun ketakutan membuatku tidak berpikir kesana. Aku segera mengambil ancang-ancang untuk melompat sambil berteriak minta tolong akan tetapi sia-sia. Aku benar-benar melompat dari puncak gedung kampus. Menantang kematian.
Kutemukan diriku di balik semak-semak bersembunyi dari kejaran hantu mulut besar. Dia masih berada di sisi lain tetapi saat aku mencoba mengintip, tiba-tiba dia sudah berdiri di depanku. Kepalanya berubah menjadi kadal dan tubuhnya membengkak. Aku berteriak sekarat dan berlari sesisa mampuku. Aku tidak tahu kapan akhir dari pelarian ini.
Cahaya itu muncul di depan sana. Aku melihat kakek Pocet duduk di kursi goyang. Kemudian muncullah persepsi kalau harapan hidup masih ada. Aku semakin cepat berlari mendekati Kakek Pocet. Menghindar dari hantu kepala kadal. Tapi yang kutemukan lebih menyakitkan lagi. Kursi goyang kakek, berlari menjauhiku. Aku berteriak “Berhenti!, berhenti!,. tolong aku kek, tolong aku kek!” kakek Pocet tidak menoleh sedikitpun. Kursinya semakin cepat menghindariku. Malam membuatku semakin putus asa, gelapnya adalah bau kuburan. Kakek dan kursinya lenyap di balik pohon Bindeng. Kini aku sekarat dan mampus. Harapan untuk hidup telah punah. Disamping nafasku tersengal aku menangis gila. Tidak ada yang bisa menolongku dari kejaran makhluk berkepala kadal kecuali mata telah terbuka.
Ya! Kini aku selamat. Terperanjat dari tempat tidur dan lolos dari ancaman mimpi buruk yang mengerikan. Tubuhku basah oleh keringat. Mataku masih melotot dan nafasku masih terputus-putus. Jam menunjukkan sekitar pukul dua malam. Aku beranjak dari tempat tidur. Mengambil air dalam kulkas dan meminumnya hingga habis satu botol.
Ternyata malu tadi siang membuatku terbawa kedalam mimpi buruk. Saat semua orang di kantor BEM mencampakkanku di lingkaran rapat karena menganggap mulutku banyak bacot. Memberi sebutan omong kosong atas nama diriku. Tidak seorangpun menilaiku sebagai manusia normal. Wibawa sebagai seorang yang lahir tanpa cacat hancur terbangkalai bahkan lebih hina dari picek mata, budek telinga atau bisu.
“Coba saja Suhai diam dan tidak banyak omong, mungkin saja aku akan segan dengannya!” Nuhat beber gosip di toilet kampus, di suatu hari ketika aku lewat.
“Ah, kau ini. Mana mungkin kebiasaan cerewet yang sudah mendarah daging bisa hilang begitu saja.” Teman di sebelahnya ambil bagian.
“Kenapa dia tidak mikir ya!? Kalau kita eneg mendengar banyolan dan sok ngalawak dia yang tidak jelas itu.” Lanjut Nuhat seolah berkuasa atas pribadiku. Semena-mena membicarakan mulutku yang dia anggap bocor.
Percakapan Nuhat bukan sekali dua kali terdengar dari balik pintu kelas. Dia seolah tidak merasa telah melukai seseorang. Saat cerita tentang mulutku menjadi topik utama, telinga serasa digigit semut merah. Mencabik-cabik perasaanku sebagai teman sekelas dan teman seorganisasi BEM. Menelanjangiku sebagai manusia yang ingin dianggap. Namun apa daya hakku untuk marah kalau yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran mutlak. sedang aku secara sejati juga merasa benci pada mulut bocorku. Ucapan yang keluar darinya adalah musuh yang meruntuhkan kerajaan citra manusiaku. Sebuah konspirasi besar terjadi pada tubuhku.
Rapat koordinasi tadi siang menjadi berantakan karena mulutku. Kenapa kok tiba-tiba bibirku membahas gosip retaknya hubungan Asri dan Darto yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembahsan rapat. Tak juga karena Arsi cantik.
“Mereka itu putus karena ada orang ketiga. Tidak mungkin hanya gara-gara Asri tidak mandi dua hari Darto rela melepas kecantikan Asri, Eman-emanlah. Ya, saya pikir memang ada orang ketiga. Selain si Asri cantik tentu ada sebab lain. Lagian Asri centil sih! Reno kamu mau gantiin Darto? Peluangnya besar kawan ha ha ha. Baik kita lupakan itu! Acara seminar budaya akan kita laksanakan minggu depan. Tinggal kita urus berkas-berkasnya!” secara spontan kalimat itu meluncur dari mulutku. Semua anak di ruang rapat diam menatapku. Akupun baru sadar hal jelek telah terjadi melalui mulutku. Membicarakan orang di tengah rapat. Hal buruk itupun terjadi. Sebelum kuralat ucapan. Nuhat telah berdiri menyangga kedua tangannya ke meja, garis mukanya tidak bersahabat. Pantas karena nama Asri yang kubicarakan adalah sepupunya.
“Kamu kalau ngomong jaga ya! saya disini mendengarnya. Perlu Suhai tahu, sepupu saya bukan keganjenan dia anak baik-baik. Kok tiba-tiba kamu ngomong centil, gak mandi dua hari, maksud kamu apa?” Nuhat betul-betul marah, ucapannya membuat semua mata menjatuhkan pandangan ke arahku. Tergegap, ya! Aku pucat pasi. Mendadak semua ruangan berubah menjadi gelap hanya lampu dop bergelantung di atas kepala seperti berada di ruang interogasi.
“Kami tahu kalau kamu pembohong!”
“Kami selama ini tahu kamu terlalu bocor untuk seorang ketua BEM. Biar, biar! Saya sudah lama ingin mengatakan ini. supaya dia mikir. Kita-kita ingin lebih serius. Serius Hai!”
“Ingat! kalau omongan busukmu itu kedengaran Asri kamu mampus!” Nuhat bukan hanya berani mengataiku tapi dia sudah berani mengancamku. Orang yang dalam struktur adalah Ketua.
“Sekarang jawab! Kenapa kamu ngomongin Asri?” aku tergagap menerima pertanyaan sulit dari Nuhat.
“Ya… Biar tidak tegang. Biar kita Refresh” ucapan gagap itu keluar dari mulutku saat masih duduk membeku. Ketika sedang terperosok ke dalam wilayah non-manusia. Setara antara ada dan tiada. Lemah mengecilkanku seolah menjadi tumpuan nista. dan semua itu adalah ulah mulut nyinyirku. Dia bergerak sendiri tanpa kendali otak. Memberontak dari bagian tubuhku yang lain. Dia adalah penghianat diatas penghianat.
“Saya heran! kamu ini adalah Cucu kakek Pocet. Kok bisa punya mulut parah seperti itu?” Nuhat lagi-lagi menamparku dengan ucapan. Dia semakin memperparah keadaan yang sudah parah. Kaki dan tubuhku seperti halnya kursi, ketiganya sama-sama mati.
Nuhat membanding-bandingkan diriku dengan kakek Pocet. Seorang tua yang pendiam dan disegani semua orang. Dia kakekku yang kemampuan bicaranya hanya sepuluh persen. Kakek yang kucurigai menderita bisu ringan. Mulutnya tidak berbicara kecuali ditanya orang. Tapi orang-orang tidak bosan berbicara dengannya. Sosok yang menurutku agak bisu. Dan berbanding terbalik dengan diriku. Buktinya kalau kakek Pocet di segani orang maka aku disepelekan orang. Bila kakek Pocet berbicara sedikit maka aku bicara banyak. Bila ada orang berbincang dengan kakek maka orang itu yang lebih banyak bertanya dan mencari bahasan sehingga kakek tinggal menjawabnya. Tetapi bila ada orang berbincang denganku maka aku yang harus bekerja keras mencari topik pembicaraan, dan sering-sering bertanya agar nyambung. Itupun sering aku tidak dipedulikan. Bila orang-orang merasa enak berbicara dengan kakek Pocet maka lain halnya denganku. Tidak ada sedikitpun kharisma dalam diriku.
Dan akulah bukti bahwa tidak semua buah jatuh di dekat pohonnya. Aku lahir dari kelainan gen yang berimbas pada kelainan nasib. Dan penyebab kelainan itu hanya terletak pada satu titik yaitu mulut.
****
Kamarku masih tampak gelap. Ada seekor kunang-kunang masuk melalui celah jendela mengelilingi seluruh ruangan dan hinggap di dinding. Aku keluar dari kamar. Melangkah menuju kamar Kakek Pocet. Orangnya masih tidur lelap. Kursi goyangnya menghadap keluar jendela. Cahaya bulan menembus genteng kaca membuatku dapat melihat wajah kakek Pocet cukup jelas. Dalam tidurnya terpancar karisma seorang tua. Senyum sosok yang disegani. Senyum manusia yang telah di manusiakan. Mempunyai tempat di mata setiap orang. Tidak ada perkataan nista keluar dari bibir keriputnya.
Kukeluarkan kaca cermin yang kubawa dari kamar. Meski malam tampak gelap tapi sedikit sinar bulan membuatku bisa melihat muka dalam keburaman malam. Memandangi wajahku disana dan membandingkannya dengan wajah kakek Pocet. Ternyata mirip! Mata, pipi, telinga, Bentuk mukanya yang oval. Dan bentuk rahang perseginya, persis!!. Beda karena dia sudah keriput dan aku belum. Tapi kenapa kesamaan ini tidak memberi kesamaan pada nasib. Siapa sebenarnya diriku ini? Kenapa kemanusiaanku begitu berbeda dibanding Kakek Pocet?
Kenyataan ini membuatku pantas menuntut keadilan Tuhan. Menuntut hak keturunan. Meski tidak diberi kesamaan persis tapi beda sedikit tidak apa. Bahkan seumpama Tuhan membuatku bisu seumur hidup atau mengirim petir menempeleng mulutku yang bocor aku rela. Asal aku bisa menjadi manusia.
Ada rembasan air di mataku disebabkan lamunan perjalanan kehidupan masa lalu. Aku bukan tidak mencoba menjadi seorang pendiam. Pernah kucoba beberapa kali tapi selalu gagal bahkan pernah sampai dua bulan tidak berbicara dengan orang-orang sehingga aku merasa menjadi penjara. Mulutku terus memberontak keras menjadikan citra yang dibangun dua bulan hancur hanya dalam lima menit bicara.
Mendengar sergukan ingusku, mata kakek tiba-tiba terbuka. Dia bangun dari tidur. Melihatku yang hampir menangis kemudian kakek menyingkap selimut. Tangan rentanya diletakkan di pundakku.
“Ada apa Hai?”
“Aku tidak sanggup lagi Kek. Aku telah kalah Kek!. Semua orang mengataiku pembohong. Tidak ada lagi yang mempercayaiku. Mulutku terlalu nyinyir Kek!”
“Apa yang kau katakan Hai?”
“Aku kek. Aku. Orang-orang selalu membandingkan aku dengan kakek. Kenapa mulutku banyak omong sedang kakek tidak. Kenapa orang segan pada kakek sedang padaku jijik. Kenapa orang gampang mengolokku sedang pada kakek tunduk. Kenapa kakek dianggap hebat sedang aku ada atau tidak ada sama saja. Kenapa kakek pendiam sedangkan aku banyak bacot, membicarakan orang-orang. Kenapa aku sendiri tidak sanggup menahannya. kenapa kek. Kenapa?” yang kutanyai masih diam “Atau jangan-jangan aku bukan cucumu?” tangan kakek bergetar. Matanya melotot. Setiba-tiba langsung menampar mukaku. Sangat keras!
“Apa? Suhai pikir kakek tidak bisa merasakan apa yang Suhai rasakan? Suhai pikir kakek tidak pernah mengalami apa yang terjadi pada Suhai saat ini? Suhai pikir kakek tidak pernah mengalami hal buruk seumur hidup? Suhai pikir kakek sudah hebat sejak lahir? Oh. Jadi Suhai belum tahu kalau Kakek hampir mati gara-gara minum racun serangga? Jadi Suhai belum tahu kalau nyawa kakek hampir melayang gara-gara habis minum racun kemudian gantung diri di dapur? Heh. Suhai salah besar. Kakek masih ingat, kalau seandainya tidak ada Tarmin yang menolong Kakek dan cepat-cepat mengantar ke rumah sakit mungkin sekarang Suhai tidak bisa melihat kakek disini.” Kakek Pocet meninggikan suaranya, matanya menatap genteng kaca. Melihat bulan dengan menghubungkan tragedi bunuh dirinya. Agak lama kekek diam.
“Dulu. Kakek membuat dua keluarga tetangga di kampung berantakan karena omongan kakek. Membatalkan lamaran keponakan karena calon suaminya kakek anggap tidak cocok. Membuat suasana rapat Kepala Desa hambar karena kakek melawak, dan mengajukan usul tidak serius. Kakek malu Hai! Padahal kakek tidak ingin seperti itu. Kakek benci punya mulut nyinyir, tapi mulut kakek berbicara sendiri, dia seolah tidak bisa dikendalikan sehingga tahu-tahu semua sudah berantakan. Kalau malam datang sering kakek bermimpi mempunyai kehidupan seperti orang biasa. Mempunyai citra kemasyrakatan. Terlepas dari keterplesetan ucapan. Sehingga pada akhirnya oleh sebab mimpi-mimpi itulah kekek menemukan dua pilihan. Pilihan pertama minum racun serangga dan gantung diri di dapur dan kedua terus berusaha diam dan bersabar. Tapi kakek memilih yang pertama karena kakek bodoh.” Kakek menarik napas sebantar wajahnya ditundukkan beberapa saat dan kembali menatapku.
“Tapi Allah berkehendak lain. Kakek masih diberi kesempatan hidup dan membuat keturunan. Dan sekarang seandainya Kakek disuruh memilih kembali antara dua pilihan tadi maka akan Kakek pilih yang kedua. Sebab berjuang melawan kemunafikan adalah jihad Fi Sabilillah.
*Zainuddin AK bin Sugendal, adalah cerpenis Pesantren Tebuireng Jombang asal Sampang MaduraDuduk di kelas 4 Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ri Tebuireng. Ia bergiat di Majalah Tebuireng dan KOPISARENG (Komunitas Sastra Santri Tebuireng
Kini bulan tinggal separuh, malam ini sinarnya buta. Aku tunggang-langgang melewati gang-gang sempit. Melarikan diri dari kejaran hantu menuju puncak gedung kampus. Melompati satu persatu anak tangga dengan sekarat. Saat ini aku mendapati teror amat besar. Terbayang sebuah kematian akan segera datang dan sadar bahwa pelarian ini adalah sia-sia. Tidak sejengkalpun hantu dower itu menjauh dariku meski aku berlari kencang dan dia hanya melangkah pelan.
Aku berteriak meminta tolong tetapi tidak ada yang mampu menolong. Malam begitu sepi. Semua orang telah tidur di kamar tidur mereka. Hanya berlari dan berlari yang bisa kulakukan. Sehingga kudapati diriku telah sampai di puncak gedung dan kurasakan ajal akan segera tiba. Tidak ada tempat untuk berlari lagi kecuali melompat dari ketinggian 35 Meter. Dalam ketinggian ini aku tahu jika melompat tidak mungkin bisa hidup. Tubuhku akan hancur, tulang-tulangku remuk dan kepalaku menggelinding entah kemana. Namun ketakutan membuatku tidak berpikir kesana. Aku segera mengambil ancang-ancang untuk melompat sambil berteriak minta tolong akan tetapi sia-sia. Aku benar-benar melompat dari puncak gedung kampus. Menantang kematian.
Kutemukan diriku di balik semak-semak bersembunyi dari kejaran hantu mulut besar. Dia masih berada di sisi lain tetapi saat aku mencoba mengintip, tiba-tiba dia sudah berdiri di depanku. Kepalanya berubah menjadi kadal dan tubuhnya membengkak. Aku berteriak sekarat dan berlari sesisa mampuku. Aku tidak tahu kapan akhir dari pelarian ini.
Cahaya itu muncul di depan sana. Aku melihat kakek Pocet duduk di kursi goyang. Kemudian muncullah persepsi kalau harapan hidup masih ada. Aku semakin cepat berlari mendekati Kakek Pocet. Menghindar dari hantu kepala kadal. Tapi yang kutemukan lebih menyakitkan lagi. Kursi goyang kakek, berlari menjauhiku. Aku berteriak “Berhenti!, berhenti!,. tolong aku kek, tolong aku kek!” kakek Pocet tidak menoleh sedikitpun. Kursinya semakin cepat menghindariku. Malam membuatku semakin putus asa, gelapnya adalah bau kuburan. Kakek dan kursinya lenyap di balik pohon Bindeng. Kini aku sekarat dan mampus. Harapan untuk hidup telah punah. Disamping nafasku tersengal aku menangis gila. Tidak ada yang bisa menolongku dari kejaran makhluk berkepala kadal kecuali mata telah terbuka.
Ya! Kini aku selamat. Terperanjat dari tempat tidur dan lolos dari ancaman mimpi buruk yang mengerikan. Tubuhku basah oleh keringat. Mataku masih melotot dan nafasku masih terputus-putus. Jam menunjukkan sekitar pukul dua malam. Aku beranjak dari tempat tidur. Mengambil air dalam kulkas dan meminumnya hingga habis satu botol.
Ternyata malu tadi siang membuatku terbawa kedalam mimpi buruk. Saat semua orang di kantor BEM mencampakkanku di lingkaran rapat karena menganggap mulutku banyak bacot. Memberi sebutan omong kosong atas nama diriku. Tidak seorangpun menilaiku sebagai manusia normal. Wibawa sebagai seorang yang lahir tanpa cacat hancur terbangkalai bahkan lebih hina dari picek mata, budek telinga atau bisu.
“Coba saja Suhai diam dan tidak banyak omong, mungkin saja aku akan segan dengannya!” Nuhat beber gosip di toilet kampus, di suatu hari ketika aku lewat.
“Ah, kau ini. Mana mungkin kebiasaan cerewet yang sudah mendarah daging bisa hilang begitu saja.” Teman di sebelahnya ambil bagian.
“Kenapa dia tidak mikir ya!? Kalau kita eneg mendengar banyolan dan sok ngalawak dia yang tidak jelas itu.” Lanjut Nuhat seolah berkuasa atas pribadiku. Semena-mena membicarakan mulutku yang dia anggap bocor.
Percakapan Nuhat bukan sekali dua kali terdengar dari balik pintu kelas. Dia seolah tidak merasa telah melukai seseorang. Saat cerita tentang mulutku menjadi topik utama, telinga serasa digigit semut merah. Mencabik-cabik perasaanku sebagai teman sekelas dan teman seorganisasi BEM. Menelanjangiku sebagai manusia yang ingin dianggap. Namun apa daya hakku untuk marah kalau yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran mutlak. sedang aku secara sejati juga merasa benci pada mulut bocorku. Ucapan yang keluar darinya adalah musuh yang meruntuhkan kerajaan citra manusiaku. Sebuah konspirasi besar terjadi pada tubuhku.
Rapat koordinasi tadi siang menjadi berantakan karena mulutku. Kenapa kok tiba-tiba bibirku membahas gosip retaknya hubungan Asri dan Darto yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembahsan rapat. Tak juga karena Arsi cantik.
“Mereka itu putus karena ada orang ketiga. Tidak mungkin hanya gara-gara Asri tidak mandi dua hari Darto rela melepas kecantikan Asri, Eman-emanlah. Ya, saya pikir memang ada orang ketiga. Selain si Asri cantik tentu ada sebab lain. Lagian Asri centil sih! Reno kamu mau gantiin Darto? Peluangnya besar kawan ha ha ha. Baik kita lupakan itu! Acara seminar budaya akan kita laksanakan minggu depan. Tinggal kita urus berkas-berkasnya!” secara spontan kalimat itu meluncur dari mulutku. Semua anak di ruang rapat diam menatapku. Akupun baru sadar hal jelek telah terjadi melalui mulutku. Membicarakan orang di tengah rapat. Hal buruk itupun terjadi. Sebelum kuralat ucapan. Nuhat telah berdiri menyangga kedua tangannya ke meja, garis mukanya tidak bersahabat. Pantas karena nama Asri yang kubicarakan adalah sepupunya.
“Kamu kalau ngomong jaga ya! saya disini mendengarnya. Perlu Suhai tahu, sepupu saya bukan keganjenan dia anak baik-baik. Kok tiba-tiba kamu ngomong centil, gak mandi dua hari, maksud kamu apa?” Nuhat betul-betul marah, ucapannya membuat semua mata menjatuhkan pandangan ke arahku. Tergegap, ya! Aku pucat pasi. Mendadak semua ruangan berubah menjadi gelap hanya lampu dop bergelantung di atas kepala seperti berada di ruang interogasi.
“Kami tahu kalau kamu pembohong!”
“Kami selama ini tahu kamu terlalu bocor untuk seorang ketua BEM. Biar, biar! Saya sudah lama ingin mengatakan ini. supaya dia mikir. Kita-kita ingin lebih serius. Serius Hai!”
“Ingat! kalau omongan busukmu itu kedengaran Asri kamu mampus!” Nuhat bukan hanya berani mengataiku tapi dia sudah berani mengancamku. Orang yang dalam struktur adalah Ketua.
“Sekarang jawab! Kenapa kamu ngomongin Asri?” aku tergagap menerima pertanyaan sulit dari Nuhat.
“Ya… Biar tidak tegang. Biar kita Refresh” ucapan gagap itu keluar dari mulutku saat masih duduk membeku. Ketika sedang terperosok ke dalam wilayah non-manusia. Setara antara ada dan tiada. Lemah mengecilkanku seolah menjadi tumpuan nista. dan semua itu adalah ulah mulut nyinyirku. Dia bergerak sendiri tanpa kendali otak. Memberontak dari bagian tubuhku yang lain. Dia adalah penghianat diatas penghianat.
“Saya heran! kamu ini adalah Cucu kakek Pocet. Kok bisa punya mulut parah seperti itu?” Nuhat lagi-lagi menamparku dengan ucapan. Dia semakin memperparah keadaan yang sudah parah. Kaki dan tubuhku seperti halnya kursi, ketiganya sama-sama mati.
Nuhat membanding-bandingkan diriku dengan kakek Pocet. Seorang tua yang pendiam dan disegani semua orang. Dia kakekku yang kemampuan bicaranya hanya sepuluh persen. Kakek yang kucurigai menderita bisu ringan. Mulutnya tidak berbicara kecuali ditanya orang. Tapi orang-orang tidak bosan berbicara dengannya. Sosok yang menurutku agak bisu. Dan berbanding terbalik dengan diriku. Buktinya kalau kakek Pocet di segani orang maka aku disepelekan orang. Bila kakek Pocet berbicara sedikit maka aku bicara banyak. Bila ada orang berbincang dengan kakek maka orang itu yang lebih banyak bertanya dan mencari bahasan sehingga kakek tinggal menjawabnya. Tetapi bila ada orang berbincang denganku maka aku yang harus bekerja keras mencari topik pembicaraan, dan sering-sering bertanya agar nyambung. Itupun sering aku tidak dipedulikan. Bila orang-orang merasa enak berbicara dengan kakek Pocet maka lain halnya denganku. Tidak ada sedikitpun kharisma dalam diriku.
Dan akulah bukti bahwa tidak semua buah jatuh di dekat pohonnya. Aku lahir dari kelainan gen yang berimbas pada kelainan nasib. Dan penyebab kelainan itu hanya terletak pada satu titik yaitu mulut.
****
Kamarku masih tampak gelap. Ada seekor kunang-kunang masuk melalui celah jendela mengelilingi seluruh ruangan dan hinggap di dinding. Aku keluar dari kamar. Melangkah menuju kamar Kakek Pocet. Orangnya masih tidur lelap. Kursi goyangnya menghadap keluar jendela. Cahaya bulan menembus genteng kaca membuatku dapat melihat wajah kakek Pocet cukup jelas. Dalam tidurnya terpancar karisma seorang tua. Senyum sosok yang disegani. Senyum manusia yang telah di manusiakan. Mempunyai tempat di mata setiap orang. Tidak ada perkataan nista keluar dari bibir keriputnya.
Kukeluarkan kaca cermin yang kubawa dari kamar. Meski malam tampak gelap tapi sedikit sinar bulan membuatku bisa melihat muka dalam keburaman malam. Memandangi wajahku disana dan membandingkannya dengan wajah kakek Pocet. Ternyata mirip! Mata, pipi, telinga, Bentuk mukanya yang oval. Dan bentuk rahang perseginya, persis!!. Beda karena dia sudah keriput dan aku belum. Tapi kenapa kesamaan ini tidak memberi kesamaan pada nasib. Siapa sebenarnya diriku ini? Kenapa kemanusiaanku begitu berbeda dibanding Kakek Pocet?
Kenyataan ini membuatku pantas menuntut keadilan Tuhan. Menuntut hak keturunan. Meski tidak diberi kesamaan persis tapi beda sedikit tidak apa. Bahkan seumpama Tuhan membuatku bisu seumur hidup atau mengirim petir menempeleng mulutku yang bocor aku rela. Asal aku bisa menjadi manusia.
Ada rembasan air di mataku disebabkan lamunan perjalanan kehidupan masa lalu. Aku bukan tidak mencoba menjadi seorang pendiam. Pernah kucoba beberapa kali tapi selalu gagal bahkan pernah sampai dua bulan tidak berbicara dengan orang-orang sehingga aku merasa menjadi penjara. Mulutku terus memberontak keras menjadikan citra yang dibangun dua bulan hancur hanya dalam lima menit bicara.
Mendengar sergukan ingusku, mata kakek tiba-tiba terbuka. Dia bangun dari tidur. Melihatku yang hampir menangis kemudian kakek menyingkap selimut. Tangan rentanya diletakkan di pundakku.
“Ada apa Hai?”
“Aku tidak sanggup lagi Kek. Aku telah kalah Kek!. Semua orang mengataiku pembohong. Tidak ada lagi yang mempercayaiku. Mulutku terlalu nyinyir Kek!”
“Apa yang kau katakan Hai?”
“Aku kek. Aku. Orang-orang selalu membandingkan aku dengan kakek. Kenapa mulutku banyak omong sedang kakek tidak. Kenapa orang segan pada kakek sedang padaku jijik. Kenapa orang gampang mengolokku sedang pada kakek tunduk. Kenapa kakek dianggap hebat sedang aku ada atau tidak ada sama saja. Kenapa kakek pendiam sedangkan aku banyak bacot, membicarakan orang-orang. Kenapa aku sendiri tidak sanggup menahannya. kenapa kek. Kenapa?” yang kutanyai masih diam “Atau jangan-jangan aku bukan cucumu?” tangan kakek bergetar. Matanya melotot. Setiba-tiba langsung menampar mukaku. Sangat keras!
“Apa? Suhai pikir kakek tidak bisa merasakan apa yang Suhai rasakan? Suhai pikir kakek tidak pernah mengalami apa yang terjadi pada Suhai saat ini? Suhai pikir kakek tidak pernah mengalami hal buruk seumur hidup? Suhai pikir kakek sudah hebat sejak lahir? Oh. Jadi Suhai belum tahu kalau Kakek hampir mati gara-gara minum racun serangga? Jadi Suhai belum tahu kalau nyawa kakek hampir melayang gara-gara habis minum racun kemudian gantung diri di dapur? Heh. Suhai salah besar. Kakek masih ingat, kalau seandainya tidak ada Tarmin yang menolong Kakek dan cepat-cepat mengantar ke rumah sakit mungkin sekarang Suhai tidak bisa melihat kakek disini.” Kakek Pocet meninggikan suaranya, matanya menatap genteng kaca. Melihat bulan dengan menghubungkan tragedi bunuh dirinya. Agak lama kekek diam.
“Dulu. Kakek membuat dua keluarga tetangga di kampung berantakan karena omongan kakek. Membatalkan lamaran keponakan karena calon suaminya kakek anggap tidak cocok. Membuat suasana rapat Kepala Desa hambar karena kakek melawak, dan mengajukan usul tidak serius. Kakek malu Hai! Padahal kakek tidak ingin seperti itu. Kakek benci punya mulut nyinyir, tapi mulut kakek berbicara sendiri, dia seolah tidak bisa dikendalikan sehingga tahu-tahu semua sudah berantakan. Kalau malam datang sering kakek bermimpi mempunyai kehidupan seperti orang biasa. Mempunyai citra kemasyrakatan. Terlepas dari keterplesetan ucapan. Sehingga pada akhirnya oleh sebab mimpi-mimpi itulah kekek menemukan dua pilihan. Pilihan pertama minum racun serangga dan gantung diri di dapur dan kedua terus berusaha diam dan bersabar. Tapi kakek memilih yang pertama karena kakek bodoh.” Kakek menarik napas sebantar wajahnya ditundukkan beberapa saat dan kembali menatapku.
“Tapi Allah berkehendak lain. Kakek masih diberi kesempatan hidup dan membuat keturunan. Dan sekarang seandainya Kakek disuruh memilih kembali antara dua pilihan tadi maka akan Kakek pilih yang kedua. Sebab berjuang melawan kemunafikan adalah jihad Fi Sabilillah.
*Zainuddin AK bin Sugendal, adalah cerpenis Pesantren Tebuireng Jombang asal Sampang MaduraDuduk di kelas 4 Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ri Tebuireng. Ia bergiat di Majalah Tebuireng dan KOPISARENG (Komunitas Sastra Santri Tebuireng
Sumber : tebuireng.org
Agama
Mutaakhir ini, umat Islam mudah sekali terprovokasi dengan banyak isu yang tak penting. Karuan saja menjadi santapan ‘lezat’ bagi mereka yang senang melihat umat Islam tercerai berai. Sebagaimana kita saksikan bersama di jagat maya. Menunjukan betapa keroposnya rasa persatuan dan kesatuan sesama umat Islam. Begitupun dengan para elite pejabat negara dan ulama yang makin hari berjalan sendiri-sendiri. Umat Islam dikalangan bawah pun makin kehilangan rasa kedaiman dan kesejukan. Lantas, bagaiamana membangun masa depan Islam yang berkemajuan dan berperdaban di masa depan?
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Bapak Umat Islam Indonesia, jauh-jauh hari sudah memberikan nasehat yang baik dan masih relevan untuk di jalankan, yakni; Jagalah persatuan dan kesatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka. Kadang-kadang suatu kebathilan mencapai kemenangan disebabkan mereka bersatu dan terorganisasi. Sebaliknya kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran bercerai-berai dan saling bersengketa.
Pesan Pendiri NU itu lantas di sebarkan ke sejumlah pemimpin pesantren. Tak butuh lama, pesan tersebut pun tersebar luas. Sebagai tokoh yang memiliki kharisma dan menjadi panutan umat pesan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pun mampu menghimpun kekuatan di kalangan masyarakat.
Demi kemajuan bangsa dan umat Islam Indonesia khususnya di masa depan terus berkarya penting di wujudkan. Kesemua itu tidak akan terwujud jika perselisihan dan perbedaan pendapat yang tak bermutu terus digaungkan. Maka hanya akan menimbulkan kegaduhan semata. Perpecahan secara perlahan-lahan pun terjadi. Padahal menjaga rasa persatuan dan kesatuan amatlah penting. Segala keegoisan, ketamakan, kerakusan, dan lainnya akan terus merongrongnya. Sebagai orang yang mengagungkan beliau sudah selayaknya, nasehat para tokoh kita seperti Kiai Hasyim Asy’ari ini, diikuti dan dijalankan. (Ahmad Faozan, disarikan dari: Buku “Kiyai Haji Hasyim Asy’ari”, karya Heru Soekardi, cet. Department pendidikan Dan kebudayaan pusat penelitian sejarah Dan budaya proyek inventaris Dan dokumentasi 1977/1920; Hal 92-93)





















