Kuliah Umum Prof. Dr. Muhammad D. Al Amri , Ilmuwan Muslim Jadi Ispirasi Santri Trensains Tebuireng
Prof. Amri sedang memberikan kuliah umum
Ratusan santri bersama asatidz, mudhir bidang pendidikan, dan perwakilan pengawas Pesantren Tebuireng kemarin (31/08/2016) mengikuti kuliah umum yang diberikan oleh Prof. Dr. Muhammad D. Al Amri dari King Abdul Aziz City for Tecnology and Science Saudi Arabia.
Dalam acara tersebut turut hadir pula KH. Agus Purwanto, D.Sc, pendiri Trensains beserta rombongan, salah satu anggota rombongan yaitu Dr. Bintoro AS. yang sekaligus murid Kyai Agus bertindak sebagai moderator kuliah umum.
Kuliah umum dengan tema “ Quantum Cryptography in Islamic Countries” tersebut serentak menjadi perhatian asatidz dan santri Pesantren Tebuireng 2 (Trensains), pasalnya dalam acara tersebut sang ilmuwan mengungkapkan bahwa konsep Cryptogarphysebetulnya pertama kali digagas oleh ilmuwan muslim bukan ilmuwan barat. Beliau adalah Abu Yusuf Ya'kub Al-Kindi yang dikenal sebagai filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam, Nasabnya sampai pada Qahthan berdarah Arab asli. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani. Dia juga salah seorang ilmuwan besar muslim dalam bidang kedokteran dan pemilik salah satu pemikiran terbesar yang dikenal sepanjang peradaban manusia.
Prof. Amri sedang memberikan kuliah umum
Sang ilmuwan juga mengungkap tentang kehebatan para ilmuwan muslim pada zaman dahulu serta kontribusinya terhadap perkembangan sains dan teknologi pada zaman sekarang, kontribusi tersebut antara lain dalam bidang kimia, biologi, astronomi, kedokteran, dan lain sebagainya. Hal ini sangat menginspirasi para santri SMA Trensains Tebuireng, sebab apa yang disampaikan sang ilmuwan tersebut senada dengan semangat pendirian Trensains. Menurut pengakuan Dina Rosalina (santri kelas XII-Sains 4) dan beberapa temannya saat diwawancarai oleh Trens Onlinebahwa acara tersebut begitu menginspirasi mereka, bahkan mereka berkeinginan untuk dapat mengikuti jejak para ilmuwan muslim masa lalu untuk dapat mengembangkan sains, dan tentunya dibagun dengan al Qur’an sebagai basis epistemologinya.
Walaupun acara tersebut disampaikan dalam bahasa arab dan inggris, tidak membuat para santri malas. Mereka banyak mengajukan pertanyaan seputar perkembangan sains, selain itu sebagian santri juga dapat merespon dengan cepat pertanyaan yang diajukan oleh sang ilmuwan. Karena respon yang sangat cepat tersebut, membuat sang ilmuwan memberikan hadiah kepada beberapa santri sebagai ungkapan rasa bangga beliau kepada santri Trensains Tebuireng. Program kuliah umum merupakan program unggulan SMA Trensains Tebuireng yang dirancang empat kali dalam satu tahun dengan menghadirkan para ilmuwan, akademisi, dan guru besar baik dari dalam maupun luar negeri dengan tujuan untuk memberikan wawasan, motivasi, dan inspirasi bagi santri Trensains.(Abd/).
PROFIL SMA TRENSAINS TEBUIRENG (PESANTREN SAINS) Oleh: Ust. Abdul Ghofur
A.Profil
SMA Trensains (Pesantren Sains) Tebuireng merupakan salah satu unit pendidikan di Pesantren Tebuireng yang didirikan pada tahun 2014 oleh Dr. (HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid (Pengasuh Pesantren Tebuireng) hasil kerja sama dengan KH. Agus Purwanto, D.Sc penggagas konsep Pesantren Sains (Trensains) yang sekaligus ilmuwan di bidang fisika teoritik dari ITS Surabaya.
Pesantren sains (Trensains) adalah sebuah konsep pesantren yangdisintesakan dengan Sekolah Menengah Umum yang bertujuan untuk mengkaji sains kealaman secara mendalam, baik melalui pembelajaran, penelitihan ilmiah maupun percobaan-percobaan ilmiah yang mengacu pada ayat-ayat kauniyah.
Trensains (Pesantren Sains) adalah konsep sekolah yang tidak menggabungkan materi Pesantren dengan ilmu umum sebagaimana pesantren modern. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al Qur'an, Al Hadist , dan Sains kealaman (natural science) serta interaksinya. Poin terakhir, interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas Trensains yang tidak ada pada pesantren modern.
SMA Trensains Tebuireng merupakan lembaga pendidikan yang mengimplementasikan pemikiran (gagasan) KH. Agus Purwanto, D.Sc dalam wacana perkembangan islamisasi ilmu kontemporer dengan menempatkan ayat-ayat al Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan (epistemologi ilmu). Sedangkan pemgembangan kurikulum SMA Trensains diarahkan untuk memfasilitasi gagasan tersebut pada tataran implementasi, serta diarahkan untuk mewujudkan amanat undang-undang sebagimana yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003.
Tenaga pendidik SMA Trensains Tebuireng terdiri dari lulusan strata satu (S-1) dan magister (S-2) yang mayoritas berasal dari PTN (Perguruan Tinggi Negeri), semua tenaga pendidik tersebut mendapatkan bimbingan langsung dari penggagas Trensains yaitu KH. Agus Purwanto, D.Sc Alumni Universitas Hirosima Jepang yang sekaligus ilmuwan bidang Fisika Teoritik dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, sedangkan pada bidang pengembangan pembelajaran, seluruh tenaga pendidik SMA Trensains Tebuireng mendapatkan bimbingan langsung dari Konsultan Ahli bidang kurikulum yaitu Prof. Dr. H. Suyono, M.Pd. dekan Fakultas MIPA Universitas Negeri Surabaya.
B.Tujuan
Secara umum bahwa tujuan pelaksananaan pendidikan di SMA Trensains Tebuireng yaitu meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, serta para santri diharapkan dapat mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, namun secara lebih rinci SMA Trensains memiliki tujuan khusus sebagai berikut:
Meningkatkan wawasan para santrimelalui pengkajian yang mendalam, penelitian ilmiah, dan percobaan-percobaanilmiah.
Meningkatkan ketrampilan para santri dalam bidang bahasa, pemanfaatan ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, dan sebagainya, dalam rangka memahami dan membuka rahasia-rahasia alam semesta.
Meneguhkan sikap akan kemaharajaan Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya melalui pendekatan fisika, kimia, biologi dan ilmu pengetahuan lainnya, sehingga para santri paham dengan benar bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia, seluruh makluk bermanfaat bagi yang lain dan merupakan sinergitas yang sangat harmonis dan padu.
C.Kurikulum
Kurikulum SMA Trensains Tebuireng yang selanjutnya disebut “kurikulum semesta” merupakan unifikasi dari kurikulum nasional, kurikulum muatan kearifan pesantren sains (MKPS), dan kurikulum internasional (Cambridge Curriculum). Kurikulum Semesta merupakan kurikulum yang dikembangkan oleh tim pengembang kurikulum SMA Trensains Tebuireng bersama penggagas Trensains dan Tim pengembang kurikulum dari FMIPA UNESA. Secara umum bahwa kurikulum semesta merupakan hasil adapt-adop dari ketiga kurikulum tersebut, dimana kurikulum semesta menitikberatkan pada pemahaman al Qur’an pada setiap aktivitas pembelajarannya.
Kompisisi mata pelajaran pada kurikulum semesta yang diterapkan di SMA Trensains terdiri dari dari tiga kelompok yaitu kelompok mata pelajaran utama, kelompok mata pelajaran tool of trensains, dan kelompok mata pelajaran additional sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini:
Gambar 1 Komposisis mata pelajaran pada kurikulum
semesta SMA Trensains Tebuireng
Mata pelajaran utama merupakan mata pelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum nasional yang berlaku (sesuai peraturan perundang-undangan) yang diadaptasi dan diadopsikan dengan gagasan besar konsep Trensains, sedangkan kelompok mata pelajaran tool of trensains yang kemudian disebut mata pelajaran muatan pesantren sains (MPKPS) antara lain:
a.Al Qur’an dan Sains (ALS) yang memuat tauhid asas sains, sains dan problem ketuhanan, agama dan sains, serta perbandingan sains islam dan sains barat.
b.Filsafat sains
c.Astrofisika
d.ilmu falaq
e.Ulumul Qur’an dan hadist
f.Tafsir ayat-ayat kauniyah
g.bahasa arab
h.ushulul Fiqh
Kelompok mata pelajaran additional merupakan kelompok mata pelajran CIE (Cambridge International Examination) yang akan distandarisasi melalui standar internasional dengan tujuan untuk menyelenggarakan pendidikan nasional berwawasan global. Adapun mata pelajaran pada kelompok ini yaitu:
a.Mathematics
b.Physics
c.Biology
d.Chemistry
e.English
Komposisi mata pelajaran Kurikulum Semesta sebagaimana diatas, dirancang sedemikian rupa sehingga santri diharapkan mampu menguasai tool ilmu dasar seperti Bahasa Arab, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadist, Filsafat dasar, dan kedepan dihapakan mampu menjembatani fungsi Trensains yaitu 1) menyiapkan tenaga peneliti ilmiah profesinal dengan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, 2) menyiapkan tenaga peneliti ilmiah professional sebagai wahana untuk mengungkap rahasia yang ada dalam ayat-ayat kauniyah, mengembangkan bidang penelitian ilmiah.
D.Profil Lulusan
Profil lulusan Trensains tebuireng antara lain:
1.Fasih membaca Al Qur’an dengan hafalan beberapa ayat-ayat pilihan (kauniyah),
2.Lancar berbicara dalam bahasa inggris dan memiliki skor TOEFL,
3.Lancar berbicara dan membaca Teks Arab,
4.Menguasai sains dan memahami interaksi antara agam dan sains.
Selain itu SMA Trensains Tebuireng memproyeksikan para alumnusnya sebagai ilmuwan sains kealaman, teknolog, dan dokter yang mempunyai basis al Qur’an yang kokoh.
Begini admin, suatu ketika perjalanan pulang dan saya sempatkan shalat Jum’at di masjid pinggir jalan. Ketika khutbah Jum’at masih disampaikan terlihat kotak infak dijalankan kepada para jamaah. Saya pernah dengar menjalankan kotak tersebut saat khutbah berlangsung hukumnya tidak boleh, apa benar admin? Terimakasih.
Fath al Muhammad (Jombang)
Wa’alaikumsalam Wr. Wb
Terima kasih kepada penanya. Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amiin. Adapun ulasan jawaban pertanyaan tersebut sebagai berikut;
Khutbah Jum’at merupakan salah satu syarat sah penyelenggaraan shalat Jum’at seperti halnya terdapat 40 orang ahli Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat rukun-rukun khutbah, misalnya membaca hamdalah, membaca shalawat Nabi Muhammad SAW. dan lain-lain. Lalu, bagaimana ketika khutbah sedang berlangsung para jama’ah menjalankan kotak infak?
Bagi para jama’ah ketika khutbah sedang berlangsung dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan dan mendengarkan khutbah dengan sungguh-sungguh. Keterangan ini dipaparkan dalam kitab Shahih Muslim juz 1 halaman 377 sebagai berikut;
“Barangsiapa berwudu, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya (kesalahan yang dicela).” (HR. Muslim)
Dalam syarhnya Imam Nawawi menjelaskan bahwa pencegahan memegang (bermain-main) krikil dan lainnya merupakan salah satu perbuatan yang sembrono/sia-sia dalam keadaan khutbah. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat sedang khutbah Jum’at. (Hadis ini tergolong hadis hasan shahih)
Dalam pandangan Syaikh Sulaiman bin Umar bin Manshur al Ujaili al Azhari al Jamal di kitab khasyiyat al Jamal ala minhaj juz 2 halaman 36 bahwa melakukan segala sesuatu yang dapat memalingkan dari dzikir dan mendengar khutbah hukumnya makruh. Dengan demikian, dalam persoalan menjalankan kotak amal dapat dikategorikan sebagai illat tersebut. Sebagaimana redaksi di bawah ini:
“Dimakruhkan menjalankan di antara shaf-shaf untuk meminta dan memutarkan teko, mendekatkan teko untuk menyuguhkan air dan membagikan kertas-kertas serta shadaqah kepadanya, karena itu semua menyebabkan manusia lalai dari dzikir dan mendengarkan khutbah.
Karena makruh, maka seyogyanya untuk dicarikan alternatif lain. Kalau masih bisa dicarikan alternatif dengan efektifitas dan kondusifitas yang lebih baik, kenapa tidak? Langkah alternatifnya bisa dengan meletakkan kotak amal di setiap pintu masuk masjid, sehingga orang yang ingin bersedakah bisa langsung memasukkannya baik sebelum khutbah dimulai maupun setelahnya. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘Alam bis showab.
*Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng dan penggerak Bahtsul Masail di Tebuireng
Hakikat bertemu adalah untuk berpisah. Berpisah tak selamanya menjadi simbol akhir sebuah hubungan. Berpisah tak selamanya lara. Kadang kala berpisah menjadi satu kepastian yang dapat mengubah sifat seseorang agar lebih dewasa dalam menyikapi keadaan. Seperti perpisahan yang dialami oleh seorang anak dengan orang tuanya. Gadis kecil nan lugu ini gemar bercerita pada buku harian. Tiap sendu dan peluh, Ia wujudkan dengan tulisan. Keseluruhan tulisannya penuh dengan perasaan. Namanya Ziyadatul Ilmi, yang biasa dipanggil Ziya. Sudah tiga hari Ia tinggal di pesantren yang jauh dari kota kelahirannya.
Di bawah terik matahari yang menjulurkan cahaya hangatnya masuk ke dalam pesantren, wajah Ziya yang berhias jilbab kuning kepodang terlihat gelisah. Ia tidak sedang menggerutu, tidak juga membisu. Bertahun-tahun Ia hidup bersama Ayah dan Ibunya tanpa kekurangan apapun. Tak ayal jika beberapa hari ini Ia menangis sendu.
Setelah lulus Sekolah Dasar, orang tua Ziya memutuskan untuk mengirim putri sulungnya ini ke pesantren salaf di kota Gresik, sebab sudah saatnya Ziya belajar memaknai hidup secara mandiri. Selain itu, orang tua Ziya juga ingin agar kelak Ziya terbekali oleh ilmu-ilmu agama. Dengan demikian Ia tak akan terjerumus dalam kemaksiatan yang kian merajalela. Ziya tak bisa mengelak keputusan orang tuanya. Ia sadar bahwa ini demi kebaikannya sendiri. Bersandang ridho, maka berangkatlah Ziya ke pesantren ditemani orang tuanya.
“Nak, cepat keluarkan bajumu dari dalam tas. Ini lemarimu,” pinta Ibu Ziya. Ziya bergegas melaksanakan perintah Ibunya sembari memandang sebuah kotak berbentuk persegi yang ukurannya hanya dapat memuat buku dan empat potong baju. Inilah lemari kecil seadanya untuk para santri baru seperti Ziya. Beberapa menit kemudian sang Ibu keluar menghampiri suaminya yang sedari tadi menunggu di ruang tunggu khusus pengunjung lelaki. Sementara Ziya merapikan barang-barang keperluannya di kamar.
“Bu, apa Ziya sudah selesai beres-beresnya? Kalau sudah, ayo pulang, Bu! Kasihan anak-anak yang menunggu kita di rumah,” pinta Ayah Ziya dengan nada merajuk.
“Iyah, Pak. Sebentar lagi kusuruh Ziya keluar untuk segera menemui kita,” Sahut ibu Ziya.
Dari kejauhan terlihat Ziya berjalan lambat menghampiri orang tuanya. Hati kecil Ziya tak ingin berpisah, namun Ia juga tak ingin mengecewakan orang tua yang selama dua belas tahun ini merawat dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Ziya pun berusaha membiaskan perasaan sedih di raut wajahnya agar tak terlihat merah merona. Ziya mencium lembut tangan orang tuanya sebagai petanda mereka akan segera meninggalkan Ziya. Sebelum itu Ibu Ziya mengeluarkan selembar uang dari dompet lalu memberikannya pada Ziya. Ziya tertegun dan terdiam. Ia ingin menangis saja. Hebatnya Ziya, Ia tak sampai hati meneteskan air mata di depan orang tuanya. Demikian agar mereka tak merasa iba dan haru pada Ziya. Sesungguhnya, setiap tetes air mata yang Ziya tahan bukan karena nominal uang yang diperoleh dari Ibunya. Hanya saja Ziya tak ingin perpisahan yang sudah pasti meninggalkan rindu pada orang tuanya ini ditukar dengan uang.
***
Langit semakin gelap. Perlahan bintang yang bersanding dengan rembulan tak kuasa memancarkan cahaya. Awan hitam menggumpal. Cuaca mendung. Hujan pun turun mengguyur lapangan pesantren. Meski begitu, derasnya hujan tak dapat menandingi riuh suara santri bersenandung imrithi. Warna-warni jilbab berbaris rapi memenuhi mushala pesantren malam itu. Tak disangka, di sudut mushala paling depan, Ziya nampak khusyu’ dengan imrithi yang dipegangnya. Sebelum mengawali hafalan, bibirnya selalu berkecamuk lirih membaca Al-Fatihah yang dikhususkan pada Nabi SAW, Syaikh Syarifuddin Yahya Al-Imrithi yang merupakan pengarang nadzmul imrithi, guru, dan juga orang tuanya. Meski Ziya tak pernah unggul di kelas, hanya satu yang Ia harapkan, Ilman nafi’ah.
Semenjak rasa rindu pada orang tuanya mengalir deras, Ziya mulai berpikir tegas dan bertekad keras untuk membahagiakan orang tuanya. Sekalipun setelah beberapa bulan tinggal di pesantren, Ziya merasa belum ada perkembangan signifikan dalam dirinya. Terbukti bahwa selama ini belum ada satu pun pelajaran pesantren yang dapat Ia pahami. Terlebih dalam ilmu nahwu yang merupakan salah satu ilmu tata bahasa arab sebagai dasar membaca kitab kuning bagi santri pemula. Di pesantren para santri dituntut menghafal dan memahami 254 nadzam imrithi yang di dalamnya terkandung materi dasar membaca kitab kuning.
Sejak dulu, Ziya jago dalam menghafal. Ingatannya sangat kuat. Di tengah padatnya kegiatan pesantren, hanya dengan waktu enam bulan Ia dapat mengkhatamkan hafalan dari seluruh nadzam tersebut dengan lancar. Sayang, kelebihan itu terlampau kurang di hadapan asatidz jika Ziya tetap saja tak mampu memahami nadzam yang telah dihafalkannya. Hingga pernah sekali, seorang teman sengaja mencelanya.
“Kalaupun hafal seluruh nadzam sampai ke akar-akarnya tanpa paham apa maksud yang terkandung, seperti halnya menanam tumbuhan dan memberi pupuk, tapi jika tak pernah menyiramnya sama saja bohong. Jika begini terus, kukira kau tak akan dapat memetik bunga ataupun buahnya, Ziya,” sindir Nisak, teman sekelas sekaligus teman karib Ziya yang berhasil meraih peringkat tertinggi saat itu.
Bagai belati penghujam ulu hati, ucapan itu nyaris merentas seluruh harapan dan menyisakan kenistaan. Ziya sudah tak kepalang tanggung sakit hatinya pada Nisak yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Bukan motivasi yang Ia dapat dari temannya. Ziya berusaha lapang dada menerima segala apa yang ada dalam dirinya sebab Ia tak ingin menaruh dendam dan benci terhadap teman karibnya itu. Ziya hanya melempar senyum pada Nisak. Demi kenyamanan pesantren, Ia tak ingin beradu mulut membantah ucapan yang kiranya tak patut disampaikan.
***
Hari demi hari semangat Ziya semakin membara seiring dengan terpilihnya Ia menjadi kandidat peserta seleksi membaca kitab se Kabupaten Gresik. Ziya tak menyangka bahwa pihak asatidz mempercayakan amanah padanya yang tidak semua santri dapat mengemban.
“Ziya, kemari!” Ustadz Rosyad selaku wali kelas Ziya memanggilnya di ruang guru.
“Ada apa njenengan memanggil saya, Ustadz?” Tanya Ziya setelah mengetuk pintu dan memasuki ruang guru.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, duduklah!”
“Iya, Ustadz,”
“Begini, akhir-akhir ini kuperhatikan kemampuanmu memahami nahwu semakin meningkat. Kalau kau tidak keberatan, apa kau mau membimbing teman-temanmu yang nilainya masih dibawa standard?”
“Iya, insya Allah saya akan berusaha membimbing mereka semampu saya, Ustadz,”
“Satu hal yang harus kau tahu. Kurang lebih dua bulan lagi akan ada seleksi membaca kitab se Kabupaten Gresik. Peserta yang lolos akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi nanti. Berdasarkan hasil rapat dengan kepala madrasah, kau dan Nisak ditunjuk untuk menjadi peserta mewakili pesantren ini,” Ustadz Rosyad menambahi.
Keresahan yang dulu pernah Ia khawatirkan merupakan kesempatan Ziya untuk mencari pengalaman setelah sekian lama Ia berusaha, belajar, dan bersabar. Tanpa berpikir panjang, Ziya bersedia menerima keputusan ustadz. Ia tak ingin menolak dengan alasan apapun meski Ia harus bersaing dengan Nisak yang lebih unggul dan pandai di kelas. Sebab baginya, menolak sama saja mengecewakan. Mengecewakan guru juga termasuk mengecewakan orang tuanya. Lantas Ziya berencana untuk tidak memberitahukan hal ini pada orang tuanya. Ia takut jikalau nanti keberuntungan tak berpihak padanya dan sudah pasti tak akan membuat bahagia orang tuanya.
***
Di waktu yang berbeda, Ziya memancarkan wajah berseri di balik kerudung putih sembari menyongsong hari penuh percaya diri dan mengutarakan segenap isi hati pada Ilahi. Ia duduk di hadapan para juri setelah master of ceremony menyebut nama indahnya dengan tegas dan hati-hati. Dengan mudah, Ziya dapat menjawab seluruh pertanyaan juri. Sama halnya Nisak. Nilai mereka sebanding, lebih tinggi dari peserta yang lain. Sehingga keduanya terpilih menjadi peserta yang akan dikirim untuk musabaqoh tingkat provinsi mewakili Kabupaten Gresik.
Jantung berdetak lebih kencang mengiringi harapan yang menyeruak dalam pikiran. Ziya berharap usahanya membuahkan hasil. Sebab ini merupakan salah satu cara membahagiakan orang tuanya. Meski tak sebanding dengan apa yang telah Ia dapat dari orang tuanya, setidaknya ada segelintir bahagia memukau di ujung harapan.
Satu minggu lagi Ziya dan Nisak diberangkatkan oleh pihak Departemen Agama Kabupaten Gresik menuju kota Probolinggo, di mana musabaqah tingkat provinsi diselenggarakan. Berdasarkan informasi dari panitia, seluruh peserta akan difasilitasi tempat tinggal di asrama Pesantren Nurul Qodim. Begitu pula dengan ustadz atau ustadzah pendamping.
Satu minggu ini juga Ziya mempersiapkan diri dengan mengajak Nisak berdiskusi tentang seluruh materi yang akan dilombakan. Ia juga menghubungi orang tuanya agar tak berkunjung ke pesantren untuk menjenguk Ziya sementara ini. Sesuai rencana, tetap saja Ziya tak menceritakan alasan logis pada orang tuanya agar menjadi kejutan istimewa untuk mereka. Namun satu hal yang tak pernah lupa Ia sampaikan pada orang tuanya melalui telpon.
“Bu, Ziya baik-baik saja. Doakan Ziya ya, bu. Doa terbaik Ziya harapkan dari ibu dan ayah,”
***
Musabaqah dimulai. Ziya menjawab dan menjelaskan beberapa pertanyaan juri secara detail dan sistematis. Semua juri menyimak penjelasan Ziya dengan seksama. Tak ada satu pun jawaban Ziya yang diragukan oleh juri. Tentunya hal ini menjadi nilai plus yang dapat dipertimbangkan untuk memasuki final.
Lima belas menit setelah menjelaskan, Ziya menemui Ustadz Rosyad yang sedari tadi berdiri menyaksikan penampilan Ziya di sudut ruangan.
“Ustadz, maaf jika penampilan saya dalam menjelaskan pertanyaan juri tadi kurang sempurna,”
“Tidak apa-apa. Sudah bagus, kok. Semoga hasilnya nanti memuaskan. Kita tunggu saja nanti malam saat pengumuman peserta masuk final dibacakan,” tutur Ustadz Rosyad.
“Iya, Ustadz,”
Malam yang diidamkan oleh seluruh peserta datang seperti cerahnya surya yang tak tertutup oleh tabir mendung. Dengan rasa penasaran, Ziya memperhatikan gulungan kertas yang sedikit demi sedikit dibuka oleh panitia dan mendengarkan pengumuman yang dibacakan oleh mereka.
Tiba-tiba tangan Ziya bergetar, terlebih saat panitia menyebut namanya yang tertera dalam daftar peserta masuk final. Dari enam peserta yang lolos final, Ziya berada di urutan ketiga. Ia sangat bahagia. Ia tersenyum tipis namun tetap saja ada senja di pelupuk mata. Tanpa sengaja, air mata bahagia mengalir mengikuti garis lengkung pipinya. Dari belakang, Nisak menepuk pundak Ziya dan mengucapkan selamat.
“Selamat dan semoga berhasil, Ziya. Maafkan aku yang selalu angkuh dan sering meremehkan kemampuanmu. Aku sadar, roda kehidupan pasti berputar. Tak selamanya unggul adalah juara. Begitu pun tak selamanya biasa-biasa saja adalah tak bias,”
“Iya, Nisak. Terima kasih banyak. Tak apa, wajar semua manusia pernah mengalami kekhilafan,”
Tiba-tiba mereka berdua dikagetkan oleh kedatangan Ustadz Rosyad.
“Ziya, bersiap-siaplah! Besok pagi final berlangsung,”
Terlepas dari persiapan final, seperti biasa Ziya menuliskan hari-harinya. Ia merangkai huruf demi huruf hingga menjadi kata dan untaian kalimat indah. Tidak cukup itu, Ziya juga membayangkan jika nanti Allah menakdirkannya menjadi juara musabaqah ini, hal pertama yang akan Ia lakukan saat bersua dengan orang tuanya adalah memanjakan mereka, meluapkan rindu dalam dada, dan berterima kasih atas kasih sayang yang telah diberikan sehingga detik ini Ziya dapat mempersembahkan piala sang juara untuk orang tuanya. Semua yang dibayangkannya, Ia tulis dalam catatan harian. Kegiatan ini terus berlangsung setiap hari sesaat menjelang tidur malam.
Tiada hari yang dirasa menjemukan bila ikhlas bersanding dengan ketulusan. Pada pagi yang tak biasa, Ziya beranjak menuju gedung musabaqah. Final segera dimulai. Peserta akan dipanggil satu per satu sesuai urutan abjad nama masing-masing. Yang pasti Ziya berada di urutan terakhir. Sekali lagi, Ziya menambatkan niat dalam hati bahwa semua ini untuk sedikit membahagiakan orang tuanya.
Betapapun Ziya sangat bahagia untuk kesekian kalinya. Usahanya membuahkan hasil. Piala sang juara telah digenggamnya setelah panitia menyebut satu nama dalam penutupan musabaqah yang tak lain adalah nama Ziya.
Malam semakin tenteram seiring bulan dan bintang bersinar terang. Memadu kasih di sekitar langit yang kelam. Dingin pun mulai mencengkeram. Ziya memutuskan segera berwudu dan memasuki kamar. Tak seperti malam-malam sebelumnya, tiba-tiba Ziya merasakan kantuk yang dahsyat setelah menulis semua peristiwa hari ini dalam catatan hariannya. Ia lalu menarik selimut seraya berdoa.
“Bismikallahumma ahyaa wa bismika amuut,”
Lima belas menit kemudian Nisak menyusul Ziya, memasuki kamar. Pandangan Nisak tertuju pada catatan harian milik Ziya yang sedang dalam keadaan terbuka. Dalam hati Nisak, ada rasa ingin membacanya.
Probolinggo, 29 Juni 2016
Ribuan mimpi kuukir dengan kata. Bagiku, meski tak begitu indah dibaca, yang terpenting usahaku penuh makna. Tiada waktu yang kurasa indah bila ku tak bisa membahagiakan mereka, Ayah dan Ibuku. Aku pernah terjerembab dalam diam. Hingga suatu ketika diamku berbuah lamunan. Lamunan yang mengantarkanku meraih asa yang terpendam dalam dada. Sejak saat itu, aku mulai membuka mata, mengumpulkan kembali semangat yang dulu mereda, dan mantap dalam hati bahwa aku bisa. Hari ini piala sang juara telah kubawa. Aku sudah tak sabar menunggu hari esok, di mana aku akan meninggalkan kota ini dan kembali ke pondok. Besok pagi aku harus menelpon Ibu agar lusa segera sambang ke pondok. Lalu kan kuceritakan semua peristiwa yang kurahasiakan dari Ayah dan Ibu. Dan kupersembahkan pula piala dan hadiah uang ini untuk mereka. Meski nominalnya tak seberapa dibanding dengan apa yang sudah mereka berikan padaku, setidaknya dengan uang ini aku bisa sedikit meringankan beban mereka. Dan dengan piala ini, kuharap akan ada bahagia yang terlintas di raut wajah mereka. Hari ini adalah hari yang melelahkan. Aku sudah tak kuasa menahan kantuk. Aku harus istirahat sebab dinginnya malam membuat tubuhku seperti tersayat.
***
Sebelum subuh, Nisak bergegas mengemasi pakaian dan barang bawaannya. Agaknya Ia keheranan melihat Ziya yang masih tidur dengan pulas. Padahal, biasanya Ziya bangun lebih dulu daripada Nisak. Anehnya lagi, Ziya tidur dengan posisi yang sama seperti pada saat Nisak membaca catatan hariannya malam itu.
“Ziya, ayo bangun! Setelah shalat Subuh, kita harus berkumpul di halaman. Secepatnya pagi ini kita kembali ke pondok,” seru Nisak sembari menggoyang-goyangkan kaki Ziya agar segera bangun.
Berkali-kali Nisak mencoba membangunkan Ziya, namun tetap tak ada respon dari Ziya. Nisak mulai panik. Ia khawatir sesuatu terjadi pada Ziya. Sesegera mungkin Nisak menemui Ustadz Rosyad dan menceritakan keadaan Ziya pagi ini. Tanpa basa-basi, Ustadz Rosyad meminta Nisak untuk mengantarkannya melihat keadaan Ziya.
Ustadz Rosyad mencoba memeriksa denyut nadi tangan Ziya. Tiada reaksi. Nisak terkejut dan menangis seketika. Ustadz Rosyad langsung menghubungi panitia, pihak asatidz yang lain dan terutama orang tua Ziya.
“Mengapa teman sebaik Ziya begitu cepat meninggalkanku yang baru saja menyadari akan ketulusannya?” ucap Nisak dengan nada lirih sambil terisak.
“Sebab Allah sangat menyayanginya, Nisak,” sahut Ustadz Rosyad yang tanpa sengaja mendengar ucapan Nisak.
***
Sehari setelah pemakaman Ziya, Nisak meminta izin pada pihak keamanan pesantren untuk berkunjung ke rumah orang tua Ziya. Nisak menjelaskan maksud dan tujuannya. Dan pada akhirnya pihak keamanan dapat memahami penjelasan Nisak. Ia pun diizinkan.
Sesampai di rumah orang tua Ziya, Nisak menceritakan semua peristiwa yang dirahasiakan Ziya pada orang tuanya. Mulai dari terpilihnya Ziya dalam lomba membaca kitab se Kabupaten Gresik hingga perjuangan Ziya untuk mendapatkan piala dan uang ini demi membahagiakan orang tuanya. Tak lupa, Nisak juga menyerahkan sebuah catatan harian pada orang tua Ziya. Catatan harian yang mengungkap seluruh mimpi dan asa Ziya yang sekian lama terukir dengan kata dan terpendam dalam dada.
Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya
Hari itu santri baru sudah datang sebab besok pondok sudah aktif. Santri baru ditempatkan di lantai satu, di bawah kamar Cak Jahlun. Kamar mereka terbuat dari kayu, jadi apabila ada orang berjalan di lantai II akan terdengar langkah kaki dari bawah.
Karena masih baru, banyak dari santri baru tersebut yang masih “mbok-mbok-an”. Oleh karena itu Kiai Sepuh menugaskan Cak Jahlun untuk menjaga mereka yang menurutnya paling telaten dan lucu sehingga bisa menghibur mereka. Karena ta’dzimnya kepada Kiainya tersebut iapun menyanggupinya. Ia berpikir, siapa tahu dengan menjalankan tugas dari Kiainya ia dapat barokah tetesan ilmu karena selama ini ia termasuk santri BABLO (Bahlul bin Blo’on).
Suatu siang ketika ia menemani santri baru, Cak Jahlun ketiduran. Dalam tidurnya ia bermimpi, melihat Kiai Sepuh sedang duduk bersila di dalam masjid. Kemudian terdengar beliau menyebut namanya.
Kiai Sepuh : Saya akan memberikan tetesan barokah kepada sampeyan
Cak Jahlum : Terima kasih Yai
Kiai Sepuh : Buka mulut sampeyan lalu ditelan ya?
Cak Jahlum : Baik Yai” (lantas membuka mulutnya)
Kiai Sepuh lalu memeras sorbannya di atas mulut Cak Jahlun. Cak Jahlun merasakan cairan hangat tapi agak asin di mulutnya. Ia agak ragu “Air barokah kok rasanya aneh??,” pikirnya. Namun karena keinginannya yang kuat untuk mendapatkan tetesan barokah tanpa berpikir panjang iapun menelannya. Sampai akhirnya ia pun terbagun dari tidurnya.
Ketika sadar ia melihat rembesan air dari langit-langit kamar yang menetes tepat ke arah mulutnya yang tadi tidur mangap. Iapun segera bangun dan melihat ke jendela “Tidak hujan, tapi kok ada rembesan air di dalam kamar, jangan-jangan ini benar-benar air barokah dari Yai,” guman cak jahlun.
belum hilang rasa bingungnya tiba-tiba dari arah pintu Paijo tergopoh-gopoh sambil membawa ember berisi air.
KPID: Saatnya Dai Pesantren Belajar Tampil ‘Keren’
Foto Kru Majalah Tebuireng dengan Ketua KPID Jatim, Afif Amrulloh. (Foto: AR)
Tebuireng.online- Maraknya tayangan atau siaran yang muncul dari berbagai media, terutama radio dan televisi, memberikan dampak tersendiri kepada seluruh masyarakat sebagai penikmat media. Dalam hal ini, masyarakat menjadi salah satu target dalam menerima informasi, memercayai, dan melaksanakan pesan yang telah disampaikan dalam siaran radio atau televisi tersebut. Tidak hanya sebagai penikmat, masyarakat harusnya memberikan sumbangsih untuk memberikan feedback atau timbal balik terhadap apa yang telah ditontonnya, seperti memberikan masukan berupa kritik dan saran sehingga mereka tidak hanya menjadi penikmat belaka yang menerima mentah-mentah isi dari program televisi atau radio tersebut. Begitu pun dengan pihak KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), ia memiliki banyak tugas dan wewenang dalam menangani dan mengarahkan konten program penyiaran radio atau televisi di Indonesia agar tetap dalam koridor yang pantas, wajar dan memberikan manfaat, bukan sebaliknya.
Sebagaimana amanat Undang-Undang 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, bahwa kewenangan untuk mengatur dunia penyiaran baik itu dari aspek perizinan, aspek pengawasan isi siaran, dan aspek kelembagaannya. Terkait tayangan-tayangan televisi, KPID mempunyai aturan berupa P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran), sebagai aturan atau kitab suci dalam dunia penyiaran di Indonesia yang disusun oleh KPI pusat dan berlaku secara nasional untuk KPI, KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) dan seluruh Lembaga Penyiaran Indonesia.
Arah Program Televisi Ramadan
Terkait dengan program Ramadan, televisi maupun radio atau bahkan media cetak pada umumnya akan selalu berusaha menyajikan sesuatu yang aktual, memiliki proximity (kedekatan) dengan pemirsa. Pada saat Ramadan, stasiun televisi akan berlomba-lomba menyajikan program Ramadan, adalah sesuatu yang alami dan wajar. Lembaga penyiaran atau media massa ingin mendapat perhatian dari pemirsa, sehingga harus sedekat mungkin dengan kebutuhan pemirsanya. Stasiun televisi menawarkan beraneka ragam program sesuai dengan tugas masing-masing lembaga penyiaran tersebut, ada yang muncul dengan model ceramah, talkshow, komedi, sahur keliling, dan lainnya. Hal itu merupakan kreativitas dari masing-masing TV.
Dalam menentukan program penyiaran/tayangan TV, KPI/KPID tidak berwenang untuk membatasi. Yang dilakukan KPI adalah mengawasi apakah itu melanggar P3SPS atau tidak? Jika terbukti melanggar, maka akan dikenakan sanksi, kalau tidak, akan tetap jalan terus. Setahun terakhir, KPI pusat dan KPID sudah melakukan monitoring yang ketat terhadap tes penyiaran khususnya program Ramadan, terutama program-program komedi yang berlebihan, seperti ada unsur kekerasan baik fisik maupun verbal. Contoh di-bully dalam siaran tersebut.
Menurut evaluasi KPI, Ramadan tahun 2016 kemarin, ada peningkatan kualitas dari isi siaran program. Memang modelnya rata-rata masih sama; komedi, sinetron, dialog agama, dan lain-lain. Akan tetapi dari isi siaran tidak separah tahun-tahun sebelumnya, karena KPI dan KPID melakukan pengawasan secara ketat terhadap isi, termasuk adanya teguran keras dari KPI terhadap pelanggaran penyiaran sehingga ada dampak pada Ramadan tahun 2016 kemarin.
KPI dan Batas Kewenangannya
Dalam sebuah wawancara, ketua KPID Jatim, Afif Amrullah (Kang Afif)mengungkapkan bahwa KPI/KPID tidak boleh atau tidak ada payung hukum untuk menentukan kriteria seseorang yang harus tampil, seperti ustad/dai di acara TV, kecuali memang ada kronologi dan track record (rekam jejak) yang jelas dari dai. Semisal kasus yang akhir-akhir ini terjadi, dai yang ceramah kemudian diprotes, malah ditayangkan di TV Nasional.
Dalam sebuah wawancara, Kang Afif mengaku, bahwa kemudian ada teman pengurus ormasnya yang bertanya tentang tanggapan KPI kepada dai yang dalam ceramahnya sering menyampaikan suatu hal yang bersifat provokasi atau menjelekkan kelompok lain, “tapi kok dibiarkan?” Dalam tanggapannya, Ketua KPID Jawa Timur tersebut mengungkapkan bahwa KPI tidak bisa melarang orang tampil di TV, yang dilarang adalah isi siarannya yang berpotensi meresahkan masyarakat. Sekalipun dia adalah mantan narapidana pecandu narkoba.
Sebagai contoh, kasus program TV yang ditayangkan oleh TV Nasional menyiarkan acara berita Islam, kemudian presenter pada acara tersebut mengeluarkan statement atau pernyataan; kalau memberi azan pada anak yang baru lahir itu hukumnya bid’ah/sesat, pernyataan tersebut kemudian diprotes oleh banyak orang, aduannya masuk ke KPI, dan KPI memberi teguran kepada stasiun TV itu bahwa orang ini telah mengatakan pernyataan. Jadi, tetap bukan orangnya tapi pernyataannya, akhirnya diberi sanksi, beberapa hari kemudian sang presenter tersebut memohon maaf kepada publik melalui TV itu. Lalu bagaimana? Ya tetap siaran, dengan teguran itu dia menjadi berhati-hati. Kalau dia di komunitas sendiri, membahas soal khilafah yaa itu haknya, tapi kalau tampil di TV yaa gak boleh, karena TV adalah ranah publik yang frekuensinya milik publik yang dititipkan di lembaga penyiaran dalam waktu tertentu. Tentu tidak boleh sembarangan, harus mengayomi semuanya, tidak boleh membuat keresahan pada kelompok tertentu apa lagi persoalan yang sensitif, seperti agama.
Idealisme Program Televisi
Prinsipnya bahwa TV adalah industri, mereka harus hidup dari sumber-sumber kegiatan off air. Maka dari itu, pihak stasiun TV pasti memilih program yang diminati oleh masyarakat, yang disukai oleh masyarakat, termasuk dalam kriteria memilih ustad/dai yang mereka tampilkan. Kadang-kadang memang ustad yang tampil di TV itu kualitasnya masih diragukan, ada istilah ustad artis. Kenapa mereka yang dipillih? Karena aspek bisnis sepertinya lebih menonjol bagi lembaga penyiaran tersebut. Misalnya kiai yang ‘alim, wira’i, yang tawadlu’-nya luar biasa tetapi di depan kamera tidak menarik, mereka tidak akan memilih beliau sebagai dai, yang dipilih pasti yang memenuhi kebutuhan dua aspek. Pertama, aspek keagamaannya mumpuni dan kedua, aspek face-nya, gaya penampilannya, menarik untuk dilihat sehingga pemirsa tertarik untuk menonton itu. Jadi hal ini bisa jadi bertabrakan dengan lembaga penyelenggara di penyiaran, memilih penampilan atau kualitas keagamaan.
Sebenarnya kita sebagai komunitas keagamaan juga perlu introspeksi. Dengan hal yang seperti itu, mestinya kita punya cara untuk mengubah mindset (cara berpikir) dakwah kita. Sudah saatnya kita menyiapkan generasi-generasi yang mumpuni di bidang itu, yang agamanya oke, berkualitas, dan memiliki penampilan yang menarik serta public speaking-nya bagus.
Itu merupakan tantangan bagi kita, khususnya civitas di dunia pesantren dan perguruan tinggi agama. Jadi, kenapa ustad yang sering tampil di TV itu bukan dari kalangan pesantren, bukan dari kalangan Nahdliyin misalnya, dan lainnya? Karena yang dibutuhkan TV adalah pengetahuan agama dan penampilan/public speaking. Selama ini, pesantren hebat dalam hal keagamaan. Tapi untuk bisa tampil menarik dan meyakinkan di layar kaca atau di depan kamera masih perlu banyak latihan.
Pemilihan dai yang berorientasi pada rating oleh lembaga penyiaran sebagai pengisi acara keagamaan adalah murni hak dari pihak stasiun TV dan selama yang disampaikan itu tidak melanggar P3SPS, tidak mengakibatkan keresahan di masyarakat akan tetap jalan terus. Karena bagaimana pun KPI adalah lembaga negara yang mengayomi seluruhnya. Tidak boleh misalnya saya dari kelompok A kemudian memaksakan lembaga penyiaran harus orang ini yang dipasang. Tapi bisa dengan pendekatan personal, misalnya teman-teman komisioner kemudian mendekati para produser di TV itu agar mengusulkan nama tertentu yang bagus, bisa saja, tetapi keputusan tetap di mereka. Apabila ketika disodori nama kemudian mereka merasa bahwa ini menarik dan diprediksi akan banyak peminatnya yaa bisa saja. Tapi kalau KPI memaksa, kemudian mereka tidak menginginkannya, tentu sulit terealisasi. Sebab sikap memaksa (yang bukan wewenang KPI) adalah di luar wilayah kewenangan dan justru akan menjadi kebijakan yang bersifat kontraproduktif terhadap KPI maupun terhadap TV.
Peran Masyarakat di Dunia Pertelevisian
Masyarakat diundang untuk kritis terhadap isi siaran. Kalau memang ada unsur-unsur yang diduga melakukan pelanggaran, silakan dilaporkan kepada KPI. Satu sisi kami evaluasi diri dan di sisi lain kami menyayangkan selera masyarakat yang belum ideal dan sesuai harapan kami. Contoh, rating diukur dari kuantitas masyarakat yang menonton, dan tayangan sinetron selalu menempati urutan pertama dalam hal rating. Padahal kita semua tahu, bahwa sinetron memberi dampak yang kurang baik terhadap masyarakat terutama anak-anak. Karena ada kata-kata atau adegan yang kurang baik dan hal itu bisa memengaruhi pola pikir anak.
Akhirnya, kita yang harus bersama-sama menciptakan penyiaran yang sehat. KPI akan terus melakukan tugasnya dengan mengawasi dan memberikan pembinaan kepada lembaga penyiaran, juga memberikan masukan-masukan acara TV yang bagus dan layak untuk ditayangkan. KPI menghimbau agar masyarakat juga sama-sama mempertimbangkan dampak sebuah tayangan terhadap psikologi anggota keluarga. Kalau ada tayangan yang berindikasi merusak psikologi anak, orangtua harus berkorban untuk menjauhkan, tidak malah mengajak anaknya menonton.
Dari berbagai kondisi dan pernyataan di atas, merupakan sebuah keharusan bagi kita bersama untuk lebih serius dan memiliki kelapangan berpikir. Membantu meringankan tugas KPI sebagai lembaga yang mengawasi konten program siaran, baik di televisi maupun di media lainnya. Sama artinya masyarakat menjadi agen pencegah kerusakan bangsa. Sehingga tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut berpartisipasi mewujudkan program siaran yang sehat untuk stasiun televisi Indonesia, yang pengaruh dan manfaatnya akan kembali pada kita sendiri.
Melalui khutbah ini marilah kita memperkuat terhadap komitmen dan kesungguhan kita, di dalam melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Kita lakukan dengan penuh kepatuhan dan kesadaran, segala hal yang diperintahkan al-ma’murat baik berupa al-wajibat maupun perintah Allah yang bersifat anjuran al-mandubat.
Begitu pula kita tinggalkan segala hal yang dilarang di dalam agama kita al-manhiyat baik berupa al-muharramat maupun al-makruhat. Kesadaran denga sepenuhnya dalam segala situasi dan keadaan untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Yang di dalam bahasa agama disebut dengan imtitsal dan sekaligus meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Ini akan menjadi modal utama bagi kehidupan kita, untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki di dalam kehidupan dunia maupun di akhirat nanti.
Maasiral Muslimin Rahimakumullah
Hari ini kita berada di dalam bulan yang penuh dengan kemuliaan, bulan Ramadan. Di dalam bulan ini Allah mewajibkan seluruh umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah, yang disyariatkan sesungguhnya mempunyai keutamaan dan keistimewaan masing-masing. Tidak sepatutnya kalau kita membandingkan satu jenis ibadah dengan jenis ibadah lain yang sama disyariatkan.
Karena di dalam masing-masing ibadah, Allah telah memberikan tekanan. Ada stretching yang berkaitan dengan keistimewaan dan keutamaan di dalam ibadah tersebut. Salat mempunyai keistimewaan tersendiri. Puasa mempunyai keistimewaan tersendiri. Zakat, dan haji juga demikian. Sehingga masing-masing mempunyai stretching terkait dengan bangunan yang diinginkan, dalam hal memperbaiki dan membangun kehidupan seorang manusia di kehidupan dunia ini.
Oleh karena itu, maka yang harus kita lakukan adalah memahami keistimewaan dari masing-masing ibadah itu, yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya.
Maasiral Muslimin Rahimakumullah
Sesungguhnya Allah memberikan keistimewaan secara khusus itu kemungkinan bisa berdasarkan dua hal. Yang pertama, fada’il atau keistimewaan itu bisa menempel kepada waktu. Yang kedua, bisa menempel kepada tempat. Seperti bulan Ramadan ini, Allah memberi keistimewaan karena menempel kepada waktu. Bahwa ibadah di bulan Ramadan, Allah memberikan kemuliaan dengan berlipat ganda. Bahkan Allah tidak menentukan berapa ganjaran yang akan diberikan, tetapi bergantung kepada semau permintaan hamba-Nya. Tergantung kualitas ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan ini.
Ini namanya adalah keutamaan yang menempel kepada waktu. Contoh lagi, pada waktu malam hari. Ada waktu-waktu, Allah memberi kemuliaan secara khusus. Ini kemuliaan yang diberikan Allah karena menempel pada waktu, terutama pada tengah malam ketika mendekati dua pertiga malam. Saat masuk waktu sahur, maka saat itu Allah memberikan keutamaan yang lebih dari waktu yang lain.
Ma baina al-adzanaini, waktu antara azan dan iqomah itu juga termasuk waktu yang istimewa. Yang di dalam hadisnya disebut dengan waktu yang mustajabah. Baina khutbataini, waktu antara khutbah pertama dan khutbah kedua. Ketika seorang khatib duduk di antara dua khutbah itu, termasuk juga waktu yang mustajabah.
Sesuatu yang menempel kepada waktu itu tentu tidak bisa kita cari ketika dia sudah berlalu. Ramadan ini ketika sudah selesai dan kita masuk pada tanggal satu Syawal, maka secara otomatis keistimewaan dan keutamaan hanya bisa kita tunggu kembali ketika kita berjumpa di bulan Ramadan yang akan datang. Ini adalah kelebihan yang diberikan oleh Allah pada jenis ibadah yang punya keistimewaan menempel pada waktu, yang ditentukan dan ditunjuk oleh Allah.
Yang kedua, ada fada’il atau kelebihan ibadah itu menempel kepada tempat. Masjid, dia mempunyai keistimewaan berbeda sehingga ada hukum-hukum yang berlaku dalam ukuran dan batasan yang ditetapkan di wilayah masjid itu. Ini karena Allah memberikan kemuliaan yang berbeda. I’tikaf di dalam masjid itu mendapatkan pahala yang luar biasa. Apalagi nanti di asyri al-awahir, sepuluh hari terakhir Ramadan. Di hari itu kita berburu pahala sebesar-besarnya dan sebanyak mungkin. I’tikaf itu hanya bisa dilakukan di dalam masjid. Karena masjid mempunyai keistimewaan dan hukum-hukum tertentu yang ditentukan oleh Allah, yang berbeda dengan tempat diluar masjid itu.
Di tanah Haram, al-Haramain. Disana Allah memberikan keistimewaan karena faktor tempat. Dalam radius tertentu, baik di Madinah atau Makkah itu mempunyai keistimewaan yang berbeda. Ada hukum-hukum yang berlaku, disana berbeda dengan tanah diluar tanah Haram. Disana ada ketentuan hukum yang ditulis besar di pintu gerbang masuk tanah Haram, mamnu’ ad-dukhul ghoiro muslimin dilarang masuk di tanah Haram selain orang Islam.
Karena apa, disana Allah memberikan hukum yang berlaku itu berbeda. Termasuk siapa yang boleh masuk tanah Haram atau tidak. Termasuk hukum-hukum yang menyangkut tentang perlindungan Allah atas binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Termasuk ibadah disana, ada ketentuan yang berbeda. Keutamaan diberikan oleh Allah karena menempel pada faktor tempat, yang tidak mungkin ada di tempat yang lain.
Apalagi di sekitar masjid al-Haram, masjid itu sendiri Allah memberikan keutamaan yang luar biasa. Di sekitar Ka’bah, disana ada multazam, ada hijr Ismail, ada maqam Ibrahim, yang disana Allah memberikan begitu banyak fada’il yang berbeda, yang tidak dimiliki oleh tempat yang lain. Ini keutamaan yang menempel pada tempat, yang bisa dikunjungi siapa pun dan kapan pun ketika dia mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk datang kesana.
Maasiral Muslimin Rahimakumullah
Oleh karena itu, seorang mukmin yang baik dan berada dalam tingkat haqqo tuqotihi kualitas ketakwaan yang maksimal, dia sesungguhnya akan berburu mendapatkan sesuatu yang berlipat-lipat ganda dalam hal amalan ibadah yang dia lakukan. Baik itu terkait persoalan dimensi waktu maupun terkait dimensi tempat seperti tadi.
Puasa ini mempunyai keistimewaan yang berbeda. Kalau ibadah yang lain itu bersifat fi’liyyah. Salat itu ibadah fi’liyyah, ibadah yang melakukan sesuatu. Ada takbiratul ihram, ada ruku’, ada sujud, itu namanya fi’lu syai’ melakukan sesuatu. Haji itu ibadah fi’liyyah, kita tawaf, sa’i, wukuf di Arafah. Itu semua ibadah fi’lu syai’, karena melakukan sesuatu maka ibadah itu bisa dilihat oleh mata kita, oleh orang lain. Bahkan punya potensi untuk dipamerkan. Dipakai show off kepada orang lain itu sangat bisa. Dipakai sebagai gaya hidup itu sangat mungkin.
Berbeda dengan puasa, dia tarku syai’. Puasa itu terdefinisi imsakun ‘an al-mufthirat. Menahan. Puasa itu ibadah tidak. Tidak makan, tidak minum, tidak kumpul suami-istri, tidak melakukan hal yang membatalkan puasa, tidak melakukan hal yang membatalkan pahala puasa. Tidak ada sesuatu yang bisa dipamerkan, karena tidak ada yang bisa dilihat di dalam pelaksanaan puasa.
Allah memberikan keistimewaan terhadap puasa. Puasa itu Untuk-Ku. Dia tidak mungkin dipamerkan kepada orang lain. Wa ana ajzi bihi, biarkan Aku yang memberikan balasan kepada hamba-Ku yang melakukan puasa itu. Sebera pun permintaan balasan tersebut. Unlimited, tergantung kepada kualitas pelaksanaan puasa yang kita lakukan.
Bagaimana puasa yang berkualitas, tentu puasa yang disempurnakan dengan ibadah-ibadah yang dianjurkan. Yang menyertai di dalam kewajiban puasa ini. Karena di dalam setiap kewajiban, sesungguhnya Allah menyertakan hal-hal yang menyempurnakan. Ada takmiliyyah, di dalam puasa Ramadan ada tadarus al-Quran, ada qiyamu al-lail, ada tarawih, ada anjuran untuk I’tikaf, ada malam lailatul qadr, ada anjuran untuk sedekah dan sebagainya.
Tentu puasa bukan hanya imsakun ‘an al-muftirot, tetapi puasa adalah imsakun ‘an al-ma’ashi. Mata kita, puasakan. Telinga kita, puasakan. Mulut kita, puasakan. Termasuk pikiran dan hati kita, puasakan.
Maasiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita masuki puasa ini dengan sungguh-sungguh. Mumpung Allah memberikan waktu kepada kita, waktu tidak mungkin diulang. Kalau keutamaan yang berkaitan dengan tempat masih kita cari tetapi keutamaan yang berkaitan dengan waktu kita tidak tahu. Yang kita mohonkan adalah kita diberikan umur yang panjang lalu umur itu berkah bagi kita. Termasuk kembali bisa melakukan ibadah di bulan Ramadan yang akan datang. Amin.